Penguatan Kerjasama Industri serta Kompetensi Digital Sebagai Strategi Penting dalam Pendidikan Vokasi
23 Oct 2023 • Humas UPI
3 pembicara Seminar Nasional Pendidikan Vokasi dan Pameran Pusat Keunggulan yang diselenggarakan oleh Pusat Unggulan IPTEKs Technical and Vocational Education Training Research Center (PUI TVET-RC) Universitas Pendidikan Indonesia pada hari Rabu 18 Oktober 2023 membahas tentang penguatan kerjasama industry serta kompetensi digital sebagai stratego penting dalam pendidikan vokasi.
Pada seminar ini, hadir 3 pembicara yang mewakili pemerintah, dunia industri dan perguruan tinggi yaitu Drs. Wahyu Mijaya, SH.,M.Si selaku Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. Hadi S. Cokrodimedjo, M.Phil selaku Komite Vokasi dan Kadin Jabar, serta Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si selaku dosen FPTK UPI sekaligus Executive Board Regional Association for Vocational and Technical Education in Asia/RAVTE.
Pada seminar ini, Drs. Wahyu Mijaya, SH.,M.Si selaku Kepala Dinas Pendidkan Provinsi Jawa Barat membahas Kebijakan Pendidikan SMK di Jawa Barat melalui SMK Jabar Juara. Sejumlah kebijakan Program Peningkatan Mutu Pendidikan SMK di Jawa Barat yang telah dilakukan melalui SMK Pusat Keunggulan, SMK Badan Layanan Umum Daerah, Sekolah Teaching Factory, Sekolah Perempuan Capai Impian dan cita-cita serta Rapor Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Selain itu, Dinas Pendidikan Jawa Barat juga telah menjalin kerja sama dengan 110 industri. Kerja sama ini dilakukan dengan tujuan untuk menguatkan link and match antara SMK dan dengan dunia industri serta penerapan kurikulum pembelajaran yang selaras dengan perkembangan dunia industry
Selanjutnya Dr. Hadi S. Cokrodimedjo, M.Phil selaku Komite Vokasi dan Kadin Jabar membahas tentang Vokasi dan Link Match. Menurutnya, pertumbuhan industri itu ditentukan oleh 3 faktor yaitu investasi menarik PMA dan PMDN, teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing, serta sumber daya manusia kompeten yang mampu meningaktkan kualitas dan produktivitas industri.
Sejumlah kerjasama antara Kadin pada bidang pendidikan melalui dukungan terhadap SMK Pusat Keunggulan, Riset Terapan melalu Matching Fund, Upskilling dan reskilling guru, program Menara vokasi, program akselerator daerag serta dukungan terhadap program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.
Selanjutnya Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si selaku Dosen FPTK UPI sekaligus Executive Board Regional Association for Vocational and Technical Education in Asia/RAVTE membahas tentang model pendidikan dan kompetensi guru vokasi. Menurutnya sejumlah kompetensi umum diera digital yang harus dikuasai diantaranya Numeracy and literacy skills, High-order cognitive skills, ICT-skills / digital literacy, STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), Social skills, Learnability , Character qualities serta Problem-solving in complex, technology-rich environments
Menurutnya, pengembangan model pendidikan guru vokasi perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu SDM vokasi Indonesia. Model pendidikan dan pengembangan guru vokasi perlu mengacu RTTS (Regional TVET Teacher Standardsfor ASEAN). Guru vokasi masa depan perlu dibekali dengan keterampilan baru era revoluasi industri 4.0. Perguruan Tinggi (LPTK) perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan model kurikulum pendidikan profesi guru vokasi. Pemerintah menetapkan standar guru vokasi yang dibutuhkan.
Melalui penguatan kerjasama mitra industri serta kompetensi digital diharapkan dapat berperan dalam peningkatan mutu serta kualitas pendidikan vokasi yang selanjutnya berdampak terhadap kemajuan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat (Yana Setiawan)
Dirjen Vokasi Kemdikbudristek Dr. Ir. Kiki Yuliati, M.Sc, Kebijakan dan Program SMK Pusat Keunggulan Menjawab Tantangan Transformasi Digital Pendidikan Vokasi
23 Oct 2023 • Humas UPI
Dr. Ir. Kiki Yuliati, M.Sc selaku Direktur Jendral Direktorat Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menjadi pembicara kunci dan pembuka pada penyelenggaraan Seminar Nasional Pendidikan Vokasi dan Pameran Pusat Keunggulan yang diselenggarakan oleh Pusat Unggulan IPTEKs Technical and Vocational Education Training Research Center (PUI TVET-RC) Universitas Pendidikan Indonesia pada hari Rabu 18 Oktober 2023.
