Mahasiswa UPI di Sumedang Dorong Kreativitas Kader Posyandu Lewat “Gesit Gizi”
11 Nov 2025 • Humas UPI
Kader posyandu Desa Cilangkap berpartisipasi dalam Lomba PMT “GESIT GIZI” yang diselenggarakan oleh Mahasiswa UPI Sumedang Kelompok 21 di GOR Balai Desa Cilangkap, Kamis (6/11/2025).
Sumedang, UPI —Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang yang tergabung dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) Kelompok 21 bekerja sama dengan Pemerintah Desa Cilangkap menggelar kegiatan Lomba PMT “GESIT GIZI” (Gerakan Sehat Cilangkap Tanggap Gizi) di Gor Balai Desa Cilangkap, Sumedang, Kamis (6/11/2025).
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program “Daun Sehat” yang mengedepankan pemahaman gizi seimbang sebagai upaya pencegahan stunting sejak usia dini. Lomba diikuti oleh kader posyandu dari seluruh dusun di Desa Cilangkap, dengan tantangan menciptakan menu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan dasar kentang, wortel, tahu, alpukat, dan susu.
Sebelum perlombaan dimulai, peserta mengikuti penyuluhan gizi yang dibawakan oleh bidan desa dengan materi UFRE JUTEK VARES BERSIH (Usia, Frekuensi, Jumlah, Tekstur, Variasi, Responsif, dan Kebersihan), yang menekankan pentingnya penyajian makanan bergizi, higienis, dan sesuai kebutuhan anak balita.
Selama lomba berlangsung, para kader menunjukkan kreativitas tinggi dengan menghadirkan beragam menu menarik dan bergizi, seperti naget tahu dan pepes tahu berbentuk karakter lucu untuk menarik minat anak, serta tambahan pewarna alami dari daun kelor. Daun kelor dipilih karena memiliki kandungan gizi tinggi dan terbukti mampu meningkatkan status gizi anak.
Selain itu, terdapat menu inovatif seperti bola-bola kentang wortel isi telur puyuh, serta hidangan manis berupa agar-agar, puding, dan pure alpukat dengan vla susu.
“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi lomba, tetapi juga ruang belajar bagi para kader untuk menyusun makanan tambahan yang bergizi, ekonomis, dan mudah dibuat di rumah,” ujar salah satu mahasiswa P2MB Kelompok 21.
Antusiasme peserta tampak tinggi selama kegiatan, baik dalam proses memasak maupun saat menjelaskan nilai gizi dan ide kreativitas dari menu masing-masing. Berdasarkan penilaian juri, Posyandu Sinar Tampomas 2 berhasil meraih juara pertama karena dinilai unggul dalam aspek gizi, kreativitas penyajian, dan kesesuaian dengan kebutuhan anak balita.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UPI di Sumedang menunjukkan komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 2 (Tanpa Kelaparan) dan poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), dengan mendorong masyarakat desa agar lebih sadar akan pentingnya gizi seimbang dan inovasi pangan lokal dalam pencegahan stunting. (RK)
Kontributor KKIPP UPI: Kelompok 21 P2MB UPI di Sumedang
Cegah Stunting, Mahasiswa UPI di Sumedang Olah Daun Kelor Jadi Camilan Bergizi
11 Nov 2025 • Humas UPI
Mahasiswa PGSD UPI Sumedang mempraktekan pengolahan daun kelor menjadi camilan di GOR Desa Karanglayung, Kecamatan Conggeang, Sumedang, Rabu (29/10/2025)
Sumedang, UPI —Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang menghadirkan inovasi kuliner bergizi dengan mengolah daun kelor menjadi cookies sehat untuk ibu hamil. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) yang dilaksanakan di Gedung Olahraga (GOR) Desa Karanglayung, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Rabu (29/10/2025).
