English
Indonesia

Meneliti, Menulis dan Mempublikasikan Karyanya adalah Tugas Guru Besar, Kata Prof Sumarto

27 Mar 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI

Ketua Senat Akademik UPI Prof. Dr. Sumarto, M. SIE., menegaskan bahwa berkaitan dengan masalah Guru Besar, nampaknya perlu penekanan di bidang akademik atau Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jadi ini amat penting, karena di dalamnya itu di samping ada kegiatan pendidikan dan pengajaran, tentunya ada aktivitas penelitian atau research. Meneliti, menulis dan mempublikasikan karyanya di jurnal ilmiah bereputasi adalah salah satu tugas seorang guru besar.

Hal tersebut disampaikannya dihadapan 7 dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang menerima SK Pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Profesor/Guru Besar di Ruang Rapat Gedung Partere Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Jumat (24/3/2023).

Diungkapkan Prof. Marto,”Memang aturan-aturan yang sudah dikeluarkan oleh kebijakan Kemendikbud Ristek itu nampaknya untuk kumulatifnya itu sudah mulai banyak berubah. Jadi kekhususan sebagai seorang Guru Besar itu memang ada perubahan-perubahan yang sudah fundamental yang kaitannya dengan kumulatifnya itu sendiri. Terutama untuk karya-karya ilmiah yang sekaitan dengan penulisan buku.”

Jadi, ungkapnya lagi, penulisan buku itu memang penting untuk setiap Guru Besar, setiap tahun atau mungkin beberapa tahun kemudian. Karena bagaimanapun juga itu sebagai konsekukensi kekhususan seorang Guru Besar di samping researchresearch kolaborasi itu sendiri.

“Kolaborasi itu memang penting sekali untuk bisa menjembatani tentang bidang-bidang keilmuan yang ada di luar maupun yang ada di kita sendiri. Terutama di bidang-bidang pendidikan di sini,” katanya.

Kenapa terjadi sampai seperti itu, ditekankan seperti itu, tanyanya, karena bagaimanapun juga masalah pendidikan ini tidak bisa lepas dari apa yang ada di dalam hasil-hasil research kita sendiri.

Penekanan-penekanan dalam research itu perlu kita tanamkan dalam sesuatu yang memang sangat memberikan konstribusi terhadap kemajuan universitas.

Dijelaskannya,”Nantinya di dalam researchresearch itu sendiri kita bisa memperoleh sesuatu yang namanya hak kekayaan intelektual. Selama ini, kekayaan intelektual kita itu relatif masih sedikit jika dibandingkan dengan usia UPI.”

Perlu kita dorong betul-betul HKI-HKI itu, katanya, baik yang sifatnya sederhana maupun yang lebih tinggi lagi, bisa ditonjolkan tentang hasil-hasil research yang ada. Jangan sampai research itu, setelah research selesai kembali lagi, tidak ada kesinambungan terhadap researchresearch yang ada di dalam penelitian itu sendiri.

“Bagaimanapun juga seyogyanya kita harus sudah berpikir hilangkan sifat monolitas terhadap research sendiri, hanya setahun ganti judul. Diharapkan bisa beruntun minimal 3 tahun atau mungkin 5 tahun ke depan, karena kita akan dituntut tentang Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) yang ada di dalam research. Jadi kita punya TKT itu 9, dari angka 1 sampai angka 9,” ungkap Prof Marto.

Kita mulai mengawali suatu research yang berhasil itu adalah jika kondisi kita sudah mencapai satu prototype di TKT ke-6, ke-7, dan ke-8. Itu adalah kolaborasi dengan industri atau dengan lembaga-lembaga lain yang bisa dihasilkan produk-produk pada angka yang ke-9 itu tadi.

Diharapkannya,”Semakin banyak bermunculan guru besar-guru besar muda di bawah usia 40 tahun, karena hal itu dapat memberikan suatu konstribusi dan kemaslahatan bagi universitas sehingga dapat memberikan nilai tambah terhadap apa yang akan dihasilkan di tataran Guru Besar muda itu sendiri.

