English
Indonesia

Guru SLB Mutiara Bahari Mandiri Ikuti Pelatihan Modul Digital Interaktif pada Kesehatan Reproduksi Anak Autis

07 Jul 2024 • Humas UPI

Pada Rabu (03/07/2024), program studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) di Kabupaten Sukabumi tepatnya di SLBN Mutiara Bahari Mandiri Sukabumi. Kegiatan P2M ini bertajuk “Pendampingan Penggunaan Modul Digital Interaktif dalam Pemahaman Kesehatan Reproduksi Anak Autis bagi Guru SLB Se-Kabupaten Sukabumi”. Kepala SLBN A Citeureup, Dra. Mulyani turut hadir beserta jajaran guru SLBN Mutiara Bahari Mandiri lainnya. Kegiatan P2M ini diikuti oleh 29 peserta yang merupakan guru – guru SLBN Mutiara Bahari Mandiri.

Topik yang dibahas dalam kegiatan P2M ini seputar anak dengan spektrum autistik, kesehatan reproduksi, pendidikan kesehatan reproduksi, dan juga modul digital interaktif mengenai kesehatan reproduksi untuk anak autis. Tujuan dari program P2M (Pendampingan Penggunaan Modul Digital Interaktif) dalam pemahaman kesehatan reproduksi anak autis bagi guru SLB se-Kabupaten Sukabumi adalah untuk memberikan pendampingan dan pelatihan kepada para guru SLB dalam menggunakan modul digital interaktif yang dirancang khusus untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai kesehatan reproduksi anak autis. Program ini diharapkan dapat membantu para guru dalam menyampaikan materi kesehatan reproduksi secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan khusus anak autis, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak-anak autis di Kabupaten Sukabumi khususnya di SLBN Mutiara Bahari Mandiri.

Manfaat dari pendampingan penggunaan modul digital interaktif dalam pemahaman kesehatan reproduksi anak autis bagi guru di SLBN Mutiara Bahari Mandiri antara lain adalah peningkatan kompetensi dan keterampilan para guru dalam menggunakan teknologi digital untuk mengajarkan materi kesehatan reproduksi yang kompleks kepada anak autis. Selain itu, pendampingan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai cara-cara yang efektif dan sensitif dalam menyampaikan informasi kesehatan reproduksi, yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus anak autis. Dengan demikian, para guru dapat lebih percaya diri dan terampil dalam mengelola pembelajaran yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup anak autis di SLBN Mutiara Bahari Mandiri. (kontributor Humas UPI: Oom Sitti Homdijah Prodi Pendidikan Khusus FIP)

Hanjeli dan Ekosistem Literasi

07 Jul 2024 • Humas UPI

Pagi dini hari di Selasa, 2 Juli 2024, kami meluncur menuju kampus FIP UPI untuk berkumpul bersama rombongan P2M (Pengabdian pada Masyarakat) fakultas. Tepat kami tiba, hiace luxury telah terparkir apik di bundaran di depan gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia, Setiabudi.

Bersamaan dengan ketibaan di Fakultas Ilmu Pendidikan, ada notifikasi pesan WA di grup P2M program studi tepat di pukul 00.07 WIB, “Bapak ibu mobil sudah siap. Nomor lima. Dekat bundaran”,
Sejurus kemudian saya balas “siap”. Resonansi tak pernah bekerja sendirian.

Di temaram malam, rombongan dosen dan mahasiswa dari prodi lain berjalan merapat ke mobil Hiace yang sudah diberi tanda nomor. Ada sekitar 15 unit mobil hiace luxury, dengan kapasitas 8 s.d 10 orang setiap unitnya. Kurang lebih total ada 155 peserta.

Sekitar pukul 00.30 WIB sesuai rencana satu persatu rombongan mulai bergerak keluar UPI menuju lokasi pertama, masjid Cibadak. Estimasi ketibaan 3 jam 55 menit, tepat waktu subuh. Semestinya tiba 4.25 pagi, nyatanya kami tiba lebih cepat. Sekitar pukul 03.00 WIB sudah masuk area parkir masjid Cibadak yang luas dan nyaman.

Benar kata nabi saw dalam riwayat hadits, “jika bepergian hendaknya pada waktu (Duljah) malam, karena seolah-olah bumi itu terlipat pada waktu malam.” (HR Abu Dawud Nomor 2571, Al Hakim II/114, I/445, hasan)

Turun dari kendaraan, perlahan sejauh mata memandang saya melihat bangunan masjid dengan arsitektur bergaya Timur Tengah (Turki Ustmani) yang dikemas dengan nuansa modern/minimalis. Fasad didominasi oleh bidang yang diisi roster bercorak bintang islami, dalam paduan warna hitam dan tembaga. Bidang ber-roster sisi terluar (pinggir) dibentuk pola seperti mata busur anak panah. Kubah dengan corak terakota dan dicat warna emas semakin menambah kemegahan masjid. Sebagai musafir, saya terkesan dengan Masjid Daarul Matiin, Cibadak. Di pagi buta, terbuka lebar untuk yang sedang dalam safar. Toilet bersih, terpisah dengan tempat wudhu dan sholat antara laki-laki dan perempuan. Airnya yang bening nan sejuk, menggemericik menyapa epidermis kulit membangunkan sisa kantuk yang bergumul di lelap sekejap.

Pemandangan yang sangat maksyuk: para guru besar/ profesor, Dekan beserta jajarannya, dosen, dan mahasiswa semua berkumpul dalam ceruk sholat malam. Nampak tak ada beda jika dalam rumah Allah. Semua rengkuh dalam shaf tahajjudnya masing-masing, hingga adzan subuh berkumandang, shaf kembali dirapatkan. Kami sholat berjemaah. Suara imam sholat di masjid ini mengingatkan saya pada salah satu suara khas imam masjidil haram. Lantunan ayat Quran mirip syeikh Maher bin Hamad Al-Mu’aiqly. MaasyaAllah. InsyaAllah dengan permulaan yang baik perjalanan pengabdian pada masyarakat ini ada dalam ridho Allah.

Setelah subuh, semua rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Rute perjalanan semakin menantang, kelokannya melebihi kelok sembilan di Padang. Rute yang meliuk liuk, namun dengan lanskap pemandangan alam yang sendu karena langit sedikit berkabut. Sesekali saja saya tengok jendela, selebihnya mata terpejam tapi bukan tidur. Semata untuk meminimalisir mabuk kendaraan.

