English
Indonesia

Sidqia Nurfadilah Harumkan Indonesia di Thailand International Folklore Festival 2025

05 Nov 2025 • Humas UPI
Sidqia Nurfadilah mendapatkan penghargaan di konferensi pertukaran budaya sebagai Best Leader dan Strong Ledies pada kegiatan Thailand International Folklore Festival 2025 di Hua Hin, Thailand (26/10/25)

Sumedang, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Sumedang berhasil mengharumkan Indonesia di kancah internasional melalui partisipasinya pada Thailand International Folklore Festival (TIFF) 2025. Kegiatan yang berlangsung pada 25–30 Oktober 2025 di Hua Hin, Thailand, ini diikuti oleh berbagai delegasi dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, Laos, Vietnam, India, Turki, dan Filipina.

Indonesia, yang diwakili oleh UPI Kampus Sumedang, tampil memukau dengan menampilkan kesenian tradisional Sunda. Delegasi dipimpin oleh dosen seni tari Sidqia Nurfadilah, S.Pd., M.Pd., yang sekaligus didapuk sebagai leader tim. Atas perannya, Sidqia meraih penghargaan Best Leader dan Strong Ladies, yang diberikan langsung oleh ketua penyelenggara, Prof. Achara Phanurat.

“Saya mendapatkan undangan langsung dari Prof. Achara untuk mengirimkan delegasi. Dengan dukungan penuh Kampus UPI di Sumedang, kami membawa serta kebudayaan Sunda untuk diperkenalkan di dunia internasional,” ujar Sidqia.

Dalam festival budaya tahunan yang mempromosikan seni dan budaya dari berbagai negara ini, delegasi UPI Sumedang menampilkan sejumlah tarian tradisional, seperti Tari Cikeruhan, Tari Umbul Sumedang, Tari Merak, serta seni bela diri Pencak Silat. Penampilan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari para penonton dan delegasi negara lain.

Mahasiswa menampilkan Tari Merak di Wat Busayanpot, Hua Hin, Thailand. (26/10/25)

Prof. Achara Phanurat mengapresiasi aksi panggung UPI Sumedang. “Indonesia luar biasa. Koreografi yang kuat, kostum yang indah, dan energi yang ditampilkan sungguh mengesankan. Mereka memiliki pemimpin yang inspiratif,” ujarnya.

Selain meraih penghargaan untuk kategori individu, delegasi Indonesia juga memperoleh pengakuan dalam beberapa kategori lain, seperti Penampilan Terbaik, Kostum Terbaik, dan Peserta Teraktif.

Keikutsertaan UPI dalam ajang internasional ini turut memperkuat jaringan kerja sama antarnegara. UPI Sumedang juga membangun kolaborasi dengan Mubhan Chombueng Rajabhat University, membuka peluang untuk kerja sama di bidang seni budaya, pendidikan, dan pariwisata.

“Saya berharap UPI di Sumedang dapat terus berpartisipasi dalam ajang internasional seperti ini dan terus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia,” tutup Sidqia.

Prestasi ini tak hanya membanggakan bagi kampus dan civitas akademik, tetapi juga menjadi bagian dari peran Indonesia dalam memperkaya budaya dunia sekaligus mempromosikan pariwisata dan nilai-nilai seni tanah air.

Kontributor: Diding Aji Setiabudi & Sidqia Nurfadilah, S.Pd., M.Pd.

Prof. Dr. Mulyana: Pencak Silat Bentuk Karakter dan Nilai Universal Olahraga

05 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung UPI

Pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan sarana pendidikan karakter yang mencerminkan nilai-nilai universal olahraga. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Mulyana, S.Pd., M.Pd., Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dalam Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 di Gedung Achmad Sanusi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung. Selasa (4/11/2025).

