English
Indonesia

Mahasiswa Prodi Matematika dan Mahasiswa Prodi PJKR UPI, Jabat Komandan dan Wakil Komandan Menwa Yon XI/UPI/RP Periode 2023/2024

10 Apr 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI

Adam Siswanto, Mahasiswa Program Studi S1 Matematika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) dan Adela Ghifari, Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terpilih menjadi Komandan dan Wakil Komandan Resimen Mahasiswa Batalyon XI UPI Periode 2023-2024. Keduanya merupakan mahasiswa angkatan 2020.

Menurut Prof. H. Dr. Syahidin, M.Pd., selaku pembimbing UKM Menwa Yon XI/UPI/RP, mengungkapkan bahwa Adam Siswanto dan Adela Ghifari terpilih melalui serangkaian proses persidangan yang melibatkan Fraksi Angkatan 48, 49, 50, dan 51, serta Alumni, yang hadir secara langsung memberikan suport, Minggu (09/4/2023).

Dikatakannya,”Terpilihnya komandan dan wakil komandan ini merupakan kandidat-kandidat terbaik. Rangkaian kegiatan yang begitu panjang, dapat dilalui dengan baik oleh keduanya. Menjadi pimpinan Menwa Batalyon XI UPI tidaklah mudah, karena harus melalui tahapan-tahapan yang ketat.”

UKM Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon XI Universitas Pendidikan Indonesia Resimen Pendidikan merupakan UKM istimewa, tegas Prof. Syahidin, tidak sembarangan orang bisa masuk organisasi ini, hanya mahasiswa terbaik dan tangguh yang mampu melewati proses tahapan rekrutmennya.

Dijelaskan lebih lanjut,”Komandan dan Wakil Komandan yang terpilih saat ini merupakan mahasiswa terbaik dari semua yang terbaik, anggota-anggota Menwa Yon XI/UPI/RP.”

UKM Menwa selalu mencetak kader pemimpin yang berkualitas, ungkapnya. Diharapkan, dengan terpilihnya Komandan dan Wakil Komandan Periode 2023-2024, keduanya bisa memimpin dengan maksimal dalam mengemban tugas dan tanggung jawab dengan baik, serta dapat memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. (alvin/edit.dodiangga)

Kolaborasi untuk Kebaikan: Komunitas Penerima Beasiswa LPDP UPI dan BPI UPI Selenggarakan Kegiatan Bakti Ramadan di Panti Asuhan Roudotul Amanah

09 Apr 2023 • Humas UPI

Bandung – Komunitas penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (LPDP UPI) Kelurahan 9.0 berkolaborasi dengan komunitas penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (BPI UPI) Kelurahan 2.0 melaksanakan kegiatan Bakti Ramadan di Panti Asuhan Roudotul Amanah, Kabupaten Bandung Barat pada Jumat (7/4/2023).

Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 15.00 s.d. 19.00 WIB. Adapun tema yang diusung dalam Bakti Ramadan kali ini yaitu “Tebar Kepedulian dalam Bingkai Kebersamaan di Bulan Suci Penuh Berkah”. Kegiatan ini merupakan bentuk realisasi pengabdian kepada masyarakat yang menjadi salah satu tonggak penting dalam Komunitas Penerima Beasiswa LPDP UPI dan BPI UPI.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, sambutan-sambutan, tausiah, doa, buka bersama, dan diakhiri dengan pemberian bingkisan dan santunan.

Dimas Febriansyah selaku Lurah LPDP UPI 9.0 dalam sambutannya menyampaikan bahwa terlaksananya kegiatan Bakti Ramadan oleh LPDP dan BPI UPI menjadi ajang silaturahmi dan berbagi kebaikan kepada anak yatim piatu yang diasuh di panti asuhan. Lebih lanjut, Dimas menyampaikan bahwa Panti Asuhan Roudotul Amanah masih membutuhkan banyak bantuan, termasuk donatur tetap. Terlebih lagi, mengingat bahwa lokasi panti asuhan yang cukup jauh dari pusat Kota Bandung, sehingga dapat menjadi kendala.