Acara diikuti oleh Ibu ibu hamil, kader kesehatan, dan aparatur desa, termasuk Bidan Desa Karanglayung, Nia Nindia Putri, S.Keb., serta ahli gizi desa yang turut mendampingi kegiatan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa UPI berupaya meningkatkan kesadaran gizi masyarakat dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan dan kaya nutrisi.
Daun kelor dipilih karena memiliki kandungan gizi tinggi, seperti protein, kalsium, vitamin C, zat besi, dan magnesium, yang bermanfaat untuk mencegah anemia, mendukung pertumbuhan janin, serta meningkatkan produksi ASI.
“Mahasiswa kita ini penerus tokoh inspiratif yang mengubah dunia, karena berhasil mengubah kelor dari dunia mistis menjadi dunia kuliner,” ujar Drs. Dadan Djuanda, M.Pd., dosen pembimbing lapangan P2MB UPI Sumedang.
Dalam kegiatan tersebut, para ibu hamil berpartisipasi langsung dalam proses pembuatan cookies daun kelor, mulai dari pengolahan bahan hingga pemanggangan. Kegiatan berlangsung interaktif dan ditutup dengan sesi mencicipi hasil olahan bersama.
Salah satu peserta menyampaikan kesan positifnya setelah mencoba kudapan bergizi tersebut.
“Biasanya daun kelor hanya untuk sayur atau obat, belum pernah mendengar bisa dijadikan cookies. Rasanya enak, bahannya mudah didapat, dan cara membuatnya sederhana,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa membagikan buku resep olahan kelor sederhana agar para peserta dapat mempraktikkan kembali di rumah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa PGSD UPI Sumedang menunjukkan peran aktifnya dalam pemberdayaan masyarakat dan edukasi gizi berbasis bahan lokal.
Daun kelor yang dahulu identik dengan mitos kini menjadi simbol inovasi, kesehatan, dan harapan bagi generasi bebas stunting — sejalan dengan komitmen UPI dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 2 dan 3, yaitu Tanpa Kelaparan serta Kehidupan Sehat dan Sejahtera.(RK)
Kontributor KKIPP: Kelompok 27 P2MB UPI di Sumedang
Perkuat Kompetensi Guru, Prodi Matematika UPI Gelar Pelatihan Computational Thinking dan Pemodelan Matematis
11 Nov 2025 • Humas UPI
Pangandaran, UPI — Sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Pelatihan dan Pembinaan Matematika berbasis Computational Thinking dan Pemodelan Matematis di SMP Negeri 1 Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Selasa (15/7/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kepakaran Ilmu Pendidikan Matematika, hasil kolaborasi antara UPI, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Kabupaten Pangandaran, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pangandaran. Sebanyak 40 guru matematika dari sekolah negeri dan swasta berpartisipasi dalam pelatihan ini.
Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pangandaran, Dr. H. Agus Nurdin, S.Pd., M.Pd., yang menekankan pentingnya kesempatan ini sebagai ajang peningkatan kompetensi guru.
“Pelatihan ini kesempatan langka. Para guru diharapkan menyimak dengan baik, aktif bertanya, dan memahami konsep Computational Thinking serta Pemodelan Matematis agar bisa diterapkan di kelas,” ujarnya.
Menurutnya, capaian literasi numerasi siswa SMP di Pangandaran sudah baik di tingkat Jawa Barat, dan kegiatan seperti ini diharapkan dapat semakin meningkatkan kualitas tersebut.
Pelatihan menghadirkan dua pakar pendidikan matematika UPI, yakni Prof. Turmudi, M.Ed., M.Sc., Ph.D., dan Prof. Dr. Elah Nurlaelah, M.Si. Dalam sambutannya, Prof. Turmudi menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi akademisi terhadap penguatan kualitas pembelajaran di sekolah.
“PkM ini bukan hanya tentang pelatihan metode, tetapi juga upaya membangun budaya berpikir ilmiah di kalangan guru,” jelasnya.