Pada seminar ini, Dr. Ir. Kiki Yuliati, M.Sc menyoroti sejumlah tantangan pendidikan vokasi di Indonesia khususnya terkait dengan tingkat pengangguran yang mencapai 5,45% pada Februari 2023, kualitas angkatan kerja Indonesia masih sangat lemah dibandingkan kebutuhan pekerjaan masa kini dan masa depan yang makin kompleks. Serta kecepatan dan arahperkembangan ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja tidak dalam kendali sistem pendidikan
Menurut Dr. Ir. Kiki Yuliati, paradigma guru dan insan pendidikan di SMK harus menjadi teknologi sebagai enabler.Lulusan vokasi, tidak cukup menjadi pengguna/operator teknologi, akan tetapi lulusan pendidikan vokasi harus minimal menjadi pemelihara teknologi serta menjadi pengembang dan pencipta teknologi’’. Ujarnya.
Lebih lanjut mengungkapkan bahwa kemampuan guru kreatif dan berinovasi menjadi kunci. Peran guru SMK dalam menjawab tantangan transformasi digital dapat dilakukan melalui penguasaan kompetensi utama melalui kompetensi digital serta human skill. Selain itu juga penting untuk meningkatkan pengusaaan teknologi AI dan pendidikan vokasi denganmanfaatkan otomasi untuk memajukan proses dan luaran pendidikan, dengan tetap menjaga pengambilankeputusan dan penilaian tetap dilakukan oleh manusia.
Dr. Ir. Kiki Yuliati mengungkapkan bahwa fokus utama pendidikan vokasi adalah peningkatan kebekerjaan/kewirausahaanlulusan dan kemitraan dengan dunia kerja. Melalui kebekerjaan/kewirausahaan, lulusan pendidikan vokasi diharapkandapat bekerja/berwirausaha dengan pendapatan yang layak sesuai dengan kompetensi dan keahlian mereka. Sedangkan kemitraan dan penyelarasan melalui penyelenggaraan pendidikan vokasi memiliki basis kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri(DUDI) untuk mencapai keselarasan dengan DUDI.
Program untuk mendorong adopsi teknologi terkini di SMK melalui SMK Pusat Unggulan. SMK Pusat Keunggulan bertujuan meningkatkan kualitas dan kinerja program keahlian tertentu pada SMK melalui kemitraan dan penyelarasan dengan DUDI. SMK PK ini menjadi rujukan dan mengimbas ke SMK lain. SMK PK dapat menjadi Sekolah Penggerak untukpeningkatan kapasitas serta kualitas guru dan pembelajaran di SMK berbasis kolaborasi dengan mitra dunia usaha dunia industri dunia kerja secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Program SMK Pusat Keunggulan membangun SMK dengan kualitas dan kinerja optimal untuk membentuk lulusan yang diserap dan diapresiasi tinggi oleh dunia kerja dan menjadi teladan bagi SMK lainnya melalui proses transformasi.Dimensi intervensi pada Program SMK PK diharapkan menghasilkan lulusan berkarakter pelajar Pancasila dan bekerja atau berwirausaha atau melanjutkan studi. Intervensi SMK PK ini dilakukan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, pembelajaran kometensi siap kerja dan berkarakter, penguatan kualitas dan kegunaan sarana dan prasarana, manajemen sekolah berbasis data serta pendampingan oleh perguruan tinggi (Yana Setiawan)
Kabar dari Perancis (16) Adakah kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam bidangolahraga? (2)
23 Oct 2023 • Humas UPI
Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)
Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)
Artikel berikut ini adalah lanjutan dari pembahasan kita di minggu lalu tentang kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam bidang olahraga.
