English
Indonesia

Rektor UPI Sampaikan Masukan Terkait RUU Sisdiknas dalam RDP Bersama Komisi X DPR RI

09 Dec 2025 • Humas UPI

Jakarta, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI terkait pembahasan penyusunan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (8/12). RDP ini merupakan forum resmi antara Komisi X DPR RI dan perwakilan Forum Rektor Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri (LPTKNI) untuk memberikan masukan strategis terhadap rancangan regulasi sistem pendidikan nasional.

UPI sebagai salah satu tim perumus rekomendasi terkait RUU Sisdiknas melalui Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan sejumlah poin strategis yang berkaitan dengan penguatan sistem pendidikan nasional, terutama dalam bidang pendidikan profesi guru, tata kelola pendidikan tinggi, dan perlindungan tenaga pendidik di hadapan pimpinan dan anggota Komisi X DPR RI.

Dalam paparannya, Rektor UPI menegaskan perlunya model Pendidikan Profesi Guru (PPG) Terintegrasi, yaitu desain pendidikan calon guru yang menggabungkan program sarjana kependidikan dengan program profesi secara paralel untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap mengajar.

UPI menilai pendekatan terintegrasi memungkinkan penyederhanaan tahapan pendidikan calon guru sekaligus memastikan kompetensi, pengalaman lapangan, dan sertifikasi guru sesuai dengan standar mutu nasional.

“Selama ini model terintegrasi sudah diterapkan di LPTK dan terbukti menghasilkan guru profesional. Karena itu, kami merekomendasikan agar konsep ini masuk ke dalam pasal RUU agar kepastian hukum dan pengembangan kualitas guru lebih terjamin,” papar Prof. Didi dalam presentasinya.

Ia juga menyoroti implementasi anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen yang selama ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan asas pemerataan dan keberlanjutan pendidikan. Usulan yang disampaikan menekankan perlunya kejelasan skema pendistribusian anggaran bagi satuan pendidikan di semua jenjang, termasuk perguruan tinggi.

Selain itu, RUU Sisdiknas dinilai perlu mempertegas kerangka hukum dan tata kelola Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), termasuk ruang otonomi akademik dan non-akademik agar tetap sejalan dengan prinsip akses pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Isu lain yang disoroti UPI ialah perlindungan tenaga pendidik, termasuk guru honorer dan tenaga kependidikan.

Data yang dipaparkan menunjukkan masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru honorer dengan sekitar 74 persen menerima upah di bawah standar UMK, serta meningkatnya kasus kekerasan dan kriminalisasi terhadap guru di lingkungan pendidikan.

UPI merekomendasikan penegasan pasal yang melindungi profesi guru dan tenaga pendidik, termasuk aspek kesejahteraan, perlindungan hukum, dan sistem karier.

Melalui forum RDP ini, UPI menegaskan komitmennya untuk terus berperan dalam penyusunan kebijakan Sisdiknas berbasis riset, pengalaman penyelenggaraan pendidikan guru, dan praktik terbaik pendidikan tinggi. (RK)

Mahasiswa UPI Edukasi Siswa SD tentang Pencegahan Stunting Melalui Permainan “Stunting Detective”

09 Dec 2025 • Humas UPI
Peserta didik SDN Nagrak II mengikuti permainan edukatif “Stunting Detective” Sabtu, 1 November 2025.

Sumedang, UPI — Mahasiswa Kelompok 20 Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) Prodi PGSD Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan melalui permainan “Stunting Detective” di SDN Nagrak II, Desa Panyindangan, Sabtu (1/11). Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 4A, 4B, 5, dan 6.

Program ini dirancang sebagai media pembelajaran interaktif untuk mengenalkan pola hidup bersih, gizi seimbang, dan langkah pencegahan stunting sejak dini. Permainan disusun dalam bentuk tantangan pos yang berisi tugas edukatif terkait pola makan sehat serta perilaku hidup bersih dan sehat.

Terdapat tiga pos utama dalam permainan, yaitu menyusun gambar kebiasaan baik dan buruk, permainan Isi Piringku untuk mengenalkan komposisi makan sehat, serta pos PHBS yang berfokus pada praktik mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan. Kelompok tercepat yang berhasil menyelesaikan seluruh misi dinyatakan sebagai pemenang.

Bapak Lili Hidayat selaku kepala sekolah SDN Nagrak II menilai metode permainan tersebut efektif memperkenalkan konsep kesehatan kepada siswa.

“Anak-anak jadi lebih mudah memahami apa itu stunting dan bagaimana mencegahnya. Belajar lewat permainan membuat mereka aktif dan antusias,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian edukasi kesehatan yang dilaksanakan mahasiswa UPI sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan stunting di Desa Panyindangan.

