English
Indonesia

Program Studi Pendidikan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan Menggelar Program MBKM Mandiri

03 Mar 2023 • Humas UPI

Program Studi Pendidikan Masyarakat FIP UPI melakukan pelepasan mahasiswa yang mengikuti Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) prodi secara mandiri untuk pertama kalinya pada Jumat (03/2/23). Kegiatan pelepasan ini dihadiri oleh Wakil Dekan 1 dan Wakil Dekan III, Ketua Prodi dan Sekretaris Prodi hingga para dosen Penmas di Auditorium FIP UPI.

Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Prodi Pendidikan Masyarakat yakni Dr. Asep Saepudin, M.Pd, yang menyampaikan bahwa “bahwa jumlah mahasiswa yang mengikuti program MBKM prodi secara mandiri ini sebanyak 70 orang, adapun yang lulus pada program MBKM Kementerian sebanyak 14 orang. Hal ini menunjukkan tingkat antusiasme yang tinggi dikalangan mahasiswa Penmas, selain itu menunjukan pula bahwa kesiapan prodi dalam mengimplementasikan kebijakan Kemendikbudristek sudah cukup baik.

Pada tingkat Kementerian memiliki program MBSI maupun Kampus Mengajar, lalu tingkat Universitas dengan program P3K, begitu pun pada tingkat prodi dengan memfasilitasi mahasiswa agar dapat mengikuti kegiatan MBKM pada mitra yang telah menjalin SPK dengan Program Studi. Untuk Angkatan 2020 dari unsur mahasiswa Semester Padat (SP), ada kewajiban (tagihan) Saudara berupa menyusun proposal penelitian skripsi, hal ini dikarenakan kontrak matakuliah sudah habis”, imbuhnya.

Program MBKM Prodi Penmas ini bekerja sama dengan organisasi mitra yang berasal dari Lembaga Pemerintah/Badan, Pemerintahan Desa/Kelurahan dan Satuan Pendidikan Nonformal Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Peserta dibimbing oleh para dosen yang tentunya akan memfasilitasi dan mengarahkan mahasiswa secara akademik di kampus untuk  memenuhi 20 SKS yang berkaitan dengan MBKM.

Acara dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pelepasan mahasiswa MBKM prodi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik FIP yakni Dr. Nandang Budiman, M.Si. Ditegaskannya, bahwa “Atas nama pimpinan Fakultas Ilmu Pendidikan merasa gembira atas terlaksananya kegiatan Program MBKM Mandiri Program Studi Penmas, apresiasi yang setinggi-tingginya atas pelaksanaan MBKM Mandiri ini. Merujuk pada data yang ada, bahwa Penmas menjadi penyumbang terbesar dalam program MBKM, Permata 78 orang pada tahun 2022, belum yang ikuti MSIB dan Kampus Mengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan. Beliau juga menyampaikan bahwa program MBKM Program Studi ini sangat relevan dengan keilmuan program studi, kami berharap melalui kegiatan MBKM Mandiri Program Studi ini diharapkan dapat mempertajam keilmuan profesi Pendidikan Masyarakat dan diharapkan para peserta serius dalam mengikuti program ini”.

Program studi membuat MBKM mandiri dengan harapan memberikan pembekalan untuk para mahasiswa sesuai dengan pilihan minatnya. MBKM yang telah dipilih oleh para mahasiswa dipastikan sudah disetujui oleh Kaprodi, diketahui oleh dosen pembimbing akademik, dan pelaksanaan kegiatan dilaporkan secara mandiri jika MBKM tersebut sudah selesai dengan tujuan agar program yang dijalankan dapat termasuk sebagai capaian indeks kinerja utama program studi dan juga indeks kinerja universitas (IKU). Program ini dilakukan sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan dan secara serius dan tidak lupa mendokumentasikan kegiatan yang dijalani oleh para mahasiswa selama program MBKM.”