Distribusi kedua jenis kelamin dalam setiap olahraga yang tidak seimbang dan berkepanjangan pertama-tama dikaitkan dengan sejarah olahraga modern sejak pertengahan abad ke-19 yang pada saat itu olahraga dilakukan oleh laki-laki dan dibuat untuk laki-laki, padahal penerimaan perempuan di semua disiplin olahraga telah berlangsung sejak selama 150 tahun terakhir, seperti juga adanya hubungan antara perempuan dan laki-laki di dunia sosial, dalam pekerjaan, kemampuan bersosialisasi di ruang yang sama.
Secara sosiologis, penjelasan untuk memahami kesenjangan ini adalah ada kaitan dengan representasi / perwakilan dan norma “maskulin” dan “feminin”, karena olahraga merupakan bagian integral dari budaya yang ada dan hubungan sosial antarjenis kelamin. Maksudnya, penerimaan kaum perempuan dalam bidang olahraga seperti juga dalam bidang lainnya (pekerjaan, sosial) karena sekarang diwajibkan suatu badan memberi jumlah yang sama untuk menyetarakan keikutsertaan kaum perempuan. Misalnya di balai kota, jika walikota (le maire) adalah seorang lelaki, perwakilan senat untuk kota ini harus seorang perempuan. Jika kepala sekolah di sekolah A adalah seorang lelaki, maka kepala sekolah B harus seorang perempuan. Jumlah kesetaraan antara perempuan dan lelaki masih sulit dipenuhi karena lebih banyak kaum lelaki yang aktif daripada kaum perempuan. Misalnya jumlah senator di Perancis sekarang adalah 36, 2% sedang lelaki 63,8%. Jadi belum merata. Namun jumlah perempuan dan lelaki di pemerintahan Macron sudah terpenuhi 50%-50%. Mungkin hal ini yang menjadi salah satu penyebab M. Macron mengangkat Mme Elisabeth Borne sebagai Perdana Menteri.
Kita bisa mengamati hubungan antara olahraga yang “maskulin” dan profesi yang “maskulin” ditinjau dari bentuk pekerjaan di profesional, rumah tangga, dan keterampilan apa yang dibutuhkan dan juga keterlibatan tubuh dan hubungannya dengan ruang, misalnya stereotip perempuan memasak di dapur dan lelaki membetulkan kerusakan rumah. Perempuan dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan tentang teknik olahraga namun keterampilan ini tidak mudah diterapkan, misalnya ketika mereka memasuki klub olahraga “istimewa” yang sangat maskulin/jantan karena adanya pertarungan, adu kekuatan, atau bahkan untuk cabang olahraga/pekerjaan yang penuh dengan risiko. Jumlah keterlibatan perempuan terhitung masih sangat minim: 6% perempuan di Federasi Rugbi Prancis, 12,5% perempuan di kalangan profesional bangunan dan konstruksi, dan 1,6% di lokasi konstruksi.
Dalam olahraga fisik yang melibatkan kekerasan dan konfrontasi tubuh, seperti dalam permainan rugbi, angkat besi, atau tinju, walau dapat dilakukan oleh perempuan, namun olahraga ini, termasuk berisiko. Sama halnya seperti aktivitas bermotor. Lomba balap motor masih merupakan dunia yang tidak disukai perempuan sehingga untuk cabang olahraga ini masih belum sepenuhnya terwakili dalam pertandingan-pertandingan.
Apakah olahraga harus dikaitkan dengan kefemininan seorang perempuan? Apalah olahraga harus selaras dengan feminisme ? Pertanyaan ini sering diajukan berulang-ulang selama 150 tahun olahraga modern. Di Perancis, lebih dari 50 tahun perempuan Perancis bermain sepak bola di Federasi Sepak Bola Perancis. Jumlah mereka tentu semakin meningkat walaupun mereka masih mewakili kurang dari 10% pemegang ijazah olahraga ini pada tahun 2023.
Feminisme merupakan konstruksi sosial yang mencakup ketentuan dan larangan, yang norma-normanya telah berkembang seiring berjalannya waktu. Pada akhir abad ke-19, Semua olahraga “tidak bersifat feminin”. Saat ini, masih ada olahraga tertentu yang masih dikategorikan sebagai “tradisi laki-laki” dan masih dianggap “tidak cocok untuk perempuan” seperti angkat besi, rugbi, dan lain-lain, walaupun kini sudah ada atlet angkat besi perempuan.
