English
Indonesia

Sekolah di Tapal Batas

27 Dec 2022 • Humas UPI

Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga jam dari kota Jayapura Papua akhirnya kami tiba di lokasi yang dituju. Yaitu Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mosso, yang terletak di kampung Mosso, distrik Muara Tami, Kota Jayapura Provinsi Papua. Sekolah tersebut merupakan satu di antara beberapa sekolah yang berada di wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua New Guinea (PNG).

Sekolah ini masuk kategori sekolah di daerah 3 T (terdepan, terpencil, tertinggal). Makna Terdepan dalam arti sekolah ini secara geografis merupakan sekolah yang berada di beranda paling depan karena berhadapan langsung dengan negara tetangga. Kata terpencil karena wilayah ini berada di ujung paling timur Papua dengan kondisi lingkungan alam yang terpencil jauh dari hiruk pikuk masyarakat perkotaan. Sedangkan kata Tertinggal dimaknakan bahwa umumnya masyarakat lokal di sekitar itu adalah kelompok masyarakat marginal dengan latar belakang ekonomi dan latar belakang pendidikan yang terbatas pula.
Sekolah di wilayah perbatasan, termasuk SDN Mosso Papua, menarik untuk dikaji dengan dua alasan hal utama.

Pertama, sekolah perbatasan adalah benteng paling depan negara (the guard of nation). Sekolah di perbatasan ini merupakan institusi formal pertama dan utama dalam membina generasi muda untuk cinta bangsa, cinta Tanahair, dan Bela negara. Oleh sebab itu, di tengah dinamika geopolitik antar bangsa yang dinamis, perhatian bagi masyarakat perbatasan menjadi sangat penting dan perlu menjadi urutan prioritas. Mereka adalah kelompok masyarakat yang paling sering bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat negara tetangga, baik untuk kepentingan ekonomi, bisnis, budaya atau interaksi sosial antar etnis. Untuk kasus di wilayah Mosso Papua misalnya, banyak warga setempat yang berniaga, berladang dan “berjodoh” dan melakukan perkawinan silang dengan warga Papua Nugini yang notabene lintas negara.

Kedua, sekolah di perbatasan juga berfungsi dan berperan sebagai garda terdepan pelestari dan penjaga budaya (the guard of culture). Sekolah melalui interaksi akademik dan sistem pembelajaran yang dilaksanakan patut memberikan pengalaman berharga bagi siswa di perbatasan untuk tetap mencintai budaya lokal (genuine culture) dan budaya nasional (national culture) di tengah interaksi sosial dengan masyarakat tetangga yang notabene beda negara. Tradisi dan adat istiadat lokal dan nasional harus tetap terpelihara di tengah tergerusnya identitas nasional karena pengaruh globasasi dan interaksi antar etnis dengan masyarakat negeri jiran. Hal ini bukan hanya terjadi pada sekolah di Papua yang berbatasan dengan negara PNG, tetapi juga terjadi di sekolah yang ada di Kalimantan Barat, Kalimantan Utara ataupun Nusa Tenggara Timur (NTT)) yang berbatasan dengan Timor Leste.

Kasus SD Mosso
Ada yang menarik dari fenomena dan latar belakang siswa di SDN Mosso Papua. Seperti disampaikan Bapak Stepanus Mandowen Kepala SDN Mosso bahwa dari jumlah siswa sebanyak 74 orang, lebih dari 40 % atau sebanyak 34 orang berasal dari orang tuanya yang berjodoh atau melakukan perkawinan silang dengan warga Papua Nugini. Oleh karena orangtuanya berlabel “dwi kewarganegaraan”, frekuensi kunjungan lintas negara ke PNG sering dilakukan. Ketika orangtuanya pergi ke PNG, anaknya ikut pula mendampingi orang tuanya. Hal tersebut menjadikan anak anak bolos sekolah karena mengikuti orangtuanya mengolah kebun di Papua Nugini. Jadi ketidakhadiran siswa di sekolah ini cukup tinggi, karena banyak anak yang ikut membantu orang tua ke ladang atau berkebun di luar negeri dan melewati perbatasan antar negara.

