Perkuat Komitmen Pimpinan Baru, UPI Gelar Retret di Dodik Rindam III/Siliwangi
29 Aug 2025 • Humas UPI
Para peserta Retret Bersiap Melaksanakan Apel Pagi di Dodik Rindam III/ Siliwangi, Cikole, Lembang, Kab Bandung Barat. Dok: KKIPP (2025).
LEMBANG, 29 Agustus 2025 – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Retret Kepemimpinan dan Bela Negara bagi pejabat struktural periode 2025–2030 di Dodik Rindam III/Siliwangi, Lembang, pada 27–29 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai kepemimpinan, loyalitas, integritas, serta semangat kebangsaan seluruh pimpinan baru UPI.
Retret ini diikuti oleh jajaran pejabat struktural UPI, mulai dari para wakil rektor, dekan, wakil dekan, direktur kampus daerah, kepala biro, kepala direktorat, ketua prodi, hingga kepala unit pendukung lainnya. Tingkat partisipasi peserta mencapai 93 persen dari total pejabat baru yang telah dilantik.
Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menyatukan arah visi dan strategi kelembagaan, sekaligus menanamkan nilai bela negara sebagai bagian dari karakter kepemimpinan akademik. “UPI harus hadir sebagai universitas pelopor dengan tata kelola yang unggul dan berdaya saing global. Retret ini menjadi wadah konsolidasi agar seluruh pimpinan berjalan dalam satu komando, dengan semangat kolaboratif dan integritas yang kuat,” ujarnya.
Selain itu, retret juga menekankan pentingnya loyalitas terhadap kepemimpinan universitas, penguatan budaya kerja kolaboratif, serta kesadaran akan hak dan kewajiban dalam struktur organisasi. Nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan semangat bela negara menjadi pilar utama yang dibangun selama kegiatan.
Sejumlah tokoh nasional hadir memberikan materi, di antaranya:
Ketua Majelis Wali Amanat UPI, Komjen Pol (Purn) Drs. Nanan Soekarna
Direktur Kelembagaan Kemendikti Saintek, Prof. Dr. Mukhamad Najib, STP., MM.
Plt. Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. med. Setiawan, dr.
Inspektur Jenderal Kemdikti Saintek, Dr. Chatarina Muliana, S.H., S.E., M.H.
Founder ESQ Leadership Center, Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian
Founder & Chair of MCorp, Dr. (H.C.) Hermawan Kartajaya, S.M., M.Sc.
Para narasumber menekankan pentingnya integritas kepemimpinan, etos kerja profesional, strategi menghadapi tantangan pendidikan tinggi, serta penguatan daya saing universitas dalam skala global.
Kegiatan retret ini juga menjadi ruang refleksi sekaligus penyusunan komitmen personal dan institusional bagi seluruh pejabat baru. Komitmen tersebut nantinya akan diterjemahkan ke dalam aksi nyata dalam mendukung visi UPI sebagai universitas pelopor dan unggul di Asia, sejalan dengan agenda nasional Dikti Saintek Berdampak.
Dengan berakhirnya kegiatan, seluruh pimpinan UPI periode 2025–2030 diharapkan semakin solid, disiplin, serta mampu membawa universitas ke arah yang lebih maju, inovatif, dan berdaya saing internasional. (RK 08/25)
Dari Kampus untuk Bumi: UPI GreenCampus dan Aksi Pemilahan Sampah dalam MOKA-KU UPI 2025
29 Aug 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI – 28 Agustus 2025. Universitas Pendidikan Indonesia melalui Tim Greenmetric menginisiasi kampus hijau sejak 2018 oleh Ar. Dr. Eng. Beta Paramita, S.T., M.T., IAI., GP. yang kemudian menjadi program UPI GreenCampus. Mulanya, tim ini terbentuk berdasarkan kebutuhan untuk pemeringkatan universitas dalam aspek sustainability. Tim menyadari bahwa untuk mewujudkan kampus hijau yang ideal membutuhkan komitmen semua pihak agar dampaknya dapat dilihat dan dirasakan langsung, bukan sekedar pencapaian dalam pemeringkatan. UPI GreenCampus merupakan gerakan yang mendukung terwujudnya kampus UPI yang berkelanjutan melalui “harmoni ilmu dan alam”.