Hubungan antara olahragawati dan keperempuanan berlangsung sejak abad ke-20 dan terus berlanjut hingga awal abad ke-21. Para dokter, yang merupakan “pemberi moral”, telah memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan tuntutan ini. Hingga saat ini, sejak tahun 1960, ketika olahragawan perempuan dianggap terlalu berotot dan terlihat kuat, hal ini menyebabkan wasit/juri meragukan jenis kelaminya (misalnya karena perempuan itu memiliki kromosom XY), dan kemudian atlet perempuan tersebut harus melakukan wajib tes kadar androgen. Jika kadar testoteronnya tinggi, maka kadar testoteron dalam tubuhnya ini harus dikurangi dengan suntikan hormone.
Masalah tentang berpakaian juga dibahas (kewajiban memakai pakaian tertentu, rok, dll). Liputan media terhadap olahragawan perempuan sangat timpang tergantung pada penampilan mereka. Hanya sedikit pelempar palu atau angkat besi perempuan yang tampil di layar. Media lebih menyukai menampilkan olahraga yang “feminin” untuk menunjukkan “perempuan sejati”.
Selain itu, menjadi atlet tingkat tinggi pun ada risikonya. Ia harus menerima penglihatan sensual sebagai seorang perempuan agar bisa diperhatikan dan diliput media. Jadi olahragawati harus cantik dan hal ini menjadi syarat penting. Ada kasus luar biasa pada tahun 2009 yaitu pada saat empat pemain dari tim sepak bola perempuan Perancis berpose telanjang (tangan disilangkan di dada) untuk kampanye iklan yang “berani” dengan tulisan : “Faut-il en arriver là pour que vous veniez nous voir jouer ?” (Apakah kita harus sampai pada titik ini agar supaya Anda datang untuk melihat kami bermain?)
Kejadian yang luar biasa lainnya terjadi pada bulan Juni 2013 saat Marion Bartoli, pemain tenis perempuan Perancis (10 besar tingkat WTA) melawan pada seorang wartawan BBC yang berkomentar dan mengritiknya dengan mengatakan bahwa dia bukan ”perempuan yang cantik jelita”: “Ya, Saya tidak berambut pirang. Itu fakta. Apakah saya bercita-cita menjadi model? Tidak, maaf ya!. Tapi apakah saya bercita-cita memenangkan Wimbledon? Ya, tentu saja.” Juara tenis ini ingin menyampaikan bahwa dia sendiri, seperti semua pesaing, datang ke lapangan tenis bukan untuk tampil cantik, tetapi untuk tampil tangguh bertanding dan untuk menang; seperti juga para pesaingnya.
Dalam dunia olahraga, penolakan terhadap kesetaraan jenis kelamin sama kuatnya dengan proses alami keterampilan dan kualitas atlet. Padahal, kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam olahraga tidak datang dari “alam” atau dari biologi atau anatomi olahragawan dan olahragawati, melainkan datangnya dari otak. Skema penjelasan utama yang berkaitan dengan perendahan jenis kelamin perempuan dalam masyarakat ini terjadi dimulai dari masa kanak-kanak dan remaja. Padahal masa ini merupakan dasar bagi pilihan-pilihan lain di masa depan. Asumsi seorang lelaki lebih kuat dari perempuan tertancap sejak kecil di kepala semua orang khususnya di dalam keluarga.
Hal ini terlihat dalam hubungannya dengan ruang di mana dia berada, misalnya: anak laki-laki didorong untuk menjelajahi dunia luar rumah dan didorong untuk berlari, memanjat, bermain bola, sedangkan anak perempuan didekatkan dengan ibu atau ayah agar tidak terluka atau kotor. Mainan yang ditawarkan kepada anak laki-laki dan anak perempuan (lihat katalog kado untuk Natal) menunjukkan ciri-ciri perbedaan dalam masyarakat. Misalnya bagi perempuan ruang lingkupnya ada di dalam ruangan dengan boneka, peralatan rumah tangga dan alat kecantikan, sedangkan bagi laki-laki, mereka berada di luar dengan mobil, truk, peralatan konstruksi, roket, dll. Padahal hubungan antara ruang dan tubuh sama sekali tidak sama. Pada mainan perempuan, hampir tidak ada aktivitas yang membutuhkan keterampilan bergerak, yang sekaligus kondisi ini akhirnya menjanjikan masa depan mereka sebagai ibu, ibu rumah tangga, dan perempuan yang menarik.
