
Bandung, 22 April 2025
Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan abad ke-21 dituntut untuk menghadirkan transformasi mendalam, tidak hanya dalam kurikulum, tetapi juga dalam metode dan evaluasi pembelajaran. Untuk mendukung era Society 5.0, pembelajaran sepanjang hayat menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang kreatif, kolaboratif, dan mandiri (Peea et al., 2024). Menanggapi hal ini, mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Science EduXplore: Nature Intelligence Challenge” pada tanggal 22 April 2025, di Laboratorium Kebun Botani UPI, Bandung.
Kegiatan ini bertujuan sebagai solusi inovatif atas berbagai tantangan pembelajaran biologi di sekolah, terutama dalam meningkatkan literasi sains, menguatkan keterampilan proses sains (KPS), serta menumbuhkan identitas sains siswa sesuai standar OECD (2025), yang mencakup kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah, merancang investigasi, dan menafsirkan data ilmiah dalam konteks nyata. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan pembelajaran kontekstual yang akan memberikan pengalaman nyata kepada siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung di dalam pembelajaran. Sehingga pembelajaran akan lebih menarik karena tidak hanya terfokus pada teori, tetapi dapat dikuatkan dengan kegiatan praktik dilapangan.
Menggagas Pembelajaran Kontekstual: Sinergi antara Teori dan Praktik
Literasi sains yang kuat tidak cukup dibangun hanya melalui ceramah dan penyampaian teoritis. Literasi sains akan lebih bermakna ketika didukung dengan tindakan yang dapat membuktikan sebuah teori atau konsep tertentu melalui kegiatan kontekstual dilapangan. Akan teteapi, hasil penelitian dan observasi di sekolah mitra menunjukkan bahwa pendekatan tradisional ini masih mendominasi, menyebabkan rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep biologi, terutama pada tema ekologi dan isu lingkungan (Fitrianisa et al., 2024; Muallimatunnisa et al., 2023; Indrawati & Nurpatri, 2022). Di sisi lain, siswa menunjukkan minat tinggi terhadap pembelajaran yang berbasis pengalaman langsung. Hal ini dapat dilihat dari partisipan yang mengikuti kegiatan Science EduXplore ini (jumlah peserta 105).

Menjawab tantangan tersebut, Science EduXplore hadir dengan pendekatan experiential learning yang mengutamakan eksplorasi lingkungan secara langsung, serta cooperative learning yang mengembangkan kerja sama dan interaksi sosial dalam proses belajar. Sehingga pada kegiatan Science EduXplore ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengembangkan kerja sama, kolaborasi, dan keterampilan lainnya dalam pembelajaran Biologi. Kegiatan ini menghadirkan lima pos utama: Cuaca, Identifikasi Tumbuhan, Ayam Cemani, Laboratorium Ekologi, dan Maggot, yang dirancang untuk mengembangkan KPS siswa melalui observasi, interpretasi, klasifikasi, serta refleksi hasil eksplorasi.
Desain Program yang Kolaboratif dan Kontekstual
Desain program Science EduXplore 2025 dikemas dalam bentuk kegiatan Treasure Hunt ilmiahyang menggabungkan pendekatan experiential learning dan cooperative learning untuk memperkuat literasi sains dan keterampilan abad ke-21 siswa SMP. Kegiatan dimulai dengan briefing dan pembagian misi di halaman Isola, di mana peserta menerima peta rute dan panduan tantangan. Peta rute yang digunakan oleh peserta dimaksudkan untuk dapat membekalkan kepada siswa tentang keterampilan interpretasi dan kemampuan observasi lapangan. Setiap tim mengikuti misi ilmiah di berbagai pos, seperti Misi Ekologi Klimatik (pengukuran suhu, kelembapan), Identifikasi Tumbuhan (menggunakan Google Lens dan pengambilan sampel), serta Observasi Ayam Cemani (pengamatan dan perancangan ide pelestarian).

Selanjutnya, peserta menyelesaikan Misi Mikroskopis (pengamatan mikroorganisme dan preparasi jaringan daun), Misi Edafik (pengukuran pH, suhu, dan kelembapan tanah), serta Misi Budidaya Maggot yang memperkenalkan peran maggot dalam pengelolaan limbah organik dan peluang bioentrepreneurship. Kegiatan ditutup dengan sesi Meja Bundar, di mana seluruh tim mempresentasikan hasil eksplorasi dan merancang solusi berbasis sains atas isu lingkungan yang ditemukan. Program ini tidak hanya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan, tetapi juga menjadi alternatif efektif field trip lokal yang memperkuat ekologi, kreativitas, dan kolaborasi siswa.
Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini dihadiri oleh beberapa sekolah di daerah Kota Bandung dengan jumlah peserta sebanyak 105 peserta dari 12 sekolah di Kota Bandung. Selain itu, mahasiswa yang terlibat sejumlah 28 mahasiswa yang bekerja sama dengan dosen Program Studi Pendidikan Biologi UPI beserta PLP laboratorium Biologi dan Kebun Botani UPI. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang terintegrasi pada program mata kuliah Bioenterpreneurship Biologi yang diampu oleh bapak dosen Dr. Bambang Supriatno, M.Si dan ibu dosen Dr. Sariwulan Diana, M.Si.
Refleksi, Tantangan, dan Upaya Perbaikan
Kegiatan Science EduXplore 2025 mendapatkan antusiasme tinggi dari peserta dan guru pendamping, namun evaluasi menunjukkan adanya sejumlah kendala teknis dan substansial. Beberapa tantangan yang muncul antara lain: gangguan sistem suara saat pembukaan, briefing awal yang kurang efektif, kendala dalam penggunaan alat-alat ilmiah, ketidakseimbangan alokasi waktu per pos, serta terbatasnya kesiapan bahan ajar di pos identifikasi tumbuhan dan ekologi.
Masukan tersebut menjadi dasar penting dalam pengembangan program ke depan, terutama dalam penguatan manajemen waktu, koordinasi tim, penyusunan alat bantu belajar, dan strategi fasilitasi pos. Meski demikian, tujuan utama kegiatan—yakni memberikan pengalaman belajar berbasis lingkungan dan kolaboratif—berhasil dicapai dengan baik.
Penutup: Langkah Nyata Menuju Pembelajaran Biologi yang Adaptif
Science EduXplore membuktikan bahwa pembelajaran biologi tidak harus selalu bergantung pada laboratorium formal. Dengan pendekatan pedagogis yang kreatif dan kontekstual, lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar yang efektif dan inspiratif. Kegiatan ini sekaligus menjadi contoh nyata sinergi antara mahasiswa, guru, dan dosen dalam menciptakan inovasi pendidikan biologi yang berdampak dan berkelanjutan.

Sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, program ini tidak hanya memperkuat keterampilan kognitif siswa, tetapi juga membentuk karakter ilmiah yang peduli, kolaboratif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Melalui integrasi antara experiential dan cooperative learning, Science EduXplore membuka jalan menuju pendidikan biologi yang membumi, bermakna, dan relevan dengan tantangan zaman.
Untuk dokumentasi lengkap kegiatan, dapat diakses melalui akun Instagram Pendidikan Biologi UPI:
📷 https://www.instagram.com/p/DI55eBezYB2/?igsh=ZDlqYmJtaXc2b2M5

