Majalengka, UPI

Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan untuk selalu terhubung dengan dunia digital, mahasiswa Generasi Z menghadapi satu tantangan yang kerap  tidak terlihat: menyediakan waktu untuk berhenti, memahami pengalaman, dan mendengarkan suara diri sendiri. Di antara notifikasi yang terus berdatangan, media sosial yang menawarkan berbagai informasi dalam hitungan detik, serta tuntutan akademik yang semakin kompleks, ruang untuk berefleksi menjadi semakin penting.

Berangkat dari persoalan tersebut, Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Sastra Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menghadirkan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang tidak sekadar mengajarkan mahasiswa bagaimana menulis, tetapi juga mengajak mereka berhenti sejenak, mengeksplorasi pengalaman, dan merefleksikan diri melalui tulisan.

Bertempat di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Majalengka (UNMA), kegiatan PkM berbasis Kepakaran Bidang Ilmu tersebut dikemas dalam workshop interaktif bertajuk “Creative Writing: Explore & Reflect Through Lifebytes.” Berlangsung dari pukul 07.00 – 15.00 di Kampus UNMA, kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi akademik antara UPI dan UNMA yang diarahkan untuk memperkuat keterampilan literasi sekaligus membuka ruang kreatif bagi mahasiswa.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada creative writing bukan hanya sebagai keterampilan menghasilkan teks yang menarik, tetapi juga sebagai media untuk mengolah pengalaman personal menjadi gagasan dan cerita. Dengan demikian, menulis ditempatkan sebagai aktivitas yang memungkinkan mahasiswa mengenali apa yang mereka rasakan, memahami pengalaman yang mereka lalui, dan menemukan makna di balik pengalaman tersebut.

Ketika Menulis Menjadi Ruang untuk Berhenti

Kegiatan diawali dengan sambutan Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Inovasi, dan Pengembangan Institusi, Dr. Endi Rustandi, S.Pd., M.Pd., bersama Dekan FKIP UNMA, Dr. Rama Dwika Herdiawan, M.Pd. Momentum tersebut kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Implementation Arrangement (IA) antara UPI dan UNMA.

Penandatanganan tersebut menjadi penanda penting bagi penguatan kerja sama kedua perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan literasi dan kapasitas akademik mahasiswa. Namun, inti kegiatan hari itu segera bergeser dari ruang seremoni menuju ruang yang lebih personal: pengalaman mahasiswa sebagai individu yang hidup di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.

Ketua Tim PkM KBK Sastra UPI, Dr. Nia Nafisah, S.S., M.Pd., membuka sesi workshop dengan mengajak peserta melihat kembali hubungan mereka dengan teknologi digital. Teknologi memberikan berbagai kemudahan dalam belajar, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Namun, pada saat yang sama, derasnya informasi dapat membuat seseorang terus bergerak tanpa sempat memproses apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dirinya.

Dalam konteks inilah creative writing diperkenalkan sebagai sebuah ruang untuk berhenti.

Menulis kreatif tidak harus selalu dimulai dengan pertanyaan tentang bagaimana menghasilkan tulisan yang indah. Ia dapat dimulai dengan pertanyaan yang jauh lebih sederhana: Apa yang saya rasakan? Apa yang saya alami? Apa yang sebenarnya ingin saya katakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk melihat bahwa pengalaman sehari-hari pun dapat menjadi bahan tulisan. Sebuah gambar, sebuah kenangan, percakapan sederhana, bahkan pengalaman yang tampaknya sepele dapat berkembang menjadi sebuah cerita ketika seseorang bersedia melihatnya kembali dengan lebih dekat.

Dari Memahami Isu hingga Menemukan Cara Bercerita

Pelatihan berlangsung secara luring dalam tiga sesi yang memadukan pemaparan konsep, diskusi, eksplorasi gagasan, dan praktik menulis. Struktur kegiatan dirancang agar mahasiswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga segera menggunakannya dalam proses kreatif.

Pada sesi pertama, Dr. Raden Safrina dan Rendila Restu Utami, M.A., mengajak peserta memahami latar belakang isu psikososial yang dihadapi Generasi Z dalam kehidupan yang semakin lekat dengan teknologi. Pembahasan tersebut kemudian diarahkan pada pengenalan prinsip-prinsip dasar creative writing.

Peserta diajak memahami bahwa sebuah tulisan tidak selalu harus berangkat dari peristiwa besar. Hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi sumber cerita yang kuat. Pengalaman personal, pengamatan terhadap lingkungan, perasaan, konflik kecil, maupun momen tertentu dapat diolah menjadi tulisan melalui pilihan kata, sudut pandang, deskripsi, dan cara membangun cerita.

Sesi berikutnya menghadirkan Ayu Fitri Kusumaningrum, M.A., yang memperkenalkan berbagai model dan pendekatan praktis dalam penulisan kreatif. Pada bagian ini, mahasiswa tidak hanya dikenalkan pada konsep, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai bagaimana teknik menulis dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran berlangsung secara interaktif. Mahasiswa didorong untuk melihat bahwa menulis tidak harus selalu menunggu datangnya inspirasi. Ide dapat ditemukan melalui pengamatan, pengalaman, gambar, percakapan, maupun peristiwa yang mereka jumpai setiap hari.

