Melesat Signifikan Peringkat 101–150 Dunia, Prof. Didi Sukyadi, M.A., Sampaikan Apresiasi
01 Apr 2026 • Humas UPI
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Berdasarkan rilis terbaru QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026, bidang Pendidikan (Education) UPI melonjak signifikan hingga menembus peringkat 101–150 dunia.
Capaian ini menandai lompatan besar bagi kampus yang dikenal sebagai pelopor pendidikan tersebut, mengingat pada periode sebelumnya UPI berada di posisi di atas peringkat 200. Prestasi ini sekaligus mengukuhkan reputasi UPI sebagai perguruan tinggi dengan daya saing global dalam pengembangan ilmu pendidikan, riset, dan jejaring akademik.
Prof. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas pencapaian ini. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja keras kolektif seluruh sivitas akademika UPI.
“Kita tentu bersyukur bahwa ranking QS by subject bidang pendidikan naik signifikan, dari sebelumnya di atas 200 menjadi 101-150. Ini berkat kerja sama semua pihak,” ujar Prof. Didi di Bandung, Rabu (1/4).
Menurutnya, sebagai universitas yang mengusung mandat utama di bidang kependidikan, rekognisi dunia internasional terhadap keunggulan bidang tersebut adalah sebuah keharusan.
“Sebagai universitas pendidikan, bidang kependidikannya memang harus unggul, dan keunggulan itu kini memperoleh pengakuan dari komunitas global,” tambahnya.
Kenaikan peringkat ini dipicu oleh sejumlah faktor strategis, di antaranya penguatan interaksi akademik internasional, kemitraan strategis lintas negara, serta perluasan jejaring riset. Pengakuan ini juga menjadi indikator bahwa inovasi dan program kolaborasi yang dijalankan UPI selama ini dinilai berdampak nyata bagi masyarakat dunia.
Capaian di tahun 2026 ini diharapkan menjadi katalisator bagi seluruh sivitas akademika untuk terus melahirkan inovasi baru dan menjaga standar mutu internasional. UPI menyatakan optimismenya untuk terus meningkatkan kualitas Tridarma Perguruan Tinggi guna memperluas kontribusi pada pengembangan pendidikan di level global.
Dengan posisi yang semakin kompetitif di peringkat dunia, UPI berkomitmen untuk terus menjaga tren positif ini agar peringkat universitas dalam pemeringkatan global di masa mendatang dapat terus meningkat. (Rija/DN)
UPI Jadi PTN dengan Peminat Terbanyak Nasional pada SNBP 2026, Tembus 53 Ribu Pendaftar
31 Mar 2026 • Humas UPI
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengukuhkan posisinya sebagai perguruan tinggi favorit di tanah air. Berdasarkan hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026 yang diumumkan hari ini, Selasa (31/3/2026), UPI tercatat sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Akademik dengan jumlah peminat terbanyak di Indonesia.
Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) resmi merilis data tersebut. UPI menduduki peringkat pertama nasional dengan total peminat mencapai 53.311 orang. Angka ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas akademik dan daya saing lulusan kampus bumi Siliwangi tersebut.
Direktur Direktorat Pendidikan UPI, Prof. Dr. rer. nat. Asep Supriatna, M.Si., mengungkapkan bahwa keberhasilan ini didorong oleh berbagai langkah strategis dan keunggulan kompetitif yang dimiliki universitas.
“Posisi UPI sebagai perguruan tinggi dengan peminat terbanyak pada SNBP 2026 tidak terlepas dari beberapa faktor utama. Pertama, secara geografis UPI mudah dijangkau masyarakat karena memiliki kampus yang tersebar di Bandung, Cibiru, Purwakarta, Sumedang, Tasikmalaya, hingga Serang,” jelas Dr. Asep dalam keterangannya, Selasa (31/3).
Selain faktor lokasi, ketersediaan 106 program studi pada jenjang D4 dan S1 menjadi daya tarik tersendiri. Dr. Asep menambahkan bahwa UPI kini tidak hanya dikenal di bidang kependidikan, tetapi juga telah bertransformasi dengan menawarkan beragam ilmu murni dan teknik yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini.
Tingginya antusiasme calon mahasiswa juga dipengaruhi oleh pola komunikasi yang masif. Salah satu program unggulan yang dinilai sukses adalah Open Visit UPI 2026.
