English
Indonesia

USB Academy UPI Sumedang Perkuat Kompetensi Jurnalistik dan Broadcasting Mahasiswa

27 Apr 2026 • Humas UPI

Sumedang, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UPI Sumedang Broadcasting (USB) menyelenggarakan Seminar USB Academy dengan tajuk“Start Your Voice, Build Your Skill” pada Sabtu (25/4/2026) di Auditorium Kampus UPI Sumedang. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang jurnalistik, broadcasting, dan kehumasan sebagai bagian dari penguatan kapasitas media kampus.

Seminar ini diikuti oleh mahasiswa dan anggota UKM USB serta menghadirkan narasumber dari Kantor Komunikasi Informasi dan Pelayanan Publik (KKIPP) UPI. Materi yang disampaikan meliputi jurnalistik, fotografi, videografi, publikasi, hingga kehumasan, yang dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis di bidang media.

Direktur UPI Kampus Sumedang, Dr. Indra Safari, M.Pd., yang membuka kegiatan tersebut menyampaikan bahwa seminar USB Academy merupakan program rutin yang berfokus pada peningkatan kapasitas mahasiswa dalam bidang dokumentasi dan publikasi.

“Seminar ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta keterampilan anggota UKM agar dapat berkontribusi dalam berbagai kegiatan di UPI Kampus Sumedang, khususnya dalam dokumentasi dan peliputan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa UKM USB memiliki peran strategis dalam mendukung penyebaran informasi kampus serta dokumentasi kegiatan akademik dan kemahasiswaan. Hal ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem komunikasi di lingkungan perguruan tinggi.

Ketua UKM USB, Kania Nuur Sa’adah, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana pembekalan dasar bagi anggota dalam mengembangkan keterampilan media yang aplikatif.

“Kegiatan ini memberikan bekal dalam bidang kehumasan, fotografi, videografi, penulisan berita, serta peliputan, sehingga dapat diterapkan dalam kegiatan nyata di lingkungan kampus,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa penguatan kapasitas mahasiswa melalui kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kontribusi aktif dalam publikasi kegiatan kampus serta kolaborasi lintas organisasi mahasiswa.

Selain sebagai forum pembelajaran, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan berbasis keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri media. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kompetensi mahasiswa, tetapi juga mendorong kesiapan mereka dalam menghadapi dunia kerja.

Melalui USB Academy, UPI Sumedang berupaya memperkuat peran mahasiswa dalam pengelolaan media kampus sekaligus mendorong kolaborasi antara unit kegiatan mahasiswa, institusi, dan pemangku kepentingan. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan untuk memperluas kontribusi mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun di tingkat masyarakat. (RK/Rija)

LITERASI MEDIA UNTUK MASYARAKAT DIGITAL YANG MADANI

27 Apr 2026 • Humas UPI

Oleh

Vidi Sukmayadi

Dosen Ilmu Komunikasi FPIPS UPI/

Kepala Kantor Komunikasi, Informasi, dan Pelayanan Publik UPI

Sudah tak mungkin disangkal perkembangan media dan teknologi dalam skala global telah mengubah cara pandang kita terhadap dunia.  Kehidupan manusia kini telah memasuki sebuah era sesak-media (media-saturated era)  di mana jumlah pesan dan informasi yang hilir mudik kian tak terkendali dan kian berjebah berkat sokongan teknologi Internet. Pada tahun 2026 ini, lebih dari 5 milyar konten video siap ditonton dalam kanal YouTube.  Begitu pula dengan Facebook sebagai salah satu penguasa “kekaisaran” digital saat ini, dalam laporan tahun lalu, dengan pengguna aktif sebanyak 3,08 milyar, tercatat lebih dari 350 juta postingan foto per-hari, 500 juta lebih pembaruan status diunggah setiap harinya. Selain itu, tak kurang dari 4.75 milyar konten informasi yang dibagikan (shared) pada setiap harinya.  Lalu mengapa banyak sekali informasi yang beredar di dunia maya ini? Salah satu alasannya adalah karena konvergensi atau terpusatnya media, kini siapapun dapat memproduksi informasi sekaligus membagikannya kapanpun dengan hanya memanfaatkan aplikasi media sosial yang terpasang dalam satu atau dua gawai (gadget) saja. Ketika dahulu informasi hanya didapat dari sejumlah media massa, maka kini melalui media sosial semua pengguna internet dapat berinteraksi serta berbagi berbagai informasi dengan mudah, masif, dan cepat. Sehingga tak heran bila kabar bergabungnya kiper tim nasional kita Martin “Tembok” Paes ke raksasa Belanda Ajax Amsterdam didapat dari media sosial seorang wartawan Italia, jauh lebih cepat daripada media digital resmi ataupun media penyiaran lainnya.