Hal yang sama juga diutarakan bapak Hans Wapofoal, Ketua Komite Sekolah SDN Mosso. Ia masih pengantin anyar, karena baru saja mempersunting gadis cantik jangkung hitam legam warga Papua Nugini. Istri sebelumnya telah meninggal dunia. Menurutnya, kampung Mosso Papua memiliki sejarah panjang tersendiri yang dipengaruhi oleh pergolakan politik lokal yang memaksa warga etnis Mosso suku Nyao harus meninggalkan kampung halaman selama hampir tiga dekade. Jadi warga kami sering warawiri ke Papua Nugini karena mereka punya tanah Adat di sana. Tanah adat ini didapat dari nenek moyang suku mereka, yang menang perang suku. Tanah adat tersebut berupa kebun dengan aneka tanaman yang diperoleh mereka jauh sebelum batas negara Indonesia dan Papua Nugini terbentuk. Dampaknya, sering anak anak yang sekolah di sini terganggu, mereka ikut berminggu minggu bahkan selama hitungan bulan pergi ke ladang di Papua Nugini. Kampung Mosso banyak ditinggalkan warga. Kampung Mossi bukan sebatas entitas administratif belaka, namun kampung Mosso juga erat dengan entitas Adat yang memiliki kepala adat disebut Ondoafi.

Kondisi masyarakat dan sosial budaya dari etnis suku Nyao Mosso ini mempengaruhi ritme belajar anak anaknya. Orang tua pada umumnya tak memberi ruang yang cukup agar anak bisa belajar dengan baik. Untuk usia sekolah dasar saja, anak anak masih dipandang sebagai aset yang bisa membantu orang tua untuk berkebun atau berladang.

Sekolah Korsel – Korut
Kondisi sekolah perbatasan di Korea Selatan menarik untuk juga untuk disimak.
Sekolah Dasar Daesungdong terletak di kampung Taesung di zona Demiliterasi (Demilitarized Zone-DMZ) di Semenanjung Korea. Perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Sekolah ini dianggap sebagai sekolah yang berada di tempat paling berbahaya karena anak anak berada di daerah terdepan konflik Korsel dan Korut, yang sewaktu waktu perang bisa pecah dalam kurun waktu yang cepat. The kids attend a school behind barbed wire on the border of North Korea. Malahan, Presiden Amerika Serikat Bill Clinton ketika pada tahun 1993 berkunjung ke sekolah tersebut menyebut bahwa sekolah Daesungdong sebagai the sacriest place on the Earth Tempat yang paling berbahaya di muka Bumi ini.

Rusia – Ukraina
Hal ysng sama, The Moscow time (2022) melaporkan bahwa semenjak invasi Rusia ke wilayah Ukraina hampir setahun lalu, sejumlah sekolah Rusia yang berbatasan langsung dengan Ukraina ditutup. For the time being, we will limit the work of schools located 5 kms from the border zoon should be closed. Tak ada aktifitas pembelajaran di sekolah di perbatasan Rusia – Ukraina. Guru dan siswa melaksanakan pembelajaran secara dalam jaringan atau online teaching learning activities.

Sekolah India – Pakistan
Sekolah perbatasan di Pakistan – India juga merupakan sekolah yang memiliki resiko rawan konflik. Walau kedua negara memiliki kemiripan etnis, namun konflik berkepanjangan tak pernah henti. Semenjak pemisahan Pakistan dengan India tahun 1947, kedua negara tersebut masih memperdebatkan klaim atas sejumlah wilayah di Kashmir dan pegunungan Gletser.

Turtuk Valley school merupakan salah satu sekolah di wilayah perbatasan India- Pakistan yang cukup unik. Mayoritas penduduk desa Turtuk adalah etnis Baltis yang merupakan keturunan Tibet dan beragama Islam, tetapi mereka bermukim di wilayah India yang umumnya beragama Hindu, dan mereka juga berada di kawasan Ladakh yang masyarakatnya beragama mayoritas beragama Budha – Ladakhi Tibet.
DesaTurtuk awalnya merupakan wilayah Pakistan. Tetapi sejak tahun 1971 tentara India menginvasi desa tersebut dan sampai saat ini India tak pernah mengembalikannya.

