Suara riuh siswa di dalam kelas perlahan mereda ketika seorang perempuan berdiri di depan, membuka buku, lalu menatap satu per satu wajah siswa di hadapannya. Tangannya tidak hanya menunjuk baris-baris teks, tetapi juga mengajak pikiran untuk melampaui kata-kata. Di ruang kelas, Lusijani tidak sekadar mengajar—ia menyalakan cahaya.

Hampir tiga dekade lamanya, ia melakukan hal yang sama. Bukan karena kewajiban, melainkan karena panggilan jiwa.

Lusijani, S.Pd., adalah sosok yang memilih untuk tetap setia di jalur yang sering dianggap sunyi: menjadi guru honorer. Sejak menamatkan pendidikan di Jurusan Pendidikan Geografi IKIP Bandung pada 1997, ia mengabdikan dirinya di SMA Plus Babussalam, Cimenyan, Kabupaten Bandung. Waktu berjalan, generasi berganti, tetapi satu hal tidak berubah—dedikasinya.

Baginya, mengajar bukan sekadar profesi. “Menjadi guru adalah panggilan jiwa untuk menyalakan cahaya ilmu di tengah masyarakat,” demikian makna yang ia pegang dalam perjalanan panjangnya .

Kecintaan Lusijani pada literasi tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari rumah yang sederhana, tetapi kaya akan kebiasaan membaca. Sang ayah menanamkan kegemaran itu sejak kecil, menyediakan bacaan yang bermakna dan membangun rasa ingin tahu. Dari situlah, karakter Lusijani terbentuk—haus ilmu, peka, dan berani menyampaikan gagasan .

Masa kuliahnya di IKIP Bandung yang sekarang bernama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) semakin memperkuat fondasi tersebut. Ia aktif dalam kegiatan dakwah kampus, menulis untuk majalah, dan bergabung dalam komunitas menulis yang terus ia tekuni hingga lebih dari satu dekade. Dari komunitas itu pula, karya-karya mulai lahir—perlahan, tetapi pasti.

Namun, jalan pengabdian tidak selalu mudah, sebagai guru honorer, Lusijani menjalani profesi dengan segala keterbatasan. Status yang sering kali dipandang sebelah mata tidak menyurutkan langkahnya. Ia tetap hadir di kelas, tetap membimbing, tetap percaya bahwa setiap ilmu yang ia tanamkan akan menemukan jalannya sendiri.

“Ia tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga menyalakan obor literasi di tengah masyarakat,” tergambar dari kiprahnya yang meluas .

Di luar sekolah, Lusijani menjelma menjadi penggerak literasi. Ia aktif sebagai trainer literasi Islami, mengunjungi sekolah dan komunitas, membimbing siswa dan masyarakat untuk membaca dan menulis. Baginya, literasi bukan sekadar keterampilan, tetapi fondasi peradaban.

Melalui berbagai workshop, pelatihan, dan komunitas seperti Sharing Menulis dan Bisnis serta Emak Penulis Peradaban, ia mengajak banyak orang untuk menemukan suara mereka melalui tulisan .

Karya-karyanya menjadi bukti nyata dari konsistensi tersebut. Sejak buku pertamanya Flora Fauna Maskot Indonesia yang terpilih sebagai buku pengayaan nasional, Lusijani telah menulis lebih dari 30 buku dan puluhan karya kolaboratif . Dari haiku hingga buku nonfiksi, setiap tulisannya membawa semangat yang sama: berbagi, menginspirasi, dan memberi makna.

Ia juga kerap dipercaya menjadi narasumber kepenulisan, mentor workshop, hingga juri lomba literasi. Perannya meluas, tetapi esensinya tetap sama—mendidik.

Pengabdian panjang itu akhirnya menemukan pengakuan. Lusijani menerima berbagai penghargaan, termasuk sebagai Guru Perempuan Inspiratif 2026 . Namun baginya, penghargaan bukanlah tujuan tapi berdampak adalah yang lebih penting.

Kepada mahasiswa dan alumni UPI, Lusijani menitipkan pesan yang tulus. “Tetaplah semangat belajar, semangat menuntut ilmu, dan selalu yakin bahwa Allah akan memberikan jalan. Kita sebagai guru adalah da’i. Apa pun yang kita kerjakan, niatkan untuk mendapatkan ridha Allah.” Baginya, menulis adalah bentuk warisan yang paling abadi. “Tulisan yang kita tinggalkan hari ini, insyaallah akan menjadi amal jariah untuk keluarga, untuk siapa pun yang membacanya,” pungkasnya .

Atas dedikasi dan kontribusinya yang nyata dalam dunia pendidikan dan literasi, Lusijani menjadi salah satu penerima Apresiasi Alumni UPI sebagai Guru Berprestasi dan Inspiratif. UPI bangga memiliki alumni seperti Lusijani, sosok yang membuktikan bahwa mengajar adalah panggilan, dan bahwa literasi yang ditanamkan dengan sepenuh hati akan terus berbuah jauh melampaui batas ruang kelas .

Di balik semua itu, Lusijani tetaplah seorang guru yang sederhana. Ia masih berdiri di kelas, masih membuka buku, masih mengajak siswa untuk berpikir dan bermimpi.

Perjalanan hidupnya mungkin tidak selalu terlihat gemerlap. Tidak ada panggung besar atau sorotan berlebih. Namun justru di sanalah letak maknanya.

Bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari tempat yang megah.

Kadang, ia tumbuh perlahan—dari ruang kelas, dari lembaran buku, dari kata-kata yang ditulis dengan penuh keyakinan.

Dan Lusijani telah membuktikan, bahwa ketika seseorang setia menyalakan cahaya, cahaya itu akan terus menyala—bahkan jauh melampaui ruang dan waktu. (Hilya)