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14274/M/07/2023 atas nama Dr. H. Mubiar Agustin, M.Pd., Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Bimbingan dan Pembelajaran PAUD;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14275/M/07/2023 atas nama Dr. Dadang Sundawa, M.Pd., Dosen Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Pembelajaran Pendidikan Demokrasi;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14276/M/07/2023 atas nama Dr. Mupid, M.Ag., Dosen Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Pendidikan Karakter Bangsa;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14277/M/07/2023 atas nama Dr. Eng. Asep Bayu Dani Nandiyanto S.T. M.Eng., Dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Teknologi Partikel;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14278/M/07/2023 atas nama Eri Kurniawan, M.A., Ph.D., Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS); diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Linguistik Interdisipliner;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14279/M/07/2023 atas nama Lala Septem Riza, M.T., Ph.D., Dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Data Science dan Big Data Analisys;

dan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14280/M/07/2023 atas nama Dr. Mohamad Zaka Al Farisi, S.Pd.,M.Hum., Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Linguitik Terapan Bahasa Arab. (dodiangga)

Rektor UPI Harapkan Guru Besar Perbanyak Joint Research

27 Mar 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI

Salah satu hal yang memang sekarang ini masih cukup menjadi tantangan diantara sebagian besar itu adalah masalah research dan publikasi serta jaringan penelitian internasional.

Bahkan sekarang bertambah lagi, jika kemarin QS World University Rankings itu hanya melakukan penilaian berdasarkan reputasi akademik, reputasi pemberi kerja, penelitian, sumber daya, internasionalisasi, serta proporsi mahasiswa pertukaran keluar dan masuk, sekarang sudah bertambah indikatornya dengan beberapa indikator tambahan dan bobot yang disesuaikan.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., kepada 7 dosen penerima SK Pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Profesor/Guru Besar di Ruang Rapat Gedung Partere Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Jumat (24/3/2023).

Ke-7 dosen yang dimaksud yaitu Dr. Mubiar Agustin, M.Pd., Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP); Dr. Dadang Sundawa, M.Pd., Dosen Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS); Dr. Mupid, M.A., Dosen Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS); Eri Kurniawan, M.A., Ph.D., Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS); Dr. Mohamad Zaka Al Farisi, S.Pd.,M.Hum., Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS); Lala Septem Riza, M.T., Ph.D., Dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), dan Dr. Eng. Asep Bayu Dani Nandiyanto S.T. M.Eng., Dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA).

Rektor UPI menegaskan bahwa yang terkait dengan masalah publikasi itu adalah sesuatu yang sifatnya joint research. Dikatakannya,”Sekarang ini, mau tidak mau, suka tidak suka, kita selalu dihadapkan dengan masalah perangkingan. Bahkan ketika berhadapan dengan perguruan tinggi lain, ketika mau bekerjasama, sudah pasti dilihat dulu ranking universitasnya. Utamanya bila kita mau jalin kerjasama dengan asing.”

Oleh karena itu, lanjut Rektor, diharapkan para Guru Besar ini bisa memberikan konstribusi yang signifikan dalam rangka membangun dan meningkatkan kinerja Universitas. Hal ini terlihat dari IKU jika di Indonesia dan WCU jika dilihat dari luar.

“Kini, beban semakin bertambah, para GB tidak lagi hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tapi juga bagaimana caranya agar bisa membantu teman-teman lain untuk bisa mengikuti jejak kita. Upayakan untuk bisa menghadirkan anggaran-anggaran penelitian dari luar universitas, baik nasional maupun internasional, bangun jaringan joint research yang sifatnya multi years,” ujarnya.

Seluruh sivitas akademika UPI diharapkan untuk memaksimalkan penggunaan fasilitas di lingkungan UPI, lanjut Rektor. Pimpinan universitas senantiasa melakukan upaya efektivitas dan efisiensi dalam urusan birokrasi dengan merampingkan organisasi. Hal tersebut dimaksudkan agar anggaran universitas bisa lebih terfokus ke hal-hal sifatnya akademis.

“Diharapkan ini bisa menjadi perhatian kita semua, sehingga anggaran research universitas bisa terus meningkat. Di samping penggunaan anggaran research yang di dalam, tentu diharapkan juga para GB ini bisa memotivasi teman-teman yang lain untuk bisa meraih peluang-peluang yang ada di luar,” harap Rektor.