Bagaimana proses belajar di Turtuk Valley School?
Seperti dikemukakan Kepala sekolahnya Mrs Sarah Shah (2022) kendati kami berada di wilayah rawan konflik, kami akan berupaya memberi layanan terbaik bagi siswa melalui implementasi kurikulum yang integratif, menyenangkan,dan kontekstual. Learning in Turtuk school is a life long journey that start early years with relevant experience provided in a caring, fun, stimulating learning environment supported by wholistic curriculum of inquire.

Itulah sekilas suasana sekolah di wilayah perbatasan di beberapa negara. Sekolah di perbatasan memiliki tantangan tersendiri. Pengelolaan Sekolah di perbatasan tak cukup hanya dengan membenahi aspek kurikulum dan pembelajaran. Namun lebih patut lebih jauh dari itu. Sekolah di perbatasan adalah penjaga terdepan bangsa. The guard of nation! (Dinn Wahyudin)

SALSA, MAHASISWA PGSD PENJAS FPOK UPI JADI FINALIS PUTERI LITERASI JABAR DAN WAKILI JABAR DI KANCAH NASIONAL

25 Dec 2022 • Humas UPI

Bandung, UPI

Sebuah prestasi yang membanggakan bagi Provinsi Jawa Barat. Salsa Dilla Meisya atau biasa dipanggil Salsa yang berasal dari Kabupaten Bandung Barat berhasil terpilih menjadi Finalis  Puteri Literasi Indonesia 2023, yang diselenggarakan Ikatan Generasi Peduli Literasi Indonesia (Igelenesia).

“Sebuah cara untuk mengembangkan bakat dan pengetahuan di bidang literasi,” ujar mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Pendidikan Jasmani.

Salsa merupakan salah satu pemudi berprestasi sebelumnya pernah menjadi Duta Genre (Generasi Remaja) Kota Bandung tahun 2021.

“Setelah berhasil menjadi finalis saya akan berjuang Kembali untuk Jawa Barat di ajang nasional”, ujar gadis kelahiran Kota Bandung ini.

Salsa berharap agar ia bisa menjadi pelopor, mampu mencerdaskan masyarakat, melestarikan budaya, mengembangkan ilmu pengetahuan literasi dan melayani serta mengantarkan masyarakat menuju kemajuan dan kesejahteraan agar tercapai bangsa yang maju, berpendidikan dan bermoral di Jawa Barat dan di Indonesia.

“Mohon doa nya untuk saya bisa mewakili Jawa Barat di ajang nasional, semoga bisa menjadi juara”, ucap Salsa.

Labschool UPI Raih Banyak Prestasi di Penghujung Tahun

23 Dec 2022 • Humas UPI

Bandung, UPI

Sekolah Laboratorium Percontohan Universitas Pendidikan Indonesia (Labschool UPI) berhasil menorehkan banyak prestasi sepanjang tahun 2022 tidak terkecuali di penghujung tahun 2022. Geliat semangat para siswa dan para guru untuk meraih juara dan beragam penghargaan ditunjukkan dengan baik.

Istimewa

Beberapa penghargaan yang diraih di antaranya oleh Adele Lamrose Rizally siswa kelas 5 SD Labchool UPI Cibiru yang berhasil meraih Juara 1 (Emas) di Kejuaraan Taekwondo Piala Ketua Pengcab TI Kota Bandung 2022 Kategori Kyorugi Super Cadet C Prestasi Putri U46. Sebelumnya Adele juga sempat meraih medali perak di UIN Taekwondo Championship IV yang digelar oleh UKM Taekwondo Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Selain itu, SD Labschool UPI Cibiru juga berhasil menorehkan juara ke-2 Kejuaraan Voly tingkat Provinsi 17-18 Desember 2022 di Banyumas. Raihan ini didapat oleh Firly Intan dan Nikolaus Otto.