Program UPI GreenCampus salah satunya mendukung SDG 12Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab. Pada penyelenggaraan Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKA-KU) UPI 2025, tim greenmetric mendapat kesempatan untuk berkoordinasi dengan panitia MOKA-KU UPI 2025 sehingga salah satu agenda edukasi “Pemilahan Sampah sesuai Kategori” dapat dilaksanakan melalui praktek langsung di lokasi. Dr. Rani Megasari, M.T sebagai koordinator area waste and water tim greenmetric bersama Retno Ayu Hardiyanti, M.Pd menyambut baik kesempatan ini dengan mengupayakan berbagai hal yang dapat memperbesar peluang sukses pemilahan sampah di lokasi gymnasium UPI pada tanggal 25, 27, dan 28 Agustus 2025.
Tercatat lebih dari sembilan ribu mahasiswa baru dalam MOKA-KU UPI tahun ini, sehingga potensi timbulan sampah akan sangat besar terpusat di gedung gymnasium. Momentum yang sangat baik untuk edukasi pemilahan sampah sesuai kategori.
Edukasi dengan sasaran mahasiswa baru merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan insan kampus yang lebih memiliki wawasan lingkungan yang baik. Strategi lainnya adalah dengan merekrut relawan dari mahasiswa lintas program studi dan angkatan yang selanjutnya memberi nama komunitasnya dengan sebutan ZeroWaste Rangers Universitas Pendidikan Indonesia, diketuai oleh Kaka Satria Pratama. Sebanyak 8 set keranjang sampah didistribusikan di empat jalur mobilitas mahasiswa. Setiap set terdiri dari empat keranjang dengan warna berbeda, yaitu hijau untuk sampah organik, biru untuk sampah kertas, kuning untuk sampah botol dan gelas plastik, serta merah untuk anorganik non kertas seperti logam dan kaca. Selain informasi berupa label kategori di setiap keranjang, keranjang sampah juga didesain khusus agar terlihat isinya sehingga memudahkan dalam memahami kategori sampah.
Selama tiga hari penyelenggaraan MOKA-KU UPI di Gymnasium, tim berhasil mengawal pemilahan sampah dengan total sampah sebanyak 711,8 kg (dominasi sampah botol kecil pecahan kaca sebanyak 577,6 kg)berhasil dikirim ke Bank Sampah Bersinar untuk didaur ulang. Hasil penukaran sampah berupa uang sejumlah Rp396.440 didonasikan melalui Lembaga Beasiswa IKA UPI untuk membantu mahasiswa UPI yang terkendala biaya pendidikan, selaras dengan SDG 4 Pendidikan yang Berkualitas. Langkah ini juga merupakan strategi untuk edukasi yang lebih luas, tentang program donasi sampah terpilah oleh civitas UPI dan masyarakat sekitar UPI sebagai program lanjutan menginisiasi program bank sampah di lingkungan UPI. Donasi yang biasanya dalam bentuk uang diberikan dalam bentuk sampah terpilah sebagai strategi penanganan sampah dari hulu dapat menjadi kampanye untuk disebarluaskan secara massive. Selain itu, program ini juga mendapat respon positif petugas kebersihan UPI karena dapat mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA secara signifikan yang selama ini menjadi permasalahan yang sulit diselesaikan dan menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung.
Selain menjalin kemitraan dengan Bank Sampah Bersinar, sampah terpilah juga akan disalurkan dan diolah oleh internal UPI untuk mendukung penelitian dan pengabdian, serta mendukung banyak inovasi tentang pengelolaan sampah secara berkelanjutan sesuai SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Tim berharap gerakan ini dapat terus berlanjut dan semakin meluas serta membudaya, program-program dengan tujuan yang sama dapat disinergikan, semua pihak turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam aksi ini sesuai dengan keilmuan dan kapasitas masing-masing. UPI GreenCampus, Harmoni Ilmu dan Alam, dari Kampus untuk Bumi.
FPIPS UPI Perkuat Budaya Publikasi Ilmiah melalui Rangkaian Workshop Penulisan Artikel Ilmiah
28 Aug 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI – Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) konsisten menghadirkan kegiatan akademik yang berorientasi pada penguatan riset dan publikasi ilmiah bereputasi. Melalui rangkaian Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Bereputasi Scopus, FPIPS UPI menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas publikasi internasional, sekaligus berkontribusi pada pencapaian target universitas masuk 800 besar QS World University Rankings (QS WUR) pada tahun 2030.