Menurut Prof. Mulyana, nilai-nilai olahraga tercermin dalam sikap dan perilaku atlet selama proses latihan maupun pertandingan. Melalui aktivitas bela diri, atlet belajar disiplin mematuhi aturan, bekerja sama, belajar memimpin, serta mampu menyikapi kemenangan dan kekalahan secara sportif. “Pada dasarnya, pencak silat adalah sarana silaturahmi,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktualisasi nilai-nilai luhur pencak silat sejalan dengan nilai-nilai universal olahraga yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Aktivitas olahraga yang mengandung nilai dan keterampilan diyakini dapat diajarkan kepada individu secara efektif.

“Pengajaran pencak silat tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga memenuhi kriteria gerakan United Nations dalam menanamkan nilai-nilai universal olahraga,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Mulyana memaparkan bahwa pencak silat mengandung empat aspek utama, yaitu mental spiritual, seni, bela diri, dan olahraga, yang saling terintegrasi dalam proses pendidikan.

Pada aspek mental spiritual, nilai taleq menjadi kode etik yang wajib dipatuhi oleh setiap pesilat. Nilai ini terwujud dalam sikap religius, seperti berdoa sebelum dan sesudah latihan, menghormati pelatih, serta menghargai perbedaan.

Sementara itu, pada aspek seni, pencak silat menonjolkan keindahan gerak yang diiringi musik tradisional. Setiap jurus tidak hanya mengandung unsur estetika, tetapi juga nilai penghormatan kepada sesama.

Aspek bela diri dalam pencak silat, lanjutnya, mencerminkan aktivitas keseharian manusia seperti bertani atau berkebun. Melalui jurus-jurus tersebut, pesilat dibentuk menjadi pribadi yang berkarakter, memiliki kepercayaan diri, dan mampu menghargai diri sendiri.

Pada aspek olahraga, pencak silat menanamkan nilai disiplin, kerja sama, dan sportivitas. “Kemenangan bukan satu-satunya tujuan, tetapi bagaimana atlet belajar menjunjung nilai-nilai luhur olahraga dan menjadikannya sebagai media pembentukan karakter,” kata Prof. Mulyana.

Ia menegaskan, pendidikan dalam pencak silat tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, melainkan juga pada pembelajaran budi pekerti luhur. Proses pendidikan dilakukan secara menyeluruh melalui wejangan dan keteladanan guru silat.

Nilai-nilai luhur tersebut, ujar Prof. Mulyana, dirumuskan dalam prinsip taqwa, tanggap, tangguh, tanggon, dan trengginas, yang mencerminkan keselarasan antara mental, intelektual, dan fisik pesilat.

“Pencak silat sejatinya adalah warisan budaya yang mampu membentuk manusia berkarakter, beretika, dan berkepribadian luhur,” pungkasnya. (DN/Rija)

SPs UPI Latih Guru SMP Pangandaran Tingkatkan Literasi Pancasila dengan Metode Socratic

05 Nov 2025 • Humas UPI
Ketua Tim PkM Prof. Dr. yadi Ruyadi, S.H., M.Si. memberikan kata sambutan dalam acara pembukaan PkM di SMPN 1 Parigi, September 2025

Pangandaran, UPI — Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Peningkatan Literasi Ideologi Pancasila Melalui Model Pelatihan Socratic Method bagi Guru Pendidikan Pancasila Jenjang SMP untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila di Kabupaten Pangandaran.” Kegiatan berlangsung pada 22–25 September 2025 secara hybrid, dengan pelaksanaan luring berpusat di SMPN 1 Parigi, Pangandaran.