Tidak hanya Cibiru, SD Labschool UPI Purwakarta pun berhasil meraih juara 1 Lomba Renang kategori Gaya Dada dalam BCA Sprint Challenge Championship II yang diselenggarakan Bekasi Central Aquatic.

Selain para siswa, Guru SD Labschool Cibiru UPI berhasil meraih penghargaan kategori Guru Kreatif dalam Acer Smart School Awards 2022. Penghargaan ini diraih oleh Putri Siswandari, S.Pd., M.Si.

Tentunya ini menjadi kebanggaan keluarga besar UPI. Semoga SD Labschool dapat meraih prestasi gemilang di tahun 2023 mendatang.

(JN)

Nyiar Luang ti Baduy: FPBS Rayakan Dies Natalis ke-58

23 Dec 2022 • Humas UPI

Bandung, UPI

Foto bersama pimpinan dengan anggota masyarakat Baduy

Kamis, 22/12/2022 Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Dies Natalis ke-58. Pada tahun ini, FPBS mengusung konsep Baduy dengan Tema “Nyiar Luang ti Baduy”.

Para pegawai FPBS ikuti lomba memasukkan paku ke galon

Kegiatan Dies dibuka dengan perlombaan tradisional yang diikuti pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan di FPBS. Beberapa lomba yang dapat diikuti, yakni Oray Naga, Bakiak, Estafet Sarung, dan Paku Botol. Perlombaan dilaksanakan secara berkelompok. Hal ini agar timbul kekompakan di antara pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan di FPBS.

Prof. Dr. Yus Rusyana menyampaikan materi tradisi lisan

Selepas pembukaan kegiatan inti, Prof. Dr. Yus Rusyana menyampaikan materi terkait urgensi tradisi lisan di masa kini. Materi ini ditujukan sebagai mukadimah dari kegiatan Nyiar Luang ti Baduy.

Kegiatan berlanjut dengan penyerahan hadiah juara perlombaan tradisional. Kemudian penyerahan hadiah pegawai berprestasi di tahun 2022. Pegawai yang mendapatkan hadiah penghargaan pegawai berprestasi, yakni:

Kategori Dosen

  1. Dosen Pelopor dan Inspiratif: Prof. Fuad Abdul Hamied, M.A., Ph.D.
  2. Dosen Terekognisi: Didin Samsudin, S.E., M.M.,CHCM.,CIT.
  3. Dosen Terproduktif (Tim Baduy): Eri Kurniawan, M.A., Ph.D.; Hernawan M.Pd; Dr. Retty Isnendes, S.Pd.M.Hum.; dan R. Dian Dia-an Muniroh, S.Pd., M.Hum., Ph.D.
  4. Dosen Berbakat Bidang Non Akademik: Jatmika Nurhadi, S.S., M.Hum.
  5. Indeks Publikasi: Prof. Dr. Didi Suherdi, M.Ed.

Kategori Tendik

  1. Irvan Faisal Lesmana
  2. Nuryaman
  3. Siti Nur Agni
  4. Jenal Alfianta Bangun

Selain untuk memberikan apresiasi, ini ditujukan agar pada tahun 2023 mendatang para pegawai, baik dosen maupun tendik, terus termotivasi untuk meraih beragam prestasi.

Kemudian, kegiatan berlanjut pada acara tradisional Mapag Pimpinan Universitas dengan diiringi angklung buhun Baduy yang dibawakan oleh anggota masyarakat suku Baduy Luar. Kegiatan acara tradisional ini sekaligus sebagai pengantar pembuka acara utama.

