English
Indonesia

Kunjungan Kerja Sama Rumah Sakit Santosa Hospital Kopo dengan FPBS UPI: Penguatan Layanan Bahasa Asing dan Kesempatan Magang Mahasiswa

11 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Rumah Sakit Santosa Hospital Kopo melakukan kunjungan kerja sama ke Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam rangka menjajaki kerja sama layanan penerjemahan bahasa asing khususnya bahasa Korea serta pengembangan program magang mahasiswa pada Jumat (8/8/2025).

Tim dari Rumah Sakit Santosa Hospital Kopo yang terdiri atas Kepala Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit, Dewi Arum, S.Tr.Kes., kemudian⁠ Supervisor Pemasaran dan Humas, R. Mirza Mubarik Achmad, A.Md., dan Manager Umum, ⁠Muhamad Alfiansyah, S.H., diterima dengan hangat oleh jajaran pimpinan FPBS UPI, yaitu Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., selaku Wakil Dekan I, Wawan Gunawan,  M.Ed., Ph.D., sebagai Wakil Dekan II, dan Yanty Wirza, M.Pd, M.A, Ph.D., sebagai Wakil Dekan III, beserta dosen Prodi Pendidikan Bahasa Korea, Risa Triarisanti, S.Pd., M.Pd., dan Azma Azizah, S.S, M.A.

Diskusi selama kunjungan difokuskan pada penguatan kerja sama layanan penerjemahan bahasa Korea untuk kebutuhan komunikasi rumah sakit dengan pasien asing, khususnya pasien dari Korea Selatan. Selain itu, peluang magang bagi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Korea dibuka lebar sebagai bagian dari pengembangan kompetensi praktis mahasiswa dalam bidang penerjemahan dan layanan rumah sakit.

Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., menyampaikan bahwa kerja sama ini sangat relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) nomor 3 tentang Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan, serta nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas. “Melalui sinergi antara dunia pendidikan dan institusi layanan kesehatan, kami berharap dapat mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat serta memperkaya pengalaman belajar mahasiswa secara nyata,” ujarnya.

Rencana tindak lanjut kerja sama akan dituangkan dalam penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang akan mengatur kolaborasi dalam pelaksanaan magang mahasiswa dan pengembangan layanan penerjemahan. Tidak menutup kemungkinan, kerja sama ini akan berkembang ke bidang lain sesuai kebutuhan dan potensi kedua pihak.

Kunjungan ini menandai langkah strategis dalam membangun kemitraan yang saling menguntungkan antara institusi pendidikan dan rumah sakit, sekaligus mendukung capaian SDGs melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelayanan publik.

Regenerasi Kepemimpinan Menwa Mahawarman XI UPI: EstafetPengabdian di Periode 2025/2026

11 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon XI Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan kegiatan Upacara Serah Terima Jabatan Komandan Batalyon Periode 2025/2026 yang bertempat di Gedung Amphiteater UPI Kampus Bumi Siliwangi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung pada Sabtu (26/7/2025).

Serah Terima Jabatan adalah penyerahan dan penerimaan (tentang jabatan, tanggung jawab, dan sebagainya) dari komandan lama menyerahkan dan komandan baru yang menerima. Dalam upacara sertijab kali ini dihadiri oleh instansi militer polri dan Satuan Menwa Mahawarman se-Jawa Barat.

Kegiatan Serah Terima Jabatan ini mengangkat tema ”Menyongsong Semangat Adaptif Bermanfaat Untuk Melanjutkan Estafet Kepemimpinan Batalyon XI UPI Unggul dan Kompeten”

Sesuai dengan SK Rektor yang dikeluarkan, di dalamnya menyatakan bahwa memberhentikan dengan hormat saudara saudara Wildan Arif Purnama selaku Komandan Batalyon Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon XI Periode 2024/2025. Sementara itu pada poin selanjutnya menyatakan bahwa mengangkat saudara William Ishaq Juarsyah Gusti N., mahasiswa Pendikan Pancasila dan Kewaganegaraan selaku Komandan Batalyon Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon XI Periode 2025/2026.

SK tersebut dibacakan saat Upacara Serah Terima Jabatan yang dihadiri oleh Direktur Direktorat Kemahasiswaan Dr. Asep Sukendar M.pd, selaku Inspektur Upacara dan disaksikan oleh tamu undangan dari instansi militer maupun menwa satuan lain.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan menampilkan beberapa bakat dari anggota Menwa Batalyon XI yaitu tari tradisional, gerakan Seni Tunggal & Ganda, dan juga yang menjadi kebanggaan Menwa Batalyon XI yaitu Korps Musik Gita Widya Siliwangi  dipersembahkan oleh anggota Menwa Yon XI/UPI. Penampilan tersebut dikemas dengan sebaik mungkin demi memberikan yang terbaik para penonton.

