English
Indonesia

Menaut Ilmu, Menjembatani Bangsa: Atase Pendidikan Dan Sains Belanda Mengapresiasi Koleksi Sejarah Pendidikan di Museum Diknas UPI

12 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, 6 Agustus 2025

Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menerima kunjungan kehormatan dari Atase Pendidikan dan Sains Belanda untuk Indoenesia, Yvonne Klerks. Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si. dalam rangka mempererat hubungan bilateral di bidang pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Belanda.

Selama kunjungan di Museum Diknas UPI, Atase Pendidikan dan Sains Belanda disambut baik dan dipandu oleh Tim Edukator Museum Diknas UPI yaitu oleh Deviani Ramdhania, Nabilla Imarotussuady Hajar, dan Rahma Jati Marlia.

Atase Belanda menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kekayaan informasi dan penyajian koleksi di Museum Diknas UPI. Ia menilai museum ini bukan hanya menjadi pusat edukasi, tetapi juga jembatan penting dalam membangun kesadaran sejarah dan warisan budaya pendidikan bangsa.

”Saya merasa luar biasa berada disini, saya sangat terkesan dengan video dan belajar lebih banyak tentang Villa Isola. Saya pikir sangat menarik untuk dilihat dan saya pikir banyak orang akan tertarik untuk melihat lebih banyak tentang video ini. Dan juga Museum, saya pikir sangat menarik dengan banyaknya dokumen dan foto lama tentang sistem pendidikan di Indonesia pada masa lalu.” ujar Klerks.

Kegiatan ini tidak sekadar mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Kepala Museum Pendidikan Nasional UPI menyambut baik kunjungan ini sebagai momentum penting untuk memperluas jejaring internasional serta memperkenalkan warisan sejarah pendidikan Indonesia ke panggung global. (kontributor)

UPI Tambah 3 Guru Besar

12 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Sebanyak 3 orang dosen di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang terdiri atas Dr. Elah Nurlaelah, M.Si., Dr. Andhy Setiawan, S.Pd., M.Si., dan Dr. Heni Mulyani, M.Pd., menerima Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen. Surat Keputusan tersebut diserahkan langsung oleh Rektor UPI Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., yang didampingi jajaran pimpinan universitas yang terdiri atas Ketua Senat Akademik, Ketua Dewan Guru Besar, Para Wakil Rektor, Dekan FPMIPA dan Dekan FPEB, Kepala Biro SDM, dan Kepala Kantor Humas di Ruang Rapat Gedung Partere Lantai 1, Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Senin (11/8/2025). Dosen yang dimaksud terdiri atas Dr. Elah Nurlaelah, M.Si., Dr. Andhy Setiawan, S.Pd., M.Si., dan Dr. Heni Mulyani, M.Pd.

Untuk diketahui, Dr. Elah Nurlaelah, M.Si., menerima Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dengan Nomor 3218/M/KPT.KP/2025 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen, dinaikkan jabatannya menjadi Profesor/Guru Besar dalam ranting ilmu/kepakaran Pembelajaran Aljabar di Perguruan Tinggi. Berikutnya, Dr. Andhy Setiawan, S.Pd., M.Si., menerima Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dengan Nomor 3217/M/KPT.KP/2025 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen, dinaikkan jabatannya menjadi Profesor/Guru Besar dalam ranting ilmu/kepakaran Fisika Fungsionalisasi Material. Sementara itu, Dr. Heni Mulyani, M.Pd., menerima Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dengan Nomor 3219/M/KPT.KP/2025 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen, dinaikkan jabatannya menjadi Profesor/Guru Besar dalam ranting ilmu/kepakaran Pedagogik Akuntansi.

Menurut Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi, tentunya dengan bertambahnya guru besar, maka UPI akan semakin kuat di bidang Tri Dharma Perguruan Tingginya, karena diyakini mereka ingin menunjukkan kepakarannya. Ditegaskannya,”Saya optimis bahwa produktifitas riset akan meningkat, kemudian juga di bidang pengajaran, dan pengabdian serta pembinaan kemahasiswaan bisa turut berkembang dengan membantu membina dosen-dosen dan mahasiswa, sehingga proses regenerasi berjalan dengan baik.”

Upaya untuk meningkatkan jumlah guru besar, tidak bisa dilakukan dalam kegiatan yang sifatnya hit and run, tetapi harus dilakukan secara terstruktur, tegasnya lagi. Dosen-dosen baru yang belum mempunyai jabatan fungsional, diupayakan harus mempunyai jabatan fungsional terlebih dahulu, kemudian setelah itu mereka dibina dari sisi kemampuan riset dan publikasinya, serta dikuatkan kegiatan pengabdiannya.