Sementara itu, Lurah Komunitas Penerima Beasiswa BPI, Piki S. Pernantah menyampaikan harapannya untuk terus dapat melakukan kolaborasi positif dalam kebaikan. “Semoga bentuk kolaborasi ini tidak menjadi yang pertama dan terakhir, namun akan terus dilaksanakan dalam bentuk kontribusi-kontribusi lainnya”, ujar Piki.

Suasana haru pun sulit terbendung saat Ibu Imas Masitoh, selaku Kepala Panti Roudatul Amanah menceritakan perjuangannya dalam merawat dan mengasuh anak-anak yang ada di Panti sejak 2012. Kondisi penuh keterbatasan tidak menyurutkan niat Ibu Imas Masitoh untuk terus membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Saat ini, terdapat 34 anak yang ada di Panti Roudatul Amanah.

Acara ini juga diisi dengan penyampaian tausiah oleh Dewi Sinta, perwakilan dari Kelurahan LPDP UPI 9.0. Dalam pemaparannya, Dewi Sinta memberikan penguatan kepada anak-anak agar senantiasa meluaskan rasa sabar dalam menjalani ketetapan yang diberikan Allah SWT. Ia turut memberikan motivasi agar anak-anak pantang menyerah dalam menggapai impian dan cita-cita.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa dan buka puasa bersama. Sebagai akhir dari kegiatan, perwakilan Kelurahan LPDP UPI dan Kelurahan BPI UPI memberikan santunan beserta bingkisan kepada anak-anak panti. (Budi Rahmah Panjaitan).

Memaknai Bulan Puasa di Negeri Tiga Singa

09 Apr 2023 • Humas UPI

Kelap-kelip lampu menjuntai di antara gedung-gedung klasik di sepanjang Picadilly Circus. Di antara dekorasi lampu tersebut ada yang berbentuk bulan sabit, ada yang berbentuk bintang, ada pula yang menyerupai lentera khas Timur Tengah. Dan di antara kumpulan dekorasi tersebut, terdapat sebuah instalasi lampu yang membentuk tulisan ‘Happy Ramadan’. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dekorasi lampu bertemakan Ramadan menghiasi salah satu jalan terpenting di kota London.

Dilansir dari laman Metro.co.uk (2023), instalasi lampu yang terpasang sejak 21 Maret 2023 itu diinisiasi oleh sebuah lembaga non-profit Ramadan Lights UK. Aisha Desai sang pendiri yayasan tersebut mengatakan bahwa ia terinspirasi dengan dekorasi natal yang selalu terpasang di jalan tersebut setiap tahunnya dan ingin masyarakat Muslim juga dapat merasakan euphoria yang sama. Akhirnya, melalui penggalangan dana publik, mimpinya tersebut dapat terrealisasi.

Diresmikan oleh Sadiq Khan, wali kota London yang juga pemeluk agama Islam, komunitas Muslim di Inggris berbondong-bondang merayakan momen bersejarah tersebut. Karena saat itu saya juga sedang safari ke London, saya tidak ingin melewatkan momen berharga tersebut dengan berswafoto di depannya. Saya bersyukur, untuk pertama kalinya saya menjalani Ramadan di luar negeri, saya bisa menyaksikan peristiwa yang langka ini.

Menjalani puasa di Inggris, seberapa berat?

Ketika memasuki bulan Ramadan di pertengahan Maret Islam, negeri belahan utara memasuki bulan semi. Di awal Ramadan, kami memulai puasa ketika memasuki waktu shubuh, sekitar pukul 4 dini hari, dan berbuka pada pukul 6 sore. Artinya, kami menjalani puasa selama 14 jam. Kemudian seiring memasuki musim yang lebih hangat, durasi siang menjadi lebih lama sehingga kami dapat berpuasa hingga 15 jam. Apabila dibandingkan dengan umat Muslim yang menjalani puasa di Indonesia yang menjalani puasa selama 13 jam, durasi puasa di Inggris tentunya lebih lama. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kami dalam memenuhi rukun Islam yang keempat ini.

