
Bandung, UPI
Bagi sebagian Mahasiswa, Lulus dengan prestasi gemilang terasa seperti privilege — sesuatu yang hanya bisa diraih oleh mereka yang memiliki kelebihan tertentu. Namun bagi wisudawan terbaik yang bernama Siti Annisafa Oceania, S. Log. Program Studi Logistik Kelautan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang angkatan 2022 ini, prestasi adalah hasil dari langkah-langkah kecil yang ia pilih untuk dilakukan setiap hari, sejak semester pertama.
“Arti pencapaian ini bagi saya seperti hadiah,” ungkapnya dalam sesi wawancara di Gymnasium UPI. “Hadiah atas kerja keras saya selama belajar dari semester 1 hingga semester 7 — dan hadiah yang bisa saya persembahkan kepada orang tua, teman-teman, dan para dosen yang selalu mendukung saya. Tiada balasan yang paling berharga yang bisa saya berikan kepada mereka yang telah mendukung saya. Hanya penghargaan inilah yang bisa saya berikan.”
Ketika ditanya soal trik mendapatkan nilai memuaskan, ia tidak menyebut rumus ajaib atau metode belajar marathon. Kuncinya, justru sederhana: konsistensi dalam hal-hal kecil.
“Belajar itu tidak harus panjang, teman-teman. 10 menit membaca jurnal saja sudah cukup untuk membuat pikiran kita lebih terbuka dan cepat menangkap informasi,” tegasnya. Hal sekecil itu, bila dilakukan dengan konsisten, efeknya sangat luar biasa.
Menyeimbangkan kegiatan akademik dan organisasi adalah tantangan yang hampir dihadapi setiap mahasiswa UPI. Solusinya tidak memerlukan aplikasi canggih atau teknik manajemen waktu yang rumit — melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: membuat daftar prioritas dan berani mengkomunikasikannya.
“Breakdown dulu semua kegiatan dan deadline-mu di minggu itu. Tentukan mana yang paling mendesak, kerjakan itu dulu. Tapi kita juga harus bisa menjelaskan skala prioritas kita kepada orang atau kegiatan lain secara polite,” ujarnya. Prinsip sederhana ini menjadi fondasi yang menjaga ia tetap on track selama tujuh semester penuh.
Tak ada perjalanan tanpa rasa lelah. Ia pun mengakui bahwa jenuh adalah bagian yang tak terhindarkan dari proses belajar — termasuk saat mengerjakan skripsi. Namun alih-alih menyalahkan diri sendiri, ia memilih untuk menerima rasa itu dan meresponsnya dengan bijak.
“Jangan nyalahin diri sendiri. Manusia itu, mau sekuat apa pun, pasti ada rasa capeknya. Istirahat dulu, lakukan hal yang kamu suka, lalu ingat lagi tujuan awalmu kuliah itu apa”, ucapnya.
Sosok yang paling mempengaruhi perjalanan studinya hingga berada pada titik ini adalah seorang Dosen Manajemen di Program Studi Logistik Kelautan bernama Rubby Rahman Tsani. “Beliau melihat potensi dalam diri saya, dan itu mendorong saya untuk terus menggali lebih dalam. Ketika seseorang yang kita hormati percaya pada kita, itu menjadi bahan bakar yang sangat kuat,” kenangnya dengan penuh rasa syukur.
Dengan rencana melanjutkan studi S2 di bidang Bisnis Marketing, ia bertekad untuk tidak hanya berprestasi bagi dirinya sendiri, namun juga menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
“Kalian semua sudah dilahirkan untuk mendapatkan hal-hal besar. Sayang sekali kalau kita tidak mau berusaha sedikit lebih keras untuk hal besar yang memang sudah ditakdirkan untuk kita. Tidak ada kata terlambat — mulai dari sekarang, dari langkah terkecil sekalipun. Satu persen progres setiap hari, pasti akan membawa kalian ke hal-hal luar biasa.”
Dan untuk almamater tercintanya, ia menutup dengan harapan yang tulus: “Semoga UPI terus memfasilitasi mahasiswanya untuk tumbuh, berkembang, dan mengepakkan sayapnya — tidak hanya di tingkat Indonesia, tetapi juga di panggung internasional. Semakin jaya, UPI. Semoga semakin melesat”. (Claudina, Caraka Muda)