“Apabila mereka sudah memiliki kemampuan yang mempuni, dan mempunyai bidang keahliannya masing-masing, tentu ketika diusulkan untuk menjadi guru besar tidak akan terlalu sulit, karena seperti yang kita ketahui bahwa syarat utama dalam meraih jabatan fungsional guru besar pada umunya adalah Publikasi Jurnal Internasional. Jika sejak awal mereka sudah terbiasa, tentu mereka mampu untuk memenuhinya dengan mudah,” pungkasnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UPI Prof. Dr. Dadang Sunendar, M. Hum., menyatakan rasa syukurnya karena sampai hari ini UPI sudah memiliki 239 guru besar dari sejumlah 1600-an dosen yang bekerja di UPI. Dikatakannya,“Ini perlu kita syukuri, karena menurut saya, 5 tahun terkahir ini percepatan guru besar relatif lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya, kalau dulu itu ketika keluar SK guru besar baru, sesaat kemudian berkurang lagi. Hal ini terjadi karena ada guru besar yang pensiun, meninggal dan lain-lain. Harapannya, tentu saja dengan kehadiran 3 guru besar baru ini semakin memperkuat UPI dalam berbagai bidang dan keilmuan, serta dapat membantu masyarakat.”

Kita juga berharap, dalam melakukan percepatan guru besar, , lanjutnya, kita melakukannya dengan berbagai upaya dan strategi yang sesuai dengan prosedur yang berlaku, seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri MENDIKBUDRISTEK Nomor 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah.

Perkuat Kolaborasi Internasional, Prodi Ilmu Hukum UPI Jajaki Kemitraan Strategis dengan Ton Duc Thang University Vietnam

11 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Dalam upaya terus memperluas jejaring global dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Jumat (8/8/2025), menyambut kunjungan kehormatan dari perwakilan Faculty of Law Ton Duc Thang University Vietnam. Kunjungan ini menjadi sinyal kuat komitmen kedua belah pihak untuk menjalin kemitraan strategis di masa mendatang.

Delegasi dari Vietnam dipimpin langsung oleh Mr. Chau Bao Anh, LLM, selaku Vice Dean Faculty of Law Ton Duc Thang University. Kedatangan beliau disambut hangat oleh pimpinan Program Studi Ilmu Hukum UPI, Bapak Dwi Iman Muthaqin S.H.,M.H., selaku Ketua Program Studi, serta Bapak Dadi Mulyadi Nugraha, M.Pd., selaku Pembina Kemahasiswaan Program Studi Ilmu Hukum dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Hukum, Agung Setiawan. Suasana pertemuan yang akrab dan produktif tersebut menjadi landasan penting bagi diskusi-diskusi selanjutnya.

Harmonisasi Kurikulum dan Inisiatif Kerja Sama Multidimensi

Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan sebuah penjajakan diskusi mendalam mengenai harmonisasi kurikulum antara kedua institusi. Harmonisasi kurikulum menjadi langkah awal yang krusial untuk memastikan relevansi dan komparabilitas standar akademik, sehingga memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang lebih efektif.

Selain itu, kedua belah pihak juga secara serius merencanakan berbagai bentuk kerja sama yang lebih konkret di masa depan. Beberapa poin penting yang menjadi fokus pembahasan meliputi:

Pertukaran Dosen: Program pertukaran dosen diharapkan dapat memperkaya perspektif pengajaran dan penelitian di kedua universitas, memungkinkan transfer ilmu dan metodologi yang inovatif.

Pertukaran Mahasiswa: Inisiatif pertukaran mahasiswa ilmu hukum akan membuka peluang bagi para pembelajar untuk merasakan pengalaman akademik dan budaya di negara lain, memperluas wawasan, dan membangun jejaring global.

Riset Bersama (Joint Research): Kolaborasi dalam riset akan memungkinkan kedua institusi untuk menggabungkan keahlian dan sumber daya dalam mengatasi isu-isu hukum kontemporer yang relevan di tingkat regional maupun global.

Kegiatan ini secara keseluruhan tidak hanya bertujuan untuk memperkuat kompetensi akademik kedua lembaga, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Kunjungan dan penjajakan kerja sama antara Program Studi Ilmu Hukum UPI dan Faculty of Law Ton Duc Thang University Vietnam ini secara langsung merupakan bentuk implementasi dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Nomor 17: Kemitraan untuk Tujuan (Partnership for the GoalsPartnership for the Goals). Tujuan ini menekankan pentingnya revitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan, serta mempromosikan kerja sama internasional yang kuat.

Walikota Hamamatsu Jepang Jajaki Kerjasama Dengan UPI

11 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A menerima kaunjungan dari Walikota Hamamatsu Jepang Yusuke Nakano, Senin (11/8) bertempat di Ruang Rapat Gedung Partere Kampus UPI jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung. Pertemuan tersebut dalam rangka audiensi kerjasama dalam bidang pendiidkan antara Univarsitas Pendidikan Indonesia dan Kota Hamamatsu.

Dalam kesempatan tersebut Walikota Hamamatsu Yusuke Nakano mengatakan saat ini terdapat sekitar dua ribu warga Indonesia yang tinggal di daerahnya, mereka banyak yang berstatus pekerja dan pelajar. Hal ini bisa terjadi karena pemerintahan kota Hamamatsu telah lama bekerja sama dengan pemerintahan kota Bandung sejak tahun 2014 silam, tentunya Kerjasama ini pengembangan kedua kota tersebut.