Kami, ungkapnya, Pimpinan Universitas tentu sangat menyambut baik kehadiran bapak-bapak semua, karena barangkali kalau dilihat dari komunitas dosen, Guru Besar ini masih termasuk komunitas minoritas.

Kenapa demikian, karena jumlah Guru Besar di UPI masih berada angka 10,46%. Targetnya di 12%, karena idealnya perguruan-perguruan tinggi besar itu guru besarnya antara 12% hingga 15% full professor, karena yang lain-lainnya masih berstatus sebagai assisten professor dan associate professor.

Berikut uraian Surat Keputusannya:

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14274/M/07/2023 atas nama Dr. H. Mubiar Agustin, M.Pd., Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Bimbingan dan Pembelajaran PAUD;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14275/M/07/2023 atas nama Dr. Dadang Sundawa, M.Pd., Dosen Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Pembelajaran Pendidikan Demokrasi;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14276/M/07/2023 atas nama Dr. Mupid, M.A., Dosen Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Pendidikan Karakter Bangsa;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14277/M/07/2023 atas nama Dr. Eng. Asep Bayu Dani Nandiyanto S.T. M.Eng., Dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Teknologi Partikel;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14278/M/07/2023 atas nama Eri Kurniawan, M.A., Ph.D., Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS); diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Linguistik Interdisipliner;

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14279/M/07/2023 atas nama Lala Septem Riza, M.T., Ph.D., Dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Data Science dan Big Data Analisys;

dan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia SK NOMOR Nomor 14280/M/07/2023 atas nama Dr. Mohamad Zaka Al Farisi, S.Pd.,M.Hum., Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Linguitik Terapan Bahasa Arab.  (dodiangga)

JANGAN JADI JURNALIS JIKA BUKAN PASSION

26 Mar 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI – Humas UPI melaksanakan Pelatihan Jurnalistik bagi para mahasiswa magang Merdeka Belajar yang dilaksanakan pada hari Senin (20/03/2023). Sebanyak tiga puluh dua mahasiswa mengikuti serangkaian acara Pelatihan Jurnalistik ini. Acara ini berlangsung di Gedung University Center Lantai 1.

Pelatihan ini diadakan dalam rangka pencapaian program dan kegiatan kehumasan untuk peningkatan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) UPI pada bidang publikasi. Menindaklanjuti peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang jurnalistik bagi para mahasiswa peserta magang pada unit kerja Hubungan Masyarakat.

Salah satu Narasumber pelatihan ini adalah Ari Luki wartawan Republika. Ari Luki lebih senang dipanggil dengan panggilan Mbak atau Teteh (kakak perempuan dalam Bahasa Sunda). Bukan dipanggil ibu.

Pada kesempatan kali ini, pematerian dilaksanakan dengan cara sharing agar terkesan lebih santai dan bersahabat. Mbak Ari Luki ini berbagi kisahnya bagaimana dia bisa memilih menjadi wartawan sejati. Hal ini dimulai dari minat yang dimiliki oleh dirinya sejak masa kuliah dulu. Dirinya merupakan alumnus UPI namun, tidak ingin menjadi guru nantinya, sehingga ia memilih jalan lain yaitu, menjadi seorang wartawan.

Meniti karir menjadi wartawan bukanlah hal yang mudah. Mbak Ari pernah melalui lika-liku untuk sampai pada titik sekarang. “Menjadi wartawan dibutuhkan beberapa hal, passion, percaya diri, dan cari informasi sebanyak mungkin.  Mengapa passion menjadi nomor satu? Karena,itu sangat penting”.

Dalam mencari hingga menulis berita, hendaklah mencantumkan rumus 5W+1H (what, who, when, where, why, and how), kemudian ketika pemberian judul pun, haruslah eye catching agar pembaca tertarik untuk membaca berita tersebut. Hal lainnya adalah, pada tiga alinea pertama berita cantumkan informasi terpenting dan menariknya. Hal ini dianggap sebagai hal yang ideal ketika pembaca sedang membaca berita. Maka, tiga alinea pertama inilah yang diperhatikan oleh pembaca.

