UPI Sumedang Jalin Kerja Sama Magang Keperawatan Internasional dengan Perusahaan Jepang
18 Dec 2025 • Humas UPI
Sumedang, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus di Sumedang melalui Program Studi Keperawatan menjalin kerja sama internasional dengan Life Support Yamano, Co., Ltd., perusahaan penyalur tenaga kerja asing ke sektor UMKM di Prefektur Ibaraki, Jepang. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MOA) yang berlangsung pada Kamis (11/12).
Kerja sama ini bertujuan membuka peluang magang internasional bagi mahasiswa Keperawatan UPI Kampus Sumedang sekaligus meningkatkan kompetensi dan daya saing lulusan di tingkat global.
Usai penandatanganan MOA, kegiatan dilanjutkan dengan wawancara seleksi terhadap empat mahasiswa Keperawatan yang diproyeksikan mengikuti program magang di Jepang. Proses seleksi dilakukan langsung oleh pihak Life Support Yamano.
Life Support Yamano menawarkan dukungan menyeluruh bagi peserta magang, mulai dari pendampingan administrasi, bantuan pencarian tempat tinggal, fasilitasi pekerjaan paruh waktu (arubaito), hingga pendampingan pengembangan karier, termasuk peluang remote internship.
Ketua Program Studi Keperawatan UPI Kampus Sumedang menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui praktik lintas budaya dan lingkungan kerja internasional.
Program magang internasional ini diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan keterampilan profesional, kemampuan adaptasi, serta pemahaman sistem kerja kesehatan di Jepang. Selain itu, kerja sama ini memperkuat jejaring internasional UPI dalam pengembangan pendidikan keperawatan.
Melalui kolaborasi ini, UPI Kampus Sumedang menegaskan komitmennya dalam menyiapkan lulusan keperawatan yang siap bersaing di pasar kerja global dan berkontribusi di sektor kesehatan internasional. (RK)
Dosen UPI di Sumedang Songsong Literasi Agama ke Ruang Digital
18 Dec 2025 • Humas UPI
Sumedang, UPI — Di tengah derasnya arus informasi digital, banyak generasi muda mencari jawaban tentang agama lewat gawai di tangan mereka. Namun, tidak semua jawaban yang ditemukan di ruang digital memiliki dasar keilmuan yang kuat. Di sinilah kegelisahan Dr. Tedi Supriyadi, S.HI., M.Ag. bermula—seorang dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang yang melihat jarak semakin lebar antara khazanah keilmuan Islam klasik dan cara belajar generasi digital hari ini.
Literatur keislaman sangat kaya, tetapi tidak selalu mudah diakses atau dipahami oleh mahasiswa. Kitab-kitab rujukan yang selama berabad-abad menjadi fondasi keilmuan Islam kerap terasa jauh dari keseharian mahasiswa yang terbiasa dengan pencarian instan dan interaksi cepat.
Kegelisahan itu kemudian melahirkan sebuah gagasan: bagaimana jika literatur Islam klasik dapat diakses melalui teknologi yang akrab dengan generasi muda?
Ketika AI Bertemu Literasi Keagamaan
Gagasan tersebut diawali melalui proposal penelitian berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Literasi Keagamaan: Integrasi Interaksi Chatbot dan Maktabah Syamilah bagi Pendidikan Islam yang Transformatif”. Proposal ini mengantarkan Dr. Tedi Supriyadi sebagai Penerima Hibah Program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition – The Impact Rankings) UPI Tahun 2025.
Melalui riset ini, Dr. Tedi akan mengembangkan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi langsung dengan Maktabah Syamilah, salah satu perpustakaan digital Islam terbesar di dunia. Integrasi ini memungkinkan pengguna—terutama mahasiswa—berinteraksi secara dialogis dengan sumber rujukan keagamaan yang kredibel, bukan sekadar membaca teks panjang tanpa panduan.
Alih-alih menggantikan peran dosen, chatbot ini dirancang sebagai pendamping belajar. Mahasiswa dapat bertanya, menelusuri konsep, hingga memperoleh rujukan kitab secara cepat dan terstruktur. Teknologi menjadi jembatan, bukan pengganti, antara tradisi keilmuan dan kebutuhan zaman.
