English
Indonesia

EduChild Forum 2025 Hadirkan Gagasan Besar Literasi Digital Berkarakter Profetik untuk Anak Usia Dini

11 Dec 2025 • Humas UPI

Purwakarta, UPI

Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Kampus Purwakarta untuk pertama kalinya menyelenggarakan EduChild Forum di tahun 2025 dengan mengusung tema “Membangun Literasi Digital Anak Usia Dini yang Cerdas, Beretika, dan Berkarakter Profetik di Tengah Perkembangan Teknologi”. Senin, (8/12).

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi ilmiah dan edukatif yang dihadiri oleh dosen, mahasiswa, dan praktisi PAUD untuk memperkuat pemahaman mengenai tantangan dan peluang perkembangan anak di era digital.

Gagasan acara yang muncul dari keresahan diskusi di kelas pada mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak yang diampu oleh Dr. Idat Muqodas, M.Pd., Kons. berkaitan dengan permasalahan pembentukan karakter, perkembangan zaman yang banyak dipengaruhi oleh era digital, dan nilai-nilai profetik yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dalam sambutannya, Dr. Idat menegaskan bahwa dalam pendidikan PAUD, keberhasilan bukan diukur dari nilai akademik, melainkan dari pencapaian perkembangan yang tercermin melalui karakter anak. “Pembentukan karakter pada era digital tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi yang menuntut keterampilan literasi digital. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga menjadi landasan pembentukan karakter profetik dalam konteks pendidikan,” ujarnya. Dr. Idat juga menambahkan bahwa Educhild Forum kali ini menghadirkan bahasan komprehensif dari para ahli dibidangnya, sehingga menjadi momen penting bagi mahasiswa dan pendidik PAUD.

Educhild Forum 2025 diawali dengan penyampaian gagasan utama Ketua Program Studi PGPAUD UPI Purwakarta, Dr. Asep Kurnia Jayadinata, M.Pd., sekaligus sebagai Keynote Speaker dengan materi bertajuk “Dari Purwakarta untuk ASEAN 2025: Mendidik Manusia Digital yang Berkarakter Profetik.” Beliau menyoroti urgensi membangun generasi yang mampu beradaptasi dengan teknologi namun tetap menjunjung nilai-nilai moral, spiritual, dan kebajikan sosial. Kondisi ini sangat penting untuk ditanamkan sejah usia dini.

Pada kesempatan EduChild Forum ini, Prof. Dr. Mubiar Agustin, M.Pd. sebagai narasumber yang juga ketua program studi Magister Psikologi Pendidikan SPs UPI menyampaikan materi “Prophetic Education: Meneladani Nabi dalam Mendidik Anak supaya Saleh dan Salehah.” Ia menekankan pentingnya nilai kasih sayang, keteladanan, dan kebijaksanaan dalam pendidikan anak usia dini, terutama ketika berhadapan dengan arus digitalisasi yang begitu cepat. Tentu dengan keteladanan Nabi Muhammad SAW, pembentukan karakter anak usia dini dapat diintegrasikan dalam perkembangan zaman, tentu dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang saat ini semakin masif di tengah-tengah masyarakat.

Senada dengan Dr. Asep Deni Gustiana, M.Pd., sebagai narasumber kedua mengangkat topik “Literasi Berbasis TPACK pada Anak Usia Dini.” Yang menekankan bagaimana integrasi teknologi, pedagogi, dan konten dapat diterapkan secara tepat untuk mendukung perkembangan literasi digital pada anak usia dini, tanpa mengabaikan aspek tumbuh kembang anak dan keselamatan digital. Nilai-nilai karakter dan profetik dapat berintegrasi pada prosesnya, sehingga teknologi, karakter, dan profetik menjadi satu kesatuan yang membentuk generasi tangguh di masa yang akan datang.

Kegiatan yang berlangsung di Kampus UPI Purwakarta ini dihadiri oleh guru-guru dan praktisi PAUD, mahasiswa dan dosen PGPAUD dari berbagai daerah. Antusiasme peserta terlihat dari interaksi aktif selama sesi diskusi, yang membahas implementasi literasi digital profetik dalam lingkungan pendidikan anak usia dini.

