Bandung, UPI

Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar The 19th International Conference on Applied Linguistics (CONAPLIN) yang dirangkaikan dengan The 4th Primary English Language Teachers Indonesia (PELTIN) Conference di Gedung Pascasarjana ADB UPI, Senin (10/8/2026). Mengusung tema “Multilingual Pathways: Acquisition, Pedagogy, and Policy Beyond Additional Language Learning”, konferensi membahas perkembangan pemerolehan, pembelajaran, dan kebijakan bahasa dalam masyarakat yang multibahasa.

Konferensi tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pendidik, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan perkembangan linguistik terapan serta pembelajaran bahasa. Agenda ilmiah berlangsung melalui sesi keynote, plenary, featured, dan presentasi paralel yang membahas antara lain pedagogi bahasa, perkembangan linguistik, literasi, teknologi pembelajaran, kebijakan bahasa, sosiolinguistik, serta penerjemahan.

Pada CONAPLIN ke-19, Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, hadir sebagai keynote speaker. Sementara itu, sesi plenary menghadirkan Pauline Jones dari University of Wollongong, Australia; Kristof Savski dari Prince of Songkla University, Thailand; serta Kevin McCaughey dari Regional English Language Office.

Kehadiran para pembicara tersebut memperkuat posisi CONAPLIN sebagai ruang pertukaran gagasan mengenai perkembangan linguistik terapan dalam konteks pendidikan dan komunikasi global. Forum ini juga memperluas perspektif peserta melalui kajian bahasa yang berasal dari berbagai konteks akademik dan negara.

Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., mengatakan CONAPLIN memiliki sejarah panjang di UPI. Menurutnya, konferensi tersebut pertama kali didirikan ketika dirinya menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa UPI.

“CONAPLIN itu Conference on Applied Linguistics. Ini sudah yang ke-19. Itu didirikan pertama kalinya waktu saya kepala Balai Bahasa,” ujar Prof. Didi.

Menurut Prof. Didi, penyatuan CONAPLIN dan PELTIN menjadi relevan dengan perkembangan pembelajaran bahasa saat ini. Linguistik terapan tidak hanya mencakup bahasa Inggris, tetapi juga berbagai bahasa lain, sementara PELTIN memberikan perhatian khusus terhadap pembelajaran bahasa Inggris pada jenjang pendidikan dasar.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap penguatan pembelajaran bahasa semakin penting seiring rencana penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai kelas III pada 2027. Kondisi tersebut membutuhkan kontribusi pemikiran akademisi dan praktisi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta menyiapkan guru yang kompeten.

“Sangat diperlukan sumbangan pemikiran dari para dosen, para peneliti, para praktisi terkait dengan bagaimana kita bisa mengajar lebih baik, terutama bagaimana menghasilkan guru yang baik dan bagaimana menghasilkan hasil belajar yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana CONAPLIN ke-19 dan PELTIN ke-4, Dr. Iyen Nurlaelawati, S.Pd., M.Pd., mengatakan tema Multilingual Pathways mencerminkan perubahan praktik penggunaan bahasa dalam kehidupan masyarakat.

“Penggunaan bahasa sekarang tidak lagi hanya berdasarkan satu bahasa, tetapi dari berbagai bahasa yang dipakai oleh seseorang untuk menyampaikan pesan yang ingin ditujunya,” ujar Dr. Iyen.

Menurutnya, konferensi juga menjadi ruang untuk mempertemukan hasil penelitian dari berbagai wilayah dan negara. Presentasi yang berlangsung mencakup beragam kajian mengenai pemerolehan bahasa, pedagogi inovatif dan inklusif, translanguaging, ideologi bahasa, serta kebijakan kebahasaan.

Melalui CONAPLIN ke-19 dan PELTIN ke-4, Balai Bahasa UPI mendorong pertukaran pengetahuan antara penelitian dan praktik pembelajaran bahasa. Forum tersebut diharapkan memperkaya kajian linguistik terapan sekaligus merespons kebutuhan komunikasi dalam masyarakat global yang semakin multibahasa. (RK/RI/DN)