English
Indonesia

Film Animasi FTV UPI “Kutukan Fikiran yang Membelenggu” Unjuk Gigi di Ajang 5th CRAFT International Animation Festival

04 Nov 2025 • Humas UPI

Yogyakarta, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menunjukkan kiprahnya dalam ranah perfilman dan animasi internasional. Melalui Program Studi Film dan Televisi (FTV) konsentrasi Animasi, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD), UPI berhasil menempatkan karya mahasiswanya di panggung bergengsi 5th CRAFT International Animation Festival 2025. Keikutsertaan ini tidak hanya menjadi pencapaian individual mahasiswa, tetapi juga mencerminkan komitmen institusi terhadap penguatan ekosistem kreatif dan inovatif dalam pendidikan seni di Indonesia.

Partisipasi UPI dalam ajang ini menjadi wujud nyata implementasi pendidikan berbasis proyek (Project-Based Learning) dan penelitian berbasis praktik (Practice-Based Research), yang menjadi ciri khas pembelajaran di lingkungan FPSD, Khususnya dalam pembelajaran berbasis Studio di Prodi FTV. Melalui riset kolaborasi berbasis ruang studio antara dosen dan mahasiswa, karya animasi tidak hanya dipandang sebagai produk seni, tetapi juga sebagai instrumen reflektif untuk memahami isu sosial, psikologis, dan kultural yang relevan dengan generasi muda. Hal ini sejalan dengan arah pengembangan kurikulum UPI yang menekankan integrasi antara analisis akademik, proses produksi kreatif, dan inovasi teknologi.

Lebih jauh, keberhasilan ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 9: Industry, Innovation, and Infrastructure, yang menekankan pentingnya membangun kapasitas industri kreatif berbasis inovasi dan pendidikan tinggi. Melalui dukungan FPSD, Prodi FTV UPI berupaya menumbuhkan infrastruktur kreatif yang mampu menjembatani dunia akademik dengan industri animasi nasional dan global. Karya mahasiswa seperti “Kutukan Fikiran yang Membelenggu” menjadi bukti bahwa UPI tidak hanya melahirkan kreator, tetapi juga inovator yang siap berkontribusi pada pembangunan ekonomi kreatif berkelanjutan di Indonesia. Salah satu alasan film ini terpilih untuk masuk tahap official screening adalah kekuatan konsepnya yang relevan dan berdampak: mengangkat isu kesehatan mental (mental health) sebagai refleksi atas keresahan generasi muda. Tema tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 3: Good Health and Well-Being, yang menekankan pentingnya kesejahteraan psikologis dalam pembangunan manusia. Dari sisi teknis, film ini juga menonjol karena berbasis pada inovasi produksi di studio berstandar industri, memanfaatkan perangkat animasi digital dan pipeline kerja kolaboratif yang diterapkan dalam proses belajar di Prodi FTV UPI. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi seni dapat menjadi motor penggerak bagi integrasi antara isu sosial, inovasi teknologi, dan kreativitas industri dalam satu ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.

Festival yang digelar di Yogyakarta ini merupakan salah satu ajang animasi paling bergengsi di tingkat Asia Tenggara. Film “Kutukan Fikiran yang Membelenggu” terpilih masuk dalam kategori kompetisi “South East Asia Competition”, menandai langkah penting bagi sineas muda UPI untuk bersaing dengan karya terbaik dari berbagai negara di kawasan tersebut.

Film karya mahasiswa UPI ini dijadwalkan tayang pada Jumat, 31 Oktober 2025, bertempat di Studio Kalahan, Gamping, Sleman. Dalam sesi tersebut, film ini diputar bersama delapan film animasi pilihan lain dari berbagai negara Asia Tenggara, menarik perhatian pegiat animasi, kritikus, serta audiens internasional yang hadir memadati ruang pemutaran.