“Kedatangan kami ke UPI untuk menjajaki potensi kerjasama antara UPI dengan pemerintahan kota Hamamtsu dalam bidang akdemik dan kebudayaan, mengingat UPI memiliki banyak prodi pendidikan terutama program studi Pendidikan Bahasa Jepang dan prodi ilmu keperawatan. Oleh karena itu, kami membuka peluang bagi alumni UPI yang ingin bekerja atau melanjutkan studi di kota Hamamatsu”, ujar Yusuke Nakano.

Ia berharap kerjasama dengan UPI di bidang pendidikan dan kebudayaan ini bisa segera terwujud, dan dalam upaya untuk saling membangun kedua belah pihak.

Sementara itu, Rektor UPI Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A menyambut baik rencana kerjasama ini, menurut ia UPI memiliki hubungan baik dengan negara Jepang, selain Kerjasama yang dilakukna dengan berbagai universitas yang ada di Jepang, kebermanfaatan budaya Jepang telah benar-benar dirasakan oleh UPI. Salah satunya pembangungan Gedung Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) melalui proyek JICA masih kokoh berdiri serta program Lesson Study yang berkolaborasi dengan berbagai mitra sekolah.

“Jepang sangat membantu banyak kepada UPI baik dalam bidang akademik maupun nonakademik, Kami ingin kedepan banyak alumni UPI yang bisa berkarir di negara Jepang atau melanjutkan studi di JEpang. Tentu tidak hanya sebatas pada program studi Pendidikan Bahasa Jepang tetapi bisa diikuti oleh seluruh program studi lainnya”, kata Prof. Didi Sukyadi.

Kedepan UPI akan terus memfasilitasi bagi siappaun termasuk alumni UPI yang ingin berkarir di Jepang khususnya di Kota Hamamatsu, dengan adanya kerjasama tentu proses ini akan mudah dilakukan, begitupun bagi warga Hamamatsu yang ingin merasakan kuliah di UPI.

Setelah beraudiensi dengan Rektor UPI, selanjutnya agenda Walikota Hamamatsu beserta rombongannya melaksanakan kegiatan sesi kuliah umum yang diselenggarakan di auditorium Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia lantai 4. Acara kuliah umum dihadiri oleh para wakil dekan FPBS, para dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang UPI.

Dalam kuliah umum tersebut, Walikota Hamamatsu Yusuke Nakano memaparkan tentang pengenalan lebih jauh terkait Hamamatsu sebagai kota multicultural di Jepang. Di sela-sela paparannya, ia membuka peluang kepada para mahasiswa dan para alumni yang ingin berkiprah di kota Hamamatsu, Jepang. (DN)

Dua Mahasiswa UPI, Lydia Kusdyanti Lasya dan Venus Zauhair Amru, Ikuti Konferensi dan Lokakarya Guru Global di Canberra, Australia

11 Aug 2025 • Humas UPI

Canberra, UPI

Lydia Kusdyanti Iasya, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) dan Venus Zauhair Amru, mahasiswa Program Internasional Pendidikan IPA (IPSE), Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), merupakan perwakilan dari Universitas Pendidikan Indonesia dalam Program Guru Bantu Australia tahun ini yang berkesempatan mengikuti serangkaian kegiatan akademik internasional di Canberra, Australia, pada awal Agustus 2025. Kegiatan ini melibatkan kunjungan, konferensi, dan workshop yang relevan dengan pengajaran bahasa serta penguatan kompetensi guru di kancah global.

Pada salah satu agenda, Lydia dan Venus bersama Prof. Yuli Rahmawati selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra disambut hangat saat kedatangannya oleh Mrs. Margo Smith, guru Bahasa Indonesia di St. Clare of Assisi School. Pertemuan ini menjadi ajang pertukaran pandangan mengenai pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah Australia serta peluang kerja sama pendidikan antarnegara.

Lydia dan Venus juga menghadiri Mini Conference di Burgman Anglican School yang diselenggarakan oleh Modern Language Teachers’ Association. Dalam kegiatan tersebut, ia mengikuti dua sesi penting, yaitu Foundation of Comprehensible Input (CI) Skills bersama Ibu Mei Turnip dan AI Tools for Language Teachers bersama Ibu Myriam Davies dan Ibu Gaelle Pajot.

Selain itu, mereka pun berpartisipasi dalam workshop bertema Building on Students’ Strengths: How can you build on the linguistic resources of the multilingual and multidialectal students in your classroom yang dibimbing oleh Dr. Jacqueline D’warte. Workshop ini diselenggarakan oleh Association of Teachers of English to Speakers of Other Languages (ATESOL) dan bertempat di Sacred Heart School, Canberra.

Kegiatan-kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas yang menekankan pentingnya peningkatan keterampilan pendidik, pemerataan akses pendidikan, dan penguatan kompetensi dalam konteks multibahasa serta multikultural. Melalui partisipasinya, Lydia tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga menjadi duta pendidikan Indonesia yang mendorong kolaborasi global dalam bidang pengajaran bahasa.

Pencarian