
Bandung, UPI
Literasi memiliki peran penting dalam mewujudkan pendidikan dan pembangunan berkelanjutan. Tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, literasi kini berkembang menjadi kompetensi multidisipliner yang mencakup pemahaman, penafsiran, penciptaan, dan komunikasi dalam dunia digital yang dinamis.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Gin Gin Gustine, M.Pd., Ph.D., Guru Besar bidang Language and Literacy Education Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dalam orasi ilmiahnya berjudul “Peran Literasi dalam Mendukung Pendidikan Berkelanjutan”. Rabu, (5/11).
Menurut Prof. Gin Gin, literasi saat ini harus dipahami dalam konteks global sebagaimana didefinisikan oleh UNESCO (2025), yang menegaskan bahwa kemampuan literasi merupakan bagian tak terpisahkan dari tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas.
“Pendidikan yang berkelanjutan sangat bergantung pada pembelajaran literasi yang mumpuni. Literasi adalah fondasi utama untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, berkeadilan, dan berdaya saing,” ujar Prof. Gin Gin.
Ia menjelaskan, literasi memiliki potensi besar untuk dikaji secara multidisipliner karena mencakup aspek bahasa, sosial, budaya, dan teknologi. Dalam konteks pendidikan berkelanjutan, ia menyoroti pentingnya teori Multiliteracies, yang menempatkan literasi sebagai sarana perubahan sosial dan pemerataan kualitas pendidikan.

Namun, Prof. Gin Gin juga menilai bahwa penelitian yang menghubungkan literasi dengan pembangunan berkelanjutan masih sangat terbatas. “Selama ini, literasi sering dianggap hanya berkaitan dengan kemampuan dasar membaca dan menulis. Bahkan ada mitos bahwa pendidikan berkelanjutan hanya relevan dengan bidang lingkungan atau perubahan iklim,” ungkapnya.
Keterbatasan riset tersebut, lanjutnya, membuka peluang besar bagi para akademisi dan praktisi pendidikan untuk mengisi research gap di bidang literasi dan keberlanjutan. Ia menegaskan perlunya riset-riset baru yang memadukan pendidikan bahasa, literasi, dan prinsip pembangunan berkelanjutan agar relevan dengan kebutuhan global saat ini.
Lebih jauh, Prof. Gin Gin menyoroti tantangan pembelajaran literasi di tengah karakteristik generasi saat ini yaitu Generasi Alpha dan Z yang lahir sebagai digital natives. “Siswa kita sekarang belajar melalui media sosial, YouTube, TikTok, dan ruang-ruang virtual seperti Roblox. Ini menjadi tantangan besar bagi pendidik dalam merancang pembelajaran literasi yang bermakna dan relevan,” jelasnya.
Menurutnya, strategi pembelajaran literasi harus disesuaikan dengan gaya belajar generasi digital agar mereka tetap dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. “Pendidik perlu memahami bagaimana anak-anak belajar dan bagaimana kita dapat membangun kebiasaan membaca dan menulis yang bermakna di tengah derasnya arus informasi digital,” tambahnya.
Prof. Gin Gin juga mengungkapkan keprihatinan terhadap rendahnya kemampuan literasi di tingkat sekolah menengah yang tercermin dalam hasil asesmen internasional seperti PISA (Programme for International Student Assessment).
Mengintip di laman resmi PISA, pada tahun 2029 nanti, yang merupakan edisi PISA ke-10, akan memfokuskan asesmennya pada kemampuan membaca, literasi media, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence literacy). “Ini menjadi peringatan bahwa pendidikan bahasa dan literasi harus bertransformasi. Kita tidak bisa lagi mengajarkan literasi dengan cara lama,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa peningkatan kemampuan literasi akan berpengaruh langsung terhadap kemajuan bangsa. Pendidikan literasi yang baik harus mengintegrasikan tiga pilar pembangunan berkelanjutan: lingkungan, ekonomi, dan sosial.
“Guru bahasa memiliki peran strategis bukan hanya sebagai pengajar tata bahasa, tetapi juga agen perubahan sosial yang mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujar Prof. Gin Gin.
Menutup orasinya, Prof. Gin Gin menyampaikan harapan agar Indonesia dapat meningkatkan peringkatnya dalam PISA 2025 dan 2029 melalui penguatan literasi di seluruh jenjang pendidikan.
“Kemajuan literasi bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi seluruh ekosistem pendidikan—pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Kebijakan yang diambil harus berbasis riset yang mendalam dan berorientasi pada masa depan,” pungkasnya. (DN/Rija/Cawal/Ratih)