Pelaksanaan MBKM prodi selain menjadi suatu bentuk pengimplementasian kebijakan Kemendikbudristek juga merupakan bentuk dorongan bagi mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan dan praktik kerja sebagai bekal memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, besar harapan para dosen pembimbing ke depannya mahasiswa akan mendapatkan manfaat dan pengalaman yang selaras dengan keilmuan Pendidikan Masyarakat melalui pembelajaran dengan kemitraan prodi. Kegiatan pun diakhiri dengan pembacaan doa dan foto bersama (Kontributor Humas UPI /Dadang Yunus Lutfiansyach/Prodi Penmas FIP UPI)

KKN UPI Dampingi Masyarakat Desa Wantilan Kabupaten Subang Optimalkan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle

03 Mar 2023 • Humas UPI

Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pendidikan Indonesia melaksanakan pendampingan bagi masyarakat Desa Wantilan Kabupaten Subangdengan melakukan optimalisasi tempat pengelolaan sampah reduce reuse recycle.  Tempat pengelolaan sampah reduce-reuse-recycle atau yang sering disebut TPS3R merupakan konsep pengelolaan sampah dengan mengedepankan efisiensi dari sampah yang dihasilkan agar semua bagiannya dapat dimanfaatkan. Salah satu yang sangat dimanfaatkan adalah sampah organik yang akan diolah menjadi pupuk kompos.

TPS3R yang dimiliki oleh desa Wantilan merupakan salah satu aspek yang menjadi keunggulan desa Wantilan itu Sendiri.  Pengelolaan sampah TPS3R yang dimiliki Desa Wantilan berhasil dilirik oleh yayasan yang bergerak di bidang pemberdayaan masayarakat dan lingkungan asal Korea, yaitu Yayasan Sae-Maul.

Komaruddin S.Pd, Kepala Desa Wantilan memberikan keterangan, “Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Saemaul yang telah menjadikan kami desa percontohan untuk di daerah Gyeongbok, Seoul, Korea. TPS3R ini menjadi salah satu aset berharga bagi kami, utamanya untuk kesehatan dan kebersihan desa”.

Desa Wantilan yang memiliki sektor pertanian dan perkebunan sebagai mata pencaharian pun diuntungkan dengan hadirnya TPS3R. Sampah-sampah organik yang dihasilkan dari rumah warga diolah agar nantinya dapat dijadikan pupuk kompos organik. Salah satu keunggulan yang ada di TPS3R dalam proses pengolahan sampah organik adalah budidaya maggot. Desa Wantilan pun menjadi desa percontohan di Subang sebagai bentuk nyata suksesnya pemanfaatan maggot.

“Desa Wantilan berhasil memanfaatkan maggot sebagai penghasilan untuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Budi daya maggot kami pun mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup. Kami menjadi desa percontohan untuk wilayah Subang dan terus mendapat bimbuingan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Subang” Ujar Suparman selaku Ketua RW 02 Desa Wantilan sekaligus penanggung jawab budi daya maggot di desa Wantilan.

Peran maggot dalam pengolahan sampah TPS3R sangatlah besar. Kehadiran maggot yang berhasil dibudidaya menjadikan desa Wantilan memiliki pengurai yang dapat mengurai sampah-sampah organik yang menimbulkan bau tidak sedap. Bahkan terdapat keunikan dari lalat BSF yang menghasilkan maggot.

“Lalat BSF itu spesial. Di TPS3R yang kami miliki, tidak ada lalat-lalat yang sampah yang biasanya berkeliaran dan mengganggu. Kami cukup melepas 1-2 lalat BSF  saja, maka lalat sampah yang biasanya memenuhi tempat sampah akan menjauh dan menghilang dengan sendirinya”. Ujan Suparman.

Desa Wantilan pun mendapatkan kunjungan dari akademi keperawatan Gyeongbok serta yayasan Saemaul yang melakukan kunjungan pada 16 Februari 2023 ke TPS3R Desa Wantilan. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka melihat TPS3R serta potensi desa wisata yang dimiliki oleh desa Wantilan. Hadirnya TPS3R di desa Wantilan menggerakan akademi keperawatan Gyeongbok untuk melakukan kunjungan dan pembinaan dalam tata kelola sampah dari segi kesehatan. Akademi keperawatan Gyeongbok pun menyampaikan apresiasi dari segi pemilihan lokasi TPS3R.