Sesuai standar festival internasional, sesi pemutaran dilanjutkan dengan sesi tanya jawab (Q&A) bersama pembuat film. Rendi, selaku sutradara “Kutukan Fikiran yang Membelenggu”, hadir mewakili almamater UPI dan memaparkan konsep, teknik, serta pesan artistik yang diusung dalam karyanya. Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan director’s statement yang menyoroti proses kreatif di balik film yang menggambarkan pergulatan mental dan kebebasan berpikir generasi muda.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Piotr Kardas (Program Director) dan Chonie Prysilia, selaku Festival Director CRAFT, yang menyampaikan apresiasi atas kualitas karya animasi dari generasi muda Indonesia. “CRAFT Festival selalu berupaya menjadi ruang tumbuh bagi animator Asia Tenggara, dan karya dari peserta ini menunjukkan potensi luar biasa dalam eksplorasi tema dan teknik visual,” ujar Chonie. Agenda festival masih akan berlanjut dengan tahapan penilaian untuk menentukan nominasi film terbaik, yang akan dinilai oleh dewan juri ternama, antara lain Yoshihari Ashino (Jepang), Julia Hazuka (Polandia), dan Heri Dono (Indonesia).

Keikutsertaan “Kutukan Fikiran yang Membelenggu” di ajang internasional ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Prodi FTV UPI FPSD mampu menghasilkan karya dengan kualitas dan orisinalitas tinggi yang diakui secara global. Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi kreatif berikutnya di lingkungan akademik UPI untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan industri animasi Indonesia. (Kontributor: Humas UPI – Salsa Solli Nafsika, M.Pd)

PERINGATAN HARI SANTRI NASIONAL: UPI LUNCURKAN PROGRAM “PROFESSOR GOES TO PESANTREN” CETAK 1000 SANTRIPRENEUR DI JAWA BARAT

04 Nov 2025 • Humas UPI

Garut, UPI

Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) meluncurkan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Professor Goes to Pesantren: Mencetak 1000 Santri Menjadi Pengusaha di Jawa Barat”. Program yang digelar di Auditorium Pondok Pesantren Cipari Garut ini menandai komitmen UPI dalam mewujudkan santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mandiri secara ekonomi.

Menjawab Tantangan Kemandirian Ekonomi Santri

Prof. Dr. Amir Machmud, S.E., M.Si., Dosen Terbaik kategori Pengajaran FPEB UPI Tahun 2025 sekaligus inisiator program ini, menyampaikan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi santri yang umumnya hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus. “Santri memiliki potensi luar biasa dengan kedisiplinan, kesalehan, dan ketekunan yang telah terlatih. Saatnya mengubah mindset dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja,” ujar Prof. Amir di hadapan lebih dari 500 santri Pondok Pesantren Cipari.

Program ini sejalan dengan visi Jawa Barat sebagai provinsi yang maju, sejahtera, dan agamis. Gubernur Jawa Barat telah menetapkan target menjadikan Jawa Barat sebagai pusat ekonomi syariah dan pemberdayaan pesantren di Indonesia. Dengan jumlah pesantren terbanyak di Indonesia, Jawa Barat memiliki potensi dahsyat untuk melahirkan wirausahawan-wirausahawan muda yang berintegritas tinggi.

Konsep Kewirausahaan Berbasis Nilai Islam

Berbeda dengan pelatihan kewirausahaan konvensional, program “Professor Goes to Pesantren” mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek pembelajaran. Prof. Amir menekankan pentingnya prinsip Shidiq (jujur), Tabligh (menyampaikan), Amanah (terpercaya), dan Fathonah (cerdas) dalam berbisnis, sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya seperti Abu Bakar, Usman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.

“Rasulullah SAW adalah entrepreneur sejati. Beliau memulai usaha sejak usia muda, membangun reputasi sebagai Al-Amin yang terpercaya, dan mengembangkan bisnis hingga ke negeri Syam. Para santri perlu memahami bahwa berwirausaha bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga bentuk ibadah dan kontribusi kepada masyarakat,” jelas Prof. Amir yang juga meraih Anugerah Bank Indonesia Kategori Kostum Terbaik Karya UMKM Jabar.