Pukul 08.00 pagi kami melipir sejenak di tujuan pertama, Desa wisata Hanjeli. Untuk mencapai balai pertemuan, kami mesti turun dari mobil untuk berjalan sedikit menanjak. Melewati warung pojok disambut warga setempat. Sudah banyak peserta yang lebih dulu tiba. Menyeruak harum jahe, agaknya semerbak mirip olahan bubur kacang ijo. Berbekal pengetahuan sebelum ke lokasi, saya pastikan itu adalah bubur hanjeli. Benar saja, di tenda sebelum masuk balai tersaji banyak gelas berisi bubur hanjeli. “Silakan dicicipi dulu bubur hanjelinya bu…”, sambut ibu-ibu paruh baya berkebaya biru navy dengan senyumnya yang manis dalam balutan gincu merah merekah. “Muhun bu, hatur nuhun..”( ya bu, terima kasih), sapa saya sambil memilih gelas berisi bubur hanjeli. Tidak asing di lidah saya, tepat 2 hari yang lalu saya pun membuat bubur kacang hijau tanpa santan. Penampakannya seperti ini, dengan harum jahe berpadu daun pandan. Bubur yang ini warnanya sedikit pucat, mungkin dimasak pakai gula putih bukan gula aren. Rasa manisnya pun bisa dipastikan dominan gula pasir. Di depan balai pertemuan semi permanen sudah tersaji pula nampan berisi macam-macam gorengan, di meja seberangnya ada nasi goreng, lalap timun dan tomat, sambal, telur ceplok, telur dadar, dan mie goreng. Tak lupa air teh tawar panas dalam dispenser stainless bebas tuang, secangkir teh panas cukup menghangatkan perut yang sudah mulai kedinginan diterpa AC perjalanan.

Sambil menyantap sarapan, ada pemaparan dari abah Asep penggagas desa wisata hanjeli ini. Jelas terdengar sejarah awal mula desa wisata ini berdiri dan penjelasan mengenai hanjeli sebagai pangan alternatif selain beras.

Pandangan saya menyapu sekitar, kembali menemukan keunikan bahwa ada banyak preferensi orang berkunjung ke tempat baru. Ada yang fokus pada bungkus, ada yang fokus pada filosofi, ada yang sekedar berfoto selfi tanpa peduli esensi atau hanya sekedar membeli tanpa mencari.

Beranjak dari tempat duduk, saya mendekati ibu-ibu yang sedari tadi menyambut rombongan kami. Menyelami perasaan dan mengindera apa yang dapat saya tarik ke permukaan sebagai pelajaran hidup. “hai, ini desa wisata, jangan terlalu serius”, bukan Thinking extrovert namanya jika tidak menganalisis untuk meyakini pengalamannya sendiri. Kalibrasi logika rasanya ya berkunjung ke tempat-tempat seperti ini. Mengamati, menyelami, merefleksi, dan memaknai.

Raos bubur hanjelina, bu…mung nganggo gula bodasnya? (enak bubur hanjelinya, bu…hanya pakai gula putih ya?), celoteh saya membuka obrolan. “Alhamdulillah bu, muhun nganggo gula bereum sareng gula bodas..upami ieu mah kaleresan abdi anu ngadamelna, hanjelina direndem heula sawengi teras diwasuh, digodog weh sareng jahe, sareng gulana..sapertos ngadamel bubur kacang hejo da sami. (Alhamdulillah bu, betul pakai gula merah dan gula putih, kalau ini kebetulan yang membuatnya saya, hanjelinya direndam dulu semalam, lalu dicuci, direbus saja dengan jahe dan gulanya…seperti membuat bubur kacang hijau kok, sama), jelasnya panjang lebar tanpa diminta. Pacing and leading dalam komunikasi interpesonal yang membuka tabir lawan bicara tanpa diminta.

Obrolan dengan bu Aminah dan bu Mpok mengalir, banyak makna yang saya ikat dari penjelasan mereka yang bersahaja. Filosofinya mirip seperti hanjeli, tanaman yang sederhana namun memiliki banyak manfaat. Ibu-ibu di Desa Hanjeli ini mengajarkan nilai kesederhanaan dan pentingnya menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan yang sering kali diabaikan namun memiliki dampak besar.

Tanpa ditanya, bu Aminah dengan senang hati menjelaskan tugas pokok dan fungsi (tupoksinya) sebagai peran sentral dalam menumbuk hanjeli. Ia menjelaskan rinci siklus hidup hanjeli mulai dari penanaman, pertumbuhan, panen, hingga reproduksi “abdi sareng ibu Koya tugasna ti ngawitan pembibitan dugi ka numbuk sareng pupuk deui, nanam sareng pare, mung panen tiasa tilu kali “(saya dengan bu Koya tugasnya dari mulai pembibitan, sampai menumbuk hingga pemupukan lagi, menanam bersamaan dengan padi, tetapi hanjeli bisa panen tiga kali). Hanjeli mengajarkan kita tentang siklus kehidupan, bahwa setiap tahap memiliki peran dan nilai tersendiri, serta pentingnya menghargai setiap fase dalam hidup kita. Allohumma barik!

Bu mpok memanggil bu wati. Bu Wati nampak berlari kecil menghampiri titik saya berdiri di depan balai pertemuan di samping tenda. Seolah sudah kenal lama, kami berjabat tangan erat, saling mengenalkan diri kemudian lanjut mengobrol.

Mengobrol dan bercerita tentang pengalaman mereka. Desa ini nampak sesuai dengan filosofi hanjeli. Tanaman yang salah satu varietasnya bukan pangan, melainkan biji untuk dibuat gelang atau kerajinan tangan, bentuknya menyerupai air mata. Hanjeli mengajarkan nilai kebersamaan, keterhubungan, dan pentingnya dukungan sosial dalam kehidupan para ibu mantan TKW ini, tutur batin saya.

Sosok bu Wati, mantan TKW (Tenaga Kerja Wanita) ilegal dari Hongkong dan empat negara lain: Oman, Bahrain, Abu Dhabi dan Saudi Arabia “terakhir di Bahrain yang negara konflik, sampai saya dipenjara bu (tertawa)”, kenangnya.

Bukan bangga! tertawa adalah representasi alam bawah sadarnya bahwa ia berani dan mampu bertumbuh di berbagai kondisi lingkungan, seperti halnya tumbuhan hanjeli/sorgum atau jali-jali yang menjadi simbol keberanian dan ketahanan karena kemampuannya tumbuh di berbagai kondisi lingkungan. Pikir saya.

