
Banda Naira, UPI — Mahasiswa Pecinta Alam Civics Hukum (MAPACH) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI) melaksanakan ekspedisi tahunan bertajuk “Safari Sadar Hukum: Merawat Warisan Sejarah, Menguatkan Pendidikan, dan Menjaga Lingkungan Banda Naira.” Banda Naira, Maluku Tengah, 22-28 Juni 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—serta wujud nyata kontribusi mahasiswa terhadap pelestarian nilai-nilai kebangsaan dan lingkungan di kawasan timur Indonesia.
Ekspedisi ini melibatkan kerja sama lintas universitas, yakni dengan MAHARIPALA Universitas Banda Naira dan MAHIPALA Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji, menandai semangat kolaborasi mahasiswa Indonesia dari barat hingga timur. Melalui kegiatan ini, MAPACH FPIPS UPI menunjukkan komitmennya dalam memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai pusat pemberdayaan dan pelestarian warisan sejarah bangsa.
Dalam pilar pendidikan, tim ekspedisi mengadakan sosialisasi peduli lingkungan bersama anak-anak Generasi Warna-Warni di Sekolah Beta Alam. Kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini melalui pendekatan partisipatif dan permainan edukatif. Anak-anak diajak memahami indikator lingkungan sehat serta mencegah kerusakan alam akibat aktivitas manusia. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran timbal balik antara mahasiswa dan masyarakat, sekaligus sarana menanamkan nilai tanggung jawab ekologis dalam pendidikan kewarganegaraan.

Selain itu, digelar pula seminar bertema integrasi filsafat lingkungan dan pendidikan sejarah yang menghadirkan Rektor Universitas Banda Naira, Dr. Muhammad Farid, M.Sos., sebagai narasumber. Seminar ini berlangsung di rumah pengasingan Bung Hatta, salah satu situs bersejarah di Banda Naira. Dalam pemaparannya, Dr. Farid menekankan pentingnya memahami warisan sejarah bangsa sebagai sumber inspirasi nasionalisme dan keadilan pendidikan. “Semangat Bung Hatta dalam mendirikan sekolah sore bagi anak-anak Banda adalah cermin perjuangan pendidikan yang berkeadilan,” ujarnya.
Ekspedisi ini juga berkolaborasi dengan tim KKN-Neira Basudara Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Focus Group Discussion (FGD) penyusunan modul pembelajaran kontekstual untuk sekolah alternatif. Kolaborasi ini menghasilkan pertukaran gagasan mengenai pendidikan berbasis lokalitas, integrasi nilai sosial, dan kesadaran lingkungan. Sinergi antar universitas ini memperlihatkan semangat Partnership for the Goals (SDG 17)—kemitraan lintas institusi untuk penguatan pendidikan yang relevan dan berkelanjutan.

Dalam pilar penelitian, MAPACH UPI melakukan kajian mendalam terhadap situs-situs sejarah di Banda Naira sebagai sumber pembelajaran nilai nasionalisme. Tim melakukan observasi langsung dan wawancara dengan tokoh lokal di sejumlah lokasi bersejarah, antara lain Rumah Pengasingan Bung Hatta, Benteng Belgica, Benteng Nassau, Perkebunan Pala, dan Parigi Rante. Penelitian ini bertujuan menggali potensi situs sejarah sebagai media pembentukan karakter kewarganegaraan yang berakar pada nilai perjuangan dan cinta tanah air.

Adapun pilar pengabdian diwujudkan melalui penanaman 50 bibit mangrove jenis Rhizhopora di pesisir Pantai Tanda, bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku. Kegiatan ini melibatkan pemuda Dusun Kalombo dan komunitas lokal dalam upaya konservasi pesisir serta mitigasi perubahan iklim. Aksi penanaman ini sekaligus mendukung capaian SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dengan mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekologi.

Sebagai simbol identitas pecinta alam, tim ekspedisi menutup kegiatan dengan pendakian Gunung Api Banda (656 mdpl) dan kunjungan ke Pulau Syahrir serta Pulau Karaka. Momen ini menjadi refleksi atas makna keberagaman Indonesia serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Ketua Adat MAPACH, Diki Okdiansyah, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya ekspedisi ini. “Ketika kami berhasil menginjakkan kaki di Banda Naira, kami benar-benar menyadari bahwa Indonesia bukan sekadar peta, melainkan kehidupan yang nyata di setiap langkah perjalanan. Banda mengajarkan kami bahwa setiap pulau memiliki kisahnya sendiri,” ujarnya.
Kegiatan Ekspedisi Safari Sadar Hukum MAPACH UPI 2025 ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi juga hadir untuk masyarakat dan lingkungan. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang berpihak pada keberlanjutan, UPI dalam hal ini terus memperkuat perannya sebagai universitas yang berdampak bagi bangsa dan bumi Indonesia.
Kontributor: UKM MAPACH FPIPS UPI













