
Bandung, UPI
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Didi Sukyadi, M.A., memberikan apresiasi tinggi kepada Nabilah Dwisepti Cahyani atas keberhasilannya meraih Juara III Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2026 Kategori Sarjana sekaligus lolos program pertukaran mahasiswa di The University of Kitakyushu, Jepang.
Menurut Rektor UPI, prestasi tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa mengingat ketatnya persaingan dan berbagai persyaratan yang harus dilalui dalam kompetisi bergengsi tersebut
“Tidak mudah, banyak sekali persyaratannya, banyak sekali jalan terjal yang harus dilalui. Pokoknya persaingannya luar biasa, kompetisinya luar biasa. Ini sangat-sangat bergengsi untuk tingkat nasional,” ujar Prof. Didi di Ruang Rapat Gd. Partere Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Senin (14/9/2026).
Ia menilai keberhasilan Nabilah menjadi capaian yang patut diapresiasi. Meskipun belum meraih posisi pertama, perolehan juara tiga dinilai sebagai bukti bahwa perjuangan dan kerja keras yang dilakukan telah membuahkan hasil.
“Namun Alhamdulillah Nabilah berhasil memecahkan kebuntuan itu. Kita walaupun belum nomor satu, tapi nomor tiga pun Alhamdulillah. Suatu capaian yang luar biasa, yang patut kita apresiasi,” ungkapnya.
Sebagai bentuk penghargaan, UPI memberikan apresiasi kepada Nabilah. Prof. Didi menegaskan bahwa nilai materi dari apresiasi tersebut bukanlah hal utama, melainkan sebagai bentuk penghormatan institusi terhadap perjuangan dan prestasi yang telah diraih.
“Kalau dari sisi jumlah uang tidak besar. Tapi mudah-mudahan ini menjadi tanda bahwa kita mengapresiasi perjuangan Nabilah. Bahwa setiap perjuangan tidak akan sia-sia, bahwa setiap perjuangan tentu ada manfaatnya,” tuturnya.
Prof. Didi berharap apresiasi tersebut dapat turut membantu Nabilah dalam mempersiapkan rencana magangnya di Jepang. Ia menyadari bahwa kesempatan untuk mengikuti program magang di luar negeri merupakan kesempatan yang tidak dimiliki oleh semua mahasiswa. Meskipun selama magang mahasiswa dapat memperoleh penghasilan, kebutuhan dan pengeluaran selama berada di Jepang juga perlu dipersiapkan.
Selain prestasinya, Prof. Didi juga mengapresiasi kemandirian Nabilah yang telah mampu memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikannya secara lebih mandiri.
“Saya juga mengapresiasi Nabilah yang saat ini sudah mampu hidup mandiri. Tidak lagi mengandalkan biaya hidupnya itu dari orang tua,” katanya.
Menurutnya, bantuan yang diberikan juga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pendidikan Nabilah, termasuk pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Lebih jauh, ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya, tidak hanya dalam bidang akademik dan pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, tetapi juga dalam kehidupan.
Lebih lanjut, Prof. Didi menjelaskan bahwa UPI akan terus melakukan pembinaan mahasiswa berprestasi secara berkelanjutan. Proses tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dari tingkat fakultas hingga tingkat universitas.
“Kita melakukan pembinaan yang terus-menerus. Kita lakukan proses Pilmapres ini sejak dari unit yang paling rendah yaitu di tingkat fakultas,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama Rektor UPI pun menjelaskan rencana kedepannya akan seperti apa, agar bisa mencetak talenta berprestasi lainnya dengan cara proses seleksi di tingkat fakultas, UPI akan memilih sejumlah mahasiswa terbaik untuk menjadi calon yang mewakili universitas. Para mahasiswa terpilih selanjutnya mendapatkan pembinaan dari berbagai aspek untuk mempersiapkan mereka menghadapi kompetisi tingkat nasional.
Pembinaan tidak hanya diarahkan pada capaian unggulan dan karya inovatif, tetapi juga mencakup kemampuan pendukung seperti public speaking dan bahasa Inggris.
“Pembinaan dari sisi capaian unggulan, pembinaan dari sisi karya-karya yang lain, karya inovatif. Juga dari sisi kemampuan seperti kemampuan public speaking, kemampuan bahasa Inggris. Itu memerlukan waktu yang tidak sebentar,” ujar Prof. Didi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya proses pembinaan dilakukan lebih awal. Menurutnya, pola pembinaan akan terus dikembangkan dan disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa yang menjadi calon peserta setiap tahunnya.

“Jadi lebih awal bagi kita lebih baik. Kita akan lakukan pola pembinaan yang sama seperti yang sebelumnya. Walaupun tentu saja setiap tahun itu tidak akan sama, karena bahan bakunya, bahan dasarnya juga pasti tidak sama,” katanya.
Prof. Didi mengakui bahwa keberhasilan seorang mahasiswa dalam kompetisi tidak semata-mata ditentukan oleh proses pembinaan. Kualitas dasar yang telah dimiliki mahasiswa juga menjadi faktor penting dalam menentukan capaian.
Ia berharap UPI dapat kembali menemukan mahasiswa dengan kualitas yang setidaknya setara dengan Nabilah sehingga proses pembinaan dapat dilakukan secara optimal.
“Mudah-mudahan kita juga nanti mampu menemukan calon yang paling tidak, kalau bisa sih Allah memberikan kita calon mapres yang sama kualitasnya dengan Nabilah,” ujarnya.
Meski demikian, UPI akan tetap berupaya meningkatkan kualitas pembinaan agar prestasi mahasiswa dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Prof. Didi menyadari bahwa mengulang prestasi yang sama bukanlah sesuatu yang mudah.
“Kalau bisa lebih baik. Misalnya juara dua. Itu walaupun menurut saya belum tentu kita bisa mengulang prestasi ini. Untuk bisa mengulang juara tiga saja kalau bisa diulang lagi itu suatu hal yang bagus. Apalagi kalau juara dua itu luar biasa,” pungkasnya.
Capaian Nabilah sekaligus menjadi motivasi bagi UPI untuk terus memperkuat ekosistem pembinaan mahasiswa berprestasi. Melalui proses seleksi yang lebih awal, pembinaan yang berkelanjutan, serta penguatan kompetensi akademik dan nonakademik, UPI berkomitmen memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi terbaiknya dan mengharumkan nama universitas di tingkat nasional maupun internasional. (RI/RK)