Ia memaparkan penerapan pemodelan matematika dalam konteks kehidupan nyata, salah satunya penelitian yang menggunakan model matematika untuk menganalisis kualitas air sungai berdasarkan pH dan kandungan bakteri.
“Melalui pemodelan, siswa bisa memahami peran matematika dalam menjaga lingkungan, misalnya hubungan antara pH air dan usia biota sungai,” tambahnya.
Sementara itu, Prof. Elah Nurlaelah menyoroti pentingnya kemampuan Computational Thinking (CT) yang kini menjadi bagian dari tes Programme for International Student Assessment (PISA) oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Ia menjelaskan bahwa CT meliputi kemampuan abstraksi, dekomposisi, pengenalan pola, dan algoritma.
Guru matematika SMP Kabupaten Pangandaran mengikuti pelatihan Computational Thinking dan Pemodelan Matematis bersama Prodi Matematika UPI di SMP Negeri 1 Pangandaran, Senin (15/7/2025).
“Computational Thinking adalah kemampuan berpikir logis yang relevan untuk berbagai bidang, tidak hanya untuk pemrograman komputer,” ungkapnya.
Peserta tampak antusias mengikuti sesi pelatihan, terutama saat berdiskusi mengenai penerapan pendekatan CT dan pemodelan matematika di kelas. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para guru menyampaikan keinginan agar pelatihan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Pelatihan ini menegaskan komitmen UPI untuk terus berperan dalam peningkatan mutu pendidikan nasional melalui inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21 dan mendukung penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning di sekolah. (RK)
Percepat Penurunan Stunting, Mahasiswa UPI di Sumedang Salurkan Paket Makanan Bergizi
11 Nov 2025 • Humas UPI
Sumedang, UPI — Dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kesadaran gizi masyarakat, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tergabung dalam Kelompok 24 Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) melaksanakan kegiatan pemberian paket makanan bergizi kepada anak-anak yang terdata mengalami stunting di Desa Bojongloa, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Selasa (10/11/2025).
Kegiatan yang dihadiri oleh Bidan Desa Bojongloa, ibu kepala desa, serta para kader Posyandu dan orang tua penerima manfaat ini menjadi bagian dari program pengabdian mahasiswa UPI yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan gizi anak usia dini di wilayah pedesaan.
Paket makanan bergizi yang dibagikan berisi susu, telur, jagung, sayuran, dan buah-buahan, disusun berdasarkan pedoman gizi seimbang Kementerian Kesehatan RI. Seluruh bahan dipilih agar mudah diolah menjadi Makanan Pendamping ASI (MPASI) maupun menu keluarga sehari-hari, guna memenuhi kebutuhan nutrisi anak dalam masa pertumbuhan.
Sebelum pembagian paket, Bidan Desa Bojongloa memberikan penyuluhan singkat kepada para orang tua mengenai cara pengolahan bahan pangan bergizi yang tepat — mulai dari menjaga kebersihan, variasi menu, hingga porsi makan sesuai usia anak. Edukasi ini diharapkan membantu masyarakat mengolah bahan pangan tanpa kehilangan kandungan gizinya.
Penanggung jawab kegiatan, Ega Fairuz Habibah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting.
“Kami ingin membantu masyarakat memahami bahwa pencegahan stunting dimulai dari keluarga, melalui pemenuhan gizi seimbang dan pola asuh yang baik,” ujarnya.