Bu Wati juga menguasai bahasa kanton (Hongkong), Inggris juga Arab secara verbal. Secuplik saya ajak komunikasi dalam tiga bahasa tersebut, dan memang penguasaan bahasa beliau bukanlah bahasa yang dipelajari dari kursus atau sekolah, melainkan bahasa natural yang direkam kognitif secara alami saat berinteraksi sosial dengan warga setempat.

“Saya sekolahnya di SMP, tapi kuliahnya katelkom (katel jeung baskom)”, selorohnya diikuti tawa renyah kami bersama. Ah, obrolan ringan penuh warna menyiratkan kebahagiaan dalam air wajahnya. Sebagaimana hanjeli atau kalau anda kenal lagu “Jali-Jali” dari Betawi?, nah itu sebuah metafora untuk kehidupan yang penuh warna dan kebahagiaan. Persis!

Sejurus kemudian, bu Wati menarik tangan saya untuk berjalan menuju bale rumah panggung yang terlihat di seberang tenda.

Melepas sepatu, saya menyapa putrinya yang berusia sekitar 8 tahun, yang tengah makan sendiri. Nampaknya ia mengalami disabilitas intelektual sindromik (down syndrom). Meski demikian percaya dirinya terpancar, seolah ekologis desa hanjeli ini mendukungnya untuk mudah beradaptasi sekalipun berkebutuhan khusus. Sama halnya dengan hanjeli, tanaman yang mudah tumbuh dan tahan terhadap kondisi tanah yang kurang subur, sehingga sering digunakan dalam program rehabilitasi lahan terdegradasi. Filosofi ini menunjukkan pentingnya ketahanan dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tantangan hidup. Nilai ini mengajarkan untuk tetap tegar dan fleksibel di tengah perubahan dan kesulitan. Catatan pikiran yang entah ke berapa.

Putri bu Wati begitu gembira ketika saya sapa, raut wajah berbinar selain karena ia mengenakan kaos berwarna kuning cerah. Mungkin ini juga salah satu alasan mengapa bu Wati berhenti menjadi TKW dan memilih menjadi local guide di Desa Hanjeli, supaya ketahanan keluarga tetap terjaga dan anaknya dalam pelukan pengasuhannya, batin saya.

Masuk ke area dalam bale, dengan luas ruangan sekitar 3×4 meter persegi, terpajang banyak penghargaan abah Asep dan desa hanjeli. Beberapa di antaranya poster lengkap hasil sinergi dengan berbagai pihak. Singkatnya waktu kunjung membuat saya tak lagi berlama lama. Memilih beberapa produk hanjeli lalu membayarnya dengan Qris. Produk hanjeli tak hanya pangan, tapi juga obat tradisional dan kerajinan tangan, ini menyadarkan tentang pentingnya multifungsi dan diversifikasi dalam hidup, serta melihat potensi dari berbagai aspek diri kita atau situasi yang kita hadapi.

Sambil pamit ditutup dengan mengabadikan momentum kunjungan tersebut, dalam diam saya berpikir, desa ini merefleksikan filosofi tanaman hanjeli atau Jali-jali yang nama latinnya Coix lacryma-jobi. Betapa alam menjanjikan kesehatan mental manusia. Kisah hidup mereka mungkin pahit dengan sepak terjangnya berjuang hidup di negeri orang. Sebagai buruh migran, mereka berharap bisa memberikan penghidupan untuk keluarga, namun semua itu angan belaka, sampai akhirnya membangun desa menjadi pilihan bersama. Aktivitas membudidayakan hanjeli, kemungkinan merawat jiwa-jiwa lelah mereka sebelumnya saat ditempa menjadi buruh migran. Menanam dan merawat tanaman jali-jali dapat menjadi aktivitas yang terapeutik. Sebuah asumsi.

Berkebun seperti yang saya rasakan memang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan mental, termasuk mengurangi stres, meningkatkan mood, dan memberikan perasaan pencapaian. Hal yang sama dilakukan oleh David Beckham setelah gantung sepatu dari sepak bola, menjadi petani daun bawang di pekarangan rumahnya. Serius!

Meninggalkan desa wisata Hanjeli menuju hotel Grand Inna Pelabuhan Ratu, membawa sebungkus makna dan sekelumit pertanyaan. “Desa Hanjeli Sukabumi ini begitu potensial, apakah generasi muda sekitar juga tahu dan pernah berkunjung kesini seperti kami dari Bandung?”

Pertanyaan pribadi ini terjawab ketika keesokan harinya, 3 Juli 2024 kami beserta tim P2M program studi perpustakaan dan sains informasi memberikan materi praktik di sekolah di Pelabuhan ratu yang dihadiri oleh sekitar 30 orang perwakilan.

Sayangnya yang lulusan Ilmu Perpustakaan hanya satu orang saja, dari Universitas Terbuka. Sisanya adalah guru dan tenaga kependidikan yang diperbantukan di perpustakaan. Bahkan ada juga yang tidak memiliki perpustakaan. Tentunya ini mencederai UU No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan sekolah.

Sebelumnya, peserta telah mendapatkan sesi pematerian secara daring. Sebelum memasuki kelas untuk memberikan pelatihan reading theatre, saya mendapat titipan pertanyaan saat daring dari peserta. Ketika itu saya di Malang, sehingga tidak hadir menyimak kelas daring. Pertanyaannya “memangnya kalau perpustakaan sekolah sudah bagus, koleksi memadai, ada pustakawannya, dikelola dengan program yang bagus, diakses banyak orang, itu supaya dapat akreditasi saja, cukup atau bagaimana?”. Saya hanya mengangguk mendapat pesanan pertanyaan untuk dijawab saat nanti di kelas.

Hingga, dalam prolog sebelum praktik reading theatre dimulai, satu persatu wajah peserta saya tatap, perkenalan singkat, diawali dengan pantun kemudian saya menjelaskan tema P2M kami tentang ekosistem literasi.

Disitulah saya bercerita pengalaman kemarin saat berkunjung ke Desa Hanjeli. Bahkan para peserta yang hadir yang notabene adalah penduduk Sukabumi sendiri belum pernah berkunjung kesana. Alih-alih mengajak peserta didik mereka berkunjung untuk belajar kearifan lokalnya sendiri. Padahal aksesnya hanya satu jam dari lokasi peserta. Desa Hanjeli berada di tengah, sehingga akses ke pelabuhan ratu, ujung genteng dan jampang terbilang dekat.