Pembukaan Workshop dilaksanakan pada 31 Juli 2025 di Auditorium FPIPS UPI dengan tema “Strategi Publikasi dan Peningkatan Impact Factor untuk Dosen FPIPS”. Dekan FPIPS, Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.Pd., S.I.P., S.A.P., S.H., M.H., M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya peran dosen muda dalam membawa energi baru bagi riset dan publikasi. Ia menegaskan bahwa publikasi internasional bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, tetapi merupakan bagian dari strategi besar universitas dalam membangun reputasi akademik yang diakui di Asia dan dunia. Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Bagja Waluya, M.Pd., yang menjelaskan dampak publikasi terhadap kualitas pembelajaran mahasiswa, serta Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, yang menekankan peran riset terencana dan kolaborasi internasional sebagai fondasi publikasi bereputasi.
Rangkaian kegiatan workshop dimulai dari 7 Agustus – 28 Agustus 2025 yang menghadirkan Dr. Fitri Rahmafitira, M.Si., dengan materi “Budaya Publikasi dan Ranking Global UPI”. Dalam materinya, Ia menekankan pentingnya membangun kepakaran dosen melalui kolaborasi riset dan publikasi internasional, serta menjadikan sitasi sebagai indikator daya saing perguruan tinggi. Selanjutnya, Vidi Sukmayadi, M.Si., Ph.D., membawakan topik “Literasi, AI, dan Peneliti” yang menegaskan pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis sebagai pendukung riset tanpa menggeser peran berpikir kritis peneliti. Workshop juga menghadirkan Annisa Joviani Astari, M.I.L., M.Sc. yang menekankan pentingnya literatur dan referensi sebagai fondasi penelitian, perlunya critical analysis, serta penerapan Systematic Literature Review (SLR). Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh Vidi Sukmayadi, M.Si., Ph.D. melalui materi “Kata, Makna, & Data: Bukan Sekadar Kualitatif” yang menyoroti peran peneliti sebagai instrumen utama penelitian serta pentingnya teori dalam merancang pertanyaan dan mereduksi data agar analisis lebih terarah.
Workshop ini menjadi bagian dari program strategis FPIPS UPI yang berlangsung selama satu tahun penuh melalui skema pendampingan penulisan artikel ilmiah. Program ini menargetkan lahirnya minimal sepuluh artikel yang terbit pada jurnal internasional bereputasi Scopus serta peningkatan sitasi karya ilmiah dosen FPIPS. Seluruh peserta diwajibkan menandatangani kontrak kerja dengan Dekan FPIPS sebagai bentuk komitmen, di mana mereka ditugaskan menyusun draft artikel sepanjang minimal 5.000 kata sebelum akhir tahun 2025 serta menyiapkan proposal penelitian untuk diajukan pada tahun berikutnya. Pada tahap selanjutnya, para peserta ditargetkan menghasilkan artikel lengkap yang siap disubmit hingga mencapai status under review pada Agustus 2026.
Melalui rangkaian workshop dan pendampingan terstruktur ini, FPIPS UPI meneguhkan langkahnya dalam membangun kultur akademik yang kompetitif dan bereputasi. Upaya memperkuat publikasi internasional, memperluas jejaring riset global, serta mendorong integritas akademik menjadi fondasi penting dalam memperkuat posisi UPI di kancah pendidikan tinggi dunia. Dengan menjadikan riset dan publikasi sebagai jantung kehidupan akademik, FPIPS UPI bertekad berkontribusi nyata bagi pengakuan universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing global.
Transformasi Digital Pendidikan: Peran AI dan Informatika dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Abad 21
28 Aug 2025 • Humas UPI
Ranca Bali, 15 Agustus 2025 – Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer dan Program Studi Ilmu Komputer FPMIPA UPI bekerja sama dengan BEM KEMAKOM (Keluarga Mahasiswa Komputer) menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa workshop bagi guru SD dan SMP di Desa Indragiri, Kecamatan Ranca Bali. Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Digital Pendidikan: Peran AI dan Informatika dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Abad 21.”
Workshop ini tidak hanya berfokus pada peningkatan literasi digital para guru, tetapi juga selaras dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penguatan kompetensi guru dalam informatika dan kecerdasan buatan, kegiatan ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan memperluas akses pada praktik pembelajaran inovatif yang berbasis teknologi. Selain itu, penerapan AI dalam pendidikan juga sejalan dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) yang mendorong pemanfaatan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan di daerah.