Melalui EduChild Forum 2025, PGPAUD Kampus Purwakarta berharap dapat memperkuat kontribusi akademik dan praktik pendidikan dalam mempersiapkan generasi muda yang cerdas digital, beretika, dan berkarakter profetik, sejalan dengan perkembangan teknologi global dan kebutuhan dunia pendidikan masa depan. (IM23)

KSR PMI UPI Sukses Kumpulkan 239 Labu Darah dalam Aksi ‘Run for Life, Save a Life’

11 Dec 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sukses menggelar Aksi Donor Darah 2025 dengan nuansa berbeda yang mengusung tema kepedulian terhadap penyintas thalasemia. Berlangsung selama dua hari, 22–23 November 2025, di Gor Saparua, Bandung, kegiatan bertajuk “Run for Life, Save a Life” ini berhasil mengumpulkan total 239 labu darah.

Aksi ini tidak hanya berfokus pada donor darah rutin, tetapi juga mengangkat thalasemia sebagai isu utama. Indonesia dikategorikan sebagai “sabuk thalasemia” dengan kasus thalasemia mayor yang membutuhkan transfusi darah intensif dan berkepanjangan.

Pembimbing KSR PMI Unit UPI, dr. Setyo Wahju Wibowo, M.Kes., menyampaikan harapannya dalam sambutan pembukaan yang dihadiri oleh perwakilan dari PMI Kota Bandung, Kakesdam III/Siliwangi, dan Dandim.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan darah yang terkumpul dapat terserap dan memberikan manfaat bagi sesama, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi sesama,” ujar dr. Setyo Wahju Wibowo.

Sementara itu, Ketua Bidang Kebencanaan dan Kerelawanan PMI Kota Bandung, Ace Kusnadi, menegaskan bahwa kegiatan donor darah merupakan tugas tambahan mulia untuk menolong sesama.

Rangkaian kegiatan Aksi Donor Darah 2025 diisi dengan berbagai acara, di antaranya Talkshow Thalasemia: Menghadirkan dua thalassemia survivor dari Komunitas Thalassemia Movement yang berbagi pengalaman perjuangan mereka, termasuk kebutuhan transfusi darah rutin setiap bulan seumur hidup. Tujuan talkshow ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya donor darah. Lari Bersama (Fun Run): Diadakan pada hari kedua di Saparua, memberikan nuansa kebugaran dan kesehatan. Penampilan Talent: Turut memeriahkan suasana bagi para pendonor. Dan Donor Darah: Kegiatan utama yang bekerja sama dengan UDD PMI Kota Banjar dan UDD PMI Kabupaten Subang.

Selain pengumpulan 239 labu darah, KSR PMI Unit UPI juga membuka open donation peduli thalasemia selama periode promosi dan kegiatan. Donasi yang terkumpul berhasil mencapai Rp690.000, yang kemudian disalurkan kepada Komunitas Thalassemia Movement pada hari terakhir kegiatan.

Kegiatan ditutup pada hari kedua dengan kehadiran Dr. Angga Hadiapurwa, M.I.Kom. (Dosen Pembimbing KSR PMI Unit UPI) dan sambutan penutupan oleh Ace Kusnadi (PMI Kota Bandung), A. Agung Pranata (PMI Kecamatan Sukasari), dan Kolonel Ckm dr. Shohibul Hilmi SP.OT (K) M.I.P. (Kakesdam III/Siliwangi).

KSR PMI Unit UPI menyampaikan terima kasih kepada seluruh pendonor, sponsor serta seluruh pihak yang berkontribusi, dengan harapan kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan kebiasaan positif untuk donor darah. (Kontributor: Aida Fitria/Dokumentasi: Divisi  PDD ADD 2025)

UPI dan BBGTK Selenggarakan Seminar Pendidikan Bagi Calon Guru

11 Dec 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat menyelenggarakan Seminar Pendidikan Calon Guru sebagai upaya memperkuat kesiapan mahasiswa dan alumni dalam memasuki program Pendidikan Profesi Guru (PPG), Rabu (10/12). Dilaksanakan di Auditorium Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, seminar ini mengangkat tema besar “Peran dan Kesiapan Calon Guru dalam Pemenuhan Tenaga Pendidik Profesional di Era Transformasi Pendidikan”.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Prof. Dr. Asep Herry Hernawan, M.Pd. (Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (Prodi PPG), Sekolah Pascasarjana UPI), Shintia Ira Claudia, S.Pd. (Direktorat PPG Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia), dan Tatang Kurniawan, S.T., M.Pd. (BBGTK Jawa Barat). Salah satu alasan mendasar kegiatan ini diselenggarakan adalah kebutuhan guru yang terus meningkat pada tingkat nasional. Profil lulusan utama para pendidik potensial di lingkungan UPI dari mahasiswa aktif dan alumni perlu mendapatkan gambaran informasi PPG yang memadai serta memberikan inspirasi adalah alasan lain dari kegiatan ini. Ketua Prodi PPG menyampaikan harapan positif atas gelaran seminar ini.