Fenomena yang sama ketika saya mendirikan rumah terapi buku Wangunsari sebagai taman bacaan masyarakat berbasis biblioterapi di Desa Wangunsasi Kecamatan Lembang. Lokasinya dekat dengan Desa astronomi dan peneropongan bintang Bosscha. Dari berbagai daerah berkunjung untuk meneropong bintang, belajar astronomi, sementara anak-anak di Desa Wangunsari yang dekat sekali tidak tahu, bahkan tidak pernah ada akses kesana. Miris sekali, bukan? Hingga kami membuat program field trip. Pengalaman berkesan long march ke beberapa situs astronomi di lingkungan sekitar rumah mereka, meski harus mendaki bukit yang cukup terjal. Inilah yang penting kita kenalkan sebagai ekosistem literasi.

Saya tegaskan bahwa, keberadaan perpustakaan sekolah selain untuk sarana pendukung akreditasi, secara fundamental adalah membangun ekosistem literasi: Membantu generasi mengenal budaya, tradisi, dan bahasa daerah mereka. Hal ini penting untuk menjaga warisan budaya agar tidak punah dan tetap hidup dalam masyarakat. Membantu membangun identitas dan kebanggaan diri. Generasi muda yang memahami sejarah dan budaya mereka cenderung memiliki rasa bangga dan percaya diri yang lebih tinggi. Ekosistem literasi melalui perpustakaan sekolah juga akan membantu generasi lebih toleran dan menghormati perbedaan.

“Disini, ada guru matematika, biologi, seni budaya, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, PKN, admin dan staf tata usaha sekalipun, pahamilah bahwa ekosistem literasi lokal memungkinkan materi pembelajaran disesuaikan dengan konteks lokal. Ini membuat pendidikan lebih relevan dan bermakna bagi siswa, karena mereka dapat mengaitkan pengetahuan yang diperoleh dengan lingkungan sekitar mereka. Siapa lagi yang akan membangun desanya, wilayahnya kalau bukan mereka peserta didik kita saat ini? Maka, secara sistematis, massive dan berkelanjutan, kita sepatutnya mengakui pentingnya perpustakaan sekolah sebagai katalisator peradaban.

Koleksi bahan pustaka yang tersedia dan dibaca di perpustakaan akan merawat dan mengasuh jiwa, mental mereka lebih beradab. Tak perlu menunggu mendapat penghargaan, atau gelar untuk berperan dalam peradaban, cukup dengan tidak melakukan potensi kejahatan yang ada dalam diri saja.

Siswa atau guru tidak bullying, siswa atau guru tidak seks bebas atau pelecehan seksual, siswa tidak tawuran, pendidik tidak selingkuh, pendidik tidak KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) dan seterusnya, sampai kita hanya fokus pada potensi baik dalam diri dan menahan potensi kejahatan, maka kita sudah mengambil peran peradaban, itu adalah aset sejati Indonesia. Semua ini diikhtiarkan lewat kebiasaan membaca.

Membaca sastra melembutkan jiwa. Sastra mendidik jiwa agar berada pada jalur potensi baik dalam diri. Maka itu ada biblioterapi didaktik. Perpustakaan sebagai sarana penyembuhan jiwa. Membaca teks sastra, membaca teks sastra tingkat tinggi (bahasa Al Quran), dan pendampingan intensif dari pustakawan atau pendidik secara kolaboratif menjadi penting.

Kelas tiba-tiba sunyi, air haru menyeruak tertahan sejenak di kantung mata. Berusaha keluar dengan bijak, akhirnya membuncah juga. Ya, peserta yang hadir pun ikut terpapar dalam kesadaran penuh, mengapa mereka hadir disitu. Di kelas itu, dengan ragam latar belakangnya. Sudah skenario Allah. Mereka orang pilihan. Terbukti dalam praktik reading theatre dari buku sastra anak karya Ibu Murti Bunanta bertajuk “Mengapa Tubuh Udang Bengkok” peserta memiliki keterbacaan dan pemaknaan yang baik saat tampil. Pemilihan naskah reading theatre yang disajikan tentunya menyesuaikan dengan ekosistem literasi wilayah P2M di Pelabuhan Ratu yang notabene pesisir pantai. Sehingga, pemilihan tema sedapat mungkin yang dekat dengan situasi kehidupan mereka. Tokoh yang berperan ikan dan udang secara antropomorfistis.

Pesan dari kisah naskah reading theatre inilah yang menyadarkan potensi buruk dalam diri kita. Refleksi pesan dalam penceritaan, hingga berdampak pada tindakan.

Sebuah jalan panjang, berkelok, sunyi dan mendaki antara pelabuhan ratu dan Bandung yang menorehkan makna bagi saya pribadi: selaksa makna di masjid Daarul Matiin Cibadak, selaksa makna di Desa Hanjeli, selaksa makna di ruang kelas Pelabuhan ratu, ditambah beberapa “bungkus permen” manis, asam, asin, pedas (nano-nano) yang memberi warna rasa di jiwa selama perjalanan, yang sebagiannya telah saya bagikan dalam tulisan akhir pekan ini. Terima kasih untuk pembaca setia peradaban!

Ahad, 7 Juli 2024/ 1 Muharram 1446H

Salam biblioterapi,
Bunda Susan
@susan_motherpreneur
(Dosen Biblioterapi di Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi, Depkurtekpen, FIP UPI Bandung. Founder Komunitas Biblioterapi Indonesia. Penulis buku biblioterapi untuk pengasuhan, biblioterapi untuk kecemasan dll. Penyedia layanan biblioterapi) follow IG @bibliotherapy.id @susan_motherpreneur. Email: [email protected].