Tantangan Literasi

Menjadi bagian dari penduduk digital tentunya tak hanya siap menyambut berbagai potensi kemajuan teknologi tetapi juga siap menghadapi berbagai tantangannya. Jutaan informasi yang beredar dalam media baru  berbasiskan tenaga pacu internet ini perlu diimbangi dengan literasi yang mumpuni juga sesuai dengan kadar kemajuan teknologi dan arus informasi. Literasi yang dimaksud tak lagi hanya diartikan mampu membaca dan menggunakan media, tetapi juga mampu menganalisa, memilah juga mengolah informasi yang diterima atau yang akan disebarkan.Seperangkat keterampilan itulah yang saat ini popular dikenal dengan istilah literasi media.

Namun justru budaya literasi medialah yang kini menjadi tantangan bagi bangsa ini. Literasi media lebih dari sekedar literasi dan numerasi, tetapi kemampuan menggunakan, mengevaluasi serta memiliki kebijaksanaan yang baik ketika menerima maupun memproduksi informasi.

Sayang beribu sayang, dalam satu decade terakhir kondisi literasi di negara ini jauh panggang dari api. Hasil penelitian tiga-tahunan dari Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa sejak 2012 hingga 2025, ranking Indonesia selalu berkutit di peringkat “10 besar” dari bawah.  Pada akhir tahun 2016 lalu Indonesia sempat dikejutkan dengan data dari Central Connecticut State University, Amerika Serikat yang menempatkan budaya literasi masyarakat Indonesia pada urutan 61 dari 62 negara yang dikaji.

Bahkan, kajian Bank Dunia pernah menyatakan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia masih dalam kategori buta literasi secara fungsional (functionally illiterate). Kondisi ini berarti adalah kondisi di mana seseorang bisa membaca dan menulis kalimat sederhana, namun tidak mampu menggunakan kemampuan tersebut untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka kesulitan memahami instruksi serta membaca informasi kompleks, atau singkatnya, bisa membaca tapi tak paham isinya. Sekumpulan fakta tersebut seakan-akan mempertegas posisi tingkat literasi masyarakat Indonesia yang memang lekat sebagai penghuni papan bawah tingkat literasi dunia dalam kurun satu dekade ke belakang.

Jika dibandingkan sesaknya arus informasi yang beredar dan jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2025 yang menembus 229 juta (APJII,2025), tentunya dengan tingkat budaya literasi yang ada saat ini dapat menjadi tantangan besar bagi bangsa ini.  Rendahnya keterampilan seseorang untuk memilah dan menganalisa informasi yang didapat dapat menyesatkan pemahaman para penggunanya dan bukan tidak mungkin dapat menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Tak aneh jika Indonesia menjadi sasaran empuk beredarnya berbagai warta dusta (hoax) dan menjadi medan tempur para penduduk digital dalam media sosial. Masih segar dalam ingatan kita ketika kementrian  komunikasi dan digital menjelaskan bahwa 65% masyarakat Indonesia mudah terpapar hoax.   

Penyebaran berbagai kabar menyesatkan tersebut acapkali diperkeruh dengan aksi sebagian penduduk digital (netizen) yang turut membagikan kabar hoax tersebut ke seantero jagad maya dan aktif terlibat dalam peperangan adu wacana (tanpa memedulikan adab) di dalam media sosial sebagai medan tempur layaknya dataran Kurukshetra dalam kisah perang Bharatayudha.  