Pendidikan Agama yang Lebih Inklusif
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, proyek ini membawa dampak sosial yang nyata. Literasi keagamaan tidak lagi terbatas pada mereka yang memiliki akses fisik ke kitab atau kemampuan membaca teks Arab tingkat lanjut. Dengan bantuan AI, proses belajar menjadi lebih inklusif, interaktif, dan adaptif.
Bagi mahasiswa Kampus UPI di Sumedang, inovasi ini membuka akses yang lebih luas terhadap sumber keilmuan Islam yang otoritatif. Di tengah maraknya informasi keagamaan yang tidak terverifikasi di media sosial, kehadiran sistem berbasis AI yang terhubung langsung dengan rujukan klasik menjadi alternatif yang menenangkan sekaligus mendidik.
Kontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Inovasi ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Dengan memanfaatkan teknologi digital, proyek ini mendorong pembelajaran sepanjang hayat yang lebih merata dan relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui implementasi di lingkungan UPI, riset ini memperkuat posisi universitas sebagai institusi yang tidak hanya mengejar pengakuan global, tetapi juga menghadirkan dampak sosial yang transformatif. Pendidikan agama tidak lagi diposisikan sebagai disiplin yang tertinggal dari teknologi, melainkan sebagai bidang yang mampu berdialog dan tumbuh bersama inovasi.
Menyongsong Era Baru Pembelajaran Agama
Bagi Dr. Tedi Supriyadi, hibah EQUITY 2025 bukanlah garis akhir. Ia memandangnya sebagai langkah awal untuk membangun ekosistem pembelajaran agama yang lebih relevan, kritis, dan membumi di era digital.
Di ruang kelas dan layar gawai, chatbot itu kelak akan menjadi saksi perubahan cara belajar—bahwa memahami agama tidak harus terpisah dari kemajuan teknologi. Dari Sumedang, sebuah upaya kecil tengah bergerak: menyambungkan warisan keilmuan Islam dengan masa depan pendidikan digital, agar literasi agama tetap hidup, relevan, dan memberi arah di tengah perubahan zaman. (RK)
Merawat Laut Lewat Ide: Cerita Mahasiswa UPI di Sumedang di Balik Marine Tourism Festival 4.0
18 Dec 2025 • Humas UPI
Salsabila Karimah, Intan Maryam Abdillah, dan Annisa Dwi Maulisya, meraih Juara 2 di ajang Marine Tourism Festival (MTF) 4.0
Sumedang, UPI — Sekelompok mahasiswa Program Studi Industri Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang mengikuti ajang Marine Tourism Festival (MTF) 4.0, mereka datang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar konsep wisata: kepedulian. Bagi mereka, laut bukan hanya panorama biru yang indah difoto, melainkan ruang hidup yang rapuh dan harus dijaga.
Ketika Wisata Tak Sekadar Jalan-Jalan
Di kategori Package Tourism, tiga mahasiswa angkatan 2023—Salsabila Karimah, Intan Maryam Abdillah, dan Annisa Dwi Maulisya—mempresentasikan paket wisata bahari yang berbeda. Bukan sekadar daftar destinasi dan jadwal perjalanan, melainkan pengalaman yang mengajak wisatawan memahami hubungan manusia dengan laut.
Dalam konsep mereka, wisata bukan hanya soal datang, melihat, lalu pulang. Wisata adalah proses belajar—tentang ekosistem pesisir, tentang masyarakat lokal, dan tentang tanggung jawab untuk tidak meninggalkan jejak kerusakan.
Ide itulah yang akhirnya mengantarkan mereka meraih Juara 2 di ajang nasional tersebut.
“Pariwisata tidak boleh merusak laut yang menjadi daya tariknya,” menjadi pesan yang tersirat dalam setiap penjelasan mereka di hadapan juri.
Cerita yang Bergerak Lewat Layar
Di sudut lain kompetisi, Romy Tri Prastiyo dan Awal Gilang Fawaz memilih medium berbeda. Lewat kategori Vlog, mereka merangkai gambar, suara, dan narasi untuk bercerita tentang potensi wisata bahari Indonesia. Kamera menjadi alat mereka untuk berbicara—tentang keindahan, tetapi juga tentang tanggung jawab.
Video yang mereka sajikan bukan hanya promosi destinasi. Ada pesan yang disisipkan perlahan: bahwa laut bukan sekadar latar belakang konten media sosial, melainkan ruang hidup yang harus dihormati.
