
Bandung, UPI
Keberhasilan Program Penguatan Profesional Kependidikan (PROBIDIK) GEMA Jabar tidak cukup diukur dari jumlah mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang ditempatkan di sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dr. H. Purwanto, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa efektivitas program harus terlihat dari keberlangsungan layanan pembelajaran serta capaian kompetensi siswa.
Hal tersebut disampaikan Purwanto dalam kegiatan Pengarahan Program PROBIDIK GEMA Jabar bagi Dosen Pembimbing Lapangan dan Guru Pamong di Gedung Achmad Sanusi, Balai Pertemuan Universitas (BPU) UPI, Jumat (14/8/2026).
Menurut Purwanto, indikator awal keberhasilan program dapat dilihat dari kemampuan sekolah tetap memberikan layanan pembelajaran kepada siswa melalui kehadiran mahasiswa UPI yang melaksanakan praktik kependidikan. Selanjutnya, dampak tersebut perlu dilihat melalui hasil belajar siswa pada akhir semester.
“Kalau anak-anak di sekolah terlayani pembelajarannya melalui kehadiran mahasiswa UPI yang sedang praktik di sekolah-sekolah, kemudian anak-anaknya mendapatkan layanan pembelajaran dengan baik, dan di akhir semester melalui asesmen bisa memperlihatkan kompetensi sesuai dengan capaian pembelajarannya, ini berarti program bisa dibilang berhasil,” ujar Purwanto.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar program tidak berhenti pada aktivitas mahasiswa berada di sekolah. Data mengenai proses dan hasil pembelajaran dapat menjadi dasar untuk melihat apakah kehadiran mahasiswa benar-benar memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Konteks program tersebut tidak terlepas dari kebutuhan guru di Jawa Barat. Purwanto menyebut kebutuhan guru yang sebelumnya sekitar 4.600 orang kini mencapai 5.041 orang, sementara sekitar 1.100 guru memasuki masa pensiun setiap tahun. Kondisi tersebut membuat sekolah tetap harus menjaga keberlangsungan layanan pembelajaran meskipun pemenuhan guru melalui pengangkatan pemerintah masih berlangsung.
Purwanto menilai kehadiran mahasiswa UPI melalui GEMA Jabar dapat menjadi kontribusi sementara terhadap persoalan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa program ini tidak menggantikan kebutuhan pemerintah untuk melakukan pengangkatan guru secara permanen.
“Mudah-mudahan nanti secepatnya pemerintah mengangkat guru-guru, baik melalui jalur PPPK maupun PNS. Kita berharap agar sekolah-sekolah kita kembali dipenuhi oleh guru-guru yang secara aturan diangkat oleh pemerintah dan mendapatkan penghasilan yang layak,” katanya.

Di sisi lain, Purwanto melihat pelaksanaan GEMA Jabar sebagai peluang bagi UPI untuk melakukan penelitian mengenai efektivitas praktik mahasiswa di sekolah. Sekolah yang menjadi lokasi program dapat dikembangkan sebagai living lab bagi dosen dan mahasiswa, khususnya untuk mengkaji hubungan antara kehadiran mahasiswa praktik dengan layanan dan hasil pembelajaran.
“Kita punya living lab sekolah, UPI punya mahasiswa yang harus melaksanakan praktik, kemudian ini bisa menjadi lahan untuk penelitian-penelitian baik mahasiswa maupun dosen,” ujarnya.
Evaluasi tersebut diharapkan menghasilkan data yang dapat digunakan untuk mengembangkan model praktik kependidikan yang lebih efektif. Dengan demikian, GEMA Jabar tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa memperoleh pengalaman mengajar, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran dan penelitian bagi UPI serta bahan evaluasi bagi pengembangan kebijakan pendidikan di Jawa Barat. (RK)

