
Soreang, UPI
Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) guna memperkuat kapasitas guru dalam memberikan layanan pendidikan inklusif di Kabupaten Bandung. Program ini berfokus pada penguatan kolaborasi antara pihak sekolah dengan Unit Layanan Disabilitas (ULD) untuk menangani anak dengan hambatan fungsional belajar.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Program Studi Pendidikan Khusus FIP UPI ini mengusung tema “Dari Identifikasi Menuju Intervensi: Praktik Penanganan Anak dengan Hambatan Fungsional Belajar melalui Kolaborasi Sekolah–Unit Layanan Disabilitas (ULD)”. Rangkaian program dilaksanakan dalam dua tahap, yakni secara daring pada 29 Juni 2026 dan puncaknya secara luring pada 8 Juli 2026 di SD Negeri Panyirapan 3, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.
Ketua Pelaksana PkM, Dr. Imas Diana Aprilia, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini bertujuan membekali guru agar mampu mengidentifikasi hambatan fungsional belajar, melaksanakan asesmen edukatif, hingga menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI).
“Melalui kegiatan ini kami berharap guru memiliki bekal yang lebih komprehensif. Dengan demikian, kolaborasi antara sekolah, ULD, dan pemerintah daerah dapat terus diperkuat untuk menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif dan berpusat pada kebutuhan anak,” ujar Dr. Imas Diana Aprilia dalam keterangannya.

Rangkaian acara dimulai dengan sesi pembekalan daring yang menghadirkan Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Dr. Iis Suryatini, M.Ag., serta praktisi pendidikan Drs. Nandang Koswara, M.Pd. Sesi awal ini membedah kebijakan pendidikan inklusif dan praktik baik kolaborasi antara sekolah reguler, Sekolah Luar Biasa (SLB), dan ULD.
Pada kegiatan luring di Soreang, para guru langsung menjalani pelatihan intensif yang dipandu oleh tim dosen ahli dari FIP UPI. Pelatihan tersebut meliputi Identifikasi Hambatan Belajar: Dipandu oleh Dr. Tati Hernawati, M.Pd., di mana peserta melatih kepekaan mengenali karakteristik dan kebutuhan spesifik siswa lewat analisis studi kasus. Asesmen Edukatif: Dipandu oleh Prof. Dr. Juhanaini, M.Ed., yang membedah teknik menganalisis hasil asesmen untuk merancang layanan pembelajaran yang sesuai. Penyusunan PPI Sederhana: Dipandu oleh Dr. Agus Irawan Sensus, M.Pd., yang memfokuskan guru pada penyempurnaan dokumen program pembelajaran individual yang siap diimplementasikan di kelas.
Di sela-sela pelatihan, tim PkM UPI bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung juga menggelar diskusi paralel untuk merumuskan strategi evaluasi dan memastikan keberlanjutan program ini di satuan pendidikan.
Antusiasme peserta terlihat tinggi dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Banyak guru memanfaatkan momen ini untuk mengonsultasikan kendala nyata yang mereka hadapi saat menangani anak dengan hambatan belajar di sekolah masing-masing.

Melalui program ini, Tim PkM FIP UPI yang juga beranggotakan Prof. Dr. Budi Susetyo, M.Pd., Dr. Hj. Neni Meiyani, M.Pd., Eka Yuli Astuti, M.Pd., Nadia Syifa Azzahra, S.Pd., dan Bella Anggreani Putri berharap kompetensi guru yang meningkat dapat mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan yang lebih ramah disabilitas. Sinergi yang kuat antara sekolah, ULD, dan pemerintah daerah diharapkan mampu memastikan setiap anak dengan hambatan belajar di Kabupaten Bandung mendapatkan hak pendidikan yang tepat dan sesuai potensinya. (DN)

