A-1

Humas Adalah Telinga Seluruh Masyarakat

A-2

Bandung, UPI

Hubungan Masyarakat (Humas) harus menjadi cyber teachers, bukan lagi menjadi mata dan telinga bagi lembaga namun harus menjadi mata dan telinga bagi seluruh masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Freddy H. Tulung saat menjadi key note speakers dalam kegiatan Forum Tematis Kehumasan Dit. Kemitraan Komunikasi, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Kamis (9/4/2015), di Savoy Homann Bidakara Hotel Jl. Asia Afrika No. 112 Bandung.

Kegiatan yang memiliki tema ”Dukungan dan Partisipasi Aktif untuk Mensukseskan Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Asia Afrika Tahun 2015 dalam rangka Peringatan Ke-60 Konferensi Asia Afrika dan Peringatan Ke-10 New Asian – Afrikan Strategic Partnership” ini diselenggarakan untuk menyambut kehadiran 40 kepala negara peserta. Freddy mengatakan,”Forum ini diadakan karena kurangnya desiminasi dari kalangan pemerintah, dan mengingatkan tentang pentingnya government Public Relations, juga sebagai jawaban atas miskinnya informasi kebijakan pemerintah yang sampai pada publik.”

Ditambahkannya, Forum ini mencoba untuk mengintegrasikan media diantara Humas di lingkungan pemerintah. Solid dalam menyebarluaskan informasi versi pemerintah, dan menyinergikan komunikasi untuk menginformasikan berbagai event dan side event Konferensi Asia Afrika, juga memberdayakan resources Humas.

“KAA dan Semangat Bandung mengandung arti non aligned, autonomous and independent, cooperation not protection, self-determination, peaceful co-existence, egalitarian, dan sustainable,” ujarnya.

A-1

Sementara itu di tempat yang sama, mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Inggris yang saat ini menjabat Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI Yuri P. Thamrin mengatakan tentang arti penting KAA 1955 dan aktualisasi solidaritas Asia Afrika pada masa kini, dia mengatakan, dalam konteks KAA 1955 terdapat tiga konteks, diantaranya konteks internasional, masih banyaknya penjajahan, perang dingin, pengunaan senjata nuklir, kemudian dalam konteks nasional, KAA tidak terjadi bila tidak ada parpol yang progresif, serta dalam konteks idiosinkrasi.

“Arti pentingnya adalah lahirnya hak untuk merdeka, kemerdekaan human right vs doktrin barat, kedua lahirnya dukungan perjuangan kemerdekaan, ketiga Third worldism, negara ketiga lahir di Bandung, keempat lahirnya gerakan non-blok, dan Disarmament and arm control, serta terciptanya prestasi diplomasi RI, umur 10 tahun pasca merdeka namun mampu berbuat sesuatu untuk dunia,” paparnya.

RI sebagai Sincere Actor atau aktor yang tulus ditandai oleh sikap political culture-nya, memiliki perimbangan antara kepentingan bersama, dan nilai-nilai nasional, RI sebagai Sincere Actor, mampu menjaga isu irian barat.

Dikatakannya,”Final communique KAA 1955, gap antara idealisme dan realita dan Piagam PBB dan final communique KAA 1955 tetap penting dan relevan. Adapun arti simbolis bagi kota Bandung, menyatakan Bandung sebagai Ibu Kota Asia Afrika, Bapak dari Kota Beograd, karena anti kolonialisme dan melahirkan semangat non blok, sementara itu solidaritas Asia Afrika tetap hidup walau lock of specific institutional link, Asia Africa legal consultative organization, south-south cooperation, diplomatic grouping (GNB, G-77).”

Lebih lanjut dikatakan, KAA membuka peluang untuk transforming Asia Africa solidarity agar relevan dan realita saat ini, perlu visionary agenda untuk perkuat kerjasama politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Perlu perkuat good governance, membumi dan bermanfaat untuk rakyat, kerjasama selatan-selatan tidak hanya capacity building, namun juga perkuat kerjasama perdagangan dan investasi, perkaya program dan perkuat kelembagaan NAASP, serta memperkuat dukungan terhadap Palestina.

Hadir pula Prof. H. Obastar Sinaga akademisi UNPAD yang mengupas tentang ”Perspesktif Komunikasi Internasional dalam Penyelenggaraan KAA”. Dia mengatakan KAA merupakan salah satu bentuk diplomasi atau komunikasi internasional, yaitu cara yang dilakukan oleh aktor internasional untuk mewujudkan keinginannya terhadap aktor internasional lain di luar batas Negara. Diplomasi adalah cara damai yang dipilih untuk mencapai tujuan, dan diplomasi bisa menggunakan power, bisa juga persuasif verbal saja. Betapa dahsyatnya Komunikasi, ujarnya, kalau saya sampaikan kepada komputer ini, sesuatu, belum tentu dia mengerti, apalagi dia pikirkan.” (Dodiangga)