Sebaliknya, keterampilan motorik/ bergerak terdapat di mana-mana dalam aktivitas yang ditawarkan kepada anak laki-laki, yang dijanjikan untuk mengeksplorasi dan membangun dunia serta melindungi orang lain.
Sikap identifikasi dari masa kecil ini yang didasarkan persepsi jenis kelamin menghasilkan dampaknya, yang dimulai dari mainan/permainan masa kanak-kanak, kemudian beranjak ke orientasi pendidikan, pilihan profesi, dan pilihan olahraga dan semua bidang ini saling terkait. Pembeda jenis kelamin ini yang membedakan sikap seseorang berhadapan dengan benda, dengan dunia, dengan ruang, dengan orang lain dan hal ini menjadi patokan yang dilekatkan pada dirinya dan pada tubuh setiap orangnya. Menurut Gustave Jung, seorang psychoanalis menyatakan bahwa seorang anak memutuskan apakah dia perempuan atau laki-laki mulai pada usia 4 tahun. Dalam semua kegiatan olahraga, tubuh adalah sentral karena tubuhlah yang sejak lahir membawa identitas jenis kelamin yang berat untuk ditanggung.
Apakah upaya yang dapat dilakukan untuk perubahan persepsi ini?
Seringkali kesenjangan terjadi dan terus terjadi atas nama perbedaan antara perempuan dan laki-laki karena terdapat standar sikap perilaku, praktik, dll. Namun tetap yang menjadi referensi adalah pemuda dan laki-laki dewasa didorong untuk membangun kejantanan mereka melalui olahraga, sementara perempuan harus “secara alami” memilih aktivitas untuk membentuk dan mempercantik tubuh mereka…
Kekuatan dan keahlian didapat oleh kaum laki-laki, sedangkan bagi kaum perempuan mereka dituntut untuk anggun, bertubuh langsing dan tidak terlalu berotot. Begitu banyak persyaratan budaya yang menyiratkan bahwa olahraga dianggap tidak cocok untuk semua orang… seperti contohnya seorang laki-laki yang ingin berlatih renang tersinkronisasi (la natation synchronisée) di level atas, seperti juga seorang perempuan yang main olahraga rugbi, hal ini masih sering dianggap sebagai olahraga yang “tidak cocok untuk mereka”. Banyak asumsi yang salah ini tertanam lama menjadi hambatan untuk bertindak demi menghapus kesenjangan antara perempuan dan laki-laki.
Oleh karena itu keyakinan bahwa “olahraga itu keikutsertaan” perlu ditanamkan berulang kali. Olahraga tidak diberkahi kekuatan karena prinsip. Keyakinan lain yang belakangan menjadi “semboyan” yaitu olahraga harus dipadukan. Perempuan dan laki-laki bergandengan tangan bersama-sama menjadi semacam slogan yang mengagung-agungkan olahraga. Namun ada juga yang menyatakan bahwa keberagaman adalah sebuah kepalsuan bagi kesetaraan: sejumlah penelitian mengenai perilaku di kelas menunjukkan bahwa keberagaman tidak menghasilkan kesetaraan (Nicole Mosconi, “Effects and limit of school diversity”, Work, Gender and Societies, 11, 2004/1, p.165 hingga 174; Annie Lechenet, Mireille Baurens dan Isabelle Collet, Pelatihan untuk kesetaraan: Tantangan untuk keberagaman sejati, L’Harmattan, 2016).
Lebih-lebih lagi olahraga yang organisasinya secara struktural memisahkan perempuan dan laki-laki. Tingkat kesenjangan yang diamati merupakan kondisi yang perlu dan memungkinkan untuk dilakukan tindakan: representasi gender terutama mengacu pada pendidikan sejak anak usia dini, dalam keluarga, di sekolah, di taman bermain, dan semua dukungan yang ditujukan untuk anak-anak, termasuk mainan. Laki-laki dan perempuan tidaklah sama, tetapi mereka mempunyai kemampuan untuk melakukan aktivitas yang sama, seperti anak perempuan bisa bermain rugbi dan anak laki-laki bisa menari.