“Kami konsisten melakukan sosialisasi. Melalui Open Visit, calon mahasiswa dapat mengenal lebih dekat lingkungan akademik kami. Ini terbukti membuat jangkauan informasi menjadi lebih luas dan efektif,” tambahnya.
Pada tahun 2026 ini SNPMB diikuti oleh 146 PTN, yang terdiri atas 76 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 26 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebagai PTN Akademik serta 44 Politeknik Negeri sebagai PTN Vokasi.
Total peserta SNBP Tahun 2026 adalah 806.242 siswa sekolah lanjutan tingkat atas, yang terdiri atas 509.858 siswa sekolah menengah atas (SMA), 190.498 siswa sekolah menengah kejuruan (SMK), 104.786 siswa madrasah aliyah (MA), dan 1.100 siswa lainnya. Total siswa peserta Seleksi Jalur SNBP 2026 tersebut bersaing memperebutkan 189.017 kursi daya tampung. Jumlah pendaftar yang memilih program studi pada PTN Akademik adalah 774.263 peserta, yang memperebutkan 162.116 kursi daya tampung. Jumlah peserta yang dinyatakan lulus Seleksi Jalur SNBP Tahun 2026 berdasarkan hasil seleksi yang dilakukan oleh masing-masing Rektor PTN Akademik adalah 155.543 peserta—yang terdiri atas jumlah lulus pada Pilihan 1 sebanyak 142.212 peserta dan pada Pilihan 2 sebanyak 13.331 peserta—dengan persentase diterima sebesar 20,09%. Dari jumlah peserta yang dinyatakan lulus tersebut, sebanyak 53.897 (19,67%) adalah peserta pendaftar-KIP Kuliah (calon penerima bantuan biaya pendidikan tinggi dari Pemerintah). Sementara itu, jumlah pendaftar yang memilih program studi pada PTN Vokasi adalah 77.256 peserta, yang memperebutkan 26.929 kursi daya tampung. Jumlah peserta yang dinyatakan lulus Seleksi Jalur SNBP Tahun 2026 berdasarkan hasil seleksi yang dilakukan oleh masing-masing Direktur PTN Vokasi adalah 23.438 peserta—yang terdiri atas jumlah lulus pada Pilihan 1 sebanyak 19.381 peserta dan pada Pilihan 2 sebanyak 4.057 peserta—dengan persentase diterima sebesar 30,34%. Dari jumlah peserta yang dinyatakan lulus tersebut, sebanyak 10.574 (31,97%) adalah peserta pendaftar-KIP Kuliah (calon penerima bantuan biaya pendidikan tinggi dari Pemerintah).
Mengingat ketatnya persaingan, UPI memberikan apresiasi tinggi kepada para peserta yang telah berjuang.
Bagi peserta yang dinyatakan lolos di UPI, panitia mengimbau untuk segera melakukan verifikasi data akademik dan registrasi ulang sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Sementara itu, bagi calon mahasiswa yang belum berhasil melalui jalur prestasi, UPI menegaskan bahwa peluang masih terbuka lebar melalui tiga jalur lainnya, yakni Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026, Seleksi Mandiri dan Kelas Internasional
Capaian ini menjadi catatan sejarah baru bagi UPI dalam mempertahankan reputasinya sebagai institusi pendidikan unggulan di Indonesia.
Pengumuman resmi SNPMB tentang status kelulusan peserta Seleksi Jalur SNBP Tahun 2026 diinformasikan melalui laman web https://pengumuman-snbp.snpmb.id atau melalui laman mirror 42 PTN pada hari Selasa, 31 Maret 2026, mulai pukul 15.00 WIB dengan cara memasukkan Nomor Pendaftaran SNBP 2026 dan Tanggal Lahir Peserta sesuai dengan data diri yang telah teregistrasi pada sistem SNPMB. (DN)
Di salah satu sudut asrama SRMA 11 Bandung, sebuah pemandangan sederhana namun menggetarkan hati kerap terjadi. Anak-anak yang baru saja menapakkan kaki di sana sering kali ragu untuk tidur di ranjang masing-masing. Mereka, yang terbiasa berbagi ruang sempit di rumah, memilih untuk berkumpul dan tidur berhimpitan di satu kasur.