Pengembangan Ekosistem Literasi : Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan Sekolah untuk mewujudkan komunitas Belajar yang Berkelanjutan di Pelabuan Ratu kabupaten Sukabumi

06 Jul 2024 • Humas UPI

Salah satu bentuk implementasi Tri dharma perguruan tinggi adalah melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat selain komponen pendidikan dan penelitian. Pada Tahun 2024 ini pelaksanaan PKM diselenggarakan di Kabupaten Sukabumi tepatnya di Pelabuhan Ratu. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa dan Rabu (2-3/07/2024). Kegiatan ini dihadiri oleh WR bidang PK Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. , Bupati Sukabumi yang diwakili Plh. Sekda  Ir. Toha Wildan A, M.T. , Kepala disdik Kabupaten Sukabumi Eka Nandang Nugraha, S.IP., M.M., dan Dekan FIP Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si. Menurut Prof. Rudi, PKM ini kegiatan PKM ini merujuk terhadap implementasi tri dharma perguruan tinggi serta bertujuan untuk berbagi pengetahuan serta merefleksikan praktik baik yang dilakukan guru di lapangan. Hal tersebut disampaikan pula oleh Plh Bupati Sukabumi, Toha bahwa kegiatan PKM selaras dengan upaya pemberdayaan masyarakat melalui keterlibatan perguruan tinggi. Tema PKM Fakultas Ilmu Pendidikan tahun ini adalah Pengembangan Kapasitas Masyarakat melalui Kolaborasi Merdeka Belajar. Kegiatan PKM ini dilaksanakan di 3 sekolah yaitu SMPN 1 Cikakak, SMPN 1 Cisolok, dan SMPN 1 Pelabuhan Ratu yang berada di Sukabumi. Kelompok PKM ini terdiri dari 20 kelompok dari program studi pada di Fakultas Ilmu Pendidikan dengan total jumlah peserta dosen dan tenaga kependidikan sebanyak 147 orang. Sebelum dilaksanakan PKM secara luring, telah dilakukan pula Pelatihan secara daring yan dilaksanakan mulai tanggal mulai 12 -24 Juni 2024 yang pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing kelompok PKM.

Program Studi Perpustakaan dan Sains informasi merupakan salah satu prodi yang menjadi peserta dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. Tema yang diusung dalam pengabdian ini adalah Pengembangan ekosistem Literasi dengan memberikan pelatihan pada pengelola Perpustakaan Sekolah di Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi. Kegiatan dilaksanakan di SMPN Pelabuhan Ratu dengan jumlah peserta Pelatihan sebanyak 27 orang. Sebelum dilakukan pelatihan secara luring ini, telah pula dilaksanakan Pelatihan secara daring pada Jum’at tanggal 21 Juni 2024.

Selain peserta mengikuti pelatihan daring, para peserta juga diberikan penugasan untuk memenuhi 32 JP untuk memperoleh sertifikat Pelatihan. Adapun materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah: Penelusuran e-resources; Pengembangan minat dan baca siswa, Best Practice; Promosi Perpustakaan Berbasis Media Sosial. Para peserta yang mempunyai latar belakang Guru mata pelajaran ini antusias dalam mengikuti pelatihan ini. Hanya 2 orang peserta saja yang merupakan pustakawan sekolah. Para Guru ini mendapatkan tugas menjadi pustakawan sekolah dengan latar belakang keilmuan yang berbeda-beda. Dalam proses kegiatan Pelatihan ini dilakukan praktek reading theatre yang dibagi menjadi 3 kelompok. Selain itu pula dilakukan praktek penelusuran informasi e resource agar guru-guru dapat melakukan penelusuran informasi dari berbagai informasi yang tersedia baik dari Perpusnas, jurnal-jurnal dan sumber belajar lainnya. Dalam mempromosikan Perpustakaan Sekolah pemanfaatan media sosial Instragram juga dilatihkan pada Pelatihan ini. Peserta membuat dan mendesain promosi perpustakaan sekolah yang dapat menarik siswa dan juga pengguna perpustakaan untuk memperoleh informasi ketersediaan koleksi ataupun layanan yang terdapat di sekolah. Beberapa peserta memperoleh doorprize yang disiapkan oleh panitia, untuk memberikan motivasi dalam mengikuti setiap mata Pelatihan ini. Kepala Disdik Sukabumi, mengatakan bahwa kegiatan PKM ini sangat bermanfaat dan menghasilkan implikasi yang positif khususnya dalam upaya pengembangan kualitas pendidikan di kabupaten Sukabumi. Dengan Pelatihan ini peserta khususnya bagi pengelola perpustakaan sekolah diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengelola perpustakaan di Sekolah.(HN)

Pengembangan Kapasitas Masyarakat melalui Kolaborasi Merdeka Belajar: Puncak Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) FIP 2024 di Pelabuhanratu Kab. Sukabumi

05 Jul 2024 • Humas UPI

UPI, Bandung. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (FIP UPI), pada tanggal 2-3 Juli 2024 kemarin telah melaksanakan kegiatan puncak Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama yang dilaksanakan semua porgram studi (prodi) di lingkungan FIP UPI. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi yang merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan PkM FIP 2024. Kegiatan telah dibuka pada tanggal 12 Juni 2024 dan dilanjutkan dengan pelaksanaan pelatihan secara daring sejak tanggal 13 Juni 2024. Pembukaan secara luring PkM FIP 2024 ini dilaksanakan di Grand Inna Samudra Beach Hotel yang berlokasi di Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Pada agenda pembukaan dihadiri oleh seluruh unsur yang terlibat dalam kegiatan PkM FIP 2024 yakni sivitas akademika FIP UPI, unsur-unsur pemerintahan yang terlibat di Kabupaten Sukabumi, dan PGRI Kabupaten Sukabumi.

Pada kegiatan ini, FIP UPI mengikutsertakan sembilan orang profesor dari berbagai rumpun bidang ilmu pendidikan untuk ikut berpartisipasi dan mengabdikan diri di Kabupaten Sukabumi. Latar belakang keahlian profesor yang dihadirkan sesuai dengan pelatihan-pelatihan yang akan diberikan kepada masyarakat di Kabupaten Sukabumi. Selain itu, dilibatkan juga 38 dosen dengan gelar doktor dan 30 dosen dengan jenjang magister. Terdapat beberapa mahasiswa yang juga terlibat sebanyak 56 sebagai fasilitator. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan dibagi ke dalam 20 kelompok dengan berbagai tema pelatihan yang berbeda sesuai dengan keilmuan program studi serta kelompok dosen masing-masing yang diikuti oleh guru SLB, guru TK, pengelola, guru PAUD, dan orang tua AUD, pamong Belajar SKB, penilik, pengelola PKBM, tutor/pendidik kesetaraan, guru BK SMP, tenaga Administrasi Sekolah SMP, kepala dan Wakil Kepala Sekolah SMP, pengelola Perpustakaan SMP, dan guru SMP.