Dalam hal struktur dan organisasi, kita harus mendukung penerapan undang-undang “untuk kesetaraan nyata antara perempuan dan laki-laki dalam olahraga” mengenai tata kelola federasi. Sejak tahun 2014, undang-undang mulai mencanangkan aturan mengenai komposisi komite pemimpin/ pengarah/ ketua. Pemilu tahun 2016 menunjukkan peningkatan proporsi perempuan di lembaga-lembaga (yang sebelumnya 25%, menjadi lebih dari 36%). Undang-undang ini berlaku juga dalam bidang politik atau susunan direksi perusahaan. Hukum ini berguna, walau faktanya dalam hal kesetaraan jenis kelamin di dunia politik, di dunia kerja, dan olahraga masih tertinggal.
Untuk memperbaiki situasi demi meningkatkan kesetaraan antarjenis kelamin, ada tiga hal yang dapat dilakukan 3.
Melatih para ketua dan pemimpin dunia olahraga mengenai norma-norma gender yang disebutkan di atas (gendering olahraga, memasyarakatkan olahraga, membesarkan liputan media olahragawati, dll.) Pemasyarakatan kesetaraan Perempuan dan lelaki di semua kegiatan sosial termasuk olahraga.
Mencari jalan untuk supaya masyarakat luas menyebarkan dan memberitahukan keragaman praktik fisik dan olahraga, karena saat ini anak perempuan dan perempuan lebih jarang melakukan aktivitas fisik atau olahraga di klub dan lebih memilih suasana lain untuk aktivitas rekreasi fisik/olahraga mereka (seperti latihan pribadi atau sendirian, di rumah atau bersama teman).
Berhenti berpikir secara umum/generalis seolah-olah perempuan tidak ada untuk bidang olahraga. Kesenjangan sosial dalam praktik olahraga ada sejak masa kanak-kanak: generasi muda yang paling sedikit berolahraga adalah anak perempuan, dan khususnya mereka yang berlatar belakang keluarga buruh.
Upacara Hari Santri: Puncak Semangat Keislaman dan Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia
23 Oct 2023 • Humas UPI
Di tengah semangat yang meriah dan penuh khidmat, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjadi saksi penyelenggaraan upacara Hari Santri yang luar biasa. Acara ini diselenggarakan berkat kolaborasi antara Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) dan sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ke-Islaman yang aktif di kampus tersebut.
Puncak acara yang berlangsung dengan khidmat ini, yang diadakan di depan gedung rektorat UPI (ISOLA), menandai penghormatan dan apresiasi kepada para santri yang telah dan terus berkontribusi nyata dalam membangun karakter keislaman dan mencetak generasi terdidik di tengah masyarakat Indonesia. Upacara ini adalah perwujudan penghargaan bagi para penerus tradisi santri yang tak kenal lelah dalam mengejar ilmu dan pengabdian mereka terhadap agama dan negara.
Uoacara ini di pimpin oleh Rinaldi Supriadi salah satu dosen pendidikan Bahasa Arab FPBS UPI. Ia berkata dalam amanah upacaranya “Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam perayaan Hari Santri. Ini tidak hanya mencerminkan penghargaan terhadap peran penting santri dalam sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia, tetapi juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan dalam pengembangan santri sebagai individu yang berperan dalam masyarakat”
Kehadiran Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) dan UKM Ke-Islaman di UPI merupakan bukti konkret dari sinergi yang kuat antara universitas dan kelompok mahasiswa yang aktif dalam mempromosikan nilai-nilai Islam dan pembelajaran Bahasa Arab. UKM Ke-Islaman telah menjadi wadah bagi mahasiswa untuk lebih mendalami agama Islam dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sementara KMNU merupakan entitas penting yang menggabungkan semangat keislaman dan pendidikan.
