Bandung, UPI

Prof. Dr. Mamat Supriatna, M.Pd., Guru Besar Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam bidang Bimbingan dan Konseling Karier dalam orasi ilmiah pada Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 mengatakan Paradigma karier pada abad ke-21 mengalami pergeseran mendasar. Jika abad ke-20 dikenal sebagai abad ilmu pengetahuan, maka abad ke-21 disebut sebagai abad kebijaksanaan di mana pencapaian karier tidak lagi diukur semata dari aspek intelektual, tetapi juga dari dimensi spiritual dan etis. Selasa, (4/11/2025).

Menurut Prof. Mamat, manusia modern kini tidak hanya mengejar efisiensi dan hasil kerja, melainkan juga makna serta keberkahan hidup. “Dalam abad kebijaksanaan ini, manusia dituntut untuk menyeimbangkan antara kemajuan material, nilai kemanusiaan, dan kedalaman spiritual,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa peradaban manusia telah melalui berbagai era, mulai dari berburu, pertanian, hingga industri yang masing-masing memiliki pola pikir berbeda. Memasuki era baru, manusia perlu menemukan keseimbangan antara pencapaian lahiriah dan makna batiniah dari setiap usaha yang dilakukan.

Lebih lanjut, Prof. Mamat memaparkan bahwa karier sukses di abad ke-21 tidak dapat lagi dipandang dari sisi ekonomi semata. Kesuksesan karier ditopang oleh lima dimensi kecakapan hidup, yakni kecakapan akademik, praktikal, kreatif, pribadi, dan spiritual.

“Dari kelima dimensi itu, kecakapan spiritual menjadi lokomotif yang mengarahkan semua potensi manusia menuju kebermanfaatan bagi diri sendiri, lingkungan, sesama, dan Tuhannya,” tuturnya.

Dalam konteks bimbingan dan konseling karier, lanjutnya, pendekatan pendidikan di abad ke-21 perlu menumbuhkan bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kebijaksanaan moral dan spiritual. “Bimbingan dan konseling karier berfungsi menuntun individu agar tidak sekadar pintar dan terampil, melainkan juga bijak, berkarakter, dan memiliki daya spiritual tinggi,” ungkapnya.

Menurutnya, pendidikan harus menjadi wahana yang memuliakan manusia dengan menumbuhkan empati sosial dan menghargai keberagaman budaya. Keberagaman, kata dia, merupakan kekuatan dan identitas bangsa yang harus dijaga melalui pendekatan konseling yang menghormati nilai-nilai multikultural.

Prof. Mamat menegaskan bahwa karier sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan spiritual menuju keseimbangan, kebahagiaan, dan kebermaknaan hidup. Setiap individu memiliki jalur karier yang unik sesuai potensi dan fitrahnya. “Kesuksesan karier bersifat individual, diukur dari sejauh mana seseorang mengenali, mengembangkan, dan memaknai potensi dirinya,” jelasnya.

Ia menambahkan, manusia yang sukses sejati adalah mereka yang mampu mewujudkan peran ganda sebagai khalifah yang membawa manfaat bagi sesame dan sebagai abdullah, yakni makhluk yang menghamba kepada Allah SWT.

Nilai-nilai spiritual tersebut, menurut Prof. Mamat, tercermin dalam petuah Sunda, “Sarigig kudu jeung harti, sarengkak reujeung pikiran, memeuh prak sing ati-ati, mun sidik goreng singkiran.” Petuah ini mengajarkan pentingnya berpikir sebelum bertindak serta menjaga agar setiap tindakan selalu bermakna dan selaras dengan akal sehat dan nilai-nilai luhur.

“Karier yang sejati bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, tetapi siapa yang paling bijak memaknai perjalanan hidupnya,” pungkas Prof. Mamat. (DN/Rija)