Majalengka, UPI

Tim Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Kajian Bahasa dan Budaya Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kampus Universitas Majalengka (UNMA), Senin (22/6/2026). Mengusung tema “Teacher Talk for Deep Learning: Supporting Students to Understand, Apply, and Reflect”, pelatihan ini diikuti oleh 30 guru SMP se-Kabupaten Majalengka.

Tim PkM UPI yang dipimpin oleh Riesky, M.Ed., bersama Isti Siti Saleha Gandana, Ph.D., dan Ernie D. A. Imperiani, M.Ed., mengajak para guru mencermati kembali tuturan serta pola komunikasi di kelas. Bahasa guru (teacher talk) seperti pertanyaan, instruksi, dan penyampaian umpan balik, dinilai memiliki peran vital dalam mengarahkan siswa menuju pembelajaran mendalam (deep learning).

Dalam lokakarya tersebut, para peserta diajak memetakan bentuk pertanyaan dan instruksi yang biasa mereka gunakan sehari-hari. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa tuturan yang memberi ruang bagi siswa untuk melakukan refleksi masih menjadi jenis komunikasi yang paling jarang muncul, akibat tingginya fokus pada penyelesaian materi target kurikulum.

“Setiap bentuk tuturan guru memberikan peluang belajar yang berbeda. Melalui refleksi yang dikaitkan dengan pemikiran John Dewey, siswa tak hanya dituntut tahu jawaban benar, tetapi juga memahami proses berpikir, kesulitan, serta strategi belajar yang mereka lalui,” jelas Isti Siti Saleha Gandana.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pimpinan UNMA. Wakil Rektor III UNMA, Dr. Endi Rustadi, M.Pd., menekankan pentingnya sinergi antara kepakaran akademis perguruan tinggi dan pengalaman praktis guru di lapangan. Sementara itu, Dekan FKIP UNMA, Dr. Rama Dwika Herdiawan, M.Pd., dan Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UNMA, Afief Fakhruddin, M.Pd., mengapresiasi pentingnya refleksi sebagai bagian dari pengembangan profesionalisme guru yang berkelanjutan.

Melalui PkM ini, tim UPI berharap para guru di Majalengka dapat menerapkan pola interaksi yang lebih interaktif dan reflektif di sekolah masing-masing, sehingga siswa tidak sekadar menghafal materi, tetapi juga mampu memahami, mengaplikasikan, dan memaknai proses belajarnya. (DN)