“Kami mendapatkan apresiasi dikarenakan lokasi dari TPS3R yang sangat ideal dari segi pemilihan tempat. TPS3R yang kami bangun jauh dari pemukiman warga dan juga memiliki alur limbah yang tertata dengan rapi. Kami pun mendapatkan binaan serta arahan dari Akademi Keperawatan Gyeongbok agar selalu meningkatkan kualitas tata kelola dari TPS3R agar kesehatan warga desa Wantilan tetap terjaga”. Ujar Komaruddin, Kepala Desa Wantilan.

“TPS3R memiliki daya tarik sendiri dari sudut pandang pariwisata. Lokasi yang strategis serta pembangunan yang cepat akan menjadi keuntungan dalam realisasi desa wisata agroindustri. Oleh karena itu kami merasa sangat terbantu dengan adanya para Mahasiswa KKN asal UPI yang memiliki program perancangan desa wisata agroindustri dengan memanfaatkan kondisi desa dan pemaksimalan TPS3R sebagai daya tarik dan ikon desa kami”. Ujar Komaruddin, kepala desa Wantilan.

Komaruddin menyatakan menambahkan bahwa dirinya sangat bangga dengan apa yang terjadi pada desa Wantilan sejauh ini. “Suksesnya TPS3R ini tidak akan terjadi tanpa bantuan warga desa Wantilan dan juga Yayasan Saemaul yang berkenan melakukan bimbingan serta berkontribusi dalam bentuk pembangunan serta bantuannya dalam hal finansial TPS3R. Tidak lupa mahasiswa KKNP UPI juga memiliki program yang selaras dengan visi desa wantilan dalam menjadikan desa wisata wantilan. Saya pun merasa bangga dengan prestasi yang dapat kami capai sejauh ini. Semoga hubungan Desa Wantilan dengan Akademi Keperawatan Gyeongbok dan Yayasan Saemaul dapat terus terjaga dengan baik” (Kontributor Humas UPI/M. Azis S. Hatmoko)

Prof. Dr. Amir Machmud, M.Si  : Program Praktisi Mengajar di dalam Kampus Bermanfaat bagi peningkatan keahlian dan keterampilan mahasiswa didalam kelas.

02 Mar 2023 • Humas UPI

Universitas Pendidikan Indonesia terus menerus meningkatkan capaian program praktisi mengajar di dalam kampus. Program ini merupakan bagian dari program perguruan tinggi dalam mencapai indikator kinerja utama.  Program Praktisi Mengajar didalam kampus diluncurkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan Kebudayaan,Riset, dan Teknologi dalam rangka mendorong kolaborasi aktif antara praktisi ahli dengan dosen Universitas Pendidikan Indonesia dalam berbagi ilmu, keahlian, pengalaman profesionalitas yang mendalam dan bermakna di dunia kerja.

Kriteria capaian Indikator kinerja utama pada Program Praktisi Mengajar diantaranya perhitungan dosen yang sudah berpendidikan Doktor (S3), dosen yang memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui lembaga profesi dan BNSP. Pada program praktisi mengajar Angkatan 1, Universitas Pendidikan Indonesia sudah berkolaborasi dengan 40 praktisi dari  40 perusahaan yang berbeda.

Koordinator Program Praktisi Mengajar UPI Prof. Dr. H. Amir Machmud, SE., M.Si, menjelaskan bahwa Program Praktisi Mengajar Angkatan 1 memberikan dampak dan manfaat yang luas bagi mahasiswa didalam perkuliahan. Para praktisi yang sudah bergabung dengan Universitas Pendidikan Indonesia banyak berbagi pengalaman sebagai praktisi tentang dunia kerja yang sesungguhnya dari mulai teori, praktik dan pengembangan bidang keahlianya.