Kegiatan PkM ini dipimpin oleh Prof. Dr. Yadi Ruyadi, S.H., M.Si., bersama anggota tim yang terdiri atas Prof. Dr. Encep Syarief Nurdin, S.H., Drs., M.Pd., M.Si., Dr. Asep Dahliyana, Dr. Imas Kurniawaty, M.Pd., Dadi Mulyadi Nugraha, M.Pd., dan Lia Yulindaria, S.P., S.Pd., M.Pd. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menyampaikan nilai-nilai ideologi Pancasila secara kontekstual dan reflektif melalui pendekatan dialogis khas Socratic Method.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Tim PkM, Prof. Dr. Yadi Ruyadi, yang menegaskan pentingnya literasi Pancasila bagi guru sebagai pembentuk karakter bangsa. Sambutan lain disampaikan oleh Ketua MGMP PPKn SMP Pangandaran, Hendra Saeful Bahri, M.Pd., Kepala SMPN 1 Parigi, H. Yayan Cahyaman, M.Pd., serta Kepala Seksi Ketenagaan Bidang SMP Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Pangandaran, Siti Mutiah, M.Pd.

Pelatihan mencakup pemaparan materi oleh para dosen dan pakar dari UPI, yang antara lain membahas:

  • Penerapan deep learning melalui Socratic Method (Lia Yulindaria, M.Pd.),
  • Penerapan dialog Socrates dalam pembelajaran kelahiran Pancasila (Prof. Dr. Encep Syarief Nurdin),
  • Kedudukan dan fungsi Pancasila dalam pembelajaran (Dr. Asep Dahliyana), dan
  • Urgensi literasi ideologi Pancasila dalam pendidikan karakter (Prof. Dr. Yadi Ruyadi).

Pelatihan ini diikuti oleh 30 guru Pendidikan Pancasila dari berbagai SMP di Pangandaran. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi daring dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) oleh peserta.

Peserta PkM berfoto Bersama dengan perwakilan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Pangandaran, Kepala Sekolah SMPN 1 Parigi, Ketua MGMP PPKn SMP, dan Tim PkM UPI

Program ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4 (Pendidikan Berkualitas) dan poin ke-16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh). UPI kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi pelopor dalam penguatan karakter kebangsaan melalui pendidikan. (RK)

Sinergi Bimbingan dan Bermain Jadi Kunci Pondasi Emas Anak Usia Dini

05 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI

Masa usia dini merupakan Pondasi paling berharga dalam kehidupan manusia, karena pada fase ini pendidikan dan pengasuhan memberikan dampak berganda terhadap pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya (UNESCO, 2010). Tidak hanya menentukan keberhasilan akademik, usia dini juga membentuk integritas kepribadian, kecerdasan sosial-emosional, serta kualitas sumber daya manusia yang kelak menjadi pilar bangsa.

Guru Besar UPI bidang bimbingan perkembangan anak, Prof. Dr. Ernawulan Syaodih, M.Pd menyoroti kualitas dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat pada masa awal sangat menentukan daya adaptasi anak menghadapi tantangan kehidupan.

“Bimbingan perkembangan pada anak usia dini berfokus pada pendampingan yang membantu anak menemukan, mengekspresikan, dan mengelola potensinya secara optimal dengan cara personal dan responsif,” ujar Prof. Ernawulan pada Upacara Pengukuhan Guru Besar Tahun 2025 di Gedung Achmad Sanusi Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Kota Bandung. Selasa (4/11/2025).

Ia menekankan bahwa layanan bimbingan ini bukanlah konseling formal di ruang khusus, melainkan proses pendampingan yang melekat dalam keseharian anak, baik di rumah maupun di sekolah.

Prof. Ernawulan menjelaskan, bimbingan (dukungan emosional) dan pembelajaran (dukungan kognitif) bukanlah dua hal terpisah. Keduanya menyatu secara alami melalui aktivitas bermain.

“Esensi bermain adalah menyatukan dimensi emosional dan dimensi kognitif dalam satu aktivitas yang menyenangkan sekaligus bermakna,” tegasnya.

Menurutnya, bermain tidak dapat direduksi sekadar sebagai kegiatan rekreatif. Bermain adalah strategi pedagogis dan psikologis yang integratif.

