Foto Para Hadirin yang Mengikuti Kegiatan FGD

Bandung, UPI

Di balik klaim zero terror attack yang dicapai Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, ancaman nyata justru beralih ke ruang digital. Generasi Z sebagai digital natives kini menjadi sasaran dari radikalisme online yang bergerak secara halus dan sistematis. Merespons kondisi kritis ini, Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dampak Media Sosial terhadap Pemahaman Radikalisme dan Intoleransi Berbasis SARA pada Generasi Z di Indonesia” pada Kamis (30/7/2026).

RKI Tahun 2026 yang melibatkan UPI, Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) ini diketuai oleh Guru Besar Sosiologi Pendidikan UPI, Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si. Menurut Prof. Elly, telah terjadi pergeseran otoritas keagamaan di mana Generasi Z lebih banyak mencari informasi melalui mesin pencari dan kecerdasan buatan, bukan lagi belajar langsung kepada tokoh agama seperti kiai atau ustaz. Untuk membedah fenomena tersebut, FGD ini menghadirkan lima pakar lintas disiplin guna menelisik akar radikalisme dari sudut pandang politik, sosiologi, pendidikan, psikologi, hingga literasi media.

Mantan Staf Ahli Wapres sekaligus Guru Besar UPI, Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum., menyoroti adanya kondisi paradoksal di Indonesia. “Tahun 2023 sampai sekarang kita mengalami 0 terrorist attack. Tapi justru yang ada adalah radikalisme online yang masif, yang menyasar generasi muda,” tegasnya. Kelompok radikal saat ini belum hilang, melainkan sedang menunggu momentum dengan mengubah strategi. “Mereka menggeser pendekatan dari hard (penyerangan) ke soft (tidak kelihatan) dengan menggunakan radikalisme online yang menyasar ke generasi muda, dalam konteks perang pemikiran,” papar Prof. Dadan.

Foto Pemaparan Prof Dadan Wildan, M.Hum

Sementara itu, Dekan FPIPS UPI sekaligus Pakar Politik, Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.I.P., S.A.P., S.Pd., M.Si., M.H., CPM. menekankan bahwa radikalisme lahir dari proses panjang di alam pikiran. “Radikalisme bukan hanya berbentuk kekerasan, tapi juga berawal dari pikiran. Perilaku radikal tidak tiba-tiba tapi ada proses yang panjang,” ujar Prof. Cecep. Ia menjelaskan bahwa ada tiga pilar utama radikalisasi, yakni need sebagai kebutuhan akan signifikansi ataupun keadilan, narrative berupa narasi ideologis, dan network berbentuk jaringan pendukung.

Dari sudut pandang keagamaan, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Karman, S.Ag., M.Ag., mengingatkan bahaya membaca dalil agama secara sepotong-sepotong. Ia juga menyoroti pengkultusan tokoh agama di media sosial yang sering memberikan pandangan “hitam dan putih”. Di sisi lain, indeks literasi digital Indonesia yang masih di kategori sedang membuat masyarakat rentan. “Kurang kritis mempercepat indoktrinasi. Mengapa lebih dari setengah konten bernuansa negatif, dan kenapa hanya sebagian kecil yang melaporkan? Faktor tetap scroll konten negatif adalah bias kognitif, konten negatif lebih mudah diingat,” jelas Prof. Karman.

Senada dengan hal tersebut, Pakar Pendidikan Islam Universitas Islam Bandung (Unisba), Imam Pamungkas, Ph.D., mengajak publik untuk melihat radikalisme secara objektif. “Radikalisme itu sebenarnya netral, dan negatif jika mengarah pada ekstremisme. Ada radicalism by thought dan radicalism by action,” ungkap Pak Imam. Ia menegaskan bahwa media sosial bukanlah faktor penyebab tunggal, melainkan ruang yang memperkuat narasi. “Media sosial bisa diposisikan sebagai enabling atau amplifying environment,” tambahnya.

Tim Peneliti dari 3 Universitas (kiri ke kanan UM, UPI, dan UIII)

Masuknya narasi ekstrem ke alam bawah sadar Generasi Z sangat dipengaruhi oleh desain psikologis dari media sosial itu sendiri. Pakar Literasi Media, Vidi Sukmayadi, M.Si., Ph.D., mengungkapkan bahwa media sosial mampu memicu pelepasan hormon seperti oksitosin (hormon kepercayaan), serotonin (hormon pengatur mood), dan dopamin (hormon kepuasan) yang memengaruhi penggunanya secara tidak sadar. “Kenapa isu radikalisasi muncul dan diterima pada generasi Z, karena ada proses bawah sadar pada media sosial yang kadang sulit dilawan. Kadar literasi digital kita itu kadang di atas, kadang di bawah, sama seperti sebuah speedometer,” ujar Vidi. Ia merekomendasikan agar literasi media segera diwajibkan dalam kurikulum pendidikan formal.

Diskusi ini diperkaya dengan pengakuan langsung dari Generasi Z. Rufaidah, seorang siswi SMA, membeberkan bahwa Generasi Z seringkali menormalisasi sesuatu secara perlahan. “Gen Z ketika lihat satu konten dari satu tokoh agama, kami akan merasa ini salah, apalagi jika yang disampaikan salah, tetapi kita akan tetap menonton tokoh tersebut karena kami sangat suka dengan hal-hal yang bertentangan atau anti-mainstream,” tutur Rufaidah.

Aurel, perwakilan siswi SMA lainnya, menambahkan adanya bias makna “terpengaruh” di kalangan anak muda. “Menurut saya, kata ‘terpengaruh’ yang dimaksud peneliti beda dengan Gen Z. Menurut Gen Z, kalau sudah ikut organisasi ekstrem, maka itu yang dikatakan terpengaruh. Padahal cara-cara halus seperti bagaimana kita memercayai narasi digital juga justru mengindikasikan pengaruh,” urainya kritis.

Foto Bersama dengan Para Tamu Undangan yang Turut Hadir di Acara FGD

Tiara, seorang mahasiswi, mengonfirmasi bahwa paham-paham berbahaya kini dikemas dalam candaan atau meme. “Gen Z suka banget pertentangan. Orang-orang gak akan fokus pada konten, tapi justru ke kolom komentar yang bermuara pada perdebatan atau bullying,” kata Tiara.

Melalui temuan komprehensif ini, tim peneliti RKI yang diketuai oleh UPI berharap dapat menyusun model rekonstruksi pengetahuan yang inklusif serta program edukasi yang memadukan literasi digital, moderasi beragama, dan penguatan nilai kebangsaan sebagai benteng pertahanan bagi Generasi Z di ruang siber. (VS)