Acara puncak PkM pada tanggal 2-3 Juli 2024 mencakup berbagai kegiatan pelatihan,  yang diisi oleh para dosen yang ahli pada bidangnya. “Kegiatan PkM ini adalah bentuk nyata dari komitmen kami untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan yang berkualitas,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si. pada saat memberikan sambutan. “Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak yang signifikan dan berkelanjutan bagi peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Sukabumi.” Sambutan juga disampaikan oleh Wakil Rektor bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. mengenai pelaksanaan PkM yang diselenggarakan di Pelabuhanratu, Kab. Sukabumi, “Sudah sewajarnya bagi UPI untuk mengembalikan keilmuan yang dimilikinya untuk masyarakat Jawa Barat, khususnya warga Kabupaten Sukabumi sebagai bagian di dalamnya.” Pelaksanaan PkM ini merupakan komitmen UPI untuk berkontribusi dalam penyelesaian permasalahan khususnya di bidang pelaksanaan pendidikan. Meskipun tidak keseluruhan permasalahan dapat diselesaikan namun UPI khususnya FIP melalui kegiatan PkM ini berupaya memberikan sentuhan untuk memaksimalkan peran sebagai universitas untuk membantu penyelesaian permasalahan pendidikan yang ada.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui PLH Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi yakni Toha Wildan Athoilah, berkesempatan untuk memberikan sambutan sekaligus bersama-sama membuka secara simbolis PkM FIP 2024 ini. “Pemkab Sukabumi tentunya menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kepercayaan UPI kepada Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu daerah yang terpilih untuk melaksanakan kegiatan PkM ini,” terangnya. “Mudah-mudahan para peserta yang mengikuti program ini dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh agar terciptanya lingkungan pendidikan yang baik dan berkualitas untuk Kabupaten Sukabumi.”

Ungkapan rasa syukur disampaikan oleh Ketua Pelaksana kegiatan PkM FIP 2024 yakni Angga Hadiapurwa, M.I.Kom. “Alhamdulillah, kegiatan dapat terlaksana dengan lancar. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, terutama para dosen, mahasiswa, dan peserta yang kooperatif serta para panitia yang sangat kompak. Semoga FIP UPI dapat menyebarluaskan lagi keilmuan-nya ke daerah-daerah lain di Jawa Barat,” hal tersebut disampaikan selepas kegiatan pembukaan secara luring PkM FIP 2024. “Semoga FIP semakin HEBAT,” tutupnya.

Selain rangkaian acara pembukaan, FIP UPI juga menghadirkan tim Epson Indonesia sebagai salah satu sponsor pada kegiatan PkM FIP 2024. Dalam kesempatan ini tim Epson memberikan seminar dengan tajuk “Meningkatkan Keterlibatan Peserta Didik dengan Teknologi Interaktif dan Nirkabel“ yang dapat diikuti oleh seluruh peserta yang hadir secara luring, maupun mengikuti live streaming melalu kanal YouTube Official FIP UPI. Selain itu, ada juga harapan-harapan yang dituliskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan dan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan di papan interaktif Epson pada sesi seminar ini. Selain Epson Indonesia sebagai sponsor, PkM FIP Tahun 2024 ini didukung juga oleh PT. Telkom Indonesia dan Tridaya.

Kegiatan secara luring PkM FIP 2024 berlangsung serentak untuk 20 kelompok pengabdian yang berbeda. Pelaksanaannya disebar di empat sekolah sebagai titik lokasi pelaksanaan pelatihan terpusat yakni di SMPN 1 Cikakak, SMPN 1 Cisolok, SMPN 1 Pelabuhanratu, dan SLB Mutiara Bahari. Kegiatan secara luring ini merupakan kegiatan kulminasi yang juga puncak kegiatan pada PkM. Sebelumnya para peserta telah mengikuti kegiatan secara daring yang dilaksanakan melalui teleconference Zoom Meeting atau Google Meet. Berbagai macam pelatihan diikuti oleh para guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, penilik, pengelola PKBM, dan pustakawan yang terlebat sesuai dengan kelompok masing-masing.

Kegiatan PkM di Pelabuhanratu ini ditutup oleh perwakilan kelompok di lokasi kegiatan masing-masing dengan penyerahan cenderamata kepada pihak sekolah sebagai ucapan terima kasih atas kesediaan untuk menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan pelatihan secara luring. Semoga dengan terlaksananya kegiatan PkM FIP 2024 ini dapat menjadi upaya yang dilakukan UPI khususnya FIP untuk mengambil peran dalam menyelesaikan permasalahan pendidikan dan meningkatkan kapasitas masyarakat di Kabupaten Sukabumi, serta menjadi wadah bagi para sivitas akademika di lingkungan FIP untuk mengimplementasikan keilmuannya langsung dengan terjun di masyarakat.(Kontributor Humas UPI: Hafsah Nugraha & Diemas Arya Komara/ Dokumentasi: Tim Panitia PkM FIP Tahun 2024)

Kabar dari Perancis (38) Jeux Olympiques : JO (Olympics Games)

04 Jul 2024 • Humas UPI

Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

Olimpiade akan diadakan di Perancis, di kota Paris dari tanggal 26 Juli 2024 sampai 11 Agustus 2024. Pada kesempatan ini, kami akan membahas peran Olimpiade ini dari asal usulnya sampai detail persiapannya dalam kehidupan kita.

Pada artikel sebelumnya, kami telah menunjukkan poster resmi olimpiade di Perancis (fr : Jeux Olympiques (JO) 2024).

Sejarah Asal Usul Olimpiade

Olimpiade (Les Jeux de l’Olympiade) modern diadakan pertama kali di Athena, Yunani dari tanggal 6 sampai 15 April 1896, dan diikuti oleh 14 Komite Olimpiade Nasional (en : Comite Olympiade National, fr :Comités Nationaux Olympiques  – CNO) yang menyelenggarakan 43 pertandingan dengan 241 atlet dan hanya ditujukan untuk kaum laki-laki.

Olimpiade pertama ini dibuka oleh Raja George I, Raja Yunani yang memainkan peranan penting dalam keberhasilan Olimpiade pertama. Pada mulanya para politisi Yunani menentang penyelenggaraan Olimpiade ini karena pada saat itu terjadi krisis ekonomi yang sedang dialami negara Yunani. Kesuksesan Olimpiade Athena membuat Raja George I meminta agar Athena menjadi tempat yang permanen untuk penyelenggaraan Olimpiade berikutnya. Namun keinginan Raja ini ditentang dengan susah payah oleh Pierre de Coubertin, pendiri Olimpiade modern.

Pertandingan Olimpiade modern Pertama di Athena ini dibiayai dari sumbangan sekitar satu juta Drachma dari seorang pengusaha Yunani bernama Georges Averof, dan dari penjualan prangko dan medali suvenir.