Prioritas Pendidikan Literasi Media

Kata “masyarakat madani” memiliki arti masyarakat yang mandiri, demokratis, inklusif, serta aktif melindungi hak warganya. Tentunya dengan direvisinya undang-undang informasi dan transaksi elektronik di tahun 2024 serta gencarnya deklarasi berbagai gerakan anti hoax, bullying , judi online, dan pornografi dalam internet menjadi salah satu langkah awal yang baik dan penegasan masyarakat bahwa para pengguna Internet mulai sadar terhadap berbagai ancaman dari sisi gelap dunia maya. Adapun seringkali gerakan preventif dan persuasif tersebut terkendala dari sisi sosialisasi. Ajakan untuk menjadi penduduk digital yang cerdas dan bijak masih belum secara maksimal menyentuh semua lapisan masyarakat. Adanya berbagai gerakan sosial bijak dan cerdas bermedia baru perlu didukung dengan kebijakan pemerintah yang berkelanjutan.

Salah satu cara untuk mendukung berbagai gerakan tersebut ialah dengan memasukkan literasi media ke dalam kurikulum pendidikan di indonesia. Literasi media memiliki pengertian sebagai seperangkat keterampilan yang menekankan pada pengembangan keterampilan untuk cerdas dan bijak secara konsisten dalam bermedia, baik itu media konvensional ataupun media baru seperti media sosial. Literasi media tentunya  dapat melengkapi apa yang sudah diterapkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia seperti pendidikan agama, karakter, lingkungan dan pendidikan anti korupsi.  

Sebagai rujukan kita dapat belajar dari pemerintah provinsi Ontario, Kanada di mana literasi media menjadi bagian dari kurikulum pendidikan dasar. Begitu juga dengan Finlandia yang sejak tahun 1990an telah mengintegrasikan pendidikan literasi media sebagai bagian dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah.  Didasari kurikulum tersebut, tidaklah mengejutkan jika di kedua negara tersebut terdapat banyak buku panduan dan referensi terkait literasi media untuk berbagai tingkat pendidikan yang kemudian membawa mereka duduk sebagai negara dengan tingkat literasi media tertinggi di dunia. Perlu diingat, negara-negara tersebut menempatkan literasi media sebagai fondasi awal bukan “latah” dengan keterampilan koding ataupun AI yang sekarang marak diwacanakan masuk ke kurikulum pendidikan dasar Indonesia.

Adapun pada pelaksanaannya, kurikulum literasi media tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk aktivitas dan bahan ajar yang menekankan pada empat keterampilan bermedia; (1) kemampuan mengakses media, (2) kemampuan mengenali berbagai bentuk media dan memahami bagaimana pesan diolah untuk memunculkan makna tertentu, (3) kemampuan menghasilkan konten media untuk berbagai tujuan, serta (4) penekanan pada adab dan tanggung jawab dalam menggunakan media. Dengan kata lain, kurikulum literasi media yang diterapkan berfokus pada kemampuan untuk menggunakan berbagai media diiringi dengan kebijaksanaan yang mumpuni sebagai penggunanya.

Keempat penekanan tersebut memberikan sebuah gambaran bahwa pendidikan literasi media dapat menjadi salah satu faktor kunci guna menjawab tantangan yang muncul bersamaan dengan budaya dunia yang secara konstan selalu berubah. Diharapkan dengan disisipkannya literasi media dalam kurikulum pendidikan Indonesia, maka dapat menumbuhkan kesadaran para pengguna media baru untuk cerdas dan bijak bermedia sehingga terwujudnya masyarakat digital yang madani bukan lagi sekedar mimpi.

“CIKARACAK NINGGANG BATU, LAUN-LAUN JADI LEGOK”

27 Apr 2026 • Humas UPI

Oleh

Dinn Wahyudin

Guru Besar Bidang Pengembangan Kurikulum FIP UPI

Alkisah, di sebuah kampung di Tatar Sunda, hiduplah seorang anak penggembala yang sering duduk di pinggiran aliran Sungai. Sambil beristirahat, ia duduk termenung di sela sela bongkahan batu. Setiap hari ia memperhatikan tetesan air yang jatuh di titik yang sama, perlahan dan tanpa henti. Mula-mula tampak tak berarti, namun seiring waktu, ia melihat batu yang keras itu mulai membentuk cekungan kecil. Kisah sederhana ini kerap dituturkan oleh orang tua di kampung sebagai pelajaran bahwa alam pun mengajarkan arti kesabaran dan ketekunan.