Tantangan lain kami hadapi ketika kita harus menjalani aktivitas sehari-hari. Tidak seperti di sebagian besar wilayah di Indonesia, di mana saat memasuki bulan Ramadan mayoritas kedai-kedai yang menjual makanan beroperasi saat akan memasuki waktu berbuka, atau kalaupun ada yang masih beroperasi kedainya ditutupi kain tirai, di sini penjual makanan tetap beroperasi seperti biasa. Tentu saja hal tersebut dapat dimaklumi, sebab sebagian besar dari mereka tidak menjalani ibadah puasa. Tentunya kami tidak bisa menuntut mereka untuk menutup tokonya dengan alasan ‘menghormati yang berpuasa’. Belum lagi, aktivitas tetap berjalan seperti biasanya, entah itu di sekolahan ataupun di perkantoran. Untungnya, bagi saya sebagai mahasiswa, momen Ramadan kali ini bertepatan dengan easter break selama tiga minggu lamanya. Jadi, selama libur tersebut, saya memanfaatkannya untuk mengerjakan beberapa tugas akademik sambil memperbanyak amal di bulan Ramadan.

Lantas, apakah tantangan tersebut menjadikan puasa di Inggris berat untuk dijalani? Sejujurnya, bagi saya sendiri tidak ada kendala yang berarti untuk tetap memenuhi kewajiban ini. Meski durasi waktunya lebih lama, namun sebagai seorang Muslim yang sudah aqil baligh, saya sudah mengetahui kapasitas diri saya dan mampu mengatur strategi agar mampu menahan lapar dan dahaga dalam waktu yang lama. Adapun terkait godaan, meski secara fisik tampak lebih banyak godaan yang mampu membatalkan puasa di sini, namun apabila kita sudah meluruskan niat, niscaya Allah akan menjaga iman kita. 

Menghidupkan Suasana Ramadan di Perantauan

Terkadang saya rindu suasana bulan puasa di Indonesia. Setiap pagi dan sorenya, tepatnya selepas waktu shalat Shubuh dan Ashar, saya biasa pergi ke madrasah untuk melaksanakan tadarus Qur’an. Atau tawarih berjamaah di masjid yang saya hadiri meski antusiasmenya hanya pada malam-malam pertama saja. Atau di lain kesempatan, saya seperti kebanyakan masyarakat Indonesia lainnya, senang berburu takjil untuk dihidangkan saat berbuka puasa. Tak lupa, momen buka bersama tak pernah saya lewati untuk menjalin silaturahmi dengan kawan-kawan sekolah, kuliah, sampai rekan kerja. Hal tersebut tidak saya temui di sini.

Meski begitu, kami masyarakat Indonesia tidak kehabisan akal untuk tetap menghidupkan suasana Ramadan di tanah perantauan. Seperti misalnya komunitas Keluarga Islam Manchester (Karisma), yang mengadakan rutinan tilawah Ramadan setiap sorenya selama bulan Ramadan melalui platform Zoom. Setiap harinya, satu juz Al-Qur’an kami baca secara bersama-sama sampai mencapai target khatam. Hal yang sama juga dilakukan oleh PCINU United Kingdom, yang setiap minggunya berbagi tugas kepada anggotanya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Tak lupa, sesekali diadakan tausiyah setiap minggunya untuk memantapkan pengetahuan agama di bulan suci ini. Pada momen Ramadan kali ini, saya juga berkesempatan mewakili Karisma untuk mengisi tausiyah di platform Keluarga Islam Britania Raya (Kibar UK), di mana saya membawakan tausiyah bertajuk ‘Keistimewaan Bulan Ramadan’ untuk dibagikan kepada komunitas Muslim Indonesia lainnya yang tinggal di Inggris.

Adapun kegiatan Ramadan lainnya seperti berburu takjil dan berbuka puasa bersama, saya bersama teman-teman saya mencari ide untuk menciptakan momen tersebut. Di antaranya kami suka berburu iftar gratis di masjid-mesjid ataupun mengadakan potluck dengan membawa makanan masing-masing untuk disantap bersama. Atau terkadang kami mengadakan tarawih berjamaah sendiri di akomodasi mahasiswa karena jarak masjid yang cukup jauh dan selesai hingga larut malam. Meski tak semeriah di Indonesia, hal tersebut tetap menghadirkan euphoria Ramadan sebagai momen yang menyenangkan bagi kami untuk dirayakan.