Workshop menghadirkan dua narasumber utama. Enjun Junaeti, M.Si. membawakan tema “Informatika sebagai Pondasi Berpikir Logis dan Kreatif dalam Pembelajaran Abad 21,” yang menekankan pentingnya informatika sebagai landasan pengembangan pola pikir sistematis, logis, dan kreatif pada siswa. Sementara itu, Herbert, M.T. menyampaikan materi “Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Media dan Strategi Pembelajaran Inovatif,” yang memberikan wawasan tentang bagaimana AI dapat membantu guru merancang media pembelajaran adaptif dan kontekstual sesuai kebutuhan siswa.
Melalui kolaborasi ini, kegiatan pengabdian masyarakat juga mencerminkan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yaitu kerja sama antara perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, dan masyarakat sekolah untuk bersama-sama mewujudkan transformasi digital pendidikan di Indonesia.
Dalam sesi pembuka, Enjun Junaeti, M.Si. mengajak peserta terlibat aktif melalui sejumlah aktivitas interaktif yang dirancang khusus. Usai pemaparan singkat dan tayangan konseptual, para guru diajak menebak kata-kata tersembunyi dari simbol-simbol unik serta menggambar objek yang tersusun dari lingkaran dan persegi. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi tentang makna pola pikir logis dan kreatif. Selain itu, peserta juga mengikuti simulasi menyusun ulang “parcel mini” sebagai ilustrasi konkret dari esensi berpikir komputasional, yang menjadi landasan cara berpikir para ilmuwan komputer.
Pada awalnya sebagian besar peserta tampak ragu untuk mencoba, merasa takut salah atau belum sepenuhnya fokus terhadap kegiatan. Situasi tersebut tidak menyurutkan semangat pemateri. Dengan pendekatan yang sabar dan penuh motivasi, Enjun terus mendorong peserta untuk berani mencoba tanpa rasa takut. Ia menekankan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, dan keberanian untuk mencoba adalah langkah awal menuju pemahaman yang lebih dalam.
Menjelang akhir sesi, suasana berubah drastis. Seluruh peserta secara spontan mulai memberikan respons aktif, menunjukkan antusiasme dan keterlibatan yang tinggi. “Saya menyadari pentingnya membangun pola pikir sejak dini di setiap kegiatan pembelajaran”, ungkap seorang guru memberikan kesannya saat pelaksanaan workshop.
Di bagian akhir penyampaian materi Enjun memberikan renungan: “Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi fasilitator yang mampu menciptakan ruang aman bagi siswa untuk bereksplorasi dan mengekspresikan pengetahuannya, inilah yang fase awal berpikir kritis”. Momen ini menjadi titik balik yang penting, sekaligus penegasan dari narasumber bahwa seorang pendidik abad 21 harus memiliki kreativitas, kesabaran, dan kemampuan untuk membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik.
Setelah sesi narasumber pertama berakhir, workshop selanjutnya diisi oleh Herbert. Interaksi yang pertama kali ia lakukan kepada peserta workshop dengan bertanya: “menurut bapak/ibu pada bagian manakah cara menyiram pohon mangga yang paling baik? Tanah, batang, atau daun?”. Dengan pendekatan tersebut narasumber memulai pembicaraan dan mengajak peserta berdiskusi secara aktif, sambil mengklarifikasi jawaban peserta.
Hampir seluruh peserta tidak ada yang menjawab “daun”, pemateri menegaskan untuk kembali mengenali dampak yang timbul pada tanaman setelah terkena hujan beberapa hari sebelumnya. Dia menyatakan “nah akan muncul tunas-tunas baru bukan? Hal itu terjadi karena permukaan daun menjadi bersih dan secara otomatis proses fotosintesis menjadi sempurna. Jadi jawabannya adalah daun”, tuturnya.
Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan penayangan slide informatif mengenai perkembangan terkini kecerdasan buatan yang kini merambah hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam paparannya, narasumber menyampaikan berbagai contoh aplikasi AI yang relevan dan dapat dimanfaatkan dalam konteks pembelajaran, baik oleh guru maupun peserta didik.
Untuk kalangan pendidik, narasumber menyoroti potensi Generative AI (seperti ChatGPT, Copilot, dan Google NotebookLM) sebagai media diskusi yang efektif dalam mendukung proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Teknologi ini dinilai mampu membantu guru menyusun konten yang lebih adaptif, merancang strategi pembelajaran yang kontekstual, serta melakukan refleksi terhadap hasil belajar secara lebih sistematis.