Panitia kemudian memutarkan video perjalanan Tim Peneliti Baduy yang diketuai Dr. Eri Kurniawan, M.A. Penelitian ini bermitra dengan Associate Professor Bradley McDonnel dan Associate Professor Michael Ewing, dengan harapan kemitraan ini dapat memelihara kekayaan budaya dan bahasa Baduy yang masih terikat kearifan lokal dan tradisi dari nenek moyang. Eri berpesan agar kepedulian terhadap Baduy dapat terus ditingkatkan, bagi akademisi sendiri khususnya di FPBS, kepedulian salah satunya dapat diwujudkan dengan penelitian atau pengabdian.

Pada kegiatan itu dihadirkan pula Jaro Tanggungan Dua Belas (Pimpinan Baduy) Ayah Saidi Putra. Dalam kesempatan itu Ayah Saidi menyampaikan rasa terima kasihnya pada UPI khususnya Tim Peneliti Baduy karena telah memberikan kepedulian yang besar untuk turut menjaga budaya dan bahasa Baduy.

Kegiatan kemudian berlanjut pada sambutan Dekan FPBS, Prof. Dr. Tri Indri Hardini. Seusai membuka sambutan dengan pantun, Tri mengapresiasi para Tim Peneliti Baduy yang produktif dalam pelaksanaan penelitiannya hingga salah satunya membangun Pojok Baduy. Selain itu, Tri juga menyambut para tokoh masyarakat adat Baduy yang diundang hadir ke FPBS.

Sambutan berikutnya dari Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., dalam kesempatan itu, ia menyebutkan bahwa penelitian Baduy ini merupakan salah satu contoh penelitian yang patut ditiru. Selain berhasil bermitra dengan para ahli di luar negeri, penelitian ini banyak menghasilkan publikasi. Tentunya ini tidak hanya bermanfaat bagi para peneliti, tetapi juga universitas.

Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cindera mata Purna Bhakti pada Drs. O. Solehudin, M.Pd. (Prodi Bahasa dan Sastra Sunda) oleh Dekan.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan didamping Dekan FPBS dalam kegiatan peresmian Pojok Baduy, FPBS

Pada kegiatan Dies kali ini, diresmikan “Pojok Baduy” sebagai komitmen FPBS dalam memelihara kekayaan budaya daerah di Indonesia, khususnya budaya Baduy. Pojok Baduy ini merupakan hasil dari riset yang dilakukan Tim Baduy agar dapat dipelajari secara luas oleh para dosen dan mahasiswa yang tertarik melakukan riset serupa. Peresmian ini secara simbolis ditandai dengan pengguntingan pita oleh Wakil Rektor.

Pojok Baduy sendiri merupakan ruang pameran adat Baduy, di antaranya terdapat replika rumah adat, pakaian adat, peta, dan bahkan media interaktif terkait penelitian Baduy. Untuk sivitas UPI, yang hendak berkunjung Pojok Baduy ini berada di Lantai 4 Gedung, FPBS.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan berdiskusi dengan Tim Peneliti Baduy, Eri Kurniawan (Berbaju Putih), Hernawan (Berbaju Hitam)

Hernawan, salah satu anggota tim peneliti Baduy membeberkan untuk perakitan rumah adat sendiri membutuhkan waktu dua hari. “Bahan-bahannya langsung dibawa dari Baduy dan dirakit juga oleh orang Baduy yang diajak ke sini”.

Selepas kegiatan peresmian, kegiatan inti ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sofyan Sauri.

ASPAPI Sukses Gelar Pelantikan dan Rakernas Periode 2022/2026 di Semarang

19 Dec 2022 • Humas UPI

Asosiasi Sarjana dan Praktisi Administrasi Perkantoran Indonesia (ASPAPI) sukses selenggarakan pelantikan pengurus periode 2022-2026 yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS). Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel UTC Semarang ini berlangsung selama dua hari, yaitu sejak tanggal 17 – 18 Desember 2022. ASPAPI Jawa Tengah bertindak sebagai sponsor utama dengan memberikan dukungan penuh, khususnya terkait dengan tempat penyelenggaraan dan akomodasi seluruh peserta yang hadir.