Saat ini, capaian Indikator Kinerja Utama Universitas Pendidikan Indonesia untuk praktisi mengajar didalam kampus sudah mencapai predikat gold. Sejumlah kebijakan yang telah diluncurkan UPI dalam meningkatkan capaian  Indikator Kinerja Utama 4 ini melalui program pemberian bantuan untuk pendidikan Doktor (S3), memberikan bantuan untuk para dosen mengikuti sertifkasi kompetensi dan profesi. Saat ini, terdapat 50 orang dosen yang akan mengikuti program komptensi dan keahalian.

Selaku Koordinator Program Praktisi Mengajar UPI Prof. Dr. H. Amir Machmud, SE., M.Si bertugas mengkoordinir kegiatan praktisi mengajar khusunya berkaitan dengan  mata kuliah untuk agar bisa berkolaborasi untuk jangka waktu jangka waktu yang pendek selama 2 pertemuan maupun jangka panjang selama bisa 6 pertemuan.

Melalui kolaborasi 40 praktisi ini, Universitas Pendidikan Indonesia telah mencapai target pencapaian indicator kinerja utama 4 praktisi mengajar didalam kampus. Para praktisi yang sudah terlibat didalam program praktisi mengajar didalam kamous Angkatan 1 merasa bangga dan tersanjung serta dihargai oleh Universitas Pendidikan Indonesia. Para praktisi bisa mendapatkan ilmu yang banyak selama interaksi dalam perkuliahan didalam kelas. Para praktisi memiliki ruang untuk berbagai ilmu didunia kerja yang disampaikan didalam kelas perkuliahan serta mendapatkan benefit dengan bertambahkan pengalaman portofolio mengajar dikampus Universitas Pendidikan Indonesia (Yana Setiawan)

Prof. Nunuk Dirjen GTK: Guru Profesional Harus Miliki Paradigma Baru dalam Pembelajaran

28 Feb 2023 • Humas UPI
Dok. TVUPI

Bandung, UPI

“Ketika kembali ke sekolah ataupun akan menjadi guru, para lulusan Program PPG ini benar-benar harus menjadi guru-guru baru, impian semua. Guru-guru baru yang mempunyai paradigma baru dalam pembelajaran yang mengajar berfokus kepada masalah pengajaran, dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL),” kata prof. Nunuk.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., dalam sambutannya pada acara Prosesi Pengambilan Sumpah Profesi Guru di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tahun 2023, Kamis (23/02/2023), mengatakan bahwa Jika kita merujuk pada visi Kemendikbudristek yang menyatakan bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mendukung Visi dan Misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global, menjadi tonggak dasar atas semua perubahan yang kita lakukan.

Dok. TVUPI

Lebih lanjut dijelaskan,”Guru-guru baru adalah guru-guru yang bisa beinovasi terhadap kebutuhan peserta didiknya dan mencari solusi untuk pemecahan masalah-masalah di sekolahnya. Kami bisa melihat di sekolah kondisinya seperti apa, anak-anak didik kita bagaimana, mereka berbeda satu dengan yang lain, sehingga Bapak Ibu Guru lulusan PPG bisa mengimplementasikan Pembelajaran Berdiferensiasi.”

Oleh karena itu, Prof. Nunuk kembali menegaskan bahwa yang kita ingin lahirkan dari Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), sangat diharapkan semua guru lulusan PPG melakukan perubahan. “Perubahan dalam mindset-nya, sehingga sekarang yang kita akan didik dan yang akan kita hasilkan adalah Pelajar Pancasila yang berkarakter. Kalau kita lihat visi yang seperti itu, maka kebijakan yang sekarang diimplementasikan sudah masuk ke epidose 22, sebentar lagi epidose 23 adalah Merdeka Belajar,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, kalau kita ingin melahirkan profil Pelajar Pancasila yang indikatornya adalah karakter, maka tentu kita harus melakukan banyak sekali penyesuaian yang sudah ada sebelumnya.

“Penyesuaian ini dapat dicapai melalui perbaikan pada infrastruktur dan teknologi; kemudian kebijakan, prosedur, dan pendanaan; kepemimpinan, masyarakat, dan budaya; serta kurikulum, pedagogi dan asesmennya,” ungkapnya.