“Dalam bermain, bimbingan tampak ketika guru atau orang tua memberi ruang ekspresi dan validasi emosi. Sementara pembelajaran hadir saat mengenalkan konsep, seperti sains saat menyusun balok atau numerasi melalui permainan pasar-pasaran,” jelas Prof. Ernawulan.

Melalui bermain, anak tidak hanya belajar konsep, tetapi juga mengenali diri, memahami orang lain, membangun regulasi emosi, dan menyelesaikan konflik.

Lebih lanjut, Prof. Ernawulan menyatakan bahwa esensi bimbingan bukanlah “memperbaiki anak” agar sesuai ekspektasi orang dewasa, melainkan menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan penuh penerimaan.

Untuk itu, diperlukan gerakan kolektif dari berbagai pihak.

“Guru harus hadir sebagai pembimbing dan fasilitator. Orang tua harus menjadi teladan dan sahabat sejati yang menghadirkan kehangatan dalam keseharian,” paparnya.

Ia juga mendorong akademisi dan pembuat kebijakan untuk mengembangkan model bimbingan yang inklusif, adil, dan kontekstual yang berpijak pada budaya lokal. Sementara masyarakat berperan menciptakan ekosistem yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak.

“Dengan sinergi ini, bimbingan perkembangan akan membentuk manusia seutuhnya yang percaya diri, resilien, berempati, dan siap menghadapi tantangan kehidupan, tidak hanya sekadar menyiapkan anak untuk sekolah,” pungkasnya. (DN/Rija)

UPI Tandatangani Naskah Perjanjian Hibah Daerah dengan Pemprov Jabar

05 Nov 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menandatangani Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) bersama Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Melalui kerja sama ini, UPI menerima hibah sebesar Rp2,1 miliar yang akan digunakan untuk mendanai Beasiswa Jenius, program bantuan pendidikan bagi mahasiswa berprestasi dengan keterbatasan ekonomi.

Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan bahwa hibah ini menjadi wujud nyata dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap pengembangan pendidikan tinggi di daerahnya.

“Kita, UPI, sebagai penerima hibah dalam bentuk beasiswa Jenius, sangat mengapresiasi dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Beasiswa ini ditujukan bagi mahasiswa dengan IPK minimal 3,5, yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga membutuhkan dukungan finansial,” ujar Rektor UPI seusai penandatanganan.

Beasiswa tersebut, lanjutnya, akan segera disalurkan setelah proses administrasi selesai, diperkirakan dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan. “Dana sebesar 2,1 miliar rupiah akan didistribusikan untuk mahasiswa kita yang pintar dan membutuhkan, agar mereka dapat menyelesaikan studinya dengan lebih cepat dan menjadi lulusan yang produktif serta berkontribusi bagi masyarakat,” tambah Prof. Didi.

Program Beasiswa Jenius ini dikhususkan untuk mahasiswa jenjang S1, sesuai kriteria yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Seleksi penerima dilakukan oleh pimpinan fakultas dan kampus daerah, dengan mempertimbangkan capaian akademik dan kondisi ekonomi mahasiswa.

Kerja sama antara UPI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah terjalin dengan baik selama ini. Prof. Didi menegaskan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap sektor pendidikan tinggi merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jawa Barat.

“Dukungan Pemprov Jabar kepada UPI sangat luar biasa. Bahkan ada informasi bahwa tahun depan beasiswa ini akan terus dikembangkan, baik dari sisi jumlah penerima maupun besaran dananya. Kami berharap sinergi ini terus terjaga demi kemajuan pendidikan di Jawa Barat,” ungkapnya.

Sebagai universitas pelopor dan unggulan dalam bidang pendidikan, UPI terus berkomitmen mewujudkan diri sebagai kampus yang berdaya saing global, inovatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Ketika masyarakat Jawa Barat mendapatkan akses pendidikan tinggi yang baik, itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. UPI siap berperan aktif untuk melesat bersama Jawa Barat menuju masa depan yang gemilang,” tutup Rektor UPI. (CS)

Pencarian