Upaya itu membuahkan hasil. Karya mereka mendapat apresiasi juri dan mengantarkan keduanya menjadi juara di kategori tersebut.
Romy Tri Prastiyo dan Awal Gilang Fawaz meraih Juara 2 di ajang Marine Tourism Festival (MTF) 4.0
Proses Panjang di Balik Panggung
Prestasi itu tidak datang dalam semalam. Di balik pengumuman juara, ada malam-malam panjang diskusi, revisi konsep, dan perdebatan kecil tentang detail yang tampak sepele. Ada kegelisahan: apakah ide mereka cukup relevan? Apakah konsep keberlanjutan bisa diterima di tengah industri pariwisata yang sering mengejar jumlah pengunjung?
Namun justru di sanalah pembelajaran terjadi.
Ajang Marine Tourism Festival 4.0 menjadi ruang bagi mahasiswa UPI Sumedang untuk menguji apa yang selama ini mereka pelajari di kelas—tentang pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan etika industri. Teori tidak lagi tinggal di buku, tetapi diuji di hadapan publik.
Belajar Menjaga, Bukan Sekadar Menjual
Lebih dari sekadar kemenangan, partisipasi mahasiswa UPI Sumedang di MTF 4.0 mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap pariwisata. Mereka tidak lagi hanya bicara soal jumlah kunjungan, tetapi juga soal keberlanjutan, konservasi, dan keseimbangan.
Apa yang mereka bawa sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)—khususnya SDG 14 tentang kehidupan bawah laut, SDG 8 tentang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Namun bagi para mahasiswa ini, semua istilah itu berujung pada satu hal sederhana: menjaga laut agar tetap hidup.
Sebuah Awal, Bukan Akhir
Ketika kompetisi usai dan para peserta kembali ke kampus masing-masing, pengalaman di Marine Tourism Festival 4.0 tak serta-merta berakhir. Bagi mahasiswa UPI Sumedang, ajang ini adalah titik awal—bahwa ide yang lahir di bangku kuliah bisa punya dampak nyata.
Di tengah tantangan pariwisata global dan krisis lingkungan, mereka memilih untuk percaya: bahwa pariwisata bisa menjadi jalan merawat, bukan merusak.
Dan dari ruang-ruang kelas kecil di Sumedang, lahirlah gagasan-gagasan besar—tentang laut, tentang masa depan, dan tentang peran generasi muda menjaga warisan yang tak tergantikan. (RK)
Di Ruang Simulasi Itu, Anita Seli Membuktikan Mimpi Menjadi Guru Hebat
18 Dec 2025 • Humas UPI
Sumedang, UPI — Di balik sebuah ruang simulasi mengajar, seorang mahasiswi berdiri tenang, menata suara dan gerak, seolah sedang berada di depan kelas sungguhan. Bagi Anita Seli, momen itu bukan sekadar bagian dari lomba, melainkan perwujudan dari cita-cita yang ia rawat sejak memilih jalan sebagai calon guru sekolah dasar.
Perjalanan itu berbuah manis. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang tersebut berhasil meraih Juara 1 Lomba Simulasi Mengajar (LSM) ke-6 Tingkat Nasional, mengungguli 279 peserta dari 28 universitas di seluruh Indonesia. Sebuah capaian yang tak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga kampus yang membentuknya.
Bagi Anita, kompetisi ini bukan ajang pamer kemampuan semata. Ia melihatnya sebagai ruang belajar—tempat menguji sejauh mana teori yang dipelajari di bangku kuliah mampu diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang hidup, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan siswa sekolah dasar masa kini.
Dalam simulasi mengajarnya, Anita menghadirkan pendekatan pembelajaran modern yang menekankan keaktifan siswa, penguasaan konsep yang mendalam, serta metode yang selaras dengan tuntutan pendidikan abad ke-21. Setiap gerak, pertanyaan, dan interaksi dirancang untuk menciptakan suasana kelas yang inklusif dan efektif.
Penampilan itulah yang membuat dewan juri menilai simulasi mengajar Anita sebagai yang paling unggul—bukan hanya dari sisi teknik, tetapi juga dari segi visi pedagogis.
Prestasi Anita tidak lahir dalam ruang hampa. Di balik keberhasilannya, ada proses panjang dan pendampingan intensif dari para dosen yang membersamainya.