Mengapa kita harus melakukan perubahan? tanyanya. Dikatakannya lebih lanjut, karena yang objektif yang akan kita capai itu berbeda dengan objektif sebelumnya, yaitu mencetak Pelajar Pancasila yang terukur, dan apakah nantinya ketika anda mengajar anak-anak akan menjadi pribadi-pribadi yang pelajar sepanjang hayat, yang Pelajar Pancasila?

Oleh karena itu, lanjut Prof. Nunuk, ini adalah strategi utamanya. Kita menjalankan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan maksud untuk meningkatkan kualitas guru, dan tentunya ini menjadi fokus perhatian kita bersama, lebih dari pada itu, dengan ilmu yang berkualitas, harapannya adalah lulusan-lulusannya pun jadi berkualitas.

Diungkapkan Prof. Nunuk,”Di Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan sendiri, kerangka utama transformasi yang diejawantahkan dalam semua program kita adalah disebut dengan Kerangka Utama Transformasi GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan).”

PPG ini adalah pilar yang kedua dari transformasi yang menjadi penyangga apakah nanti pelajar Pancasila itu dapat terwujud, tanyanya.

Diungkapkannya,”Berikut ini ada bentuk-bentuk transformasi lain, seperti PGP singkatan dari Pendidikan Guru Penggerak, yang sekarang sedang gencar dilaksanakan. Kemudian, ada Balai Guru Penggerak (BGP) yang ada di Jawa Barat, sekarang ada di setiap Provinsi. Berikutnya ada Program Organisasi Penggerak (POP) yang ada sudah terimplementasikan saat ini masuk ke tahun ketiga dan tentu harus dilakukan perubahan atau transformasi Tata Kelola SDM Guru dan Tenaga Kependidikan yang berpusat pada murid, yang sekarang sedang kami kerjakan.”

Objektif Utama kita adalah Pelajar Pancasila, yaitu perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pengembangan SDM unggul harus bersifat holistik dan tidak terfokus kepada kemampuan kognitif saja.

“Pelajar Pancasila indikatornya adalah beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, gotong royong dan kreatif,” katanya.

Mencapai ini tidak mudah, katanya, dengan pola-pola lama yang sudah kita kerjakan selama ini bukan berarti tidak bisa. Tetapi kita akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan Pelajar Pancasila jika tidak ada perubahan, maka diperlukan transformasi untuk seluruh proses pembelajaran kita.

Ditegaskannya kembali,”Kultur budaya, kita sesuaikan kemudian lakukan perubahan asesmen, karena karakter ini juga harus terukur. Inilah strategi holistik kita, yaitu transformasi Pendidikan dan Pelatihan Guru, dengan demikian, ini menjadi fokus kajian kita bersama.”

Diharapkan, lanjutnya, Bapak Ibu Guru yang termasuk dalam 2229 orang yang lulus dan mengikuti prosesi Pengambilan Sumpah Profesi Guru di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tahun 2023 ini sudah berubah semua mindset-nya.

“Saya yakin peta yang diberikan oleh UPI kepada Bapak Ibu Guru pasti cukup, kalau tidak cukup Bapak Ibu tidak akan lulus. Diharapkan, anda menjadi pribadi-pribadi, tokoh-tokoh di dalam sekolah yang benar-benar guru-guru luar biasa, yang sudah berubah mindset-nya, yang benar-benar guru-guru hebat, yang benar-benar mampu mengimplementasikan pembelajaran dan menghasilkan anak-anak kita menjadi Pelajar Pancasila,” pungkasnya. (dodiangga)

Humas UPI Siap Perbaiki Diri

28 Feb 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI

Menanggapi kegiatan Evaluasi Anugerah Diktiristek 2022 serta persiapan Anugerah Diktiristek 2023, Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Deni Darmawan, S.Pd., M.Si., MCE., menjelaskan bahwa dirinya beserta tim Humas UPI terus berupaya untuk memperbaiki prestasi itu secara simultan, karena prestasi itu tidak bisa diraih secara instan.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Humas UPI Prof. Dr. Deni Darmawan, S.Pd., M.Si., MCE., dalam sebuah wawancara usai melakukan Sosialisasi Anugerah Diktiristek Tahun 2023 di Ruang Rapat Gedung University Center, kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Jumat (24/2/2023).