Waktu berjalan dengan tidak terasa. Hingga kegiatan pelatihan ditutup dengan foto bersama. Semoga dengan diselenggarakannya kegiatan ini dapat menjadi motivasi bagi para mahasiswa magang untuk terus berkembang dan tidak berhenti untuk menyalurkan tentang kebenaran melalui tulisan.(Ambar, Tekpend 2020 kontributor Humas UPI, Ed HN)

HUMAS UPI BERI PELATIHAN JURNALISTIK MAHASISWA MAGANG MERDEKA BELAJAR: PENINGKATAN CAPAIAN IKU BIDANG PUBLIKASI

26 Mar 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI – Pada hari Senin (20/03/2023) sebanyak tiga puluh dua mahasiswa magang Merdeka Belajar pada kantor Humas UPI mengikuti serangkaian acara Pelatihan Jurnalistik. Acara berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 15.30 WIB yang dilaksanakan di Gedung University Center Lantai 1.

Tujuan diadakannya Pelatihan Jurnalistik ini adalah merujuk pada program dan kegiatan kehumasan dalam rangka peningkatan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Humas UPI pada bidang publikasi. Menindaklanjuti peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang jurnalistik bagi para mahasiswa peserta magang pada unit kerja hubungan masyarakat. Rangkaian acara di hari pertama ini terdiri dari pembukaan, sambutan-sambutan, kemudian dilanjutkan pematerian, ishoma, dan juga penutupan.

Pada pengantar Pelatihan ini diberikan Panduan Siaran Pers UPI yang disampaikan oleh Dr. Yana Setiawan, S.Pd., MM. Kemudian dilanjutkan dengan pematerian yang membahas Teknik Pengambilan Video Jurnalistik dengan pemateri Dian Rahadian yang merupakan wartawan Antara News.

Kegiatan Pelatihan Jurnalistik dilanjutkan dengan materi kedua tentang penulisan berita video dengan narasumber Ari Luki yang merupakan wartawan Republika.

Kegiatan ditutup dengan pemberian wejangan dari Prof. Dr. Deni Darmawan, S.Pd., M.Si., M.Kom., MCE.  Deni menyatakan bahwa harapannya pada mahasiswa magang Merdeka Belajar yang tergabung dalam staf redaksi TV UPI ini dapat mengimplementasikan ilmu yang sudah didapatkan dan mempraktikkannya langsung. “Jika satu orang bisa menulis 4 berita dalam satu bulan, itu akan sangat bagus dan UPI bisa bersaing dengan universitas lain dalam hal publikasi”.

Semoga dengan diselenggarakannya kegiatan ini dapat menjadi motivasi bagi para staf mahasiswa magang untuk terus berkembang dan tidak berhenti berkarya.(Ambar Tekpend 2020,Kontributor Humas UPI, Ed.HN)

Menjemput Asa di Saudi Arabia

25 Mar 2023 • Humas UPI

“Kami baru saja melaksanakan Tarhib Ramadhan dengan para guru, siswa dan perwakilan orangtua”. Demikian pesan singkat WhatsApp yang dikirim seorang sahabat Mustajib,MPd. Kepala Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) di Kota Riyadh, Kerajaan Arab Saudi, sehari sebelum dimulainya awal bulan Ramadhan tahun 1444 H.

Setiap menjelang awal Ramadhan, tradisi di sekolah kami SIR adalah melakukan acara Tarhib Ramadhan. Kami bersama para siswa menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan suka cita. Selain diisi dengan tausiah keagamaan makna bulan suci Ramadhan, kegiatan tarhib ini dimeriahkan dengan quiz, foto bersama dengan puncaknya siswa saling berbagi makanan yang dibawa masing masing siswa.

