
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus memperkuat upaya internasionalisasi budaya Indonesia melalui pengembangan dan penyebarluasan angklung di tingkat global. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah pemberian seperangkat angklung kepada mitra di Kota Gifu, Jepang, sebagai bentuk apresiasi sekaligus penguatan kerja sama budaya dan pendidikan yang dilaksanakan di Ruang Rapat Partere Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Senin (6/7/2026)
Rektor UPI menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia patut berbangga karena angklung sebagai warisan budaya tak benda telah diakui dunia melalui UNESCO. Tidak hanya diterima secara nasional, angklung kini semakin berkembang dan dimanfaatkan di berbagai negara, termasuk Jepang.
“Angklung telah diterima bukan hanya oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh dunia internasional sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO,” ujarnya.
Di Jepang, khususnya Kota Gifu, angklung telah diperkenalkan sejak lama oleh mahasiswa dan alumni UPI melalui berbagai kegiatan pendidikan dan sosial. Pengembangan tersebut salah satunya dilakukan bersama Prof. Suzuki Yoshitaka Sensei yang memperkenalkan pemanfaatan angklung bagi mahasiswa dan siswa berkebutuhan khusus.
Angklung tidak hanya dipandang sebagai alat musik tradisional, tetapi juga memiliki manfaat terapeutik yang signifikan. Melalui aktivitas bermain angklung, peserta didik dilatih untuk bekerja sama, belajar mendengarkan, merespons, dan membangun harmoni bersama.
Pada kesempatan yang sama Yukihiro Saito, Direktur Jenderal Koordinasi Pendidikan Dewan Pendidikan Kota Gifu menyampaikan “saya sangat senang dapat mengadakan upacara ini untuk memperingati donasi alat musik tradisional Indonesia, “Angklung,” kepada Sekolah Khusus Gifu. Saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Rektor Universitas Pendidikan Indonesia.”
“Di Sekolah Khusus Gifu, kami sebelumnya telah memasukkan Angklung ke dalam kelas musik dengan kerja sama Profesor Suzuki dan mahasiswa dari Universitas Gifu. Saya menyampaikan rasa hormat saya yang terdalam atas donasi berharga ini, yang telah dimungkinkan melalui hubungan ini. “ ujarnya.
“Kami berharap donasi hari ini akan semakin memperdalam pertukaran antara Kota Gifu dan masyarakat Indonesia.” tutupnya.
Sachi SUMI, Kepala Sekolah Sekolah Khusus Gifu Municipal Gifu pun mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada Universitas Pendidikan Indonesia atas sumbangan sebuah angklung (alat musik gesek tradisional Indonesia). Terima kasih banyak.
Sachi pun mengatakan “Di Sekolah Khusus Gifu, kami telah mengerjakan pertunjukan musik menggunakan angklung sejak tahun lalu, dan ini merupakan inisiatif yang luar biasa karena mudah bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk menghasilkan suara, memahami tempo bermain, dan dapat dinikmati oleh banyak orang bersama-sama.”
Lebih lanjut Kepala Sekolah Khusus Gifu merencanakan pengembangan kurikulum pada tahun ini, “kami berencana untuk memasukkan angklung ke dalam kurikulum sekolah menengah dan juga untuk menyebarkannya ke seluruh sekolah, sehingga sumbangan ini sangat membantu, dan kami berharap dapat lebih mempromosikan inisiatif ini. Kami ingin menghargai hubungan ini dan terus membangun hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang, saling belajar satu sama lain di masa depan.”
Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Jepang, penggunaan angklung memberikan dampak positif terhadap perkembangan perilaku dan kemampuan sosial peserta didik berkebutuhan khusus. Aktivitas tersebut membantu meningkatkan keterampilan kerja sama serta pengembangan soft skill.

Melihat manfaat besar tersebut, sekolah-sekolah berkebutuhan khusus di Gifu mulai memasukkan angklung sebagai bagian dari proses pembelajaran dalam kurikulum mereka.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program tersebut, UPI menyerahkan seperangkat angklung Sarinande yang saat ini sedang dalam proses pengiriman dari Indonesia ke Jepang. Nantinya angklung tersebut akan diterima oleh Prof. Suzuki Yoshitaka Sensei untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah berkebutuhan khusus di Kota Gifu.
Melalui langkah ini, UPI berharap angklung dapat terus berkembang sebagai media pembelajaran, terapi, sekaligus sarana diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional. (Rija)

