Bandung, UPI

Minggu, 10 mei 2026 menjadi hari yang paling mengharukan sekaligus membanggakan bagi segelintir orang. Khususnya bagi mahasiswa yang sudah menantikan akan datangnya hari kelulusan. Mengenakan toga dan berdiri di tempat wisuda adalah suatu impian dari setiap mahasiswa. Namun dari sebagian orang terdapat seorang mahasiswa penyandang disabilitas rungu. ia adalah Siti Agung Gumelar, mahasiswi program studi Pendidikan Tata Boga. Baginya perjalanan menuju titik seperti sekarang membutuhkan perjuangan ekstra yang luar biasa. Di Tengah dunia yang penuh dengan hirup pikuk keramaian dan suara, ia harus berjuang dalam kesunyian. Dibalik itu semua kelulusannya di UPI menjadi bukti nyata bahwa tekad yang kuat mampu mengalahkan segala hambatan dan rintangan.

“Saya seorang yang tuli dan tidak bisa berbicara. Saya sangat senang dan bangga akhirnya bisa lulus, mencapai titik ini, dan membuat kedua orang tua saya bangga, terkhususnya mamah “ ungkap Siti dengan penuh haru saat ditemui seusai acara prosesi wisuda.

Dibalik perjuangan yang Siti lalui dan hadapi semua ini, terdapat sesosok ibu yang menjadi ‘Telinga’ dan penguat semangat bagi siti. Dalam perjalanan akademisnya tidaklah mudah, terutama Ketika saat masa pandemi covid-19 melanda. Ketiadaan akses berupa Bahasa isyarat pada masa pembelajaran daring sempat membuatnya kebingungan. Disinilah terdapat peran dari sang ibu menjadi sangat krusial. Sang ibu dengan sabar mendampingi dan menjadi ‘telinga’ bagi dirinya.

“Waktu itu ibu saya bilang, ‘Oh, tidak apa-apa, nanti Mama dengarkan terlebih dahulu, setelah itu Mama catatkan’,” kenangnya.

Tantangan berlanjut ketika perkuliahan kembali dilakukan secara tatap muka. Komunikasi verbal yang dominan saat kelas berlangsung membuatnya harus bekerja keras membaca gerak bibir dari dosen. Sebuah proses yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Kesulitan dalam memahami instruksi akademis secercah rasa lelah sempat memunculkan niatnya untuk mengundurkan diri. namun dukungan dan kalimat penyemangat dari sosok sang ibu selalu berhasil membuatnya kembali bangkit lagi.

Alih-alih menyerah pada keadaan yang ada, ia merancang strategi belajarnya sendiri, begitu saat dihadapkan dengan materi berbahasa Indonesia baku yang sulit untuk dipahami, mencari strategi dengan berdiskusi. Ia juga tak segan untuk meminta tolong dosen untuk memberikan gambaran dan contoh konkret nyata dari penjelasan materi yang diajarkan di kelas, serta di akhir pembelajaran ia selalu melakukan konfirmasi ulang kembali agar tidak ada informasi yang terlewat. Pada saat presentasi di kelas, ia pun berinisiatif menghadirkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) agar prose tanya jawab dapat berjalan lancar.

Selama berkuliah ia memiliki satu hal yang paling berkesan. Bukan sekedar tentang nilai akademi, melainkan kemampuannya dalam menjembatani dunia tuli dan dunia dengar. Ia dengan senang hati mengajarkan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) kepada teman teman dengarnya di kampus.

“Saya mengedukasi teman-teman dengar agar mereka bisa berkomunikasi dengan saya. Tujuannya bukan untuk menjadikan mereka juru bahasa, tapi agar kami bisa saling bertukar informasi dan menjalin komunikasi yang lebih luas,” tuturnya bangga.

Dibalik semua kegigihannya, keluarga terutama sosok sang ibu adalah motivasi terbesarnya. Harapnya sangat sederhana yakni, ia hanya ingin ibunya sehat dan bisa melihat anaknya berhasil meraih gelar sarjana. Air matanya tak terbendung ketika menyadari bahwa kini ia telah berhasil mewujudkan mimpi kedua orangtuanya.

Lulus kuliah tentu bukanlah akhir, melainkan awal dari unjuk kemandiriannya. Ia membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki daya saing di dunia professional. Kini ia sangat bersyukur telah diterima kerja di sebuah restoran. Kedepannya, ia ingin membangun usahanya sendiri.

“Saya ingin bertahan hidup, membantu mencari uang untuk orang tua, dan membuktikan kepada dunia bahwa orang tuli pasti bisa sukses,” tegasnya.

Sebagai penutup, ia menitipkan sebuah pesan hangat dan penuh semangat bagi adik adik tingkatnya, khususnya sesama mahasiswa disabilitas. 

“Jangan takut dan khawatir. Ikutlah bergabung ke dalam komunitas yang ada di kampus. Di sana ada banyak teman-teman tuli yang akan saling mendukung, sehingga kalian pasti bisa memahami pembelajaran dengan baik.”, pesan Siti.

Kisah ini menjadi pelajaran dan pengingat bagi kita semua bahwa disaat kita memiliki tekad yang kuat serta dukungan yang besar, hambatan dan rintangan sebesar apapun hanyalah sebuah kerikil kecil yang patut kita hadapi dalam perjalanan menuju gerbang pintu kesuksesan. Kisah ini juga mengajarkan kita bahwa ketidaksempurnaan bukanlah penghalang, melainkan sebagai peluang baru bagi setiap usaha yang kita torehkan. (Adia Alilatulbariza; Caraka Muda)