“Ada rasa syukur yang begitu tulus di mata mereka. Akhirnya, mereka memiliki kasur yang layak untuk dirinya sendiri,” kenang Tintin Sri Suprihatin, S.Pd., M.Pd., Kepala Sekolah Rakyat SRMA 11 Bandung.
Bagi Tintin, momen itu bukan sekadar urusan fasilitas tidur, melainkan simbol dari dimulainya sebuah perjalanan panjang: membangun kembali martabat dan kepercayaan diri anak-anak dari latar belakang ekonomi paling rentan.
Perjalanan Tintin sebagai pendidik tidaklah muncul begitu saja. Akarnya tertanam kuat di Bumi Siliwangi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Di sana, ia lebih dikenal dengan nama panggilan akrab: Tina atau Ndhiel.
Bagi Ndhiel, UPI bukan sekadar deretan gedung kuliah. Gedung “Pentagon” menjadi saksi bisu tempatnya tumbuh. Di sanalah ia menghabiskan waktu berdiskusi, bercanda, hingga mencari inspirasi di tengah tumpukan tugas Pendidikan Bahasa Inggris. Para dosen di sana tidak hanya mencekokinya dengan teori bahasa, melainkan membuka jendela dunia bahwa bahasa adalah jembatan empati.
Kehidupan kampusnya berwarna. Ia mengasah disiplin di UKM Taekwondo, belajar kepemimpinan di pengurus himpunan, hingga menemukan arti kebersamaan di komunitas pecinta alam Eclipse Adventure Team (EAT).
“Candaan kami waktu itu, kegiatan ‘EAT’-nya sering kali lebih banyak daripada ‘adventure’-nya,” kenangnya sembari tertawa. “Namun di situlah maknanya relasi dan cerita yang terbangun jauh lebih berharga dari sekadar mencapai puncak gunung.” ucap Tintin.
Di kampus itu pula, ia menemukan pasangan hidup yang setia menemani fase jatuh bangunnya sejak masa kuliah hingga hari ini.
Kini, Ndhiel mengemban amanah besar di SRMA 11 Bandung. Baginya, menjadi kepala sekolah di sekolah rakyat adalah upaya menghadirkan keadilan sosial. Tantangannya nyata: sebagian besar siswanya berangkat dari titik awal yang serupa keterbatasan akses, minim pengalaman, dan krisis kepercayaan diri.
Namun, di tangan Ndhiel, kesamaan latar belakang itu justru diubah menjadi kekuatan. Karena tidak ada jurang sosial di antara siswa, yang tumbuh subur justru adalah solidaritas dan empati yang kuat.
Sistem asrama 24 jam menjadi keunggulan utama. Proses pendidikan tidak berhenti saat bel pulang berbunyi, melainkan menyatu dalam kehidupan sehari-hari. “Kami menekankan disiplin pada kesadaran, bukan tekanan. Keberhasilan di sini bukan hanya soal nilai akademik, tapi tentang tumbuhnya karakter dan hadirnya harapan baru,” tegasnya.
Perjalanan Tintin adalah bukti bahwa belajar adalah proses seumur hidup. Saat menempuh studi S2, ia harus berjibaku membagi waktu antara tanggung jawab profesional dan tugas akademik di tengah hantaman pandemi.
Belajar via Zoom dengan rekan kuliah yang jauh lebih muda memberinya perspektif baru. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan harus inklusif, memanusiakan, dan mampu menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Sebagai alumni yang kini terjun langsung di garda terdepan pendidikan, Tintin menitipkan pesan mendalam bagi para mahasiswa yang masih duduk di bangku kuliah, untuk menikmati setiap proses dalam perjalanan kuliah. Kampus bukan hanya tempat untuk mengejar nilai dan gelar, tetapi ruang untuk mengenal diri, mencoba banyak hal, dan membangun arah hidup. Jangan takut aktif, ikut organisasi, komunitas, atau kegiatan di luar kelas, karena sering kali pelajaran terbesar justru datang dari pengalaman, bukan hanya dari buku.