“Upaya konkretnya, kita akan mulai merancang program peraihan kategori pencitraan PTN BH dengan merumuskan program kerja dari setiap Kepala Seksi yang menjadi leading sector-nya. Misalnya di Seksi Hubungan Kelembagaan, itu bagaimana caranya memperbaiki jumlah, konteks, isi dan penyebarluasan dari konferensi pers. Bisa kita adopt dari narasumber Koordinator Umum, Kerja Sama, dan Humas Sesditjen Dikti Kemdikbudristek RI Yayat Hendayana, S.S., M.Si., dan ternyata tidak susah. UPI kaya dengan kampus mengajarnya,” ungkapnya.

Berikutnya, membuat action plan setiap Kasi di Humas yang melakukan komunikasi dengan direktorat-direktorat yang menjadi pemilik data. Direktorat hadir sebagai pendukung data yang bisa kita proses bahan-bahannya untuk dipresentasikan dalam proses penilaian Anugerah Humas PTN BH.

“Kita juga melakukan evaluasi/review, nanti setelah kita membuat karya/produk untuk diikutsertakan di dalam Pemeringkatan Anugerah Humas Dikti ini, kita akan melakukan evalusi yang menghadirkan para pimpinan UPI ditambah dengan menghadirkan fasilitator atau narasumber yang berkompeten,” ujarnya.

Kultur tradisi budaya berprestasi dan berkinerja tinggi ini dengan banyak dinamika yang kita lalui tidak dijadikan rintangan sehingga patah semangat. Kami ingin mewariskan kepada generasi yang akan datang.

“Ini adalah langkah awal merespon dari keseriusan Pimpinan UPI yang memberikan nilai lebih, khusus untuk anggaran pemeringkatan prestasi UPI melalui program Anugerah Humas.

Sebenarnya bukan Anugerah Humas untuk Humas, intinya ada Program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM), pencapaian IKU, dan juga Kedaireka ataupun tren transformasi university menuju era digital,” ungkapnya.

Lebih lanjut Kepala Humas menjelaskan bahwa hal tersebut yang diamanatkan oleh Pak Dirjen sehingga pihaknya sebagai Humas yang menjadi corong untuk memberikan citra dalam konteks berprestasinya PTN BH, melakukan terobosan yang tahun-tahun sebelumnya kita tidak melakukan langkah ini, agar langkah strategis ini menambah poin dan juga menambah pemerkayaan kategori. Karena dari kategori yang kita ikuti di lomba ini ada 6, sementara kita pernah mendapatkan 4 kategori.

“Diharapkan, dengan langkah ini yaitu dengan mengundang fasilitator dari Humas Dikti bisa menambah kategori menjadi genap di tahun 2023 ini sejumlah 6 kategori,” harapnya.

Walaupun berat tapi minimal UPI masuk kategori, dan masuk yang dipanggil naik ke podium, harapnya lagi. Itu kan sangat bergengsi. Kita kemarin sudah menyumbangkan 7 Anugerah Dikti. Mungkin tahun ini kami berharap jadi 12 atau minimal genap jadi 10. Dikatakan Kepala Humas,”Mudah-mudahan ini respon positif, terima kasih atas komitmen Pak Rektor, Pak SU dan juga Wakil-wakil Rektor semua, Direktur Direktorat. Saya harap semua kompak, karena tidak semua Direktur Direktorat itu sama dalam suasana emosional pemeringkatan, dan bahkan ada yang baru bergerak. Alhamdulillah dari BKPK, MSIB kita menang, dari Kemahasiswaan kita meraih anugerah, dari akademik kita meraihnya. Kami, Humas masih menunggu kebersamaan untuk mendapatkan kegenapan dari raihan 12 kategori.” (dodiangga)

Pencarian