Dalam cerita lain yang hidup dalam tradisi lisan Sunda, dikisahkan seorang petani yang terus mengolah tanahnya yang keras dan tandus. Berkali-kali ia mengalami kegagalan panen, tetapi ia tidak menyerah. Dengan kesabaran dan usaha yang terus-menerus, perlahan tanah itu menjadi subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Para tetua kemudian menjadikannya sebagai contoh nyata dari peribahasa “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok,” bahwa segala hasil besar berawal dari proses kecil yang dilakukan secara tekun.

Peribahasa Sunda buhun “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” mengandung makna mendalam tentang kekuatan ketekunan dan kesabaran dalam kehidupan. Tetesan air yang jatuh perlahan, meskipun tampak lemah dan tidak berarti, jika berlangsung terus-menerus mampu mengikis batu hingga membentuk cekungan. Hal ini mengajarkan bahwa usaha kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan perubahan besar seiring waktu.

Dalam kehidupan sehari-hari, peribahasa ini mengingatkan agar manusia tidak mudah menyerah (never gve up). Segala keinginan dan cita-cita tidak selalu dapat dicapai secara instan. Seperti halnya air yang terus menetes tanpa henti, manusia perlu bersabar, tekun, dan istiqamah dalam berusaha, meskipun hasilnya belum segera terlihat.

Dalam kearifan budaya Sunda buhun, nilai ini berkaitan erat dengan ajaran hidup yang menekankan proses dan kesinambungan. Ketekunan tidak hanya dimaknai sebagai kerja keras, tetapi juga sebagai upaya menjaga perilaku baik, budi pekerti luhur, do’a yang selalu dipanjatkan, serta niat yang tulus dalam setiap tindakan. Peribahasa tersebut bukan sekadar ungkapan, melainkan pedoman hidup yang menegaskan bahwa perubahan yang bermakna lahir dari usaha yang kecil namun terus dilakukan. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai ini menjadi pengingat agar tetap sabar dan konsisten dalam berbuat baik, karena hasil yang sejati membutuhkan waktu dan ketekunan.

Masih relevan dengan masa kini?

Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat dan instan, nilai-nilai kesabaran dan ketekunan justru semakin diuji keberadaannya. Oleh karena itu, penting untuk meninjau kembali kearifan lokal seperti peribahasa ini sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda yang tangguh dan berdaya tahan. Ada tiga hal mengapa peribahasa “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” patut dipompakan kepada  generasi muda kita.

Pertama, peribahasa “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” tetap relevan karena sejalan dengan konsep ketekunan (grit) dalam psikologi modern yang dikemukakan oleh Angela Duckworth (2016). Ia menjelaskan bahwa keberhasilan jangka panjang lebih ditentukan oleh konsistensi usaha dan ketahanan menghadapi kegagalan dibandingkan sekadar bakat. Di tengah budaya instan yang banyak memengaruhi generasi muda saat ini,  yaitu hasil cepat sering lebih dihargai daripada proses, nilai ketekunan menjadi semakin penting untuk ditanamkan. Peribahasa ini mengajarkan bahwa capaian besar tidak lahir dari usaha sesaat, tetapi dari proses panjang yang dilakukan terus-menerus, sebagaimana tetesan air yang akhirnya mampu mengubah batu.

Kedua, relevansi peribahasa ini juga diperkuat oleh teori growth mindset dari Carol Dweck (2006) yang menekankan bahwa kemampuan individu dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan pembelajaran berkelanjutan. Generasi muda yang memiliki growth mindset cenderung melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai akhir dari segalanya. Dalam konteks ini, “cikaracak” menjadi simbol proses belajar yang berulang dan bertahap, sementara “legok” melambangkan hasil perkembangan kompetensi yang diraih. Oleh karena itu, penguatan nilai ini penting agar murid tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan akademik maupun tantangan kehidupan.