Tapi, jangan lupa untuk tetap menjaga keseimbangan. Belajar itu penting, tetapi membangun karakter, relasi, dan integritas jauh lebih menentukan dalam jangka panjang. Manfaatkan waktu sebaik mungkin, karena masa kuliah tidak akan terulang dengan cara yang sama. Dan yang terpenting, jangan hanya fokus untuk lulus, tetapi pastikan Anda benar-benar bertumbuh, sehingga ketika keluar dari kampus, Anda bukan hanya siap bekerja, tetapi juga siap memberi warna dan makna.
“Jangan hanya fokus untuk lulus, tetapi pastikan Anda benar-benar bertumbuh. Sehingga ketika keluar dari kampus, Anda bukan hanya siap bekerja, tetapi juga siap memberi warna dan makna bagi masyarakat,” pungkasnya.
Bagi Tintin, atau Ndhiel, pengabdian di SRMA 11 adalah perpanjangan dari nilai-nilai yang ia serap di UPI, bahwa menjadi pendidik bukan hanya soal mengajar, tapi soal memberikan harapan bagi mereka yang hampir kehilangan masa depannya.
Perkuat Kesantunan Berbahasa Mahasiswa, Ahmad Fuadin Kembangkan Model PjBL Berbasis Konsiderasi di UPI
30 Mar 2026 • Humas UPI
Bandung, UPI
Inovasi pembelajaran untuk memperkuat karakter kesantunan berbahasa mahasiswa lahir dari penelitian doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia. Ahmad Fuadin resmi meraih gelar doktor pada Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter, Sekolah Pascasarjana UPI melalui pengembangan model pembelajaran Project Based Learning berbasis Prinsip Konsiderasi.
Disertasi yang dipertahankan Ahmad berjudul “Pengembangan Model Project Based Learning Berbasis Prinsip Konsiderasi untuk Penguatan Karakter Kesantunan Berbahasa Mahasiswa” ini menghasilkan produk model pembelajaran yang dilengkapi sintaks pembelajaran, perangkat ajar dan instrumen evaluasi karakter kesantunan berbahasa mahasiswa.
Ahmad Fuadin menjelaskan bahwa pengembangan model ini dilatarbelakangi oleh fenomena komunikasi akademik mahasiswa yang semakin kritis namun belum selalu diiringi dengan kesadaran etika berbahasa. Dalam banyak praktik pembelajaran bahasa di perguruan tinggi aspek kebahasaan lebih dominan dibandingkan pembentukan karakter komunikasi yang santun.
“Pembelajaran bahasa seharusnya tidak hanya melatih kemampuan menyampaikan gagasan, tetapi juga membangun kesadaran etis dalam berkomunikasi,” ujarnya saat mempresentasikan hasil penelitiannya.
Model yang dikembangkan Ahmad memadukan pendekatan Project Based Learning dengan Prinsip Konsiderasi yaitu nilai empati, penghargaan terhadap orang lain dan kesadaran moral dalam praktik komunikasi. Dalam implementasinya, mahasiswa tidak hanya menyelesaikan proyek akademik, tetapi juga dilatih merefleksikan cara mereka berdiskusi, menyampaikan argumen, dan merespons perbedaan pendapat secara santun.
Sebagai produk penelitian, model ini dirancang melalui tahapan penelitian dan pengembangan yang sistematis mulai dari analisis kebutuhan, perancangan model konseptual, pengembangan perangkat pembelajaran hingga uji coba implementasi dan evaluasi efektivitas model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model tersebut mampu meningkatkan kualitas interaksi akademik mahasiswa yang lebih dialogis, reflektif dan beretika dalam penggunaan bahasa.
Tim promotor yang terdiri atas Prof. Dr. Syihabuddin, M.Pd. sebagai promotor, Prof. Dr. Mupid Hidayat, M.A. sebagai ko-promotor dan Prof. Dr. Yeti Mulyati, M.Pd. sebagai anggota menyampaikan bahwa penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pembelajaran bahasa di perguruan tinggi khususnya dalam mengintegrasikan dimensi kognitif dengan pembentukan karakter komunikasi mahasiswa.