Melalui program ini, mahasiswa berharap pemahaman siswa mengenai kesehatan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan diteruskan ke lingkungan keluarga. (RK)

Kontributor KKIPP UPI: Silvia Nurshobah Nasution/ Mahasiswa P2MB Kelompok 20 Kampus UPI di Sumedang

Program DASHAT Berikan Edukasi Makanan Sehat bagi Ibu Hamil dan Balita di Desa Panyindangan

09 Dec 2025 • Humas UPI
Ibu Kepala Desa Panyindangan bersama Ketua KB Desa saat menyerahkan makanan bergizi kepada orang tua balita dalam kegiatan Program DASHAT di Desa Panyindangan, Jumat (7/11)

Sumedang, UPI — Mahasiswa Kelompok 20 Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) PGSD Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang melaksanakan program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) di Desa Panyindangan, Jumat (7/11). Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Kader RW 02 dan ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat dalam pencegahan stunting.

Program ini diikuti oleh kader desa, ibu-ibu PKK, Ketua KB Desa, serta Bidan Desa. Kegiatan diawali dengan memasak menu sehat menggunakan bahan pangan lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi ibu hamil, balita, dan batita.

Setelah sesi memasak, kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan tentang pentingnya pemenuhan gizi seimbang. Materi disampaikan oleh Bidan Desa dan Ketua KB Desa yang menekankan edukasi mengenai pemilihan bahan makanan bergizi, kebersihan dapur, serta variasi menu sehat yang dapat diterapkan sehari-hari.

Pada akhir kegiatan, makanan sehat yang telah dimasak dibagikan kepada para ibu hamil dan orang tua dengan balita agar dapat menjadi contoh menu harian yang mudah diterapkan di rumah.

Ketua KB Desa menyampaikan bahwa kegiatan ini membantu warga memahami praktik pemenuhan gizi keluarga.

“Dengan kegiatan masak bersama dan penyuluhan ini, masyarakat jadi tahu contoh nyata makanan sehat yang bisa dibuat setiap hari,” ujarnya.

Bidan Desa Panyindangan, Liestianty Aprilliani A.Md., menambahkan bahwa program DASHAT dapat menjadi langkah awal dalam mencegah stunting di wilayah tersebut.

“Menu yang disediakan hari ini sudah sesuai kebutuhan gizi ibu hamil dan anak. Harapannya keluarga semakin paham pentingnya gizi sejak dini,” jelasnya.

Program DASHAT diharapkan memberi dampak berkelanjutan, terutama dalam membentuk kebiasaan masyarakat untuk memperhatikan gizi keluarga secara konsisten. (RK)

Kontributor KKIPP UPI: Indika Putri Bhayangkari/ Mahasiswa P2MB Kelompok 20 Kampus UPI di Sumedang

UPI Menjadi Tuan Rumah The 20th ASTEN Presidential Meeting dan ASTEN Conference 2025

09 Dec 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menjadi tuan rumah perhelatan internasional bergengsi, yakni The 20th ASEAN Teacher Education Network (ASTEN) Presidential Meeting dan ASTEN Conference 2025. Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi jejaring lembaga pendidikan guru se-Asia Tenggara, yang diselenggarakan di Hotel Mercure, Bandung, pada Senin (8/12/2025).

Sebagai salah satu founding father dan Board of Trustees ASTEN, UPI memiliki peran sentral. Penyelenggaraan tahun 2025 ini menandai kesempatan kedua bagi UPI setelah sebelumnya menjadi tuan rumah pada tahun 2020.

Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menegaskan posisi strategis UPI dalam organisasi ASTEN. Selain status pendiri, UPI mengemban tanggung jawab besar sebagai pengelola ASEAN Teacher Quality Assurance (ATKA) lembaga yang mengembangkan standar mutu dan akreditasi pendidikan guru tingkat ASEAN.

“ATKA ini menjadi instrumen penting agar pendidikan guru di ASEAN memiliki standar akreditasi yang diakui secara regional. Indonesia, melalui UPI, punya tanggung jawab besar dalam memastikan pengembangan dan keberlanjutan lembaga ini,” ujar Rektor Didi Sukyadi.

Pusat pengembangan instrumen dan kantor operasional ATKA saat ini berlokasi di UPI, dan tengah memasuki tahap menuju pengakuan resmi dari pemerintah.