Mulai tahun 1924 terdapat dua Olimpiade : Olimpiade Musim panas dan Olimpiade musim dingin yang diadakan di tahun yang sama, tetapi sejak tahun 1986 jarak antara kedua Olimpiade ini berjangka dua tahun. Kedua Olimpiade ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Pada tahun 2024 ini Olimpiade musim panas akan diadakan di Paris dan Olimpiade musim dingin akan diselenggarakan di Milan dan di Cortina d’Ampezzo, Italia dari tanggal 6 Februari 2026 hingga 22 Februari 2026.

Olimpiade Kuno

Sejarah Olimpiade kuno dimulai  di Yunani di pulau Peloponnese (3000 tahun yang lalu). Olimpiade pertama diselenggarakan  pada tahun 776 SM di Olympia, dan dari nama tempat inilah maka nama pertemuan olahraga ini dinamakan Olympiade (Olimpiade). Pertandingan ini  didedikasikan untuk menghormati Dewa Zeus.

Mitologi yang berkaitan dengan Olimpiade dikaitkan dengan beberapa mitos yang sama satu lain berbeda tapi dengan aktor-aktor yang sama, yaitu Zeus Herkules/Herakles, Herakles dari Ida, Raja Elis (Iphos).

Herkules (Heracle of Ida) adalah putra Dewa Zeus, yang dianggap sebagai manusia setengah dewa. Secara harfiah nama ini berarti “jari-jari Idaean, yaitu dewa-dewa kecil yang bercokol di sekitar Gunung Ida di Troas, di Pulau Kreta, dan di Olympia, menurut cerita 12 tugas/tantangan Hercules.

Herkules diperintahkan oleh Raja di Ellis untuk membersihkan istana milik rajanya yang bernama Augeas. Untuk mengerjakannya, aliran air Kaldeos dan Alpheos, sungai yang mengalir di dekat lokasi Olympia harus dialihkan arusnya. Namun Augeas tidak menempati janjinya untuk memberi hadiah kepada Herkules. Dewa Zeus, yang dianggap sebagai pimpinan para dewa yang juga merupakan ayah Herkules,  mengusir Augeas keluar dari Ellis dan selanjutnya Dewa Zeus menguasai kota Ellis. Zeus kemudian memutuskan untuk membuat pertandingan Olimpiade. Dengan demikian penyelenggaraan Olimpiade dikaitkan dengan keberhasilan Herkules  melawan Augeas, raja Elis. Oleh karena itu, menurut mitos tertua ini, Olimpiade adalah kreasi Heracles dari Ida. Menurut mitos lain, Olimpiade ini diciptakan oleh Zeus sendiri, untuk mengenang perjuangannya melawan Kronos dalam memperebutkan takhta Olympus

Mitos lain menyatakan bahwa  asal mula terciptanya pertandingan Olimpiade adalah untuk menghentikan wabah penyakit  dan perang yang melanda kerajaannya pada tahun 884 SM, dengan demikian orang-orang percaya bahwa  kemarahan para dewa dapat ditenangkan dengan pertandingan olah raga ini.

Berikutnya, mengikuti gerakan Olimpiade ini, terdapat Gencatan Senjata Suci yang disebut juga  EKECHEIRIA. Sejak abad ke-9 SM, gencatan senjata suci (penandatanganan perjanjian 3 raja: Iphthos dari Elis, Cleosthenes dari Pisa, dan Lycurgus dari Sparta) menetapkan kemungkinan para atlet dan penziarah (kafilah) bepergian tanpa bahaya ke tempat suci Olympia untuk menyaksikan pertandingan (untuk dapat melakukan perjalanan dengan aman dan kemudian kembali dengan selamat).

EKECHEIRIA, adalah sebuah tindakan yang menyerukan diakhirinya pertempuran selama pertandingan Olimpiade Zaman Kuno. Setiap orang Yunani yang bebas dari kondisi, tidak bersalah melakukan kejahatan dan bebas dari kutukan dapat berpartisipasi dalam pertandingan tersebut. Mereka yang dilarang berpartisipasi tapi melakukannya harus membayar denda besar yang berfungsi untuk mempercantik kuil Zeus.

Olimpiade yang dulunya bernama Panhellenic memiliki kekhasan mempertemukan dunia Yunani (pan = all, hellene = Yunani) pada saat Yunani belum menjadi negara tetapi terdiri dari negara-kota (komunitas yang mandiri secara politik dan ekonomi). Dari Yunani dan koloni-koloninya (Italia, Afrika Utara, dan Asia Minor -nama daerah-daerah dalam sejarah kuno yang diberikan pada  ujung barat Asia antara Mediterania timur, Laut Aegea, dan Laut Hitam), orang-orang melakukan perjalanan untuk berpartisipasi atau menghadiri Olimpiade, didorong oleh perasaan yang sama: mereka memiliki budaya dan agama yang sama.

Kriteria Atlet yang diperbolehkan berpartisipasi yaitu harus seorang pria, orang Yunani, bebas (bukan budak). Dengan demikian kaum perempuan (kecuali pemilik kuda), budak dan orang asing tidak boleh berpartisipasi.

Setelah Yunani ditaklukkan oleh Roma pada tahun 146 SM, bangsa Romawi diperbolehkan bergabung dengan para atlet Yunani.

Berikut ini adalah nama-nama atlet-atlet dengan keahlian yang luar biasa:

  • Astylos dari Crotone
  • Milo dari Crotone
  • Kyniska dari Sparta (seorang perempuan)
  • Melagomos dari Caria
  • Leonidas dari Rhodes

Pertandingan Olimpiade kuno dihapuskan oleh Kaisar Theodosius I pada tahun 393 M sebagai bagian dari upayanya untuk mempromosikan agama Kristen dan menghilangkan ritual dan praktik pagan (tak beragama) di Kekaisaran Romawi. Setelah larangan ini, penyelenggaraan Olimpiade   berhenti selama lebih dari 1500 tahun.

Olympiade Modern

Pertandingan Olimpiade modern dimulai kembali pada akhir abad ke-19 berkat upaya Pierre de Coubertin. Edisi pertama Olimpiade modern diadakan di Athena, Yunani, pada tahun 1896. Olimpiade ini menandai kebangkitan tradisi kuno, yang disesuaikan dengan nilai dan konteks zaman sekarang.

