Bandung, UPI

Pendidikan matematika di era modern tidak lagi sekadar berfokus pada rumus dan perhitungan mekanis, tetapi juga menekankan keterkaitan dengan budaya dan kehidupan nyata. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Supriadi, M.Pd., Guru Besar dalam bidang Pendidikan Matematika dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang. Rabu, (5/11).

Menurut Prof. Supriadi, perkembangan teknologi, perubahan kurikulum, serta tuntutan keterampilan abad ke-21 menuntut pembelajaran matematika yang lebih kontekstual dan kreatif. “Matematika kini diajarkan dengan pendekatan yang relevan dengan kehidupan siswa, termasuk dengan melibatkan nilai-nilai lokal dan budaya melalui etnomatematika,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembelajaran etnomatematika memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan matematika di sekolah dasar sekaligus melestarikan budaya lokal, terutama melalui permainan tradisional. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi faktor penting agar pendekatan ini dapat diimplementasikan secara optimal.

“Etnomatematika mengaitkan konsep-konsep matematika dengan konteks budaya siswa. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya mengasah kemampuan logika, tetapi juga membentuk identitas dan karakter peserta didik Indonesia,” jelasnya.

Pendekatan ini, lanjut Prof. Supriadi, sejalan dengan Permendikbudristek Nomor 47 Tahun 2023 tentang Standar Pengelolaan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Menengah. Selain itu, etnomatematika juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 yang menekankan pendidikan berkualitas (Quality Education).

“Melalui etnomatematika, siswa dari berbagai latar belakang budaya dapat belajar bersama dalam suasana inklusif dan saling menghargai. Pengalaman sehari-hari mereka menjadi sumber belajar yang memperkaya proses pembelajaran matematika,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Supriadi menjelaskan bahwa penerapan etnomatematika di sekolah dasar berawal dari ide-ide budaya yang dimiliki oleh guru dan siswa. Ide budaya tersebut kemudian dimodifikasi agar relevan dengan konsep matematika yang diajarkan tanpa menghilangkan nilai aslinya.

“Misalnya, permainan tradisional seperti congklak, engklek, atau anyaman dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan konsep bilangan, pola, dan geometri. Dengan cara ini, siswa belajar matematika dari pengalaman nyata dan budaya mereka sendiri,” katanya.

Pendekatan ini juga dinilai efektif dalam mengurangi sifat abstrak matematika yang sering menjadi kendala bagi siswa sekolah dasar. “Dengan visualisasi ide budaya, siswa akan lebih mudah memahami konsep matematika. Sekaligus, karakter anak Indonesia akan terbentuk dari nilai-nilai budaya asli,” tambahnya.

Prof. Supriadi berharap, penerapan etnomatematika dapat menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan matematika di Indonesia. Ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, perumus kurikulum, sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik dalam mendukung penerapan pembelajaran berbasis budaya ini.

Belajar matematika dengan budaya lokal bukan hanya membuat pelajaran lebih mudah dipahami, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya bangsa. (DN/Rija/Cawal/Ratih)