Ketiga, dari perspektif regulasi diri (self-regulation), teori Albert Bandura (1997) menegaskan bahwa keberhasilan individu sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengelola motivasi, emosi, dan perilaku secara konsisten menuju tujuan. Peribahasa ini mengandung pesan implisit tentang disiplin diri dan konsistensi tindakan, yang menjadi kunci dalam membangun kebiasaan positif (habit formation). Dalam era distraksi digital dan tuntutan serba cepat, kemampuan untuk tetap fokus, sabar, dan tekun menjadi kompetensi penting bagi generasi muda. Dengan demikian, peribahasa ini tidak hanya relevan sebagai warisan budaya atau cultural heritage, tetapi juga memiliki landasan kuat dalam kajian psikologi kontemporer sebagai prinsip pembentukan karakter dan keberhasilan jangka panjang.

Langkah nyata di sekolah

Dalam konteks pendidikan masa kini, memperhatikan warisan budaya lokal, dapat dipertimbangkan sebagai ikhtiar agar pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual dengan tidak tercerabut pada budaya lokal murid. Contoh peribahasa ”cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” merupakan salah satu ikhtiar agar pengalaman belajar muird dapat diperoleh secara optimal. Ada lima pertimbangan mengapa contoh peribahasa ini masih relevan untuk digunakan sebagai pemicu agar murid bisa belajar secara optimal.

Pertama, mengintegrasikan nilai ketekunan dalam proses pembelajaran. Sekolah tidak cukup menekankan hasil akhir, tetapi perlu merancang pembelajaran berbasis proses (process-oriented learning), seperti project-based learning dan refleksi berkala. Murid diajak menyadari bahwa kemajuan kecil yang konsisten merupakan bagian penting dari keberhasilan, sejalan dengan prinsip grit yang dikembangkan oleh Angela Duckworth (2016).

Kedua, membangun budaya growth mindset di lingkungan sekolah dan keluarga. Guru dan orang tua perlu membiasakan memberikan umpan balik yang menekankan usaha, strategi, dan ketekunan, bukan sekadar hasil. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Carol Dweck (2006) bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang harus dihargai sebagai peluang untuk berkembang.

Ketiga, melatih regulasi diri dan disiplin kebiasaan harian siswa. Sekolah dapat mengembangkan program pembiasaan seperti jurnal refleksi, target mingguan, dan manajemen waktu. Hal ini penting untuk memperkuat kemampuan mengelola diri sebagaimana dijelaskan dalam teori Albert Bandura tentang self-regulation, yang menekankan konsistensi perilaku dalam mencapai tujuan.

Keempat, memberikan pengalaman nyata melalui praktik dan keteladanan. Nilai “cikaracak” perlu dihidupkan dalam aktivitas nyata, seperti kegiatan kewirausahaan, koperasi sekolah, atau proyek sosial jangka panjang. Guru dan orang tua juga harus menjadi teladan dalam menunjukkan kesabaran, ketekunan, dan komitmen dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima, mengelola lingkungan digital agar mendukung ketekunan. Di tengah distraksi teknologi, penting untuk membangun literasi digital yang sehat, seperti pengaturan waktu penggunaan gawai, fokus pada pembelajaran mendalam (deep learning), dan pengurangan budaya serba instan. Dengan demikian, generasi muda dapat tetap fokus, tidak mudah teralihkan, dan mampu menjalani proses panjang menuju keberhasilan yang bermakna.

Budaya Antarbangsa

Meskipun tidak persis sama secara metafora, beberapa peribahasa atau ungkapan dalam budaya bangsa lain,yang maknanya  dekat dengan peribahasa “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”. Dalam Bahasa Inggris misalnya, constant dripping wears away the stone. Artinya Tetesan air yang terus-menerus akhirnya mengikis batu. Atau peribahasa berikut ini, Rome wasn’t built in a day. Hal ini menegaskan bahwa pencapaian besar membutuhkan waktu dan proses panjang.