Bidan Desa Bojongloa menyambut positif kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini tidak hanya memberikan bantuan pangan bergizi, tetapi juga meningkatkan pengetahuan ibu-ibu tentang pentingnya gizi bagi tumbuh kembang anak,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UPI berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang semakin meningkat, sehingga cita-cita membentuk generasi Bojongloa yang sehat, cerdas, dan bebas stunting dapat terwujud. Program ini juga menjadi bagian dari kontribusi UPI dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-2 “Tanpa Kelaparan” dan poin ke-3 “Kehidupan Sehat dan Sejahtera.” (RK)
Kontributor KKIPP UPI: Kelompok 24 P2MB UPI di Sumedang
Bandung, UPI — Dewan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kegiatan WICARA DGB (Wadah Ide Cendekia dan Aspirasi Reflektif Akademik) seri kedua dengan tema “Refleksi Dua Dekade UU Guru dan Dosen serta Relevansinya dengan Amandemen UU Sisdiknas.” Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Gedung Baru Pascasarjana UPI, Jl. Dr. Setiabudi No.229, Bandung, Senin (10/11/2025), acara tersebut menghadirkan para akademisi terkemuka yang terdiri dari para Guru Besar UPI dalam rangka mengulas perjalanan dua dekade implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) serta keterkaitannya dengan rencana perubahan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI, Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd., yang mewakili Rektor UPI. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya forum reflektif seperti WICARA DGB sebagai ruang intelektual bagi para guru besar dalam mengkaji arah kebijakan pendidikan nasional.
“Dua dekade implementasi UUGD menjadi momentum penting untuk menilai sejauh mana cita-cita profesionalisme guru terwujud, sekaligus menata arah baru dalam konteks amandemen UU Sisdiknas,” ujar Prof. Yudi.
Lebih lanjut, Prof. Yudi menyampaikan harapan agar forum ilmiah seperti WICARA DGB dapat berperan aktif dalam memberikan kontribusi nyata bagi perumusan kebijakan pendidikan nasional.
“Harapan kami pimpinan universitas, melalui forum ini kelak lahir gagasan baru yang memberikan masukan konstruktif bagi pemerintah, khususnya dalam memastikan bahwa setiap perubahan kebijakan tetap berpihak kepada peningkatan kualitas pendidikan nasional,” ungkapnya.
Kegiatan ini dimoderatori oleh Ketua Senat Akademik UPI, Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Pd., dan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu:
Prof. Dr. Asep Herry Hernawan, M.Pd., dengan paparan “Implementasi Penyiapan Guru Profesional melalui Program PPG.”
Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.IP., S.AP., S.Pd., M.Si., M.H., CPM., dengan tema “Refleksi Dua Dekade UU Guru dan Dosen serta Relevansinya dengan Rencana Amandemen UU Sisdiknas.”
Dalam paparannya, Prof. Asep Herry menekankan pentingnya Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai instrumen utama dalam menyiapkan guru profesional sesuai amanat UUGD. Ia menyampaikan bahwa sejak 2018 hingga 2025, Program Studi PPG Sekolah Pascasarjana UPI telah meluluskan lebih dari 41 ribu peserta, terdiri atas 37.956 lulusan PPG dalam jabatan dan 3.562 lulusan PPG prajabatan.
PPG UPI kini telah terakreditasi unggul oleh LAMDIK (2024) dan diakui oleh Ditjen GTK Kemendikbudristek sebagai salah satu penyelenggara dengan mutu di atas standar nasional.
“PPG bukan sekadar program akademik, tetapi juga proses pembentukan kepribadian profesional guru yang berintegritas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21,” tutur Prof. Asep.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas fakultas dan kampus daerah UPI dalam penyelenggaraan PPG, termasuk kerja sama dengan Dodik Bela Negara dan Kwartir Daerah Pramuka Jawa Barat sebagai bagian dari pembinaan karakter calon guru.
Sementara itu, Prof. Cecep Darmawan mengulas perjalanan UU No. 14 Tahun 2005 yang dinilai telah memberikan dasar yuridis kuat bagi profesionalisme guru, namun masih menghadapi tantangan implementatif. Ia menegaskan bahwa amanat Pasal 82 UUGD—yang mewajibkan seluruh guru memenuhi kualifikasi akademik dan sertifikasi dalam 10 tahun—belum sepenuhnya terealisasi hingga saat ini.