Melalui penyelenggaraan Hari Santri, KMNU dan UKM Ke-Islaman berharap untuk terus mendorong semangat keislaman, memajukan pendidikan di Indnesia, serta menjalin kerjasama yang erat dalam mendukung perkembangan Islam dan pendidikan di Indonesia. Peran Rinaldi Supriadi, M.Pd, sebagai pembina upacara, menjadi simbol komitmen UPI dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan menjadikan pendidikan Islam sebagai bagian penting dari sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Upacara ini menggugah semangat keislaman dan kecintaan pada pendidikan di Indonesia, sehingga memberikan kontribusi yang berharga bagi UPI dan masyarakat sekitar.
Kegiatan Observasi Lapangan dalam Praktikum Mata Kuliah Tari Topeng Cirebon
22 Oct 2023 • Humas UPI
Pada hari Sabtu tanggal 14 oktober 2023, mata kuliah Tari Topeng Cirebon di Program Studi Pendidikan Tari, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia yang diampu oleh Prof. Juju Masunah,Ph.D., melakukan observasi lapangan ke keraton kanoman tepatnya di Jl. Kanoman No.40, Lemahwungkuk, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Keberangkatan dilakukan dengan kumpul di lapangan parkir UPI pada pukul 06.00 dan tiba di Keraton Kanoman pada pukul 09.00.
Keraton Kanoman merupakan salah satu bangunan yang penting dalam sejarah terbentuknya Kota Cirebon. Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1678 dan berfungsi sebagai bangunan pemerintah serta penyebar agama Islam pada Tanah Sunda. Lokasi Keraton Kanoman ini terletak lumayan jauh dari jalan raya umum yang mengharuskan melewati jalan / gang kecil & pasar. Keraton Kanoman memiliki sanggar yang bernama sanggar Klapa Jajar. Sanggar seni Klapa Jajar dibangun oleh ayah dari Cah Mamat yang bernama P. Agus Djoni Arka Ningrat pada tahun 1970-an. Nama sanggar tersebut diambil dari nama gang Kelapa Jajar. Di sanggarnya berbagai jenis tari yang diajarkan seperti tari putri, tari bedaya, tari rimbe, tari pemaisuri, tari topeng lima wanda, tari burung, tari kajongan, ronggeng pesisir-bugis, tari manggala yuda, titi rasa dan lainnya. Tidak hanya itu saja, di sanggar tersebut anak-anak diajarkan pula alat-alat musik sebagai pengiringnya yang dinamakan seni karawitan. Cah Mamat berharap untuk ke depannya, ia ingin menjadikan sanggarnya sebagai kampung seni, yang di dalamnya di isi dengan beragam seni khas Cirebon, seperti seni tari, musik, lukis, pahat, juga kerajinan tangan yang bekerja sama dengan masyarakat di kampungnya, serta kuliner malam dan penghijauan. Tak heran dari keuletan dan keikhlasan, sanggarnya telah dipercaya untuk melakukan berbagai pementasan, baik untuk sosial, adat dan keagaamaan, maupun pementasan dalam suatu parade.
Dalam observasi kemarin, sanggar Klapa Jajar menampilkan tarian-tarian yang menarik, diantaranya tari kendi, tari topeng pamindo dan klana, tari wayang gandamana, dan tari tayub.
Tari Kendi
Tari Kendi merupakan suatu tarian yang bukan hanya gerak saja, melainkan memiliki banyak sisi yang menarik salah satunya adalah filosofi yang terdapat di dalamnya, yaitu menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kendi memiliki material tanah & air, sesuai dengan tubuh kita yang terbuat dari tanah & air. Kendi sangat erat kaitannya dengan sejarah di Cirebon yang dikenal dengan kendi bertuah. Kendi yang dibuat oleh pendiri Cirebon memiliki sejarah yang tiada habisnya dan bisa digunkana untuk dikonsumsi bagi seluruh masyarakat Cirebon. Selain itu, kendi juga memiliki kaitan yang erat dengan Cina karena pengrajin kendi banyak datang dari Cina. Tari Kendi memiliki busana berwarna kuning yang berarti kemuliaan & emas. Properti Tari Kendi berupa kendi dan selendang.