Dalam Bahasa dan kebudayaan Jepang, ada juga beberapa peribahasa yang sangat dekat maknanya dengan “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”, terutama dalam hal ketekunan, kesabaran, dan usaha yang berulang. Misalnya, dalam Budaya Jepang, dikenal dengan istilah Ishi no ue ni mo sannen. Artinya duduk di atas batu pun (akan hangat) setelah tiga tahun. Maknanya, jika kita bertahan dan tekun dalam suatu hal, meskipun awalnya sulit, hasilnya akan datang seiring waktu. Ini sangat selaras dengan pesan kesabaran dan konsistensi. Atau peribahasa Jepang berikut ini Keizoku wa chikara nari. Ketekunan adalah kekuatan. Maknanya, diperlukan konsistensi dalam melakukan sesuatu akan menghasilkan kekuatan dan keberhasilan.

Dalam ungkapan dalam tradisi masyarat Arab, dikenal dengan ungkapan yang maknanya sangat dekat, yaitu Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Makna di atas, mengungkap pesan yang hampir bersamaan yaitu usaha kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan perubahan besar seiring waktu.

Pandangan dalam Islam

Peribahasa dalam bahasa Sunda “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok” sejalan dengan ajaran Islam, baik dalam Al-Qur’an maupun hadist. Salah satu yang paling dekat maknanya, yaitu sabda Baginda  Rosululloh Kanjeng Nabi Muhammad  SAW. “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).  Hadits ini memberi pesan mendalam, bahwa Allah SWT lebih mencintai amalan kecil tetapi konsisten, dibandingkan amalan besar yang hanya sesaat. Inilah rahasia keberkahan dalam hidup, bahwa istiqamah lebih utama daripada sekadar semangat sesaat.

Allah SWT dalam Al Quran Surah Al baqarah ayat 153, berfirman Yā ayyuhallazina amanusta’inụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalaah, innalloha ma’aṣ-ṣobirīn.  Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Peribahasa Sunda cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok memiliki keselarasan nilai yang kuat dengan ajaran Islam—bahwa amal kecil yang terus dilakukan lebih bermakna dan berdampak dalam jangka panjang. Peribahasa  bukan hanya sekadar warisan kearifan lokal (local wisdom), melainkan prinsip universal (universal principle) yang melintasi budaya, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai keagamaan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak lahir dari kecepatan sesaat, tetapi dari ketekunan yang sabar, konsistensi yang terjaga, dan proses panjang yang dijalani dengan penuh kesadaran. Di tengah tantangan zaman yang serba instan, peribahasa ini justru semakin menemukan relevansinya sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda yang tangguh, reflektif, dan berdaya tahan.

Upaya menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang sarat pesan dalam pendidikan, keluarga, dan kehidupan sosial merupakan ikhtiar penting untuk menumbuhkan manusia yang tidak hanya berhasil secara lahiriah, tetapi juga matang secara batiniah dan bermakna dalam perjalanan hidupnya. Pembentukan karakter sebagai bekal ikhtiar dan amal menuju Sang Khalik. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hasyr ayat 18: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”

DAFTAR PUSTAKA

Albert Bandura. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York, NY: W.H. Freeman.

Carol S. Dweck. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York, NY: Random House.

Angela Duckworth. (2016). Grit: The power of passion and perseverance. New York, NY: Scribner.

Al-Qur’an. (n.d.). Al-Qur’an al-Karim. (QS. Al-Baqarah: 153; QS. Al-Hasyr: 18).

Shahih Bukhari & Shahih Muslim. (n.d.). Hadith collections (Kitab al-Riqaq: Amal yang kontinu lebih dicintai Allah).

BESA FPEB UPI Resmi Lantik Pengurus Periode 2026/2027

27 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bisnis atau Business Education Student Association (BESA) Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) resmi melantik pengurus periode 2026/2027 pada Jumat, 6 Maret 2026 di Lobby Gedung FPEB A Lantai 1, Bandung. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan organisasi mahasiswa dan sebagai bentuk pengesahan kepengurusan baru dalam menjalankan roda organisasi kemahasiswaan di lingkungan Program Studi Pendidikan Bisnis.

Dalam pelantikan tersebut, jajaran pimpinan yang dikukuhkan antara lain Presiden Komisaris M. Fadhil Nawwar Harahap dan Presiden Direktur Fariz Setiawan. Keduanya diharapkan mampu memimpin organisasi dengan mengacu pada visi dan misi yang telah ditetapkan serta menjawab tantangan di bidang pendidikan dan bisnis.