Ke depan model pembelajaran ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pembelajaran bahasa di perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi akademik, tetapi juga pada penguatan karakter kesantunan berbahasa dalam kehidupan akademik dan sosial. (DN)
Organisasi yang fitri itu indah dan perlu. Berangkat dari hikmah Idul Fitri, gagasan tentang “Organisasi yang Fitri” dapat dimaknai sebagai ikhtiar mengembalikan organisasi pada keadaan yang bersih, jujur, dan selaras dengan nilai-nilai dasarnya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan tentang fitrah manusia dalam QS. Ar-Rum ayat 30: Maka hadapkanlah wajahmu, yakni jiwa dan ragamu, dengan lurus kepada agama Islam. Itulah fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Prinsip ini memberi makna bahwa setiap entitas, termasuk organisasi, pada hakikatnya memiliki dasar nilai yang lurus yang perlu terus dijaga dan dipulihkan. Seperti manusia yang kembali suci setelah Ramadan, organisasi pun perlu melakukan refleksi mendalam terhadap arah dan praktik untuk kemaslahatan Masyarakat.
Pertama, organisasi yang fitri selalu berangkat dari niat yang lurus atau sincerely intention. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim). Niat menjadi fondasi utama yang menentukan arah dan kualitas gerak organisasi. Penataan visi dan misi bukan sekadar formalitas, melainkan proses penyelarasan kembali dengan tujuan mulia yang ingin dicapai. Organisasi yang fitri akan terus menguji dirinya. Apakah langkah-langkah yang diambil masih berada dalam koridor nilai dan amanah yang diemban?
Kedua, organisasi yang fitri berani membersihkan diri dari berbagai dosa organisasi atau organizational misconduct. Dalam Al-Qur’an, QS. Az-Zumar ayat 53, ditegaskan bahwa Allah Maha Pengampun bagi hamba yang mau kembali dan bertaubat. Semangat taubat ini dapat dimaknai secara kolektif dalam organisasi sebagai keberanian untuk mengakui kesalahan, memperbaiki kebijakan, dan menata ulang praktik yang tidak sehat. Budaya saling memaafkan dalam Idul Fitri menjadi inspirasi lahirnya transparansi dan akuntabilitas. Kesalahan tidak ditutupi, tetapi dijadikan pijakan untuk perbaikan.
Ketiga, kekuatan organisasi yang fitri terletak pada relasi yang sehat atau healthy relationship di dalamnya. Al-Qur’an dalam QS. Al-Hujurat ayat 10 menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” Ayat ini menekankan pentingnya ukhuwah dan rekonsiliasi. Dalam organisasi, nilai ini terwujud dalam upaya membangun kepercayaan, mempererat silaturahmi, dan menciptakan suasana kerja yang humanis. Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan. Artinya, kekuatan organisasi tidak hanya pada sistem, tetapi pada kualitas hubungan antar anggotanya.
Keempat, organisasi yang fitri ditandai oleh komitmen menjaga integritas secara berkelanjutan atau sustaining integrity. Dalam Al Qur’an Surah Fussilat ayat 30 disebutkan bahwa orang-orang yang istiqamah dalam keimanan akan mendapatkan ketenangan dan pertolongan dari Allah. Nilai istiqamah ini menjadi kunci agar semangat kebaikan tidak berhenti pada momentum tertentu saja. Organisasi yang fitri menjaga konsistensi dalam etika, disiplin, dan tanggung jawab, sehingga kebaikan tidak bersifat musiman, melainkan menjadi budaya yang mengakar.
Kelima, organisasi yang fitri mampu beradaptasi secara bijak atau adapting wisely dengan perkembangan organisasi modern. Ia tetap ajeg dan dapat berkolaborasi dengan teknologi digital tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Dalam era transformasi digital, organisasi dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tantangan—mulai dari otomatisasi, kecerdasan buatan, hingga budaya kerja berbasis data. Namun, kemajuan ini harus tetap berpijak pada prinsip fitrah: kejujuran, keadilan, dan kemaslahatan. Dalam Al-Qur’an, QS. Al-Anfal ayat 27, Allah SWT mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan (pula) kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu…” Ayat ini relevan dalam konteks digital, di mana amanah dapat berupa data, informasi, dan kepercayaan publik yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Organisasi yang fitri di era digital tidak sekadar mengadopsi teknologi, tetapi mengelolanya dengan etika. Transparansi sistem, perlindungan data, serta penggunaan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Contoh Kongkrit
Pasca Idul fitri, tak cukup dengan acara Halal bilhalal, saling memaafkan. Mari kita membuka lembaran baru menuju ”organisasi yang fitri”, dimanapun kita beraktifitas di masyarakat, termasuk dalam tatanan keluarga. Beberapa contoh kongkrit, antara lain sebagai berikut.
