Putrajaya, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menegaskan komitmennya dalam bidang pelestarian budaya dan pendidikan melalui kehadiran Prof. Yulianeta, Guru Besar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI, sebagai narasumber utama di konferensi internasional Persidangan Antarabangsa Karya Agung Melayu (PAKAM) 2025 yang diselenggarakan di Hotel Le Méridien, Putrajaya, 24–25 Oktober 2025. Acara ini terselenggara atas kerja sama Yayasan Karyawan bersama Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA)–Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Sains Malaysia (USM), Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Universiti Putra Malaysia, dan Perpustakaan Negara Malaysia (PNM).

Pembukaan konferensi dilakukan oleh Pemerintah Malaysia yang diwakili oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Datuk Seri Dr. Zambry Abd Kadir, yang hadir mewakili Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar Ibrahim. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa pemerintah akan memfasilitasi pendigitalan dan transliterasi karya agung Melayu sebagai bagian dari strategi nasional dalam memajukan warisan budaya di era digital.

Peran UPI & Relevansi Konferensi

UPI, melalui kehadiran Prof. Yulianeta, menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya bukan hanya persoalan masa lalu, tetapi juga sangat relevan dalam konteks global dan lintas negara. Dukungan UPI terhadap program Kampus Berdampak tercermin dalam partisipasi aktif di forum internasional ini.

Konferensi PAKAM 2025 menghadirkan narasumber utama dan panelis dari beberapa negara, Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand, Jerman, dan Leiden yang membahas prakarsa digitalisasi warisan sastra, kolaborasi lintas negara, dan penguatan generasi muda sebagai penerus budaya.

Dalam sesi yang menyorot hubungan antara tradisi dan teknologi, Prof. Yulianeta membawakan topik berjudul: Transformasi Manuskrip Nusantara melalui Animasi: Usaha Melestarikan Karya Agung dalam Era Teknologi.

Pembahasan ini menekankan bagaimana visualisasi digital dapat menjadi sarana untuk menghidupkan kembali manuskrip Nusantara, terutama manuskrip Memory of the World, sekaligus menjangkau audiens generasi muda, termasuk anak-anak. Upaya mendekatkan karya agung kepada generasi muda telah banyak dilakukan di Indonesia melalui revitalisasi manuskrip yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa, Kemendiknas serta melalui sayembara penulisan cerita dan skrip komik berdasarkan koleksi manuskrip Perpustakaan Nasional RI. Transformasi atau penyederhanaan naskah ke dalam bentuk animasi dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai kebaikan naskah hipogram atau naskah asli, dengan misi meneruskan kebaikan masa lalu untuk masa kini. Pendekatan ini menghadirkan tokoh-tokoh heroik sebagai inspirasi bagi generasi muda agar lebih mengenal dan menghargai warisan budaya bangsa.

PAKAM 2025 menempatkan pelestarian karya agung sebagai isu lintas-disiplin: dari filologi, arsip, hingga aplikasi teknologi digital dan industri kreatif serta perfilman, dengan sesi panel dan presentasi dari ilmuwan lokal serta internasional. Acara juga menampilkan sambutan dari tokoh-tokoh kependidikan negara dan menghadirkan pembicara dari berbagai universitas mitra.

Kaitan dengan Program “Kampus Berdampak”

Pendekatan ini selaras dengan semangat Kampus Berdampak, pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan penelitian dan publikasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan pelestarian budaya.

Terkait agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), inisiatif yang diangkat dalam PAKAM 2025 menunjukkan korelasi kuat dengan upaya pelindungan dan promosi warisan budaya (SDG 11.4), peningkatan akses pendidikan berkualitas melalui pemanfaatan karya tradisional sebagai bahan pembelajaran (SDG 4), serta penguatan kemitraan lintas negara, institusi akademik, dan sektor kreatif (SDG 17).

Di akhir konferensi, PAKAM 2025 merekomendasikan beberapa langkah strategis, antara lain: pengembangan kurikulum berbasis warisan budaya dengan pendekatan multimedia kreatif; pemanfaatan industri kreatif seperti animasi dan gim edukasi untuk memperluas akses publik terhadap karya agung; pembentukan jaringan riset internasional (Indonesia–Malaysia–Brunei–Thailand) untuk digitalisasi manuskrip dan pengembangan teknologi filologi; serta pendirian Pusat Naskhah Digital yang terbuka bagi peneliti dan generasi muda.

Kehadiran Prof. Yulianeta di PAKAM 2025 memperkuat dialog akademik Indonesia–Malaysia–Brunei–Thailand dalam bidang warisan budaya dan teknologi. Upaya ini menegaskan bahwa pelestarian budaya, baik versi fisik maupun digital, adalah bagian integral dari agenda global pembangunan berkelanjutan dan pendidikan inklusif bagi generasi mendatang. (DN)