Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mendapat kabar gembira di akhir tahun 2025. Delapan orang dosen mendapatkan Surat Keputusan (SK) Guru Besar pada bidang kepakarannya masing-masing. Rabu (10/12), Prof. Dr. Didi Sukyadi, MA., Rektor UPI bersama dengan Ketua Senat Akademik UPI, Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Si. dan Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UPI Prof. Dr. H. Dadang Sunendar, M.Hum. menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian besar ini di Gedung Partere, Kampus UPI Jln. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung.

Turut mendampingi Rektor UPI dan hadir dalam kegiatan, masing-masing Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI, Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., Kepala Biro Sumber Daya Manusia UPI, Panji Nurul Fath, S.T., M.M. dan Kepala Seksi Komunikasi dan Media KKIPP UPI, Dr. Angga Hadiapurwa, M.I.Kom., para guru besar baru dan segenap dekan dan/atau wakil dekan dari fakultas para guru besar baru.

Dalam sambutan pembukanya, Rektor UPI menyampaikan rasa suka cita atas capaian ini. Kebahagiaan atas pencapaian para guru besar baru ini tidak hanya dimiliki oleh Universitas, turut serta berbahagia bersama adalah pada civitas academica dan keluarga masing-masing guru besar.

“Bapak dan Ibu, kita semua menantikan momen ini. Melalui perjalanan yang panjang, akhirnya kita mendapat kabar gembira pada hari ini surat yang kita nantikan telah datang. Kebahagiaan ini tidak hanya milik Bapak dan Ibu Guru Besar, Universitas dan keluarga turut merasakan kebahagiaan dan kebanggaannya,” sambut Prof. Didi.

Senada dengan Rektor, Ketua Senat Akademik UPI turut berbangga atas pencapaian ini.

“Sebagai salah satu unsur yang mempertimbangkan calon guru besar, kami sangat yakin pengajuan yang telah melalui kami ditandai dengan seluruh persyaratan yang lengkap. Tantangan yang kita hadapi berupa perubahan rubrik penilaian dan hal-hal lainnya menambah semangat kami untuk mendukung capaian tambahan guru besar seperti yang kita dapati hari ini,” tambah Prof. Yadi.

Saat ini, dengan tambahan para guru besar baru, UPI mencatatkan 248 guru besar dalam direktori kepakarannya.

Adapun para guru besar baru yang mendapatkan surat keputusan pengangkatan guru besar, antara lain:

  1. Prof. Dr. H. Zainal Arifin, M.Pd. – Guru Besar Bidang Ilmu Evaluasi Kurikulum pada Fakultas Ilmu Pendidikan;
  2. Prof. Dr. Wawan Darmawan, S.Pd., M.Hum. – Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Buku Teks Sejarah pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial;
  3. Prof. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D. – Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik Fungsional pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra;
  4. Prof. Dr. Andoyo Sastromiharjo, M.Pd. – Guru Besar Bidang Ilmu Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Produktif Bahasa Indonesia pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra;
  5. Prof. Dr. Jarnawi Afgani Dahlan, M.Kes. – Guru Besar Bidang Ilmu Model, Strategi, Metode, dan Pendekatan dalam Pembelajaran Matematika pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam;
  6. Prof. Dr. rer. nat. H. Asep Supriatna, M.Si. – Guru Besar Bidang Ilmu Kimia Berkelanjutan pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam;
  7. Prof. Dr. Indra Mamad Gandidi, S.T., M.T. – Guru Besar Bidang Ilmu Konversi dan Konservasi Termo-Kimia pada Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri; dan
  8. Prof. Dr. H. Nanang Supriatna, S.Sen., M.Pd. – Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Musik Tradisi pada Fakultas Pendidikan Seni dan Desain.

Menaruh Harapan pada Para Guru Besar Baru

Rektor menambahkan bahwa capaian ini adalah buah dari perjuangan panjang dan penuh dukungan dari semua pihak di semua tahapnya. Peningkatan jumlah guru besar adalah tambahan energi yang amat berarti dalam catatan sumber daya manusia pada suatu perguruan tinggi. Rektor mengungkapkan harapan bahwa jumlah tidak menjadi satu-satunya pencapaian, peningkatan kualitas dari masing-masing individu guru besar akan mencerminkan baiknya publikasi ilmiah UPI ke depan.

Produktivitas menjadi kata kunci yang disampaikan berikutnya oleh Rektor UPI, produktivitas publisitas karya ilmiah, melakukan bimbingan mahasiswa dan kegiatan kemahasiswaan dapat lebih semarak dengan ‘turun gunung’nya para guru besar.

Mengambil istilah yang digunakan Ketua Senat Akademik UPI, capaian besar ini memiliki tanggung jawab yang besar. Para guru besar seharusnya dapat menjadi academic leader, menonjol pada bidang-bidang keilmuannya, melahirkan pengetahuan baru, dan memberi manfaat bagi ibu pertiwi.

Kelompok keahlian dapat juga menjadi legacy para guru besar, menurut Prof. Yadi inilah salah satu peran penting guru besar dalam membina para dosen muda: membangun kaderisasi kelimuan. Tanggung jawab moral tidak kalah pentingnya, Ketua Senat Akademik mengingatkan kembali terkait dengan integritas akademik para dosen agar menjadi teladan bagi segenap civitas academica. Tanggung jawab moral turut ditekankan oleh Ketua Dewan Guru Besar UPI.

“Salah satu tugas utama guru besar itu adalah menjaga moral dan etik guru besar. … Dalam kaitan dengan karya ilmiah yang ditunggu dari para guru besar, peningkatan produktivitas kita harus sejalan dengan moral dan etik itu,” sambung Prof. Dadang Sunendar.

Ketua DGB UPI menyampaikan bahwa ke depan pengusulan guru besar akan semakin ditingkatkan kembali dari sisi penguatan mutu internalnya, hal ini dapat sangat bermanfaat untuk menghindari risiko berat yang dapat saja ditemukan di kemudian hari. Melalui prosedur yang sesuai, tidak mungkin usulan guru besar mendapatkan kendala.

Pada bagian akhir, perwakilan dari guru besar baru, Prof. Dr. H. Nanang Supriatna, S.Sen., M.Pd. dari Fakultas Pendidikan Seni dan Desain menyampaikan ucapan terima kasih. Capaian ini menurutnya tidak mungkin adalah capaian pribadi semata, dukungan banyak pihak menjadi pendorongnya. Refleksi Prof. Nanang berfokus pada bagaimana sosok yang diharapkan dari guru besar yang ideal.

“Guru besar adalah sosok yang mengembangkan Tridharma Perguruan Tinggi. Melakukan pembelajaran yang bermakna, melakukan penelitian yang berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta pengabdian masyarakat yang berdampak,” pungkas Prof. Dr. Nanang. (EA)