Itulah kegiatan Tarhib Ramadhan yang dilaksanakan Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) kota Riyadh Kerajaan Arab Saudi menjelang datangnya Ramadhan 1444 H. Program khusus tahunan menjelang bulan suci Ramadhan. Jadwal belajar sekolah selama bulan Ramadhan pada SILN di Arab Saudi berlangsung selama tiga minggu mulai pk 09 pagi sampai pk 13 siang (4 jam per hari). Jadwal ini disesuaikan dengan Edaran Kementrian SDM & Pembangunan Nasional Arab Saudi dan Surat Edaran KBRI Riyadh tentang jadwal kerja dan jadwal sekolah di SIR pada saat bulan Ramadhan.

Akulturasi budaya

Kata tarhib berasal dari bahasa Arab yang artinya penyambutan. Tarhib adalah ungkapan selamat datang (welcome) atas kedatangan seseorang atau kehadiran sesuatu atau momen yang indah. Tarhib ramadhan sama dengan ungkapan Marhaban Ya Ramadhan. Selamat datang Ramadhan. Kami menyambut bulan suci ramadhan dengan penuh sukacita. Dengan penuh kebahagian jiwa dan raga.

Di Indonesia, ungkapan dan semangat Tarhib ramadhan, sudah lama dilakukan dengan berbagai aktifitas dan kearifan lokal yang bervariasi. Dalam akulturasi budaya, tradisi komunitas muslim Jawa dikenal dengan istilah Megengan yang secara filosofis berarti menahan diri. Menahan diri dari makan minum, dan menahan diri dari perbuatan yang bisa mengurangi atau membatalkan ibadah shaum. Konon Megengan merupakan akulturasi budaya Jawa dan budaya Islam yang dilakukan Walisongo saat menyebarkan syiar Islam di Tanah Jawa. Tujuannya agar Islam dapat diterima dengan sukacita oleh masyarakat Jawa. Megengan adalah ungkapan syukur karena telah dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan. Ungkapan syukur ini dengan menyiapkan makanan yang dibuat oleh masyarakat, kemudian dibagikan kepada para tetangga sekelilingnya.

Tradisi di provinsi Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadhan, dikenal dengan istilah Meugang atau Makmeugang. Kata “gang” yang berarti pasar. Bila pada hari hari biasa, pasar tak terlalu padat dikunjungi pembeli. Menjelang bulan Ramadhan atau menjelang hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat pergi ke pasar untuk membeli berbagai keperluan untuk menyambut hari istimewa tersebut.
Konon, sejarah Meugang muncul bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Aceh pada awal Abad ke 14. Tradisi meugang dilaksanakan oleh Kerajaan di Istana. Pada hari itu, menjelang datangnya Ramadhan, Titah sang Raja memerintahkan kepada Balai Fakir untuk menyembelih sapi dan membagikan daging, beras dan keperluan pokok lainnya kepada masyarakat dan kaum duafa. (Iskandar,2010). Tradisi meugang ini, walau saat ini semakin terkikis, tetapi masih tetap dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Aceh dalam menyambut bulan ramadhan dan hari hari Raya lainnya.

Demikian juga dalam tradisi komunitas muslim di Tatar Sunda dikenal dengan istilah Munggahan. Munggah artinya naik. Yaitu naik kepada derajat yang lebih tinggi. Naik menuju bulan istimewa yaitu bulan suci Ramadhan. Ramadhanu mubarak (ramadhan penuh berkah). Ramadhanu Kareem (ramadhan yang mulia).

Aktifitas komunitas muslim lokal Priangan sering menyambut datangnya Ramadhan dengan istilah Munggahan. Munggahan juga bervariasi, dari mulai berbagi makanan, saling berkunjung, melakukan nyekar atau ziarah kubur kepada kerabat atau orangtua yang sudah wafat sampai berkirim ucapan Marhaban ya Ramadhan melalui media sosial. Semarak Ramadhan sangat terasa melalui berbagai media sosial, seperti Instagram, WhatsApp, Telegram, Twitter, Facebook, dan medsos lainnya.

