Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Ada istilah lucu di kalangan pemancing kampung di wilayah Priangan. Ungkapan “clom giriwil”. Kata clom adalah bunyi ketika kail baru saja menyentuh permukaan air.

Belum sempat tali dikencangkan. Belum sempat duduk manis. Eh… langsung giriwil! Seolah-olah ada ikan yang muncul dari dalam kolam sambil berkata, “Welcome! Kami memang sedang menunggu Anda.” Bahkan, kalau ikannya sedang sangat ramah, mungkin ia menambahkan, “Silakan dipilih… hari ini kami sedang diskon keberuntungan!”

Belum sempat menarik napas, ikan sudah lebih dulu “nyamper”. Seakan-akan penghuni kolam telah menggelar karpet merah sambil berseru, “Welcome, Boss! Kami sudah booking umpan Anda sejak tadi pagi.” Pemancing belum sempat bergaya, juragan ikan sudah lebih dulu mengajukan diri untuk difoto.

Memancing model begini tentu membuat pemancing jadi “besar kepala”. Baru sekali melempar kail, langsung pulang sambil berkata dengan agak legeg (sombong), “Ternyata bakat memang tidak bisa disembunyikan.” Padahal, bisa jadi ikan memang sedang lapar sejak kemarin. Teman-temannya yang sudah tiga jam duduk di pinggir kolam hanya bisa melirik sambil bergumam, “Itu bukan keahlian, itu ikan lagi kurang waspada.”

Apabila sudah mengalami sindrom clom giriwil, biasanya muncul penyakit baru. Pemancing pemula menjadi percaya diri berlebihan atau overconfidence. Yaitu kecenderungan seseorang menilai kemampuan, pengetahuan, atau peluang keberhasilannya lebih tinggi daripada kenyataan.

Baru sekali clom giriwil, besoknya ia datang bergaya dengan topi lebar. Berkacamata Ray-Ban model aviator atau wayfarer, rompi penuh kantong. Bahkan membawa kamera karena begitu optimis akan panen ikan. Namun kali ini berbeda. Sudah ganti umpan lima macam, pindah tempat tujuh kali, sampai ikan kecil pun pura-pura tidak melihat kailnya. Rupanya kemarin yang hebat bukan pemancingnya, melainkan keberuntungannya.

Romantika kehidupan

Fenomena sindrom clom giriwil sebenarnya mirip dengan kehidupan sehari-hari. Ada orang baru membuka usaha langsung ramai pembeli. Ada yang baru mengunggah video pertama langsung viral. Ada pula mahasiswa baru membuka buku lima menit, tiba-tiba dosennya memberi pujian ”you are smart student”.  Semua itu membuat orang mudah menyimpulkan bahwa sukses itu gampang.

Dalam kehidupan nyata, di balik satu kali clom giriwil, jauh lebih banyak cerita tentang kail yang sepi. Umpan habis dimakan ikan kecil. Atau pulang hanya membawa cerita duka. ”Went fishing, caught nothing but sunshine”. Pergi memancing, yang didapat cuma sengatan sinar matahari.

Para pemancing senior biasanya hanya tersenyum melihat orang yang terlalu bangga karena sekali clom giriwil. Mereka tahu bahwa memancing bukan sekadar soal cepat mendapat ikan besar, tetapi tentang kesabaran menunggu dan ketelatenan mencoba berbagai jenis umpan. Pemancing sejati tetap menikmati suasana indah. Ia  tetap merasa damai kendati ember masih kosong.

Kalau sesekali mendapat clom giriwil, syukuri saja sambil tertawa. “A true fisherman values patience more than luck”. Seorang pemancing sejati lebih menghargai kesabaran daripada keberuntungan.

Dalam kehidupan sehari-hari, clom giriwil sering menjadi metafora bagi keberuntungan yang datang lebih cepat dari dugaan. Ada yang baru melamar pekerjaan, langsung diterima. Ada yang baru mencoba berjualan, pelanggan berdatangan. Ada pula yang baru membeli undian langsung mendapat hadiah.

Melihat itu, orang sering berkata, “Enak sekali hidupnya.” Padahal, tidak semua orang mengalami clom giriwil. Sebagian besar justru harus berkali-kali melempar “umpan” berupa kerja keras, belajar, berlatih, dan mencoba lagi sebelum akhirnya memperoleh hasil.

Makna clom giriwil mengajarkan agar kita tidak mudah silau oleh keberhasilan yang datang terlalu cepat.

Keberuntungan memang menyenangkan, tetapi tidak selalu bisa diulang. Hal yang membuat seseorang bertahan bukanlah satu kali keberuntungan, melainkan kemampuan untuk terus belajar ketika “lemparan berikutnya” tidak lagi disambar.

Seperti pemancing berpengalaman, ia tidak hanya menikmati saat ikan pertama didapat, Ia tetap tersenyum ketika kailnya berkali-kali pulang tanpa hasil. Ia tahu bahwa kesabaran sering kali lebih berharga daripada keberuntungan sesaat.

Kehidupan bukanlah perlombaan mencari clom giriwil. Kehidupan merupakan perjalanan panjang untuk menjadi pribadi yang tekun dan rendah hati. Jika suatu hari kita memperoleh rezeki yang datang begitu cepat, syukurilah dengan ungkapan Alhamdulillah. Tanpa harus menyombongkan tanpa harus menyombongkan diri. Jika belum memperoleh hasil, jangan berkecil hati. Bisa jadi kita sedang ditempa untuk menjadi pemancing tangguh.

“A true fisherman knows that catching fish is a bonus; the real reward is learning patience, humility, and perseverance”. Seorang pemancing sejati memahami bahwa menangkap ikan hanyalah bonus. Hadiah yang sesungguhnya adalah belajar tentang kesabaran, kerendahan hati, dan ketekunan.

Selamat memancing, di akhir pekan!