Memaknai Puasa di Negeri Tiga Singa

Dari gemerlapnya instalasi lampu di Picadilly Circus, tantangan dalam menjalankan ibadah puasa, sampai kemeriahan perayaan Ramadan, sedikitnya terdapat tiga ibrah Ramadan yang mungkin tidak akan kutemui di tanah air. Pertama, pengalaman puasa di negeri nonmuslim ini menguji saya seberapa teguh iman saya dalam menegakkan rukun Islam yang keempat ini. Dengan posisi saya yang jauh dari saudara Muslim, bisa saja saya makan di siang bolong tanpa merasa ada yang mengawasi. Namun, saya yakin, segala aktivitas yang saya lakukan tidak pernah luput dari pengawasan Allah. Sebagaimana definisi saum itu sendiri secara terminologis berarti:

اْلإِمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَغَشَيَانِ النِّسَاءِ … لِتَقْوَى اللهِ  باِلْمُرَاقَبَةِ وَترْبِيَةِ

Menahan diri dari lapar, haus, dan bersenggema, … agar bertakwa kepada Allah dengan jalan muraqabah (merasa diperhatikan Allah) dan mendidik kehendak dan keinginan. 

(Rasyid Ridha, Al-Manar, hal. 143).

Jadi, apabila kita benar-benar memaknai saum secara hakiki, sudah sepatutnya kita mampu menjalankannya dengan teguh, karena tahu bahwa sejatinya saum ini bukan sekedar menahan lapar dahaga saja, tetapi melatih ketakwaan kita dengan perasaan selalu diawasi Allah dan mengontrol diri kita dari keinginan duniawi.

Kedua, meski tak sesemarak suasana di Indonesia, namun kita dapat menghidupkan spirit Ramadan di manapun berada dengan memperkuat ukhuwah di antara komunitas-komunitas Muslim. Berbagai aktivitas yang biasa dilakukan saat Ramadan seperti tarawih, tadarus, dan buka bersama dapat kita ciptakan sendiri di manapun berada. Justru dengan menjalani Ramadan di negara non-Muslim, saya merasakan solidaritas yang kuat di antara komunitas Muslim, baik itu komunitas Muslim Indonesia maupun internasional. 

Terakhir, puasa di negara non-Muslim seperti Inggris mengajarkan saya arti toleransi. Meski tidak ikut merayakan, namun masyarakat lokal di sini memberikan ruang bagi komunitas Muslim untuk menjalankan keyakinannya secara bebas. Bahkan terpasangnya dekorasi Ramadan di Picadilly Circus membuktikan bahwa eksistensi komunitas Muslim diakui sebagai bagian dari masyarakat Inggris. Hal tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, khususnya dalam konteks agama, bahwa sejatinya toleransi bukan berarti saling melibatkan diri dengan kelompok yang berbeda, tetapi memberikan ruang yang aman bagi seluruh pemeluk agama untuk menjalankan kepercayaannya dan menghargai keberadaannya (Zainuddin Abuhamid Muhammad/Mahasiswa S2 Program Digital Technologies, Communication and Education, University of Manchester/Alumni Teknologi Pendidikan UPI Lulusan Tahun 2020)

PILMAPRES: GALI TALENTA SEBAGAI CALON PEMIMPIN BANGSA

08 Apr 2023 • Humas UPI

Jadi seorang mahasiswa yang berprestasi tentunya adalah impian bagi seluruh mahasiswa. Kenapa? Karena akan mendatangkan banyak manfaat dan pastinya jadi sebuah kebanggaan.

Pilmapres atau Pemilihan Mahasiswa Berprestasi merupakan kompetisi mahasiswa yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan yang ada di bawah naungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi setiap tahunnya. Tujuannya adalah untuk memberikan apresiasi kepada mahasiswa terbaik yang siap menjadi agen perubahan untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Untuk pesertanya sendiri diikuti oleh mahasiswa program sarjana atau program diploma.

Penyelenggaraan pemilihan mahasiswa berprestasi dimulai dengan seleksi tingkat perguruan tinggi.  Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan seleksi tingkat 1 & 2 pada tanggal 3-5 April 2023 secara luring di Travello hotel Bandung. Sebanyak 10 finalis sarjana dan 3 finalis diploma terpilih untuk mengikuti kegiatan. Seluruh finalis selanjutnya mengikuti tahap seleksi kedua meliputi penilaian capaian unggulan, gagasan kreatif, dan kemampuan bahasa inggris.