Kurikulum Komprehensif dari Mindset hingga Action Plan

Program pengabdian ini dirancang secara sistematis   intensif yang mencakup berbagai aspek kewirausahaan. Dimulai dengan ice breaking berupa pantun-pantun khas pesantren yang mengangkat semangat berwirausaha:

“Jalan-jalan ke kota Surabaya, Membeli kitab untuk dipelajari, Wirausaha santri penuh daya, Mandiri dunia akhirat diraih nanti”.

Pembelajaran kemudian berlanjut ke pembentukan mindset wirausaha Muslim, di mana santri diajak berdiskusi tentang pentingnya kemandirian ekonomi dalam perspektif Islam. Santri tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga dibimbing untuk mengenali peluang usaha di lingkungan mereka sendiri.

“Kami mengajarkan santri untuk melihat potensi di sekitar pesantren. Bisa usaha makanan, kerajinan, pakaian muslim, jasa les privat, laundry, bahkan usaha digital seperti konten Islami dan desain grafis. Yang penting adalah memulai dari yang kecil dan konsisten,” tambah Prof. Amir.

Workshop Praktis: Dari Ide ke Rencana Bisnis

Salah satu keunggulan program ini adalah pendekatan praktis melalui workshop mini. Santri dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan brainstorming, mengidentifikasi peluang usaha, hingga menyusun rencana bisnis sederhana. Setiap kelompok dibimbing untuk menentukan produk atau jasa, menghitung modal awal, menetapkan harga jual, dan merancang strategi pemasaran.

Yang tidak kalah penting adalah pemahaman tentang prinsip keuangan Islami. Santri diajarkan untuk mengelola keuangan dengan jujur, menghindari riba dan transaksi haram, serta menyisihkan sebagian keuntungan untuk sedekah dan zakat. “Pencatatan keuangan yang rapi adalah kunci keberhasilan usaha. Ini juga bentuk amanah dalam mengelola rezeki yang Allah berikan,” ujar Prof. Amir.

Komitmen Tim Dosen UPI untuk Jawa Barat

Program ini tidak hanya melibatkan satu dosen, tetapi merupakan tim solid yang terdiri dari 8 profesor dan 3 Assoc Profesor.   Mereka adalah Prof. Dr. H. Nugraha, M.Pd., M.BA, CA., Prof. Dr. Amir Machmud, S.E, M.Si., Prof. Dr. H. Hari Mulyadi, M.Si, Prof. Dr. Drs. Janah Sojanah,M.Si dan  Prof. Dr. Endang Supardi, SE, M.Pd. Sementara 4 orang Assoc Profesor Adalah  Assoc Prof. Dr. Ilma Purnamasari, S.Pd, M.M.,., Assoc Prof. Dr. Rasto, S.Pd., M.Pd., dan Assoc Prof. Dr. Navik Istikomah, M.Si, dan Assoc Prof Muhamad Arief. Semuanya Adalah Dosen di lingkungan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Selain para professor, kegiatan ini pun melibatkan Alumni dan Mahasiswa pascasarjana yang tergabung dalam INSEED Group Riset di UPI yang dikordinatori oleh Ali Usman, mahasiswa Program Magister.

Tim ini berkomitmen untuk menjangkau 1000 santri di berbagai pesantren di Jawa Barat sepanjang tahun 2025-2026. “Ini adalah bentuk Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kami ingin memastikan ilmu yang kami miliki memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya santri sebagai aset bangsa,” ungkap Prof. Janah Sojanah. 

Mendukung Visi Misi Jawa Barat 2024-2029

Program ini selaras dengan visi Jawa Barat yang tertuang dalam RPJMD 2024-2029, yaitu “Jawa Barat Maju, Sejahtera, Juara untuk Semua”. Dalam misi ketiga disebutkan komitmen untuk mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis serta meningkatkan akses pendidikan berkualitas termasuk pendidikan pesantren.

