Bandung, 26 September 2025 – Masjid Al Furqan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti ibadah Shalat Jumat. Pada kesempatan kali ini, khatib sekaligus imam adalah Dr. Adi Hidayat, Ph.D., atau yang lebih dikenal dengan Ustaz Adi Hidayat (UAH) yang juga dosen tetap pada Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana (SPs) UPI. Kehadiran beliau menjadi magnet tersendiri, khususnya bagi sivitas UPI, mahasiswa, serta masyarakat sekitar kampus.

Dalam khotbahnya, UAH mengajak jamaah untuk tidak hanya menjadikan Jumat sebagai rutinitas formalitas, melainkan momentum untuk memperkuat iman dan menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan.

“Pertanyaan dasarnya, dari sekian banyak Jumat yang sudah kita jalani, apakah maknanya benar-benar meresap dalam kehidupan kita, atau hanya menjadi ibadah rutin tanpa esensi?” ujar UAH.

UAH kemudian menguraikan latar sejarah masyarakat Arab Jahiliyah, yang menjadikan hari keenam sebagai ajang kontestasi status sosial, bisnis, dan budaya. Namun, melalui Al-Quran, hari itu kemudian diganti dengan Yaum al-Jumu’ah—sebuah momentum berkumpulnya umat beriman yang bukan hanya berkumpul secara fisik, melainkan juga saling mengenal, saling menguatkan, dan saling membantu.

Dalam konteks mahasiswa, UAH menekankan bahwa iman seharusnya membentuk karakter belajar yang serius, disiplin, dan membawa manfaat bagi masyarakat. “Pelajar beriman itu duduk paling depan, bertanya ketika tak paham, dan ilmunya kembali diajarkan pada masyarakat. Bukan datang hanya untuk absen, lalu belajar mendadak menjelang ujian,” tegasnya.

Lebih jauh, beliau menekankan bahwa masjid seharusnya menjadi pusat solusi, tempat umat menemukan jawaban atas permasalahan kehidupan. Mulai dari urusan kesehatan, ekonomi, pendidikan, hingga lapangan pekerjaan, semua bisa dimusyawarahkan di masjid.

“Jumat bukan hanya soal ibadah ritual, tapi momentum sosial. Setiap yang datang pulang dengan solusi. Inilah Jumat yang dipraktikkan Nabi, Jumat yang menyatukan umat,” jelasnya.

UAH menutup khotbah dengan ajakan agar umat Islam menjadikan masjid sebagai pusat peradaban, termasuk dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Menurut beliau, bila fungsi masjid dioptimalkan sebagaimana mestinya, niscaya masyarakat dan negara akan mendapatkan manfaat besar.

“Jumat berkah bukan berarti ada makanan setelah shalat, tapi bagaimana setiap Jumat membuat kita lebih baik daripada sebelumnya,” pungkas UAH sebelum menutup khotbah dengan doa.

Kehadiran UAH di Masjid Al Furqan UPI bukan hanya menghidupkan suasana Jumat, tetapi juga memberi inspirasi bagi sivitas UPI untuk menghubungkan nilai iman dengan peran akademik dan sosial. (CS)