Selain pertemuan kepresidenan, UPI juga menggelar International Conference on Teacher Education (ICOTE). Konferensi ini menjadi wadah penting bagi para peneliti dan peserta anggota ASTEN untuk memaparkan hasil-hasil riset mutakhir, berbagi pengalaman, pengetahuan, serta praktik terbaik dalam pengembangan pendidikan guru di kawasan Asia Tenggara.

Ketua Pelaksana, Prof. Ahmad Bukhori Muslim, S.Pd., M.Ed., Ph.D., menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan di luar kampus tahun ini merupakan upaya untuk menunjukkan kualitas layanan dan citra terbaik UPI di hadapan kolega internasional.

“Langkah ini sekaligus memperkuat reputasi UPI, sejalan dengan target strategis UPI 2030 untuk menjadi leading institution di ASEAN, khususnya dalam bidang pendidikan guru,” tambah Prof. Bukhori.

Wakil Ketua ASTEN, Dr. Le Hoang Dung, menyampaikan apresiasi mendalam atas profesionalisme UPI dalam mengemas konferensi. Ia menekankan bahwa pendidikan guru memegang peranan yang vital di tengah perkembangan teknologi global.

“Kami percaya guru-guru di negara ASEAN akan bersatu untuk kebaikan masyarakat, dan untuk memajukan pendidikan di kawasan,” tutur Dr. Le Hoang. Ia berharap inisiatif seperti ini akan terus memperkuat literasi pengetahuan dan kolaborasi guru di seluruh negara anggota.

UPI berharap kegiatan ini dapat memperkuat konsolidasi, memperluas keanggotaan, meningkatkan reputasi jurnal ASTEN, serta membuka lebih banyak peluang kerja sama akademik lintas negara. Penyelenggaraan ini mempertegas komitmen UPI dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan guru, baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara. (Rija)

UPI Raih Tujuh Penghargaan pada Abdidaya PPK Ormawa 2025 di Malang

09 Dec 2025 • Humas UPI
UPI Borong Penghargaan pada ajang PPK Ormawa di UMM, Kamis–Sabtu, (4–6/12). Foto: Ratih/ KKIPP UPI

Malang, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencetak prestasi nasional dengan meraih tujuh penghargaan pada ajang Anugerah Abdidaya Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2025 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis–Sabtu (4–6/12). Ajang ini diikuti oleh 110 tim dari 51 perguruan tinggi di Indonesia.

Abdidaya PPK Ormawa merupakan program apresiasi nasional yang diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Tahun ini jumlah peserta, pendamping, dan juri mencapai lebih dari 1.500 orang.

Pada malam penganugerahan, tim UPI berhasil meraih tujuh kategori penghargaan, antara lain:

  • Terbaik I Video Paling Kreatif – HMPGSD–POLTRA
  • Terbaik I Dosen Pendamping dengan Keberlanjutan Terbaik – LINTAR
  • Terbaik II Ormawa dengan Strategi Keberlanjutan Terkuat – LEPPIM
  • Terbaik II Partisipasi Masyarakat Tertinggi – LINTAR
  • Terbaik III Program Keberlanjutan Terbaik – UPI
  • Terbaik III Ormawa Paling Inovatif – IDENTIC
  • Terbaik IV Mitra dengan Dukungan Berkelanjutan Paling Strategis – Desa Cimenyan

Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI, Prof. Dr. Siti Nurbayani, M.Si., menyampaikan bahwa hasil ini merupakan bukti kemampuan mahasiswa dalam menghadirkan inovasi dan pemberdayaan yang berkelanjutan.

“Ini merupakan hasil dari proses panjang, kolaborasi yang solid, serta keseriusan antara mahasiswa dan dosen pembimbing, masuk pendanaan saja sudah sangat selektif. Setiap tim didanai 25–30 juta dan harus menunjukkan hasil yang terukur di masyarakat. Kami bangga karena empat dari lima tim UPI lolos hingga Abdidaya,” ujarnya.

Selain apresiasi untuk tim mahasiswa, UPI juga merencanakan penguatan sistem pembinaan Ormawa pada tahun berikutnya, termasuk pemerataan pembimbingan antarkampus, mekanisme konversi kegiatan ke mata kuliah, serta perbaikan pola penilaian internal.

Keberhasilan UPI memborong tujuh penghargaan Abdidaya PPK Ormawa 2025 ini tidak hanya menegaskan peran aktif mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat, tetapi juga memperkuat komitmen UPI sebagai kampus yang mendorong pengabdian, inovasi, dan keberlanjutan sebagai bagian dari tridarma perguruan tinggi. Prestasi ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antara kampus dan masyarakat mampu melahirkan dampak nyata bagi pembangunan sosial di berbagai daerah. (Ratih Latifah)

Pencarian