“Kita berharap para mahasiswa yang potensial menjadi guru semakin terdorong untuk mendaftar ke PPG. PPG itu perlu calon-calon potensial dari UPI untuk menyiapkan guru masa depan,” sambut Prof. Asep.

Ketua Prodi PPG menambahkan bahwa kolaborasi UPI bersama dengan BBGTK Jawa Barat punya andil yang penting. UPI memiliki potensi kontribusi yang besar dari penyelenggaraan PPG sebagai peserta. Pada bagian lainnya, Prof. Asep menambahkan bahwa PPG UPI dapat diisi oleh para alumni UPI. Kebijakan nasional yang saat ini berlaku semestinya menjadi potensi yang dapat dimaksimalkan para alumni UPI terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan guru.

Pernyataan seputar kebijakan nasional ini turut diamini oleh Kusdiantoro Wijaya, S.Pd., M.Kom., Ketua Administrasi Profesi Guru BBGTK Jawa Barat. Paparan Kusdiantoro mengungkap bahwa pada tahun 2024 dan 2025 merupakan masa transisi penyelesaian sertifikasi guru melalui PPG Guru dalam Jabatan. Hal tersebut akan berbeda dengan situasi antara tahun 2025 dan 2026, mengingat pemerintah akan berfokus pada kuota PPG Calon Guru.

“Untuk PPG Calon Guru, kuota tahun 2025 akan diperbanyak. Tahun 2026 pemerintah meningkatkan kuotanya jauh lebih besar,” ujar Kusdiantoro.

Kusdiantoro menambahkan bahwa kuota aparatur sipil negara melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja telah terserap oleh guru honorer yang telah mengajar. Kondisi ini memungkinkan terjadinya ruang gerak bagi calon guru yang relatif terbatas. Kuota ini diharapkan kemudian akan semakin terbuka dan bahkan dapat dijangkau oleh lulusan PPG Calon Guru, sembari perlu diperhatikan jumlah yang akan pensiun di masa mendatang.

UPI dan BBGTK Jawa Barat pada akhir sesi memberikan gambaran untuk memperkuat dan menegaskan komitmen untuk memberikan persiapan yang kuat bagi para calon guru profesional. Peluang yang besar di masa depan melalui PPG adalah kesempatan emas yang dimiliki oleh setiap alumni dan mahasiswa UPI.
“Talenta-talenta muda dari UPI harus mempersiapkan diri untuk mengisi ruang kosong kebutuhan guru di seluruh Nusantara, pungkas Kusdiantoro. (Kontributor KKIPP UPI: Putri – Caraka Muda/Edit: Endriski)

Membanggakan! UPI Tambah 8 Guru Besar di Penghujung 2025

11 Dec 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mendapat kabar gembira di akhir tahun 2025. Delapan orang dosen mendapatkan Surat Keputusan (SK) Guru Besar pada bidang kepakarannya masing-masing. Rabu (10/12), Prof. Dr. Didi Sukyadi, MA., Rektor UPI bersama dengan Ketua Senat Akademik UPI, Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Si. dan Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UPI Prof. Dr. H. Dadang Sunendar, M.Hum. menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian besar ini di Gedung Partere, Kampus UPI Jln. Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung.

Turut mendampingi Rektor UPI dan hadir dalam kegiatan, masing-masing Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI, Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., Kepala Biro Sumber Daya Manusia UPI, Panji Nurul Fath, S.T., M.M. dan Kepala Seksi Komunikasi dan Media KKIPP UPI, Dr. Angga Hadiapurwa, M.I.Kom., para guru besar baru dan segenap dekan dan/atau wakil dekan dari fakultas para guru besar baru.

Dalam sambutan pembukanya, Rektor UPI menyampaikan rasa suka cita atas capaian ini. Kebahagiaan atas pencapaian para guru besar baru ini tidak hanya dimiliki oleh Universitas, turut serta berbahagia bersama adalah pada civitas academica dan keluarga masing-masing guru besar.