Antara penghapusan Olimpiade kuno oleh Theodosius I dan kembalinya Olimpiade oleh Pierre de Coubertin, yang walau acaranya  tidak sebanding dengan Olimpiade kuno, kompetisi olahraga lokal dan regional tetap ada dalam budaya dan peradaban yang berbeda. Lahirnya kembali Olimpiade ini tidak menghapus penyelenggaraan pertandingan-pertandingan lain.

Baron Pierre de Coubertin adalah pendidik Perancis yang sering dipuji atas kebangkitan Olimpiade modern. Ketertarikannya pada rehabilitasi Olimpiade dipengaruhi oleh pengalaman dan perjalanan hidupnya :

  1. Coubertin sangat tertarik pada bidang pendidikan dan berniat mereformasi sistem pendidikan di Perancis. Dia yakin bahwa pendidikan jasmani sangat penting untuk perkembangan generasi muda. Coubertin dipengaruhi oleh sistem pendidikan Inggris dan Amerika yang memadukan olahraga sebagai unsur utama  dalam pelatihan siswa.
  2. Coubertin mengagumi idealis Olimpiade Yunani kuno yang menganggap bahwa olahraga adalah bagian integral dari budaya dan pendidikan. Ia melihat Olimpiade kuno sebagai simbol perdamaian dan persaudaraan antarbangsa.
  3. Perjalanannya di Inggris dan Amerika Serikat membuat dia melihat pentingnya olahraga di sekolah dan universitas. Dia juga mempelajari Olimpiade kuno dan terinspirasi oleh nilai-nilai dan organisasinya.
  4. Pada tahun 1892, Coubertin pertama kali secara terbuka mengungkapkan gagasannya untuk meluncurkan kembali Olimpiade pada pidatonya di depan Persatuan Masyarakat Olahraga Atletik Perancis (USFSA: l’Union des sociétés françaises de sports athlétiques). Pada tahun 1894, ia menyelenggarakan kongres internasional di Sorbonne di Paris, dan ia secara resmi mengusulkan pemulihan Olimpiade.
  5. Pada Kongres tahun 1894 ini telah menghasilkan pembentukan Komite Olimpiade Internasional (Comité International Olympique (CIO), dengan Coubertin sebagai sekretaris Jendral. IOC memutuskan bahwa Olimpiade modern pertama akan diadakan di Athena, Yunani, pada tahun 1896, sebagai penghormatan terhadap asal usul Olimpiade kuno.
  6. Coubertin memainkan peran penting dalam mempromosikan Olimpiade, memobilisasi dukungan internasional dan berupaya mengatasi berbagai kendala logistik dan keuangan. Ia juga membantu menegakkan prinsip-prinsip dasar Olimpiade, seperti amatirisme (bukan bayaran/ profesionalisme) dan persaudaraan antarbangsa.

Melalui visi dan ketekunannya, Pierre de Coubertin berhasil memulihkan Olimpiade, dan mengubahnya menjadi acara internasional yang merayakan keunggulan olahraga, persahabatan, dan perdamaian. Setiap dilaksanakan Olimpiade, selalu terdapat perubahan sedikit atau banyak yang menampilkan keunikannya, misalnya : 

  • Tahun 1920: Lingkaran (Rings) simbol Olimpiade  menggambarkan 5 benua disatukan oleh semangat permainan olahraga. Warna-warna di lingkaran dipilih pada tahun 1913 oleh  Pierre de Coubertin dan digunakan pertama kali pada Olimpiade 1920 di Antwerp, Belgia.
  • Tahun 1932 :  Medali di podium.
  • Tahun 1936: Api / obor yang merupakan objek lomba lari estafet (negara tuan rumah Olympiade). Nyala api obor ini juga melambangkan semangat permainan yang mewujudkan nilai-nilai seperti: keunggulan, persahabatan dan keharmonisan antarbangsa. Obor ini dinyalakan dengan  menggunakan cermin yang memantulkan  sinar matahari selama upacara khusus di Olympia untuk menerangi daerah luas Olimpiade selama upacara.
  • Tahun 1996 : 41 pertandingan
  • Tahun 2016 : 306 pertandingan. Dalam sejarah Olimpiade, ada juga cabang olah raga yang dihapus, seperti polo, tarik tambang namun dimunculkan cabang olahraga yang baru seperti BMX, MTB, Taekwondo.
  • Tahun 1924,  100 tahun lalu, diberlakukan dua Olimpiade (Musim Panas dan juga musim dingin)

 Di Olimpiade modern ini, mulai ada partisipasi perempuan, seperti pada tahun 1900 (di Paris) untuk cabang olahraga tenis dan golf. Pada 1928 untuk cabang olahraga atletik, tahun1984 cabang olah raga maraton, dan pada tahun 2016 45% perempuan berpartisipasi dalam semua pertandingan.

Sir Ludwig Guttmann, ahli saraf, pada tahun 1948 mencetuskan ide pertandingan olimpiade bagi para penyandang cacat yang dinamakan Paralimpiade. Pertandingan ini pada awalnya dimaksudkan untuk rehabilitasi, melalui latihan olahraga, bagi para veteran dan korban Perang Dunia Kedua yang telah menjadi lumpuh.

Saat ini pertandingan Olimpiade telah menjadi mesin ekonomi untuk kepentingan masyarakat internasional. Juan Antonio Samaranch Torello, dari tahun 1980 hingga 2001 adalah Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC). Pertandingan Olimpiade selalu disponsori oleh perusahaan-perusahaan besar. Pertandingan yang asalnya merupakan pesta pertunjukan, telah menjadi pertunjukan berburu rekor. Kemenangan menjadi obsesi hingga penggunaan doping. Dengan demikian spirit Olimpiade telah berubah.

Pertanyaannya, masihkah semangat Olimpiade ini menjunjung tinggi keunggulan, persahabatan dan keharmonisan antarbangsa?

Untuk mengikuti lebih jauh tentang perkembangannya tradisi Olimpiade ini yang jika dihitung sudah berlangsung lebih dari 700 tahun, artikel selanjutnya akan masih membicarakan Olimpiade yang akan berlangsung di kota dalam Paris yang seluruh kota dipakai sebagai tempat ajang pertandingan atlet-atlet mancanegara ini.

SUMBER: 

https://fr.wikipedia.org

https://www.pierrelagrue-jo.com/georges-ier-de-grece-1845-1913

https://olympics.com/cio

– https://www.lefigaro.fr/sports/jeux-olympiques

Pencarian