Nantinya akan ada forum pleno di tingkat universitas untuk menentukan perwakilan UPI pada ajang PILMAPRES tingkat wilayah dan nasional. Harapan juga disampaikan oleh Muhammad Oka Ramadhan, S.Pd salah satu Mapres VI Nasional tahun 2020, “Harapannya Mahasiswa sebagai talenta calon pemimpin bangsa, tidak hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga dua unsur yang menyempurnakan kinerja di kehidupan masyarakat, yaitu hard skills dan soft skills, karena sinergi di antara keduanya sangat diperlukan. Hal ini sejalan dengan Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digagas oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk mendorong mahasiswa tidak hanya unggul dalam akademik, namun juga menjadi individu yang kreatif, inovatif, berdaya saing tinggi, dan berkarakter.”

Setelah mengikuti rangkaian kegiatan setiap peserta merasa seleksi ini merupakan mengaktualisasikan diri agar bisa mengasah kemampuan kita jauh lebih baik. Setiap peserta mampu melihat kekurangan dari performanya sehingga nanti ketika di tingkat daerah atau bertemu ajang serupa kemampuannya sudah lebih baik setelah melakukan perbaikan dan perkembangan. Secara tidak langsung seleksi tingkat Universitas ini merupakan ajang bertemu dengan mahasiswa berprestasi lain dari berbagai fakultas. Ruang kompetitif yang tetap sehat.

Salah satu mahasiswa berprestasi dari jurusan Pendidikan Kewarganegaraan Fakultas Pendidikan Ilmu Pendidikan Sosial, Tipani Desmita Aryanti menyampaikan pesan untuk mahasiswa baru, “Bagi mahasiswa baru yang ingin mengikuti mapres ini harus dipersiapkan dari sekarang menentukan target apa yang sebenarnya ingin dicapai di universitas. Maka jika yang akan kamu targetkan adalah mapres tentu prosesnya tidak ada yang instan. Oleh karena itu, sejak awal harus mulai untuk mengikuti kompetensi dan meningkatkan kemampuan berbahasa asing ditambah juga keterampilan supaya ketika ada pilmapres sudah siap dan siap untuk berkompetisi.”

Penutupan dilakukan dengan suasana hangat dan haru setelah kegiatan peserta selama tiga hari kebelakang. Dr. Ana, M.Pd selaku Ketua Pelaksana menyampaikan, “Sebelas orang yang hari ini sudah mencapai seleksi tingkat universitas seharusnya bisa untuk terus dirawat oleh masing-masing fakultas bahkan dijadikan duta mapres agar tetap beraktivitas. Menularkan semangat, terlepas apapun hasilnya nanti peringkat berapapun dan setiap peserta harus dapat mengambil hikmahnya.” (Iqssyzia Syahfitri)

Spirit Bilal

07 Apr 2023 • Humas UPI

Di suatu sudut Ummul Quro Makkah, tahun awal Kerosulan. Seorang budak mendapat perlakuan keji. Ia dilecuti dengan cambuk berkali kali. Ia diikat. Ia dihimpit dengan batu dan dijemur di padang pasir yang gersang. Itulah Bilal bin Rabah. Seorang budak berkulit hitam legam keturunan Habsyah atau Ethiopia sekarang. Ayahnya bernama Rabah dan ibunya bernama Hamamah. Mereka budak berkulit hitam yang tinggal pada keluarga Bani Jumah yang tinggal di Makkah. Saat ayah Bilal meninggal, remaja Bilal diwariskan kepada Ummayah bin Khalaf.

Mengapa Bilal memperoleh perlakuan keji dan disiksa majikannya?
Bilal diam diam masuk Islam. Ia sangat tertarik dengan pribadi Rosululloh, yang mengajarkan tauhid beriman kepada Allah SWT. Secara sembunyi sembunyi Bilal banyak belajar tentang ajaran tauhid yang disampaikan Rosululloh. Ia menjadi kelompok pertama yang masuk Islam dari kalangan budak. Ia juga orang pertama yang beriman kepada Allah SWT dari kalangan keturunan kulit hitam.