Dr. Cucun Sunaengsih, M.Pd., sebagai Dosen Pembimbing Lomba, berperan mengarahkan strategi pembelajaran dan penyusunan perangkat ajar. Popon Rohaeti, M.Pd., sebagai Dosen Praktisi, memberi sentuhan realistis agar simulasi mengajar tetap membumi dan aplikatif. Sementara Dr. Maulana, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Akademik, memastikan Anita tetap menjaga keseimbangan antara kompetisi dan kewajiban akademik.
Kolaborasi tersebut mencerminkan ekosistem pembelajaran di UPI Kampus Sumedang—di mana mahasiswa tidak berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama bimbingan yang terarah dan berkelanjutan.
Kemenangan ini bukan titik akhir bagi Anita. Justru sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa menjadi guru adalah pilihan hidup yang menuntut kesiapan intelektual, emosional, dan moral.
Prestasi ini juga memiliki makna lebih luas. Model pembelajaran yang dipresentasikan Anita sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya pendidikan inklusif, bermutu, dan berkeadilan. Dalam konteks itu, keberhasilan Anita bukan hanya kemenangan individu, tetapi juga kontribusi nyata terhadap masa depan pendidikan Indonesia.
Bagi UPI Kampus Sumedang, prestasi ini menegaskan komitmen institusi dalam mencetak calon guru profesional—mereka yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga siap menjadi agen perubahan di ruang kelas nyata.
Di ruang simulasi itu, Anita Seli telah membuktikan satu hal penting: bahwa mimpi menjadi guru hebat bukanlah angan-angan. Dengan proses, pendampingan, dan ketekunan, mimpi itu bisa berdiri tegak—mengajar, menginspirasi, dan memberi harapan bagi generasi masa depan. (RK)
IKAPEN UPI Perkuat Spiritual dan Wawasan Sejarah di Mupenas
18 Dec 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI
Ikatan Pensiunan Universitas Pendidikan Indonesia (IKAPEN UPI) menyelenggarakan rangkaian kegiatan bertajuk “Geliat IKAPEN UPI 2025” yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Agenda ini mengombinasikan penguatan nilai spiritual melalui siraman rohani dan pelestarian nilai historis lewat kunjungan ke Museum Pendidikan Nasional (Mupenas) UPI.
Kegiatan diawali dengan sesi Siraman Rohani yang bertempat di Aula Masjid Al-Furqon UPI. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Mulyana Abdullah, M.Pd.I. hadir memberikan tausiyah dengan tema “Makhluk-makhluk Pilihan Allah” sebagai sarana refleksi dan penguatan mental bagi para pengurus serta anggota pensiunan.
Usai memperdalam aspek spiritual, rombongan IKAPEN UPI melanjutkan agenda dengan mengunjungi Museum Pendidikan Nasional (Mupenas) UPI. Kunjungan ini diterima langsung oleh Kepala Mupenas UPI, Prof. Dr. Lelly Yulifar, M.Pd.
Ketua IKAPEN UPI, Drs. Abdurachman Widjajapradja, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari program kerja resmi tahun 2025. Tujuannya adalah untuk memperluas cakrawala para anggota mengenai perjalanan panjang pendidikan di Indonesia.
“Kunjungan ke Mupenas ini bertujuan menambah pengetahuan anggota mengenai sejarah pendidikan nasional, mulai dari era penjajahan hingga masa kini. Selain itu, kami juga ingin para anggota mengenal lebih dalam sejarah Villa Isola yang merupakan ikon utama kampus kita,” ujar Abdurachman.
Menariknya, kunjungan ini menjadi pengalaman pertama bagi sebagian besar anggota IKAPEN UPI. Meskipun telah mengabdi selama puluhan tahun di universitas tersebut, banyak di antara mereka yang belum sempat mengunjungi Mupenas secara mendalam saat masih aktif bertugas.
Melalui rangkaian kegiatan ini, IKAPEN UPI berkomitmen untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan produktivitas para pensiunan. Selain memperkuat nilai religius, pemahaman terhadap nilai historis Villa Isola dan sejarah pendidikan diharapkan dapat meningkatkan rasa bangga terhadap identitas institusi yang pernah menjadi tempat mereka mengabdi. (DN)