Terima kasih kepada Komandan Wildan Arif Purnama dan Wakil Komandan Ayuningtias Patmawati yang telah melaksanakan amanah, tugas dan tanggung jawab sebagai Komandan dan Wakil Komandan Batalyon XI di periode 2024/2025.

Selamat dan sukses kepada Komandan William Ishaq Juarsyah Gusti N. dan Wakil Komandan Hamzah Muhammad Munir, sebagai Komandan dan Wakil Komandan Batalyon XI Periode 2025/2026, semoga menjadi pimpinan yang mampu membawa Batalyon XI menjadi lebih baik untuk kedepannya.

Dengan hadirnya pemimpin baru, diharapkan Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon XI UPI mampu terus mempertahankan eksistensi dan meningkatkan kontribusinya seiring perjalanan waktu. Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Tamu Undangan yang telah menyempatkan hadir dalam acara ini. (laras hidayatul alifah)

FPTI UPI Dorong Transformasi Pedagogi Guru SMK Berbasis AI dan Green Skills untuk Dukung SDGs

11 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Greening Vocational Teacher Pedagogy: Pelatihan Transformasi Bahan Ajar Berorientasi Green Skills Berbasis Artificial Intelligence.”

Kegiatan yang berlangsung pada hari Selasa dan Rabu (5 – 6/8/2025) di Aula SMKN 5 Pangalengan ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai DRTPM Tahun 2025. Tim dosen FPTI UPI yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Dedi Rohendi, M.T., IPM (guru besar bidang pendidikan matematika dan AI dalam pendidikan yang juga merupakan dosen Prodi Pendidikan Teknik Mesin FPTI UPI) menghadirkan pelatihan komprehensif bagi lebih dari 70 guru SMK dari berbagai rumpun keilmuan, baik produktif maupun normatif-adaptif.

Pelatihan ini dirancang untuk menjawab tantangan terkini dalam implementasi kurikulum baru, khususnya Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025, yang mengedepankan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), integrasi AI dalam kegiatan kokurikuler, dan penguatan green skills di lingkungan SMK.

Didampingi oleh narasumber lain seperti Dr. Mustika Nuramalia Handayani (pakar green curriculum) dan Dr. Yatti Sugiarti (ahli pengelolaan limbah) yang merupakan dosen Prodi Pendidikan Teknologi Agroindustri FPTI UPI, serta mahasiswa doktoral Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Sekolah Pascasarjana UPI yaitu Muhammad Oka Ramadhan, M.Pd., Nisa Aulia Saputra, M.Pd., Nisaudzakiah Utami, M.Pd. Pelatihan ini mencakup materi tentang pemanfaatan AI dalam pendidikan, pengembangan kurikulum berorientasi green skills, pendekatan deep learning, hingga praktik pengembangan bahan ajar digital yang kontekstual dan lintas mata pelajaran.

Para peserta diajak mendesain modul dan bahan ajar berbasis AI yang memuat komponen green skills, seperti kesadaran lingkungan, pengelolaan limbah, keterampilan berinovasi dan berkomunikasi dalam mendukung SDGs dan adaptabilitas di era green jobs. Bahkan, proyek lintas disiplin yang menggabungkan pelajaran produktif dan normatif, seperti pengolahan limbah hasil pertanian dengan matematika atau bahasa Indonesia, menjadi salah satu inovasi menarik yang dikembangkan dalam sesi workshop.

Kegiatan ini juga memperkuat semangat sekolah dalam mewujudkan Sekolah Berbudaya Lingkungan, yang selaras dengan indikator SDGs, terutama pada tujuan ke-4 (Pendidikan Berkualitas), ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim).

“Kami sangat antusias karena pelatihan ini tidak hanya teknis, tetapi juga membangun kesadaran bersama akan pentingnya pendidikan yang mendukung pembangunan berkelanjutan,” ungkap kepala SMKN 5 Pangalengan dalam sambutannya.

Program ini diharapkan menjadi model kolaboratif antara perguruan tinggi dan SMK dalam mendukung transformasi pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan dan teknologi, sekaligus memperkuat peran guru sebagai agen perubahan dalam mencapai target SDGs 2030.

ICOLLITE 9 Sukses Digelar: Angkat Isu Transformasi Digital dalam Bahasa, Sastra, Budaya dan Pendidikan

10 Aug 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sukses menyelenggarakan The 9th International Conference on Language, Literature, Culture, and Education (ICOLLITE 9) pada Rabu (6/8/2025). Kegiatan ini menjadi wadah akademik internasional yang mempertemukan ilmuwan, peneliti, dosen, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara untuk mendiskusikan perkembangan terkini dan masa depan bidang bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan, khususnya dalam konteks transformasi digital.