Salah satu amalan penting dalam menyambut ramadhan adalah amalan hati. Yaitu niat menyambut bulan suci ini dengan ikhlas, hati riang dan gembira. Sebuah hadist dalam Durrotun Nasihin menjelaskan Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah SWT akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

Ada tiga Sekolah Indonesia Luar Negeri di Kerajaan Arab Saudi. Yaitu sekolah Indonesia di kota Riyadh, Jeddah, dan Makkah Al Mukaramah.
Sampai saat ini, terdapat 13 Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) yang berada di 9 Negara, yaitu SILN di Malaysia (Kualalumpur, Kinabalu, dan Johor Bahru), Singapura, Filipina (Davao), Thailand (Bangkok), Myanmar (Yangoon), Jepang (Tokyo), Arab Saudi (Riyadh, Jeddah, Makkah), Mesir (Kairo), dan Belanda (Den Haag).

Seperti disampaikan oleh Atdikbud KBRI di Kerajaan Arab Saudi, Bapak Badrus Sholeh, Ph.D. dalam suatu kesempatan menjadi nara sumber pada Seminar Internasional Pendidikan di UPI beberapa bulan lalu bahwa tujuan dibukanya SILN di tiga kota di Arab Saudia adalah agar anak anak dari WNI, TKI, dan TKW yang sedang bekerja di Arab Saudi mendapat layanan pendidikan yang setara dengan anak anak generasi muda di Tanah air. Walaupun sekolah tersebut berada di luar negeri, kurikulum, kegiatan pembelajaran sama dengan program sekolah di Tanah air. Bahkan staf pengajar/guru adalah warga negara Indonesia yang statusnya ASN atau Tenaga kontrak.
Atdikbud KBRI Arab Saudi juga mendorong siswa SILN untuk lebih mandiri dan berfikir kritis dalam proses belajar mengajar. Dalam MBKM, SILN juga melakukan kolaborasi dengan berbagai kampus diantaranya menerima mahasiswa KKN Internasional dan Praktik Mengajar dii Sekolah sehingga siswa mendapat materi beragam serta project yang dikolaborasikan dengan mahasiswa dan Guru Besar dari berbagai kampus. SILN Arab Saudi pernah mengundang Prof. Ponimin Guru Besar Seni Rupa dari UM mengajar seni rupa dengan motif khas Indonesia pada siswa jenjang SD, SMP dan SMA. Siswa melukis diluar dan didalam kelas diatas gerabah atau kanvas dengan motif batik atau kombinasi alam Indonesia dan Arab Saudi.

Pada November 2022, Workshop dan FGD Merdeka Belajar (MBKM) juga telah dilakukan SILN Arab Saudi dengan pemateri para Guru Besar dan Dosen Prodi PPG Sekolah Pascasaarjana UPI. Kegiatan akademik lain di SILN di Arab Saudi pernah juga dilakukan bekerja sama dengan Universitas Negeri Jogyakarta, Universitas Negeri Jakarta, UIN Jakarta, Universitas Malang dan beberapa kampus lainnya. Itulah ikhtiar untuk meningkatkan generasi muda yang ada di Arab Saudi melalui berbagai aktifitas kegiatan akademik dan sosial budaya.

Seperti pernah ditulis Peterson (2014) bahwa soft power diplomacy is dependent of the strength of ideas and culture to influence friendship. Education is an ideal vehicle for soft power. Diplomasi soft power sangat bergantung pada kekuatan ide dan budaya guna menguatkan ruang persahabatan. Dan melalui pendidikan diyakini sebagai wahana penting agar diplomasi soft power tersebut dapat terbina dengan baik.

Itulah sekilas pendidikan anak bangsa yang berada di Kerajaan Arab Saudi. Negeri Penjaga dua Mesjid suci. Secara statistik, saat ini ada sekitar 1.750 siswa usia sekolah anak WNI yang ada di Arab Saudi (KBRI Arab Saudi, 2022). Mereka hidup bersama orang tuanya terpencar di berbagai tempat di Jazirah Arab Saudia. Sebagian dari mereka bisa mengikuti pendidikan di tiga SILN di Makkah, Riyadh, dan Jeddah. Sebagian lagi mereka mengikuti pendidikan secara jarak jauh (Daring) melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ada di Riyadh, Makkah, dan Jeddah. Mereka berjuang dan belajar keras guna menjemput asa di Saudi Arabia (Dinn Wahyudin)

Pencarian