Dr. Mahardika Zifana saat memaparkan materi “Panduan Menulis dan Publikasi Ilmiah” dalam rangkaian kegiatan Linguasphere 2025 yang digelar oleh Balai Bahasa UPI, Bandung, Senin (27/10) Foto: DN/ KKIPP

Bandung, 27 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan International Language Day, Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Talk Show bertajuk “Panduan Menulis dan Publikasi Ilmiah” bersama Dr. Mahardika Zifana, akademisi dan peneliti muda yang dikenal aktif membimbing mahasiswa dalam publikasi ilmiah. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Linguasphere 2025 yang bertema “Merayakan Keberagaman Bahasa Dunia.”

Dalam paparannya, Dr. Mahardika menegaskan bahwa kemampuan menulis ilmiah merupakan keterampilan penting bagi mahasiswa dan akademisi untuk mengembangkan daya pikir kritis dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan.

“Menulis karya ilmiah bukan hanya tentang memenuhi tugas akademik, tetapi tentang melatih berpikir jernih, sistematis, dan bertanggung jawab secara ilmiah,” ujarnya.

Dr. Mahardika memaparkan berbagai strategi untuk menulis karya ilmiah yang efektif — mulai dari memahami metodologi penelitian, mengelola waktu, hingga menjunjung tinggi etika akademik. Ia juga membedakan secara jelas antara skripsi atau tesis yang bersifat eksploratif dan lengkap, dengan artikel jurnal yang lebih padat, fokus pada kebaruan, dan menonjolkan temuan utama.

Lebih lanjut, ia membahas tantangan umum yang kerap dihadapi mahasiswa dalam proses penulisan, seperti kesulitan menentukan topik, motivasi yang menurun, hingga manajemen waktu yang buruk. Untuk mengatasinya, Mahardika menganjurkan mahasiswa menetapkan bidang minat yang relevan, membaca literatur terbaru, dan menyusun timeline realistis sejak awal penelitian.

Dalam sesi selanjutnya, Dr. Mahardika menguraikan kiat praktis menulis artikel jurnal, antara lain menyusun abstrak yang ringkas dan kuat, menghindari plagiarisme dengan sitasi yang tepat, serta menggunakan reference manager untuk menjaga konsistensi daftar pustaka.

“Plagiarisme bukan sekadar pelanggaran etika, tetapi juga tanda kurangnya penghargaan terhadap proses berpikir ilmiah. Gunakan sumber akademik terpercaya dan biasakan menulis dengan pemahaman sendiri,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya proofreading dan peer review sebelum naskah dikirim ke jurnal ilmiah. Menurutnya, tahap penyuntingan dan tanggapan terhadap komentar reviewer adalah bagian penting dalam membentuk integritas dan profesionalisme penulis ilmiah.

Great papers come from great revisions — artikel hebat lahir dari proses revisi yang sabar dan terbuka,” ujarnya.

Selain itu, Dr. Mahardika membagikan panduan memilih jurnal yang tepat berdasarkan reputasi, kesesuaian bidang, serta waktu peninjauan yang realistis. Ia mengingatkan agar penulis memperhatikan author guidelines dan struktur naskah sesuai format jurnal sasaran.

“Menulis ilmiah adalah proses panjang. Nikmati setiap langkahnya, rayakan setiap kemajuan kecil, dan jadikan tulisanmu sebagai kontribusi bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.”, Tutup Dr. Mahardika. RK (28/10)