Sementara itu, bagi peserta didik, pemateri mendorong para guru untuk berani merancang penugasan yang bersifat mendalam dan menantang daya pikir kritis. Salah satu contoh konkret yang diberikan adalah tugas yang meminta siswa untuk mengemukakan alasan atau pendapat berdasarkan berbagai pertimbangan, bukan sekadar menyampaikan definisi atau pengertian. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun kemampuan argumentatif dan memperkuat rasa ingin tahu siswa dalam proses belajar.
Sebelum mengakhiri sesi pemaparan, narasumber memberikan demonstrasi langsung mengenai cara kerja aplikasi kecerdasan buatan TeachableMachine, yang dapat dimanfaatkan untuk klasifikasi atau penentuan kategori objek secara otomatis. Dalam simulasi tersebut, ia menggunakan dua kelompok data latih: beberapa gambar kuda dimasukkan ke dalam kelas “A”, sementara sejumlah gambar kunci dikategorikan sebagai kelas “B”.
Setelah data latih dimasukkan, aplikasi secara otomatis membangun model klasifikasi berbasis pembelajaran mesin. Model ini kemudian memungkinkan pengguna untuk menguji gambar baru yang belum pernah dikenali sebelumnya. Ketika gambar baru dimasukkan, sistem akan menganalisisnya dan secara otomatis menentukan apakah gambar tersebut termasuk dalam kelas “A” atau “B”, berdasarkan pola yang telah dipelajari dari data latih.
Sebagai penutup Herbert, tak lupa secara khusus juga memberikan “kadeudeuh” kepada peserta yang secara aktif memberikan respon pada saat kegiatan berlangsung. Semoga pendidikan Indonesia maju dan terus berkembang untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Amin.
Dampak kegiatan ini langsung dirasakan oleh para guru di Desa Indragiri. Para peserta workshop mendapatkan keterampilan baru dalam mengintegrasikan informatika dan AI ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari, sehingga mereka lebih percaya diri dalam mengajar dengan pendekatan kreatif dan berbasis teknologi. Bagi siswa, manfaatnya terlihat pada meningkatnya kesempatan untuk belajar dengan cara yang lebih interaktif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan abad 21. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas, inklusif, dan berdaya saing global.
UPI Resmikan Migrant Center, Wujud Komitmen Perlindungan dan Pemberdayaan Pekerja Migran
28 Aug 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) meresmikan Migrant Center, sebuah pusat layanan, riset, pelatihan, advokasi, dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia, pada Kamis (28/8/2025). Acara ini berlangsung di Gedung Gymnasium UPI, bertepatan dengan kegiatan Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKA-KU) mahasiswa baru.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., bersama Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding, S.Psi., M.Si. Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pejabat kementerian, pemerintah daerah, serta mitra strategis dari berbagai institusi.
Dalam sambutannya, Rektor UPI menegaskan bahwa kehadiran Migrant Center merupakan tonggak sejarah baru bagi universitas maupun bangsa.
“Migrant Center ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi lahir dari kebutuhan nyata. Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pekerja migran terbesar di dunia. Mereka adalah pahlawan devisa sekaligus wajah bangsa, namun masih menghadapi tantangan serius, mulai dari perlindungan hukum, peningkatan kompetensi, kesehatan mental, hingga reintegrasi sosial-ekonomi setelah kembali ke tanah air,” ujar Rektor.
Lebih lanjut, Prof. Didi menyampaikan bahwa melalui tridarma perguruan tinggi, UPI mengambil tanggung jawab moral dan akademis untuk ikut membangun sistem pendampingan yang kokoh bagi pekerja migran.
“UPI Migrant Center bukan hanya milik UPI, melainkan milik bangsa. Mari jadikan pusat ini sebagai rumah bersama untuk menghadirkan solusi,” tegasnya.
UPI Migrant Center dirancang sebagai ruang kolaborasi yang terbuka untuk umum, dengan fasilitas enam kelas pelatihan, ruang pertemuan, serta layanan pengembangan yang disusun bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Ke depan, layanan ini juga dapat diakses melalui situs resmi yang tengah dikembangkan.
Acara peresmian turut dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Dwi Setiawan Susanto, S.E., M.Si., Ak.; Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen Media dan Komunikasi Strategis, Iddion Moksa Tua Hutasoit, S.IP.; serta Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Drs. Hengky Pramono, M.Si.
Dengan peresmian Migrant Center, UPI meneguhkan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang aktif dalam isu sosial dan kemanusiaan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia di kancah global. (RK 08/25)