Dari sini, creative writing perlahan bergeser dari sesuatu yang mungkin dianggap sebagai tugas akademik menjadi aktivitas yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Ketika Gambar Berubah Menjadi Cerita

Bagian yang menjadi salah satu pengalaman utama dalam workshop adalah sesi praktik mandiri. Pada sesi ini, Dr. Nia Nafisah bersama tim mengajak mahasiswa menyusun draf singkat berdasarkan pemaknaan terhadap sebuah gambar.

Gambar yang pada awalnya hanya berupa objek visual kemudian menjadi pemantik berbagai kemungkinan cerita. Mahasiswa diminta mengamati, menafsirkan, membayangkan, kemudian menuangkan gagasan mereka ke dalam tulisan.

Di sinilah proses explore and reflect mulai terlihat secara konkret.

Satu gambar dapat menghasilkan cerita yang berbeda-beda karena setiap mahasiswa membawa pengalaman, perspektif, dan ingatan masing-masing. Tidak ada satu pengalaman yang benar-benar sama. Karena itu, tulisan yang lahir dari satu stimulus pun dapat berkembang ke arah yang sangat beragam.

Dalam proses tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai teknik menulis. Mereka juga belajar mempercayai gagasan sendiri.

Umpan balik diberikan secara langsung oleh tim PkM. Mahasiswa memperoleh masukan mengenai gagasan, cara penyampaian, serta kemungkinan pengembangan tulisan mereka. Proses ini sekaligus menjadi ruang untuk membangun keberanian dalam menulis.

Menulis, dengan demikian, tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang harus menghasilkan sesuatu yang sempurna sejak awal. Mahasiswa justru diajak memahami bahwa sebuah tulisan dapat dimulai dari sebuah draf sederhana, kemudian dikembangkan melalui proses membaca kembali, merevisi, dan merefleksikan apa yang ingin disampaikan.

Dari Layar Digital Kembali kepada Diri

Antusiasme mahasiswa terlihat sepanjang pelaksanaan workshop. Mereka tidak hanya mengikuti materi mengenai teknik penulisan, tetapi juga terlibat dalam proses mengeksplorasi pengalaman dan perasaan masing-masing.

Bagi tim PkM KBK Sastra UPI, keterampilan menulis seperti ini penting untuk terus dikembangkan karena literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis secara teknis. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan memahami pengalaman, mengolah gagasan, menyampaikan perspektif, dan membangun kesadaran terhadap diri sendiri serta lingkungan.

Dalam kehidupan yang semakin digital, kemampuan tersebut menjadi semakin relevan. Mahasiswa memang perlu mampu bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi, tetapi mereka juga membutuhkan ruang untuk memperlambat langkah, mengolah pengalaman, dan memahami apa yang mereka pikirkan serta rasakan.

Karena itu, creative writing dalam kegiatan ini ditempatkan sebagai salah satu bentuk aktivitas reflektif. Menulis menjadi cara untuk memindahkan pengalaman dari pikiran ke dalam kata-kata, melihatnya kembali, dan mungkin menemukan makna yang sebelumnya belum terlihat.

Harapannya, pengalaman yang diperoleh selama workshop tidak berhenti ketika kegiatan tatap muka berakhir. Tim dosen UPI mendorong mahasiswa untuk menjadikan menulis sebagai kebiasaan yang dapat terus dilakukan, baik untuk kebutuhan akademik maupun sebagai ruang personal untuk berefleksi.

Dari Workshop Menuju Karya

Kolaborasi antara UPI dan UNMA melalui kegiatan ini juga tidak berhenti pada pertemuan 22 Juni 2026. Kegiatan menulis kreatif akan dilanjutkan secara daring pada 7 Juli 2026 untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa mengembangkan tulisan yang telah mereka mulai.

Tahap lanjutan tersebut diharapkan dapat membawa tulisan mahasiswa dari sekadar draf menjadi karya yang lebih matang. Lebih jauh, karya-karya tersebut direncanakan untuk dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk antologi.

Jika rencana tersebut terwujud, tulisan-tulisan mahasiswa bukan hanya akan menjadi hasil akhir sebuah pelatihan. Ia akan menjadi rekaman tentang bagaimana mahasiswa melihat dunia, memahami pengalaman, dan menemukan suara mereka sendiri di tengah perubahan zaman.

Pada akhirnya, pesan utama kegiatan ini sederhana: di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia tetap membutuhkan waktu untuk berhenti.

Teknologi dapat membantu manusia memperoleh informasi dalam hitungan detik. Namun, memahami pengalaman dan diri sendiri membutuhkan proses. Menulis memberikan salah satu ruang untuk melakukan proses tersebut.

Melalui Creative Writing: Explore & Reflect Through Lifebytes, UPI dan UNMA tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan teknik menulis, tetapi juga dengan sebuah kemungkinan: bahwa dari pengalaman sehari-hari, sebuah cerita dapat lahir; dari sebuah cerita, refleksi dapat tumbuh; dan dari refleksi, seseorang dapat mengenali dirinya dengan lebih baik. (Rendila Restu Utami)