8


Tema kegiatan ini adalah: “Penguatan Good Governance sebagai Landasan Transformasi ASPAPI di Era Disrupsi.” dan dibuka langsung oleh Ketua ASPAPI Pusat, Bapak Dr. Rasto, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia, didampingi oleh sekretaris jenderal Muh. Darwis, M.Pd., QPOA., CESP. Dari Universitas negeri Makassar yang diawali dengan hantaran kata dari Bapak Sucipto mewakili tuan rumah (ASPAPI Jawa Tengah) yang dilanjutkan oleh Prof. Dr. Tjuju Yuniarsih, SE., M.Pd. mewakili dewan penasehat ASPAPI.
Dalam sambutannya, Sucipto menyambut baik seluruh peserta yang hadir dan menyampaikan terima kasih kepada pengurus ASPAPI Pusat yang telah memberikan kepercayaan kepada ASPAPI Jawa Tengah dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Prof. Tjuju pun dalam sambutannya menyampaikan dukungan yang luar biasa, memberikan motivasi dan semangat untuk terus berkarya dimasa masa yang akan datang. Sementara itu, Rasto sebelum membuka kegiatan juga turut menyampaikan optimisme yang tinggi melalui prinsip kerja bersama (kolaboratif) untuk membangun ASPAPI yang lebih baik ke depan.
Helatan Pelantikan dan Rakernas kali ini terasa sangat istimewa. Di mana, untuk pertama kali selama penyelenggaraan pertemuan nasional, baik Kongres maupun Rakernas, hampir seluruh inisiator dan pendiri, dewan pakar, dewan penasehat, ketua program studi dan para ketua ASPAPI Daerah hadir secara bersama-sama dalam mendukung suksesnya kegiatan ini. Sebagai bentuk apresiasi kepada mereka yang telah banyak berjasa dalam pendirian dan pengembangan ASPAPI, maka kepadanya diberikan penghargaan dalam bentuk ASPAPI AWARD Tahun 2022 dengan berbagai kategori, antara lain kategori inisiator dan pendiri (Muhyadi, Wiedy Murtini, Saliman, Suhirman, Patni Ninghardjanti, Cicilia Dyah Sulistyaningrum Indrawati, M. Farid Sunarto, IGN. Wagimin, Sudaryanto, Bambang Suratman, Ade Rustiana, Heri Ssawiji, Meylia Karu, Purwanto, Jamaluddin, Bangkit Budiarto, Agus Hermawan, Edi Ramon Torong, dan Alm. Syaiful Sagala.
Kategori selanjutnya adalah Pengembang Kerangka Dasar Organisasi ASPAPI diberikan kepada Prof. Muhyadi, Pengembang LSP-AP diberikan kepada Prof. Tjuju, dan Pengembang ASPAPI Daerah diberikan kepada Prof. Hendry. Ketiganya merupakan mantan ketua dan kini menjabat sebagai dewan penasehat ASPAPI Periode 2022-2026. Tidak hanya itu, H.M. Jamil Latief juga turut memperoleh penghargaan berupa kategori Penggerak LSP-AP, Prof. Martono sebagai Duta ASPAPI, dan 2 (dua) ASPAPI Daerah, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Barat yang telah berhasil menjadi penggerak Uji Kompetensi pada wilayah masing-masing juga turut diberi penghargaan.
Pada kesempatan ini pula terbentuk personalia dewan pakar dengan ketua terpilih adalah Prof. Dr. H. Suwatno, M.Si. dari Universitas Pendidikan Indonesia sebagai ketua terpilih dan Bapak Dhidik Apriyanto, SE., M.SI., dari Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat sebagai sekretaris dengan anggota masing-masing adalah para guru besar dalam bidang administrasi perkantoran serta para ketua-ketua program studi PAP anggota ASPAPI. Hasil dari Rakernas ini, memberikan beberapa rekomendasi, antara lain; tersusunnya peraturan organisasi dan berbagai program kerja yang mengarah pada perbaikan tata kelola dan terselenggaranya berbagai program kerja secara terukur yang dapat memberikan kemanfaatan kepada masyarakat secara luas.





Pencarian