Dengan mengusung tema “Digital Transformation in Language, Literature, Culture, and Education”, konferensi ini mendorong pertukaran ide, hasil riset dan strategi inovatif dalam menjawab tantangan zaman digital, baik dalam tataran teoritis maupun praktis.

ICOLLITE 9 adalah konferensi internasional tahunan yang menampilkan presentasi makalah ilmiah, sesi paralel, keynote speech dan diskusi panel lintas disiplin. Ratusan peserta hadir secara hybrid, baik langsung di kampus UPI Bandung maupun secara daring dari berbagai penjuru dunia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra FPBS UPI dan diikuti oleh para akademisi, peneliti, guru, mahasiswa dan praktisi pendidikan dari dalam maupun luar negeri. Para pembicara utama berasal dari universitas dan institusi ternama di tingkat internasional.

Konferensi ini bertujuan untuk menanggapi dinamika zaman yang menuntut adaptasi dan inovasi di bidang pendidikan bahasa, sastra dan budaya. Digitalisasi telah mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar dan mengakses informasi. Oleh karena itu, dibutuhkan forum ilmiah yang dapat menjadi ruang refleksi, kolaborasi, dan pengembangan strategi untuk masa depan.

ICOLLITE 9 menghadirkan sesi presentasi dari para pemakalah terpilih keynote speech dari pakar internasional dan diskusi panel yang membahas isu-isu terkini. Dengan cakupan topik yang luas, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi riset antarnegara, memperkuat jejaring akademik global dan mendorong integrasi teknologi dalam pengajaran dan penelitian. Adapun cakupan kajian dalam ICOLLITE 9 meliputi.

  1. Kajian Bahasa dan Literasi: akuisisi bahasa, psikolinguistik, pelestarian bahasa daerah, studi wacana, dan lainnya.
  2. Kajian Media dan Komunikasi: media sosial, ideologi media, komunikasi digital, dan multimodalitas.
  3. Kajian Pendidikan: pengembangan profesional guru, kurikulum bahasa, pendidikan interkultural, dan asesmen pembelajaran.
  4. Kajian Sastra dan Budaya: sastra anak, folklore, sastra digital, budaya populer, dan humaniora digital.
  5. Pembelajaran Inovatif dan Otonomi Belajar: penggunaan teknologi pembelajaran, CALL, MALL, pembelajaran reflektif dan mandiri.

“ICOLLITE bukan sekadar forum ilmiah, melainkan ruang bersama untuk menciptakan solusi nyata dalam menghadapi tantangan zaman. Kami percaya bahwa kolaborasi lintas disiplin dan negara adalah kunci menuju inovasi di bidang bahasa, sastra, dan pendidikan”. Ahmad Fuadin, Humas ICOLLITE 9.

Keberhasilan penyelenggaraan ICOLLITE 9 ini memperkuat posisi UPI sebagai pusat pengembangan ilmu dan inovasi pendidikan yang berdaya saing global serta membuktikan komitmen kuat dalam memajukan kolaborasi akademik internasional di era transformasi digital.

Adegan di Teras Pegaf yang Hujan – Sebuah Tarian yang Menjadi Matematika

10 Aug 2025 • Humas UPI

Pegunungan Arfak Papua Barat, 10 Agustus 2025

Adegan di Teras Pegaf yang Hujan – Sebuah Tarian yang Menjadi Matematika (Sudut pandang bagaimana Personalized Teaching and Learning ala Williamson & Payton dilakukan dalam Gasing)
Williamson, B., & Payton, S. (2009). Curriculum and teaching innovation: Transforming classroom practice and personalisation: a handbook from Futurelab. Futurelab.

Di luar aula, di teras tembok yang basah oleh percikan hujan, trainer utama duduk bersama dua orang anak istimewa. Hanya mereka bertiga. Tidak ada papan tulis, tidak ada alat peraga formal, hanya kertas-kertas yang dinamai sebagai kartu satuan dan puluhan (ala metode Gasing), lusuh, diprint alakadarnya. Bahkan kursi mereka sederhana, lantai kramik yang sedikit basah. Tapi dari sini, Saya menyaksikan sesuatu yang lebih kuat dari semua fasilitas itu.