“Bapak dan Ibu, kita semua menantikan momen ini. Melalui perjalanan yang panjang, akhirnya kita mendapat kabar gembira pada hari ini surat yang kita nantikan telah datang. Kebahagiaan ini tidak hanya milik Bapak dan Ibu Guru Besar, Universitas dan keluarga turut merasakan kebahagiaan dan kebanggaannya,” sambut Prof. Didi.

Senada dengan Rektor, Ketua Senat Akademik UPI turut berbangga atas pencapaian ini.

“Sebagai salah satu unsur yang mempertimbangkan calon guru besar, kami sangat yakin pengajuan yang telah melalui kami ditandai dengan seluruh persyaratan yang lengkap. Tantangan yang kita hadapi berupa perubahan rubrik penilaian dan hal-hal lainnya menambah semangat kami untuk mendukung capaian tambahan guru besar seperti yang kita dapati hari ini,” tambah Prof. Yadi.

Saat ini, dengan tambahan para guru besar baru, UPI mencatatkan 248 guru besar dalam direktori kepakarannya.

Adapun para guru besar baru yang mendapatkan surat keputusan pengangkatan guru besar, antara lain:

  1. Prof. Dr. H. Zainal Arifin, M.Pd. – Guru Besar Bidang Ilmu Evaluasi Kurikulum pada Fakultas Ilmu Pendidikan;
  2. Prof. Dr. Wawan Darmawan, S.Pd., M.Hum. – Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Buku Teks Sejarah pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial;
  3. Prof. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D. – Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik Fungsional pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra;
  4. Prof. Dr. Andoyo Sastromiharjo, M.Pd. – Guru Besar Bidang Ilmu Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Produktif Bahasa Indonesia pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra;
  5. Prof. Dr. Jarnawi Afgani Dahlan, M.Kes. – Guru Besar Bidang Ilmu Model, Strategi, Metode, dan Pendekatan dalam Pembelajaran Matematika pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam;
  6. Prof. Dr. rer. nat. H. Asep Supriatna, M.Si. – Guru Besar Bidang Ilmu Kimia Berkelanjutan pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam;
  7. Prof. Dr. Indra Mamad Gandidi, S.T., M.T. – Guru Besar Bidang Ilmu Konversi dan Konservasi Termo-Kimia pada Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri; dan
  8. Prof. Dr. H. Nanang Supriatna, S.Sen., M.Pd. – Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Musik Tradisi pada Fakultas Pendidikan Seni dan Desain.

Menaruh Harapan pada Para Guru Besar Baru

Rektor menambahkan bahwa capaian ini adalah buah dari perjuangan panjang dan penuh dukungan dari semua pihak di semua tahapnya. Peningkatan jumlah guru besar adalah tambahan energi yang amat berarti dalam catatan sumber daya manusia pada suatu perguruan tinggi. Rektor mengungkapkan harapan bahwa jumlah tidak menjadi satu-satunya pencapaian, peningkatan kualitas dari masing-masing individu guru besar akan mencerminkan baiknya publikasi ilmiah UPI ke depan.

Produktivitas menjadi kata kunci yang disampaikan berikutnya oleh Rektor UPI, produktivitas publisitas karya ilmiah, melakukan bimbingan mahasiswa dan kegiatan kemahasiswaan dapat lebih semarak dengan ‘turun gunung’nya para guru besar.

Mengambil istilah yang digunakan Ketua Senat Akademik UPI, capaian besar ini memiliki tanggung jawab yang besar. Para guru besar seharusnya dapat menjadi academic leader, menonjol pada bidang-bidang keilmuannya, melahirkan pengetahuan baru, dan memberi manfaat bagi ibu pertiwi.

Kelompok keahlian dapat juga menjadi legacy para guru besar, menurut Prof. Yadi inilah salah satu peran penting guru besar dalam membina para dosen muda: membangun kaderisasi kelimuan. Tanggung jawab moral tidak kalah pentingnya, Ketua Senat Akademik mengingatkan kembali terkait dengan integritas akademik para dosen agar menjadi teladan bagi segenap civitas academica. Tanggung jawab moral turut ditekankan oleh Ketua Dewan Guru Besar UPI.

“Salah satu tugas utama guru besar itu adalah menjaga moral dan etik guru besar. … Dalam kaitan dengan karya ilmiah yang ditunggu dari para guru besar, peningkatan produktivitas kita harus sejalan dengan moral dan etik itu,” sambung Prof. Dadang Sunendar.