2. Tari Topeng Pamindo & Klana
Tari Topeng Pamindo
Tari Topeng Klana
Kata topeng memiliki berbagai macam makna bagi masyarakat pendukungnya. Sampai sekarang masyarakat masih mempercayai seni topeng sebagi salah satu seni yang magis. Pamindo adalah salah satu karakter yang ada dalam pertunjukan tari topeng Cirebon. Tarian ini berkarakter ganjen lincah, hal tersebut terlihat dari koreografinya yang lincah, dan gesit. Sementara topeng Klana, lebih menggambarkan seseorang yang mempunyai sifat pemarah dan angka murka. Penari yang memerankan topeng ini, akan memerankan tokoh jahat atau antagonis. Walaupun berperan jahat, topeng Klana memiliki pelajaran penting bahwa manusia harus berusaha untuk mendapatkan kehidupan serta kebahagiaan dengan cara yang baik. Pamindo lebih sering didengar oleh masyarakat Palimanan. Topeng pamindo menggambarkan tentang seseorang yang sedang memasuki fase kanak-kanak karena berperan untuk mewakili anak-anak. Properti yang digunakan dalam Tari Topeng Pamindo adalah topeng, tekes, sampur, samping, baju kurung, dan mongkron.
3. Tari Wayang (Gandamana)
Tari Gandamana diciptakan oleh Raden Ono Lesmana Kartadikusumah sekitar tahun 1960-an, yang pada awalnya tarian ini digunakan sebagai media pembelajaran, dan termasuk ke dalam tari Wayang. Tari Gandamana menceritakan seorang patih dari cerita pewayangan. Koreografi tari Gandamana lebih mengedepankan pada tenaga dan tekanan-tekanan yang kuat, pengaturan tempo yang sedang dan cepat, serta ruang gerak tubuh yang terbuka. Kualitas geraknya pun tetap pada porsinya dan kontrol yang seimbang. Tari Gandamanah diiringi gamelan berlaras salendro, dengan lagu macan ucul, naek kering. Sesuai dengan tari Wayang lainnya, tarian ini juga menggunakan waditra kecrek dan kendang yang berpadu harmonis mengisi ungkapan setiap geraknya. Tari Gandamanah menggunakan struktur koreografi dengan dua struktur, karena pada penyajiannya menggunakan dua pola irama dan tempo yaitu menggunakan lagu Macan Ucul dua wilet dengan irama sedang, dan Macan Ucul sawilet berpola irama cepat.
Tata rias yang digunakan pada tarian ini yaitu: alis masekon kandel, jambang mecut kandel, pasu damis, kumis baplang cagak, dan cedo jenggot kandel. Adapun busana yang digunakan yaitu: celana sontog berwarna biru tua, baju kutung berwarna biru tua, sinjang, kewer, beubeur, uncal, gelang kaki, gelang tangan, kilat bahu, mahkuta Keling Sekar Klewih dan keris ladrang. Pada penyajian tari ini, menggunakan soder sebagai properti yang ditempatkan pada iringan naek kering.
4. Tari Tayub
Seni Tari Tayub sejatinya tidak hanya populer di Madura, atau khususnya Sumenep. Tayub juga cukup dikenal sebagai kesenian rakyat di wilayah Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa, tarian ini biasa digelar pada acara pernikahan, khitanan serta acara kebesaran misalnya hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Juga dalam perayaan kemenangan dalam Pemilihan Kepala Desa, serta acara bersih Desa. Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden, penata gamelan serta penari, khususnya wanita. Penari tari tayub bisa dilakukan sendiri atau bersama, biasanya penyelenggara acara (pria). Namun, seiring dengan perubahan jaman, tayub juga mengalami banyak perubahan, tak hanya seperti yang diungkapkan oleh pemerhati budaya Ahmad Baisuni, bahwa banyak unsur yang hilang dalam seni tari rakyat ini. Namun yang ironi, banyak terjadi pergeseran nilai, seperti yang disebutkan Pak Sukur. Semuanya itu akar masalahnya adalah penyusupan budaya luar yang banyak bertentangan dengan agama yang dianut masyarakat Madura. Dalam tari tayub, kita diajak menari bersama. Orang yang mau menari bersama berarti menghormati tuan rumahnya. Ini lah istilah dari tari tayub.
Kesan-kesan mengapresiasi Seni dan Budaya Cirebon:
Sangat bervariatif dan unik karena dari segala aspek sangat menjunjung tinggi keunikan dan autentik. Cirebon memiliki tarian yang sangat luar biasa dengan kostum beragam dan variasi gerakan, itu membuatnya menjadi sangat istimewa.