Lebih jauh, program ini juga mendukung arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam bidang ekonomi, khususnya strategi pengembangan ekonomi syariah dan pemberdayaan UMKM berbasis pesantren. Data menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki lebih dari 20.000 pesantren dengan jutaan santri, potensi yang luar biasa untuk menggerakkan perekonomian daerah.

Testimoni dan Harapan Santri

Hadir pada acara tersebut dari pihak Pesnatren Cipari adalah Ketua Yayasan: Drs. Sofwan salaf, M.Ag,  Kepala MA: Hilman Arif Salaf, S.Pd.i, dan Kepala MTs: Drs. Mahbub. Pondok Pesantren Cipari, menyambut antusias program ini. “Selama ini kami fokus pada pendidikan agama. Namun kami menyadari santri juga perlu bekal keterampilan untuk hidup mandiri. Program dari UPI ini sangat kami butuhkan dan kami harap bisa berkelanjutan.” Ujar Drs. Mahbub.

Sammi Mustafa Raihan dan Aufa Karim, santri   yang mengikuti program, mengaku mendapat pencerahan. “Saya tidak pernah berpikir untuk berwirausaha. Selalu berkeinginan ngaji, lalu mengajar ngaji saja. Tapi setelah mengikuti ini, saya jadi punya ide untuk usaha jilbab dan busana muslim. Insya Allah mau saya mulai dengan modal kecil dulu.”

Target dan Keberlanjutan Program

Untuk tahun pertama, program ini menargetkan 1000 santri dari 20 pesantren besar di Jawa Barat, meliputi wilayah Bandung Raya, Priangan Timur, Cirebon, dan Bogor. Setiap pesantren akan mendapat pendampingan intensif selama 3 bulan pasca-pelatihan untuk memastikan santri benar-benar memulai usahanya.

“Kami tidak hanya datang, memberikan materi, lalu pergi. Ada mekanisme monitoring dan pendampingan. Bahkan kami akan memfasilitasi santri yang sudah memulai usaha untuk terhubung dengan ekosistem bisnis yang lebih luas,” jelas Prof. Amir.

UPI juga berencana menjalin kemitraan dengan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Barat, Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, serta berbagai korporasi untuk memberikan akses permodalan dan pemasaran bagi santri yang sudah memulai usaha.

Program “Professor Goes to Pesantren” bukan sekadar pengabdian masyarakat biasa. Ini adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi santri yang shalih secara spiritual sekaligus mandiri secara ekonomi. Sebagaimana pesan Prof. Amir kepada para santri: “Mulailah dari yang kecil, mulai dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri. Kalian adalah yang terhebat! Bekerja adalah ibadah, sehingga bekerjalah dengan serius penuh kecintaan.”

Dengan semangat Hari Santri Nasional yang mengangkat tema kemandirian dan kontribusi santri bagi bangsa, program ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia, menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.

MBG & GENERASI EMAS 2045 ALA PRABOWO

04 Nov 2025 • Humas UPI

Oleh. Deni Darmawan

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia dan Director Board Member of Orbicom-Unesco