Ketua DGB UPI menyampaikan bahwa ke depan pengusulan guru besar akan semakin ditingkatkan kembali dari sisi penguatan mutu internalnya, hal ini dapat sangat bermanfaat untuk menghindari risiko berat yang dapat saja ditemukan di kemudian hari. Melalui prosedur yang sesuai, tidak mungkin usulan guru besar mendapatkan kendala.

Pada bagian akhir, perwakilan dari guru besar baru, Prof. Dr. H. Nanang Supriatna, S.Sen., M.Pd. dari Fakultas Pendidikan Seni dan Desain menyampaikan ucapan terima kasih. Capaian ini menurutnya tidak mungkin adalah capaian pribadi semata, dukungan banyak pihak menjadi pendorongnya. Refleksi Prof. Nanang berfokus pada bagaimana sosok yang diharapkan dari guru besar yang ideal.

“Guru besar adalah sosok yang mengembangkan Tridharma Perguruan Tinggi. Melakukan pembelajaran yang bermakna, melakukan penelitian yang berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta pengabdian masyarakat yang berdampak,” pungkas Prof. Dr. Nanang. (EA)

144 Mahasiswa Internasional UPI Pelajari Batik Megamendung di The 6th FPEB International Day

10 Dec 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Sebanyak 144 mahasiswa internasional dari tujuh negara antusias mengikuti Workshop Batik Megamendung yang menjadi kegiatan inti dalam perayaan The 6th FPEB International Day 2025. Edu Heritage Center Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bertindak sebagai motor utama yang memfasilitasi pengalaman budaya mendalam ini.

Acara yang merupakan hasil kerja sama dengan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) UPI ini berlangsung meriah pada Selasa (9/12/2025) di Area Terbuka & Lobi FPEB UPI Kampus Bandung. Kegiatan ini mengangkat tema “Unity in Diversity: Celebrating Global Friendship through Art, Culture, and Food.”

Dekan FPEB UPI, Prof. Ratih Hurriyati, M.P., menyoroti antusiasme peserta. “Pelaksanaan International Day sekarang menjadi lebih bermakna karena diikuti oleh 144 international student yang berasal dari Uzbekistan, Tajikistan, Tiongkok, Togo, Ghana, Tanzania, dan Nigeria,” ujarnya.

Sebagai pusat yang berkomitmen pada pelestarian budaya, Edu Heritage Center menempatkan Workshop Batik Megamendung sebagai agenda utama, memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa asing untuk mengenal pola ikonik khas Cirebon.

Kegiatan membatik ini merupakan hasil sinergi antara Edu Heritage Center, FPEB, dan Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD). Dukungan teknis membatik juga diperkuat oleh kontribusi dari SMKN 14 Bandung, Program Studi Pendidikan Tata Busana, dan Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang turut mendampingi proses teknis, desain, hingga praktik membatik para mahasiswa internasional.

Founder Edu Heritage Center, Prof. Dr. Isma Widiaty, S.Pd., M.Pd., yang didukung oleh Co-Founder Dr. Suciati, S.Pd., M.Ds., menjelaskan bahwa pusat yang mereka dirikan telah menjadi rumah riset dan kreativitas batik selama lebih dari satu dekade.

“Workshop membatik bagi mahasiswa asing ini sudah kami selenggarakan untuk keempat kalinya. Antusiasme mereka selalu tinggi, dan ini menunjukkan daya tarik kuat budaya batik sebagai jendela untuk mengenal Indonesia,” jelas Prof. Isma.

Produk-produk hasil riset dan kreativitas dari Edu Heritage Center—mulai dari batik, ikat kepala khas Sunda, obi belt, tumbler, hingga kaos—dikembangkan sebagai suvenir khas UPI sekaligus menjadi bagian dari inkubasi bisnis yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni.

Selain workshop batik, perayaan The 6th FPEB International Day 2025 turut dimeriahkan dengan Permainan dan Kompetisi Tradisional, Pertunjukan Budaya dan Festival Kuliner Internasional.

Melalui peran sentralnya dalam kegiatan ini, Edu Heritage Center meneguhkan posisinya sebagai penggerak utama pelestarian budaya Jawa Barat dan sebagai jembatan yang mempererat hubungan Indonesia dengan komunitas global melalui seni dan kreativitas. (DN)

Pencarian