Mendengar sepak terjang Bilal, Umayyah bin Khalaf Sang Tuan murka berat. Ia naik pitam sampai ke ubun ubun. Ia marah dan melakukan penyiksaan kepada budaknya bernama Bilal. Umayah murka berat karean merasa dipermalukan. Salah seorang budaknya memeluk agama Islam, padahal ia seorang bangsawan terkemuka di kawasan Makkah. Bahkan Umayyah seorang tokoh penting kaum Quraisy yang sangat membenci ajaran Islam.

Walau siksaan mendera, Bilal tak bergeming. Ia tetap teguh mempertahankan iman dan tauhidnya. Setiap lecutan cambuk dari Tuannya agar keluar dari penganut Islam, ia dijawab dengan Ahad ahad dengan kukuh. Bilal dengan teguh berucap, Ahadun Ahad, Ahadun Ahad. Allah Maha esa. Allah is Almighty. Ketika tuannya memaksa Bilal untuk menyembah Latta dan Uzza, ia bersikukuh menolak dan terus memuji keagungan Allah Sang Maha pencipta dan Rosul-Nya.

Penyiksaan Bilal seorang budak yang tinggal pada keluarga Umayyah bin Khalaf, akhirnya terdengar oleh Sahabat Rosululloh Abu Bakar As Shiddiq r.a. Sahabat nabi tersebut melakukan pembicaraan dengan Umayyah untuk “membeli” Bilal. Akhirnya Bilal bisa merdeka dengan imbalan uang yang sangat mahal. Bilal merdeka. Ia tak lagi menjadi budak keluarga Ummayah bin Khalaf. Bilal menjadi salah seorang sahabat andalan Rosululloh dari kalangan hamba sahaya.

Muadzin ar Rosululloh

Kiprah Bilal luar biasa. Ketika mesjid Nabawi Madinah selesai dibangun, Bilal dipercaya Rosululloh untuk mengumandangkan Azan. Waktu itu, Rosululloh mensyariatkan azan sebelum didirikan sholat. Azan pada saat itu dimaksudkan sebagai penanda datangnya waktu sholat dan juga sekaligus mengajak kaum Muslimin di sekitar Madinah untuk melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Nabawi.
Ada sejumlah pertimbangan mengapa Bilal terpilih sebagai Muadzin ar Rosululloh. Bilal memiliki suara yang merdu dan melengking keras. Ia juga teruji keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan salah seorang sahabat Rosululloh yang gigih mempertahankan syiar Islam sejak periode awal dakwah yang dilakukan Rosululloh.

Sosok Bilal bukan sebatas Muadzin kepercayaan Rosululloh, tetapi juga perlambang persamaan derajat manusia dalam berkhidmat ketauhidan Allah SWT. Bilal juga sosok pemberani, karena ia mampu melantunkan azan dengan penuh khusuk, kendati pada masa awal dakwah Kenabian, kaum Quraishy dan kaum jahiliyah selalu meneror dan mengganggu keamanan.
Tugas sebagai muadzin ar Rosululloh, terus ditunaikan Bilal berbilang tahun sampai akhirnya Rosululloh Kanjeng Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 11Hijriah (632 M.
Semua keluarga Nabiulloh dan sahabat merasakan kesedihan yang sangat mendalam ketika Rosululloh wafat.

Bagi Bilal, wafatnya Kanjeng Rosululloh, menggoreskan duka yang sangat dalam. Lantas ia meminta izin kepada Sahabat Abu Bakar as Shiddiq untuk berhenti menjadi Muadzhin Rosul. Bilal pergi ke Daerah Syam ( Damaskus sekarang) untuk menenangkan diri. Bilal yang diliputi duka nestapa atas wafatnya Rosululloh, pergi meninggalkan Madinah. Kaum muslimin di Medinah merasa kehilangan. Tak ada lagi azan yang dikumandangkan Bilal, usai Rosululloh wafat.

Azan Terakhir Bilal

Berbilang tahun Bilal menjadi warga Negeri Syam. Sampai suatu hari, sahabat Nabi Umar bin Khatab a.s. datang menemuinya. Umar bin Khatab datang jauh jauh dari Madinah menuju Negeri Syam dengan satu tujuan: membujuk Bilal untuk pulang ke Madinah.
“Kaum muslimin di Madinah sangat merindukan mu wahai Bilal. Mari aku datang untuk menjemputmu. Mereka merindukan suara emas mu ketika melantunkan Azan. Mereka sangat ingin sholat berjamaah diawali dengan suara azan mu, wahai Muadzin Rosululloh.”