Kegiatan ini turut disahkan oleh Pembimbing Kemahasiswaan Program Studi Pendidikan Bisnis, Masharyono, yang memberikan legitimasi terhadap kepengurusan baru. Keterlibatan pihak pembimbing mencerminkan dukungan institusi dalam memastikan organisasi mahasiswa berjalan secara terarah dan profesional.

Pelantikan pengurus BESA juga menjadi momentum penguatan kapasitas mahasiswa dalam berorganisasi serta pengembangan kepemimpinan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. Proses ini diharapkan mampu mendorong mahasiswa untuk berkontribusi aktif, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di masyarakat luas melalui program kerja yang relevan dan berdampak.

Sejalan dengan itu, keberadaan organisasi mahasiswa seperti BESA turut mendukung penguatan kualitas pendidikan tinggi melalui pengembangan soft skills, kolaborasi, serta kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Hal ini menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menciptakan sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing.

Dengan dilantiknya kepengurusan periode 2026/2027, BESA FPEB UPI diharapkan dapat menjalankan program kerja yang inovatif serta memperkuat peran organisasi sebagai wadah pengembangan mahasiswa. Ke depan, kepengurusan baru diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan akademik, organisasi, dan masyarakat. (RK)

SPPIK UPI Gelar Forum “SPPIK Mendengar” untuk Perkuat Layanan Penanganan Kasus Kekerasan

24 Apr 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Satuan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (SPPIK) Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan forum bertajuk “SPPIK Mendengar” sebagai upaya memperkuat layanan penanganan dan membuka ruang dialog bersama mahasiswa. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan pengalaman, aspirasi, serta masukan terkait sistem pelaporan dan penanganan kasus kekerasan di lingkungan kampus yang dilaksanakan di Auditorium DPPM lt.3 Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Kamis (23/4/2026).

Ketua SPPIK UPI, Hani Yulindrasari, menyampaikan bahwa forum ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada mahasiswa mengenai alur pelaporan dan mekanisme penanganan kasus di UPI. Selain itu, forum ini juga menjadi sarana penting untuk mendengarkan langsung berbagai keluhan dan pengalaman mahasiswa yang selama ini belum tersalurkan melalui jalur resmi.

“Melalui forum ini, kami berharap mahasiswa semakin memahami channel pelaporan yang tepat sehingga setiap kasus dapat ditangani dengan baik dan tidak merugikan korban,” ujarnya.

Forum “SPPIK Mendengar” juga dilatarbelakangi oleh meningkatnya perhatian publik terhadap isu kekerasan di lingkungan kampus, termasuk maraknya keluhan di media sosial. Kondisi tersebut mendorong SPPIK UPI untuk menghadirkan forum resmi sebagai langkah refleksi dan perbaikan layanan.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa aktif menyampaikan berbagai masukan, di antaranya kebutuhan peningkatan pelatihan advokasi, perbaikan fasilitas keamanan seperti penerangan jalan, serta peningkatan patroli keamanan di lingkungan kampus. Menanggapi hal tersebut, SPPIK UPI berkomitmen untuk segera melakukan tindak lanjut, baik melalui koordinasi dengan pihak terkait maupun pengembangan program baru.

“Kami akan menindaklanjuti masukan yang masuk, termasuk memperluas pelatihan seperti sekolah advokasi gender serta berkoordinasi terkait aspek keamanan kampus,” tambahnya.

Hani juga mengapresiasi tingginya kesadaran mahasiswa UPI terhadap isu kekerasan. Ia menilai mahasiswa memiliki peran penting dalam membantu proses penanganan kasus, termasuk dalam pengumpulan informasi yang seringkali sulit dijangkau oleh pihak kampus.

Sebagai penutup, SPPIK UPI mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak ragu melaporkan kasus melalui jalur yang tersedia serta terus berkolaborasi dalam mewujudkan kampus yang aman dan bebas dari kekerasan.

“Bersama-sama, kita wujudkan UPI sebagai kampus yang aman dan bebas dari kekerasan,” pungkasnya. (Rija/RK)

Pencarian