Bandung, UPI

Guru besar memiliki peran yang semakin strategis dalam pengembangan perguruan tinggi, tidak hanya dalam bidang pengajaran dan penelitian, tetapi juga dalam tata kelola institusi. Hal ini disampaikan oleh Prof. Intan Ahmad dalam sebuah kesempatan diskusi akademik terkait kepemimpinan dan pengelolaan universitas yang dikemas pada acara Wicara Dewan Guru Besar di Auditorium FPBS Lt. 4 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Selasa (14/4/2026).

Menurut beliau, guru besar diharapkan aktif terlibat dalam berbagai forum pengambilan keputusan, seperti rapat jurusan, fakultas, hingga forum Senat Akademik. “Kontribusi pemikiran para guru besar sangat penting, terutama dalam merumuskan kebijakan akademik yang kemudian menjadi dasar bagi pimpinan universitas dalam mengambil keputusan,” ujarnya.

Selain itu, sebagian guru besar juga berperan dalam Majelis Wali Amanat (MWA), yang memiliki fungsi strategis dalam memberikan arah kebijakan umum bagi universitas. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa guru besar memiliki tanggung jawab luas dalam memastikan kualitas tata kelola pendidikan tinggi.

Terkait rasio guru besar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang mencapai 14,6 persen, Prof. Intan Ahmad menegaskan bahwa angka tersebut perlu diimbangi dengan kualitas nyata. “Kualitas tidak bisa hanya diklaim, tetapi harus dibuktikan melalui prestasi dan kontribusi nyata,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa peningkatan jumlah guru besar diharapkan dapat memperkuat posisi UPI sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) terbaik di Indonesia. Lebih jauh, UPI diharapkan mampu mengajak LPTK lain untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Dengan semakin bertambahnya jumlah dan kualitas guru besar, diharapkan sistem pendidikan tinggi di Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif yang lebih luas. (Rija/DN)