Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Program Studi PGSD Pendidikan Jasmani Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) kembali menggelar Festival Gerak 2026 di Stadion UPI Bandung, Rabu (23/9/2026). Mengusung tema “The Joy of Movement”, agenda tahunan ini dirancang sebagai wadah inklusif bagi siswa sekolah dasar (SD) untuk mengeksplorasi kemampuan fisik dan gerak dasar atletik secara menyenangkan.

Dinas Pendidikan Kota Bandung melalui perwakilannya, Agus Abdul Cholik, menyambut hangat pelaksanaan ajang ini. Menurutnya, konsep pembelajaran di luar ruangan (outdoor learning) seperti Festival Gerak sejalan dengan gerakan pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk memperkuat karakter dan gaya hidup sehat murid.

“Belajar itu tidak hanya harus di kelas, tetapi bisa di luar kelas. Salah satu bentuk implementasinya yaitu melalui kegiatan Festival Gerak 2026 ini,” tutur Agus.

Wakil Dekan 1 Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu FPOK UPI, Dr. Jajat Darajat Kuswardara, S.Pd., M.Pd., AIFO, menegaskan saat membuka acara bahwa nilai utama kegiatan ini terletak pada pembangunan mental sportivitas, bukan sekadar perburuan piala.

“Jangan hanya ingin menjadi seorang juara. Di Festival Gerak ini, adik-adik semua diajak untuk berani mencoba, berani mengalami kekalahan, dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Semua di sini adalah keluarga dan teman-teman,” ujar Dr. Jajat membakar semangat para peserta.

Kembalikan Esensi Gerak dan Cegah Drop Out Berolahraga

Ketua Program Studi PGSD Pendidikan Jasmani FPOK UPI menjelaskan bahwa festival yang telah memasuki tahun ke-3 atau ke-4 ini digagas untuk menjawab fenomena drop out atau kejenuhan berolahraga pada anak SD akibat tekanan kompetisi prestasi yang terlalu dini.

“Di sini mereka benar-benar menikmati esensi geraknya. Sertifikatnya pun sudah terkoordinasi dengan Puspresnas, sehingga sekolah-sekolah sangat berantusias untuk berpartisipasi,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa sistem dalam Festival Gerak mengacu pada kajian teori kognitif dan kinesiologi anak, di mana peserta dikelompokkan berdasarkan fase pertumbuhan: Fase A (Kelas 1–2), Fase B (Kelas 3–4), dan Fase C (Kelas 5–6). Pendekatan ini dirancang agar anak tidak dibebani persaingan yang tidak setara, melainkan terdorong untuk melawan dan mengembangkan kapasitas diri sendiri di tengah maraknya gawai (gadget) dan gaya hidup sedenter (wasting time) pada anak-anak zaman sekarang.

Pengelompokan ini bertujuan agar anak dapat berkembang sesuai kapasitas diri tanpa terbeban persaingan yang tidak setara, sekaligus menjadi sarana mengalihkan anak dari gaya hidup sedenter dan ketergantungan pada gawai (gadget).

Dukungan NOA Indonesia dan Target 1.000 Peserta

Konsistensi UPI mengawal fondasi fisik anak mendapat apresiasi penuh dari National Olympic Academy (NOA) Indonesia di bawah Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Perwakilan NOA Indonesia, Ocky Tri Gogik Sunarto, menilai ajang ini sangat vital dalam fase fundamental learn to move.

“Ini sangat bagus sekali untuk fundamental atlet. Jangan sampai ketika anak berada di fase how to commit dan how to win, gerak dasarnya justru keliru. Dari NOA Indonesia kami sangat mengapresiasi dan mendukung agar kegiatan ini berjalan secara sustainable,” puji Ocky, seraya menekankan penanaman nilai olimpisme yaitu friendship, respect, dan excellence.

Ketua Pelaksana Festival Gerak 2026, Mukhlisin, M.Pd., menerangkan bahwa festival tahun ini memuat nomor atletik dasar berupa lari, lempar, dan lompat. Ke depan, FPOK UPI membidik sinergi lintas pemangku kepentingan seperti Kemenpora, Dinas Pendidikan, dan Disbudpar untuk menargetkan 1.000 peserta se-Kota Bandung tahun depan, lengkap dengan instrumen pengukuran kebugaran terstandar.

Manfaat positif turut dirasakan para orang tua murid. Ibu Uya, orang tua siswa dari SDN Baros Mandiri 6 dan Club Family Athletic, menuturkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak fisik dan psikologis yang nyata bagi anak.

“Anak-anak zaman sekarang banyak terpapar gadget. Melalui kegiatan ini, selain badan sehat, anak-anak juga happy karena olahraga mengeluarkan hormon dopamin. Ini menjadi pengalaman berharga sebagai bekal mereka ke depannya,” tutup Ibu Uya. (FauzanSp & Varrel / Caraka Muda)