Sebuah Flash back, ketika tahun 2002-2005, saat itu saya sedang riset bersama pakar Neuro Science, ahli bedah syaraf otak, ahli perkembangan anak, dan ahli gizi tentang bagaimana menyiapkan peserta didik yang unggul dalam menerima pesan pembelajaran di dalam otaknya?. Maka jawaban singkatnya saat itu, adalah bagaimana siswa siswi mulai dari jengjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, dan MAK, hingga perguruan tinggi harus memiliki gizi dan darah yang aktif di dalam otaknya. Demikian juga saat mau belajar apapun di sekolah atau universitasnya, maka peserta didik harus sudah sarapan dulu. Jika penasaran silakan baca artikel jurnal internasional yang penulis terbitkan saat itu tahun 2012 di Pitburg USA dengan alamat akses : https://www.scirp.org/journal/paperinforcitation? paperid=21930 dalam artikel internasional tersebut penulis sampaikan sebuah pemikiran terbarukan saat itu bagaimana para siswa siap untuk belajar kalau dalam otaknya sudah mendidih, artinya darah-darah dalam semua pembuluh darahnya sudah siap dengan receiver-receiver system syaraf yang aktif untuk menerima pesan-pesan pembelajaran dari para gurunya. Dimana salah satu syarat bagaimana darah-darahnya yang ada setiap pembuluh darah baik pada bagian otak bagian depan (Prefrontal, otak samping, Frontal, Otak bagian belakang telinga atau Temporal, belakang telinga menuju bagian kuduk Parietal, dan bagaian otak belakang atau occipital, hingga bagian otak tengah atau central lobe, semua aktif karena ada asupan dalam  darahnya sehingga akan cepat menerima, memproses dengan cepat hingga nantinya semua yang diterima akan disimpan di memori janga pendek (Short Term Memory) maupun jangka panjang (Long term memory). Dengan demikian semua peserta didik akan memiliki kemampuan yang ia pelajari, karena darahnya berkualitas atas asupan makanan yang bergizi. Sebagai bukti proses risetnya juga silakan diakses pada laman Youtube ini: https://www.youtube.com/watch?v=tMK9 wuJigJU .

Jika fenomena temuan riset ini jika dikaitkan dengan Program Bapak Presiden Republik Indonesia Periode 2024-2029, Bapak Jendral Prabowo Subiyanto tentang program Makanan Gratis yang sudah bergulir dalam satu tahun ini. Tentunya semua anak-anak negeri ini sedang dipersiapkan menjadi generasi emas yang siap belejar dan menerima materi Pelajaran dengan cepat, sebagaimana dalam riset Deni Darmawan (2002-2005), dengan kecepatan 12 Milisecond perdetik atau secepat mengedipkan mata, mereka para siswa mampu menerima materi-materi Pelajaran. Jika hal ini berhasil apalagi dalam 5 tahun ke depan maka semua peserta didik Indonesia betul-betul menjadi generasi emas, artinya saat ini bangsa Indonesia sedang melaksanakan Blue Print dalam mempersiapkan generasi yang kuat. Tentunya program MBG ini akan menajdi program inovasi negara-negara berkembang bahkan negara-negara majupun akan bercermin pada program MBG ala Presiden Prabowo ini. Demikian juga jika program ini berhasil hingga 4 atau 5 tahun ke depan, makan tidak menutup kemungkinan Word Bank akan melirik dan kebijakan internasional melalui UNESCO akan mentauladani program ini. Sebagaimana dalam program SDG’sna UNESCO yang mencanangkan tentang 17 Program untuk dunia dan program SDG’s tentang Zero Hunger, Quality Education, Good Health and Well-Being, Clean Water and Sanitation, Decent Work and Economic Growht, reduce inequality, Peace, Justice and String Institutions, Partneships for the Goals, semuanya dapat diwujudkan melalui keberhasilan dan keberlanjutan program MBG Pemerintah Indonesia. Demikian juga ketika banyak memberdayakan KUKM, peternak kecil, petani kecil dan kantong-kantong MBG dibuka secara merata mulai dari pedesaan, kecamatan, kabupaten dan provinsi di seluruh pelosok tanah air maka secara strategis akan jauh lebih berhasil, jika tata kelolanya juga kita banguan dengan sempurna.