Hal pertama, meluruskan niat dalam perencanaan kerja. Di tempat kerja, setiap awal program atau rapat kerja diawali dengan penegasan tujuan yang tidak hanya berorientasi pada target kinerja, tetapi juga pada manfaat bagi masyarakat. Misalnya, di sekolah ataupun di kampus pendidikan, guru dan kepala sekolah tak sebatas hanya mengejar kelulusan tinggi dengan capaian prestasi murid yang gemilang, tetapi memastikan murid berkarakter baik dan berakhlak mulia. Hal kedua, membangun budaya evaluasi dan perbaikan terbuka. Organisasi secara rutin melakukan evaluasi kinerja yang jujur dan terbuka. Bila ada kekeliruan, program tidak ditutupi, tetapi dibahas bersama untuk diperbaiki. Contohnya, dalam suatu organisasi Koperasi, bila terjadi kekeliruan laporan atau pelayanan, pengurus atau pengelola secara terbuka mengakui dan segera memperbaiki sistemnya.
Hal berikutnya, menciptakan hubungan kerja yang humanis dan saling menghargai. Dalam lingkungan kerja masing masing, kuatkan lagi budaya saling menyapa, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik dengan musyawarah. Misalnya, ketika terjadi perbedaan pendapat antarkaryawan, diselesaikan melalui dialog terbuka, bukan konflik berkepanjangan yang bisa merugikan nilai organisasi. Hal berikutnya, perlunya menjaga integritas dalam tugas sehari-hari. Semua unsur pimpinan dan karyawan, bahu membahu menjalankan tugas dengan disiplin dan jujur. Jangan ada manipulasi data, tidak menyalahgunakan waktu kerja, serta menjaga amanah jabatan. Jadilah pribadi yang produktif, jangan hanya melakukan finger scan tanpa dibarengi kerja yang produktif. Contoh lain, dalam pengelolaan anggaran, semua transaksi dicatat secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kemudian, hal lain yang cukup penting, memanfaatkan teknologi digital secara etis dan bertanggung jawab. Organisasi menggunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, tetapi tetap menjaga nilai amanah. Misalnya, penggunaan sistem digital untuk data pegawai atau pelanggan dilengkapi dengan perlindungan privasi, serta tidak menyalahgunakan informasi untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Itulah beberapa contoh yang bisa kita lakukan menuju “Organisasi yang Fitri”. Ini bukan sekadar konsep, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dalam keseharian kerja yang sederhana namun konsisten. Ia tak sebatas konsep simbolik, tetapi sebuah refleksi spiritual dan manajerial sekaligus. Ia mengajak organisasi untuk terus kembali pada fitrah: meluruskan niat, membersihkan diri, memperkuat relasi, dan menjaga integritas. Proses ini bukan peristiwa sesaat, melainkan perjalanan panjang yang menuntut kesadaran, kejujuran, dan komitmen yang berkelanjutan.
Keberadaan organisasi yang fitri menjadi sangat penting di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi. Tanpa fondasi nilai yang bersih dan lurus, organisasi berisiko terjebak pada “kesuksesan semu” atau pseudo-success. Suatu kondisi yang tampak maju secara teknologi, tetapi rapuh secara moral dan kehilangan arah kemaslahatan. Organisasi yang kembali pada fitrahnya akan mampu menyeimbangkan antara kemajuan dan keberkahan, antara efisiensi dan etika, serta antara inovasi dan tanggung jawab. Inilah yang menjadikan organisasi tidak hanya bertahan, tetapi juga dipercaya dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Organisasi yang fitri bukan sekadar ideal normatif, melainkan kebutuhan strategis di era digital. Kepercayaan publik, integritas data, dan kualitas pelayanan sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang dipegang teguh oleh organisasi. Dengan menjaga fitrah—kejujuran, amanah, dan keadilan—organisasi akan memiliki daya tahan moral dan spiritual yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman. Pada titik inilah, organisasi yang fitri menjadi pilar penting dalam membangun peradaban yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga luhur secara nilai dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.