Ternyata bujukan dan permintaan Umar bin Khattab r.a tak bisa dipenuhi. Bilal masih merasakan duka yang sangat mendalam. Bilal merasa berat untuk pergi ke Madinah guna mengumandangkan azan. Ia merasa berat, karena begitu cintanya kepada Rosululloh. Bilal tak sanggup mengumandangkan azan setelah Rosululloh wafat.

Waktu bergulir. Bulan berganti bulan. Pekan berganti pekan. Sampai pada suatu malam, Bilal bermimpi bertemu Rosululloh. Dalam mimpi Rosululloh menegur Bilal, Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Wahai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa seperti itu ?

Pertemuan dalam mimpi tersebut, membuat Bilal merasa ketakutan. Kuatir ditinggalkan Rosululloh
Esoknya Bilal pamit kepada keluarganya untuk pergi ke Madinah. Ia merasa rindu tiada tara dan ingin segera berziarah ke Makam Rosululloh SAW di Madinah. Kemudian Bilal bersiap siap untuk bertolak pergi ke Madinah.

Unfinished Azan

Di Makam Rosululloh, Bilal bersimpuh mengungkap rasa rindu  dan hormat kepada Rosulloh. 

Di sana, ia bertemu dengan cucu kesayangan Kangjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu cucunda Hasan dan Husein. Kedua cucu Rosululloh sangat senang bertemu dengan Bilal dan berujar penuh harap,
Pamanda Bilal, sudikah engkau mengumandangkan azan untuk kami, sekali saja menjelang sholat berjamaah? Kami sangat ingin mengenang kakek tercinta Rosululloh.
Sayidina Umar bin Khatab dan sahabat lainnya turut membujuk Bilal. Mereka merindukan hal sama. Rindu sholat bersama Rosululloh diawali dengan suara azan yang dilantunkan Bilal Muadzin kebanggaan Rosululloh.

Bilal sang Muadzin Rosululloh merasa saatnya untuk menumpahkan rasa rindu kepada baginda Rosululloh. Ia menerima tawaran itu dengan berat hati. Menjelang waktu sholat, suara merdu Bilal terdengar melengking sampai ke pelosok Madinah. Lafad Allohu Akbar, Allohu Akbar yang diserukan Bilal bergema ke seluruh pelosok Madinah. Warga Madinah terkejut kaget mendengar suara azan tersebut. Mereka sangat familiar dengan alunan Azan yang khas, dan sempat menghilang seusai Rosululloh wafat. Alunan suara azan tersebut mengingatkan memori indah takkala menjelang sholat berjamaah bersama Rosululloh.

Ketika alunan lafad Ashadu anla illaha illallah dikumandangkan, kaum muslimin Madinah berhamburan menuju arah suara di Mesjid Nabawi. Mereka histeris mendengar lantunan lafad azan, serasa mengulang kebersamaan dengan Rosululloh yang beberapa tahun hilang.

Ketika lafad Ashadu anna Muhamaddan Rosululloh dilantunkan, suara Bilal melemah dan semakin parau. Bilal bin Rabah tak sanggup lagi melanjutkan azan, dengan menyebut nama orang yang paling dikasihi dan paling dirindukan. Bilal bercucuran air mata. Tangis rindu kepada Rosululloh tak hanya dirasakan Bilal. Cucu kesayangan Rosululloh juga merasakan kegundahan teringat kepada kakek tercinta. Suasana waktu itu membuat warga Madinah banjir air mata. Tangisan rindu kepada Rosululloh dirasakan oleh semua warga Madinah yang hadir.

Itulah Bilal bin Rabah. Sosok muadzin kebanggaan Rosululloh. Spirit Bilal patut diteladani. Ia istiqamah untuk terus memupuk keimanan dan ketakwaan di tengah kegetiran hidup sebagai budak. Ia sangat mencintai Rosululloh. Begitu cintanya kepada Rosululloh, ia tak sanggup melantunkan Azan ketika Rosululloh sudah tiada (Sumber : Wikipedia Indonesia & berbagai bahan lainnya) (Kontributor Humas/Dinn Wahyudin). Wassalam.

Pencarian