
Pagi yang cerah di halaman Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Barisan peserta upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) berdiri rapi, mengenakan baju adat. Suasana khidmat, namun sekaligus hangat oleh semangat peringatan yang sarat makna bagi dunia pendidikan. Di tengah prosesi itu, satu momen menarik di akhir upacara yaitu penyerahan Apresiasi Alumni UPI sebagai Guru Berprestasi dan Inspiratif.
Di hadapan ratusan pasang mata, Rektor UPI, Prof. Didi Sukyadi, M.A., menyerahkan penghargaan tersebut kepada salah seorang yang berdiri tenang dengan pakaian khas sunda yang dikenakan, dialah Dr. Budi Suhardiman.
Tepuk tangan dari peserta upacara, namun bagi Budi, momen itu bukan sekadar penghargaan. Ia adalah titik singgah dari perjalanan panjang—perjalanan yang dimulai jauh dari panggung, dari ruang-ruang kelas sederhana, dan dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan pengabdian.
Bagi banyak orang, ia dikenal sebagai kepala sekolah inspiratif. Namun bagi dirinya, peran itu tidak pernah berhenti pada jabatan. Ia adalah pendidik—dalam arti yang paling utuh.
Lahir di Garut pada 20 Februari 1969, perjalanan Budi bukanlah kisah instan. Ia menapaki jalannya dari bawah, dari bangku sekolah dasar hingga akhirnya menempuh pendidikan tinggi di IKIP Bandung, lalu melanjutkan studi magister dan doktoral di UPI . Dari sana, fondasi keilmuannya terbentuk—bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pembentuk karakter.
Kariernya dimulai sebagai guru honorer dan tenaga lapangan pendidikan masyarakat pada awal 1990-an. Masa-masa itu bukan hanya soal mengajar, tetapi tentang memahami realitas pendidikan di lapangan. Ia menyaksikan langsung bagaimana keterbatasan sering kali menjadi bagian dari sistem.
Dari guru, ia berkembang menjadi pemimpin. Dari satu sekolah ke sekolah lain, ia mengemban amanah sebagai kepala sekolah—mulai dari SMP kecil hingga sekolah negeri yang lebih besar. Kini, ia dipercaya memimpin SMPN 1 Karangpawitan, sebuah posisi yang bukan sekadar administratif, tetapi strategis dalam membentuk masa depan pendidikan .
Perjalanan itu tidak lepas dari tantangan. Menjadi pemimpin pendidikan berarti berhadapan dengan berbagai dinamika—guru, siswa, kebijakan, hingga perubahan zaman yang terus bergerak cepat. Namun justru di situlah ia menemukan makna perannya.
Bagi Budi, kekuatan seorang pendidik tidak hanya terletak pada pengetahuan, tetapi pada cara menyampaikan dan menghidupkan ilmu.
“UPI itu punya dua kekuatan utama,” ujarnya. “Pertama, kuat dalam metodologi—bagaimana menyampaikan pembelajaran agar mudah dipahami. Kedua, kuat dalam substansi profesional. Itu yang membuat guru-guru UPI dipercaya di masyarakat.” dua hal itu menjadi bekal yang ia bawa sepanjang kariernya.
Namun baginya, menjadi pendidik tidak berhenti di ruang kelas. Ada dimensi lain yang sering kali luput dari perhatian—peran sosial.
“Guru itu harus punya kompetensi sosial. Harus bisa hadir di masyarakat, berkiprah, dan menjadi teladan,” katanya. “Keberadaannya tidak hanya sebagai pengajar, tapi juga mewarnai kehidupan masyarakat.”
Selain memimpin sekolah, Budi aktif di berbagai organisasi pendidikan dan sosial. Ia terlibat dalam PGRI, Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, hingga gerakan literasi daerah . Ia juga menjadi dosen, tutor, dan narasumber yang kerap diundang untuk berbagi praktik baik pendidikan.
Tidak berhenti di sana, ia juga produktif menulis. Dalam satu dekade terakhir, ia telah menghasilkan dan mengedit puluhan buku—mulai dari tema kepemimpinan, pembelajaran, hingga literasi . Bahkan, salah satu karyanya tentang deep learning dalam pembelajaran menjadi buku best seller yang digunakan di berbagai daerah.
Karya-karya tersebut bukan sekadar tulisan. Ia menjadikannya sebagai medium perubahan.
Bukti dari dedikasi itu pun terlihat. Ia meraih berbagai penghargaan, termasuk kepala sekolah inspiratif tingkat nasional dan kepala sekolah terliterat se-Nusantara . Namun, seperti banyak pendidik sejati lainnya, penghargaan bukanlah tujuan akhir.
Baginya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi dari sejauh mana seorang pendidik mampu memberi dampak dan kontribusi nyata kepada masyarakat. Ia percaya bahwa guru harus hadir sebagai agen perubahan—yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dan membimbing kehidupan sosial.
Di tengah kesibukannya, Budi tetap menjaga satu prinsip sederhana: pendidikan adalah pengabdian.
Ia melihat bahwa guru-guru, khususnya lulusan UPI, memiliki kekuatan yang unik. Mereka tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik, tetapi juga aktif di tengah masyarakat. “Dimanapun mereka berada, mereka selalu eksis dalam kegiatan kemasyarakatan. Itu yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Perjalanan panjangnya menjadi cermin bahwa menjadi pendidik bukan sekadar profesi, tetapi sebuah pilihan hidup.
Pilihan untuk terus belajar.
Pilihan untuk terus memberi.
Pilihan untuk tetap hadir—bahkan ketika tidak ada sorotan.
Dan di pagi yang cerah itu, di halaman Gymnasium UPI, penghargaan yang ia terima bukanlah akhir dari perjalanan—melainkan pengingat bahwa cahaya pendidikan harus terus dijaga, dinyalakan, dan diwariskan. (RK)

