
Bandung, UPI
Program Studi Akuntansi, Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menunjukkan peran aktifnya dalam pembangunan ekonomi pedesaan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang intensif. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Prodi Akuntansi FPEB UPI dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bandung Barat.
Dalam kerangka mata kuliah Proyek Konsultansi Program Studi Akuntansi, dosen pengampu Dr. Aristanti Widyaningsih, M.Si dan Rika Nurrizkiana, M.S.Ak, bersama sejumlah mahasiswa Prodi Akuntansi, telah melaksanakan pendampingan intensif selama satu bulan penuh.
“Program ini bertujuan untuk membangun dan meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan serta tata kelola usaha di tingkat desa, khususnya bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes),” ujar Dr. Aristanti Widyaningsih.
Pendampingan fokus diberikan kepada 15 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini mencakup aspek konsultansi yang diharapkan mampu mentransformasi BUMDes menjadi entitas usaha yang lebih profesional, akuntabel, dan berkelanjutan.
Program pengabdian ini menegaskan komitmen Program Studi Akuntansi FPEB UPI dalam mengintegrasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan penerapan ilmu akuntansi praktis yang relevan untuk mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi di daerah.
Kegiatan berfokus pada penguatan tata kelola, pelaporan keuangan, dan strategi pemasaran BUMDes yang turut berkontribusi pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Program dirancang sebagai inisiatif berkelanjutan agar BUMDes mampu mandiri secara ekonomi, berdaya saing tinggi, serta menjadi model penerapan akuntabilitas dan keberlanjutan di tingkat lokal.
Di Bojongkoneng, BUMDes Baraya Rancage mendapat pelatihan pelaporan keuangan sesuai standar Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal serta pelatihan digital marketing. Di Cibogo, mahasiswa membantu promosi unit usaha gelanggang olahraga untuk menarik penyewa dan mitra baru. Desa Kayuambon memperoleh roadmap usaha berbasis SWOT untuk pengembangan bibit kentang dan sayur hidroponik. BUMDes Margajaya mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan usaha penyewaan tenda untuk mendukung pelaku UMKM lokal.
Pendampingan juga mencakup pelatihan laporan keuangan dan digital marketing bagi BUMDes Jayagiri, penyusunan Business Model Canvas dan digitalisasi keuangan di BUMDes Sadangmekar, serta optimalisasi tata kelola PAMDes Cihideung melalui pembinaan laporan keuangan dan struktur organisasi. Inovasi digital diterapkan di BUMDes Pagerwangi dengan aplikasi AppSheet dan QRIS, sementara fokus di BUMDes Laksanamekar pada peningkatan keterampilan akuntabilitas keuangan untuk memenuhi regulasi baru terkait program ketahanan pangan.
Pengurus BUMDes dibekali teknik pelaporan yang efisien dan sesuai standar pemerintah. BUMDes Mukti Saluyu mendapat pelatihan akuntansi dan penggunaan aplikasi keuangan, sedangkan BUMDes Pasirhalang Mandiri diperkuat dalam penyusunan laporan laba rugi dan arus kas. Di Ciwaruga, pendampingan menata sistem keuangan dan strategi pemasaran, sedangkan di Jambudipa fokus pada pemetaan masalah dan solusi berbasis potensi lokal. Terakhir, BUMDes Cigugurgirang dan Kertamulya dibimbing dalam manajemen piutang dan penyusunan laporan keuangan yang transparan.
Menurut Dr. Aristanti Widyaningsih, M.Si menjelaskan bahwa selaku salah satu dosen pembimbing, program ini tidak hanya bermanfaat bagi BUMDes, tetapi juga memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan komunikasi, analisis bisnis, dan problem solving. Dengan kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan desa, diharapkan BUMDes di Kabupaten Bandung Barat dapat tumbuh menjadi penggerak ekonomi lokal yang mandiri dan berdaya saing tinggi. (FPEB UPI)