Berbicara tata kelola dan sistem pemberdayaan juga monitoring dan evaluasi, harusnya direlevansinkan dengan pemerataan sistem digitalisasi program yang dulu berhasil tentang Pembangunan ICT center hingga ke pelosok. Maka program MBG ini seyogyanya dapat disandingkan dengan program-program keberhasilan bangsa ini dalam membangun generasi mudanya, khususnya dalam sistem pemantauan jangan sampai margin error tantangannya menjadi membesar sebagaiman dipenghujung tahun 2025 ini MBG mengalami tantangan dengan adanya adanya musibah “Keracunan” di satu wilayah, cukup hanya 0,001 % saja kegagalannya. Dengan margin error sebesar itu maka merujuk pada pidato Presiden Prabowo bahwa selama 1 tahun ini keberhasilan program MBG ini sudah 99,999%. Namun demikian dengan capaian dan margin error seperti ini, maka ada beberapa hal yang harus ditingkatkan, ditertibkan, dipantau dan dievaluasi secara sistemik demi keberhasilan dan keberlanjutan program yang luar biasa dari pemerintah Prabowo-Gibran ini. Sebagai Solusi untuk menghadapi, menjaga serta meningkatkan mutu program MBG, diantaranya (1) Bangun sistem layanan yang sehat dari hulu hingga hilir ;(2) Libatkan semua unsur yang berpikir positif serta memiliki kompetensi yang relevan; (3) Lakukan program Pembekalan atas semua unsur yang terlibat; (4) Bangun system pemantauan secara terstruktur dengan dukungan ICT dan AI yang memadai dan adaptif; (5) Lakukan program edukasi atas tujuan utama, tujuan antara dan tujuan praktis di setiap kantong-kantong yang sudah tersentuh program MBG ini; (6) Lakukan system reporting baik Dailly report, Weekly report, Monthly report, Three monthly report, Midtherm Report, Annual Report yang jelas atas semua keberhasilan, kendala, dan solusi; (7) lakukan kampanye kesadaran akan kekuatan positif melalui program broadcast yang melibatkan orang tua, Toga, Tomas, Tokad, Topend, Tobud, Topol dan generasi milenial yang ada di dalamnya; (8) Bangun sistem transformasi keunggulan tingkat lokal, regional, internasional dan bahkan dunia mengani roadmap dari program MBG ini secara masif.

Jikalah hal tersebut dapat dilakukan secara bersama-sama oleh semua elemen bangsa ini, maka istilah “Bancakan Anggaran” dan musibah “Keracunan”, atau bahkan lebih parahnya terjadi mar-up atas semua kegiatan implementasi mulai dari belanja, masak, pengemasan, bahkan transportasi dan distribusi yang kurang baik tidak akan terjadi. Dengan demikian di setiap Hari Kebangkitan Nasional juga Hari Sumpah Pemuda tahun 2025, Keberhasilan Program MBG ada di dalamnya. Karena baik secara kajian keilmuwan, ekonomi, ketahanan masyarakat, maupun pemberdayaan masyarakat program MBG ini telah sesuai dna kuat. Inilah kenapa program pemerintah Prabowo-Gibran tentang MBG ini harus menjadi Icon bangsa yang sadar akan gizi generasi mudanya untuk mewujudkan “Generasi Indonesia Emas 2045.” Salam Sehat untuk semua, Maju Indonesia.

Tim SIG UPI Raih Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional ECOFEST 2025

03 Nov 2025 • Humas UPI
Tim SaiGEdun Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional ECOFEST 2025. Foto: Istimewa

Bandung, 25 Oktober 2025 — Tim mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) meraih prestasi gemilang dengan keluar sebagai Juara 1 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional ECOFEST 2025 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Tim yang bernama SaiGEdun tersebut terdiri dari tiga mahasiswa S1 Sains Informasi Geografi, yakni Ai Sulastri, Adithya Kresna Sumaamijaya, dan Khairul Anam, dengan bimbingan Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D.

ECOFEST 2025, yang mengusung tema “Innovation of the Young Generation in Responding to Environmental Challenges Towards Sustainable Development Goals (SDGs)”, merupakan ajang tahunan yang menggali ide-ide inovatif dalam menjawab tantangan lingkungan global. Kompetisi ini berlangsung sejak 16 Agustus hingga 25 Oktober 2025, melalui berbagai tahapan seleksi ketat mulai dari pengumpulan karya ilmiah, seleksi naskah, hingga presentasi final di depan dewan juri.