“Masih banyak guru di Indonesia yang belum memenuhi kualifikasi S1 dan belum bersertifikat pendidik. Ini menunjukkan lemahnya komitmen terhadap amanat undang-undang,” ujarnya.
Prof. Cecep juga menyoroti isu kesejahteraan guru, terutama guru honorer yang rentan secara ekonomi. Berdasarkan data OJK tahun 2023, sebanyak 42 persen guru tercatat sebagai korban pinjaman online ilegal. Ia menilai kondisi ini mencerminkan “ketidakmerdekaan kesejahteraan guru”. Selain itu, ia mengkritisi kebijakan sertifikat guru penggerak sebagai syarat karier kepala sekolah dan pengawas, karena dinilai belum memberikan akses yang merata.
Terkait rencana amandemen UU Sisdiknas, Prof. Cecep menekankan pentingnya harmonisasi regulasi agar tidak terjadi tumpang tindih antara UUGD, UU ASN, dan kebijakan pendidikan lainnya.
“Revisi UU Sisdiknas harus menjadi payung hukum utama yang mengharmoniskan seluruh regulasi pendidikan. Guru tidak boleh lagi menjadi objek kebijakan, tetapi harus menjadi subjek perubahan pendidikan nasional,” tegasnya.
Menurutnya, revisi UU Sisdiknas ke depan perlu memperkuat LPTK, PPG adaptif dan berasrama, serta organisasi profesi guru yang berfungsi optimal dalam pembinaan etika dan kompetensi.
Menutup kegiatan, Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Pd., selaku moderator dan penyaji WICARA DGB, menyampaikan sejumlah catatan hasil diskusi akademik sebagai refleksi dan tindak lanjut kegiatan.
Terkait Undang-Undang Guru dan Dosen, hasil telaah menunjukkan bahwa UUGD masih belum ideal baik secara substansi maupun implementasi. Proses revisi undang-undang memang kompleks dan memerlukan waktu, namun peluang perubahan dapat ditempuh melalui penyusunan Rancangan Perubahan UU Sisdiknas. Ditekankan agar kesalahan penyusunan dan implementasi sebelumnya tidak terulang kembali, serta perlunya pemantauan aktif dan keterlibatan akademisi selama proses penyusunan berlangsung.
Terkait Data dan Implementasi Program PPG, diperlukan data komprehensif dan berbasis penelitian ilmiah mengenai efektivitas kebijakan dan praktik PPG di lapangan. Program PPG telah berjalan lebih dari satu dekade dan menghadapi berbagai tantangan implementasi. Oleh karena itu, langkah perbaikan ke depan harus didasarkan pada hasil riset objektif, bukan sekadar persepsi.
Tindak Lanjut dan Pembentukan Tim Kecil. Sebagai bentuk tindak lanjut, disepakati pembentukan tim kecil untuk merumuskan hasil diskusi menjadi naskah akademik atau kebijakan yang dapat disampaikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tim ini akan menyusun rekomendasi terukur, berbasis data, dan memiliki dasar keilmuan kuat.
Dalam penutupannya, Prof. Yadi menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah berbasis data dalam setiap rekomendasi kebijakan, kerja kolaboratif antarakademisi, serta komitmen berkelanjutan UPI dalam mendukung pembaruan sistem pendidikan nasional.
“Kita tidak hanya menyiapkan guru profesional, tetapi juga manusia pembelajar yang mampu menumbuhkan karakter bangsa di tengah arus globalisasi pendidikan,” pungkasnya.
Kegiatan WICARA DGB merupakan forum reflektif Dewan Guru Besar UPI yang secara berkala menghadirkan dialog ilmiah untuk merespons isu-isu strategis pendidikan nasional. Seri kedua tahun 2025 ini menegaskan komitmen UPI dalam memperkuat peran akademisi sebagai penggerak kebijakan pendidikan berbasis riset dan refleksi kritis. (RK)