Bagaimana Saya tidak bisa menyimpulkannya demikian. Trainer itu memulai dengan gerak ringan, mengajak sang anak berdiri. Mereka mulai bergerak seperti berdansa—langkah ke kanan, ke kiri—dengan ritme pelan. Namun ini bukan sekadar tarian. Di setiap langkah, ada suara hitungan: “Sembilan di kepala, dua di tangan…” Tangan anak itu diangkat sedikit, seperti memegang angka yang tak terlihat. Lalu dihitung lagi, dan lagi sambil terus kedua tangan anak dan trainer ini berpegangan tanpa lepas. Indah, ini tarian matematika. Berhitung sambil bergerak, mata yang saling memandang, hadir bersama siswa seutuhnya!

Penjelasan lembut penuh kasih, sabar dengan ritme yang pelan tapi kuat, menjelaskan konsep matematis hingga menemukan konsep pola berhitung ala metode Gasing yang mudah. Siswa kelas 6 dengan cap tidak bisa berhitung ini, sekarang membuka hatinya dan perlahan membuka suara. Sesekali jawabannya masih salah tapi dia tampak mulai mengerti. Terlihat bagaimana dia membuka diri untuk menjawab dialog-dialog dan soal dari Trainer Utama. Dia mulai mau menunjuk kartu, menghitungnya dan menemukan pola dengan mengingat bilangan pasangan sepuluh dan melipat tangan untuk menggenapi pasangan sepuluh di kepala. Konsep yang sama persis disampaikan di dalam kelas-kelas pelatihan tapi dengan sentuhan yang berbeda, compassion yang dipersonalisasi Saya menyebutnya kemarin. Khas, unik dan menyampaikan hati yang berbeda. Ini mengingatkan Saya pada sebuah teori Personalised Teaching and Learning ala Williamson dan Payton, buku lama tapi kuat. Buku karangan Williamson dan Payton ini menyebutkan bahwa personalisasi adalah transformasi pembelajaran yang berbasis pada kasih, relasi, dan keunikan tiap peserta didik. Hari ini di tanah Papua, Saya menyaksikannya: pembelajaran yang hidup, menyala, dan lahir dari hati yang berani mengasuh dan mengajar.

Pola itu mulai terbentuk, bukan lewat coretan, tapi lewat tubuh yang bergerak. Ada jeda di mana mereka saling tersenyum, lalu menepuk tangan, tos sederhana yang disertai tawa kecil. Hujan di belakang mereka seperti menjadi latar musik yang pas. Saya menyadari, anak ini tidak sedang diberi pelajaran; ia sedang diajak masuk ke dunia angka dengan cara yang ramah, hangat, dan penuh kesabaran. Matematika turun dari buku ke tubuh, dari konsep abstrak menjadi sesuatu yang bisa dirasa, diulang, dan diingat dengan irama. Hari itu Saya hanya ingin menuliskan tentang yang Saya lihat. Mungkin ini terlalu dini, berulang Saya tanya pada hati Saya, ketakutan bias sebagai peneliti, tapi di hari ke empat pelatihan ini aku sungguh mulai jatuh cinta, pada bagaimana Gasing membentuk model-model guru seperti Trainer Utama, pada bagaimana Metode Gasing itu sendiri diterapkan di tanah Papua ini.

Sementara, di kelas lain Saya juga melihat satu anak disentuh secara khusus dilayani trainer kelas untuk dijelaskan kembali materi. Lemah lembut bahasanya begitupun gestur tubuhnya. Tampaknya ini memang khas trainer ini, khas compassion yang dipersonalisasi ala dirinya Setelah bertanya kemudian dia dihantar untuk kembali ke kelompoknya. Di pojok kelas lainnya Saya juga menyaksikan sekelompok anak dengan dua guru pengimbas sedang duduk dan bermain kartu di lantai. Kartu itu sangat sederhana, buatan gurunya sendiri, dibuat dari kertas HVS yang dipotong-potong dan ditulis bilangan-bilangan serta soal penjumlahan Sembilan tambah. Anak-anak mencongak sambil bermain, mereka mulai bersaing, lantang bersuara, guru-guru pengimbas peserta pelatihan di Arfak ini semakin menikmati proses microteaching pada sesi pengimbasan. Yang kami catat, guru-guru itu tampak lebih enjoy dan terstruktur melakukan pengimbasan disesi kedua pelatihan hari ke empat ini. Dari Kelas dan teras sekolah yang basah oleh hujan itu, hari itu Saya melihat, dan Saya menyimpulkan Matematika berubah menjadi tarian hangat, sabar, dan penuh kasih. Dan ini Saya temukan dalam pelatihan Gasing di tanah Pegunungan Arfak. Dan Saya tahu, bukan hanya saksi teori yang Saya pelajari. Saya yakin pelajaran hari itu akan tinggal bukan hanya di kepala anak-anak Pegunungan Arfak, tapi juga di hati mereka.

Pegunungan Arfak, Papua Barat
Neni Maulidah

Pencarian