Dalam kompetisi ini, tim UPI mengangkat inovasi berjudul “EcoSolarGIS: Integrasi Pemodelan 3D dan WebGIS untuk Optimalisasi Energi Surya di Lingkungan Kampus Berkelanjutan”. Inovasi tersebut memadukan teknologi Weighted Overlay, data LiDAR, dan pemodelan 3D untuk memetakan potensi energi surya pada bangunan kampus secara akurat. Hasil analisis kemudian disajikan dalam platform WebGIS interaktif, EcoSolarGIS, yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan energi terbarukan di lingkungan kampus.

“Melalui EcoSolarGIS, kami ingin memberikan kontribusi nyata menuju kampus berbasis energi bersih, sekaligus menunjukkan potensi teknologi geospasial dalam mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujar Tim SaiGEdu.

Keberhasilan tim UPI dinilai atas orisinalitas ide, relevansi terhadap isu SDGs, serta potensi implementasinya bagi masyarakat dan lingkungan. Raihan prestasi ini juga menjadi bukti dari sinergi antara kemampuan akademik dan kreativitas mahasiswa dalam menjawab isu-isu terkini melalui penelitian ilmiah.

“Prestasi ini bukan hanya tentang juara, tetapi tentang pembelajaran berharga dalam manajemen waktu, kerja sama tim, dan pengembangan diri,” lanjut mereka.

ECOFEST 2025 diikuti oleh lebih dari 50 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, dengan 6 tim terbaik yang berhasil maju ke babak final. Penghargaan ini menambah daftar prestasi mahasiswa UPI di kancah nasional serta memperkuat kontribusi kampus dalam upaya pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) dan poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim). (RK)

Lewat Permainan Tradisi, Mahasiswa UPI di Sumedang Lestarikan Budaya dan Dukung Aktivitas Fisik

03 Nov 2025 • Humas UPI
Pengenalan permainan tradisi kepada Siswa SDN Sirahcipelang, 2025

Sumedang, UPI — Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang yang tergabung dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) kelompok 33 menggelar kegiatan pelestarian budaya melalui permainan tradisional di d, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Sabtu (25/10/2025). Program bertajuk “Permainan Tradisional: Warisan Budaya dan Sarana Edukasi Anak” ini diikuti oleh siswa kelas 4 hingga 6.

Kegiatan dipimpin oleh Dzihan Azkiya selaku penanggung jawab program. Ia mengajak siswa untuk mengenal, memainkan, dan memahami nilai edukatif dari permainan congklak dan beklen. Permainan congklak melatih kecerdasan logika dan strategi, sedangkan beklen mengasah ketangkasan motorik dan koordinasi gerak. Kedua permainan ini dinilai efektif menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas, dan kerja sama.

“Melalui permainan tradisional, kami ingin menanamkan nilai budaya sekaligus mendorong siswa aktif secara fisik. Ini sejalan dengan implementasi pilar aktivitas fisik dalam pencegahan stunting,” ujar Dzihan.

Para peserta tampak antusias. Salah satu siswa, Kheyla, mengungkapkan kegembiraannya.

Kegiatan mengenal, memainkan dan memahami makna edukatif dari permainan tradisi, 2025

“Seru banget main beklen dan congklak bareng teman-teman. Jadi tahu kalau permainan tradisional itu bukan cuma mainan lama, tapi bikin kita sehat juga,” katanya.

Kepala SDN Sirahcipelang, Rina Rohayati, S.Pd., memberikan apresiasi kepada mahasiswa UPI.

“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi anak-anak. Mereka belajar sambil bergerak aktif dan tetap mengenal budaya bangsa,” ujarnya.

Program ini selaras dengan misi pelestarian budaya dan mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan poin 4 (Pendidikan Berkualitas). Selain memperkenalkan warisan budaya, program ini juga menegaskan peran permainan tradisional sebagai media edukatif yang menyenangkan serta sarana mendorong tumbuh kembang anak secara optimal.

Dengan kegiatan ini, mahasiswa P2MB UPI Sumedang dan SDN Sirahcipelang berharap generasi muda semakin mencintai budaya bangsa sekaligus tergerak untuk hidup aktif, sehat, dan cerdas. (RK)

Kontributor: Dzihan Azkiya

Pencarian