Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Sore itu warung kecil milik Pak Lebe di Dusun Sudimampir ramai seperti biasa. Beberapa warga duduk di bangku kayu sambil menyeruput kopi hitam, menikmati gorengan hangat dan goldib (tape/peuyeum yang digoreng). Topik pembicaraan kali ini bukan soal harga pupuk atau hasil panen, melainkan tentang Piala Dunia FIFA yang sedang berlangsung. “Aduh, tiap ada Piala Dunia, mata ini susah diajak kompromi. Niatnya nonton satu pertandingan, tahu-tahu ayam sudah berkokok,” ujar Mang Adong sambil tertawa.

Teman-temannya pun mengangguk, karena hampir semua pernah mengalami hal yang sama.

Pa Lebe yang sedang menuangkan kopi ikut nimbrung. “Dulu waktu muda, kita juga begadang kalau ada pertandingan bola. Bedanya, dulu belum ada televisi besar, belum ada siaran jernih. Kadang numpang nonton di pa Haji Dahlan tetangga  dekat yang punya televisi hitam putih,” katanya mengenang masa lalu. “Sekarang mah enak, layar besar, komentator ramai, bahkan tayangan ulang segala macam ada. Tapi akibatnya, mata jadi ikut kerja lembur.”

Semua tertawa mendengar keluhan Pa Lebe.

Jang Maman lalu bercerita, “Yang repot bukan cuma ngantuknya saat nonton, tapi besok paginya. Mau ke kebun rasanya kaki berat. Mau ke sawah, mata masih terasa lima watt.” Ia mengaku pernah hampir salah membawa cangkul karena masih terbayang gol indah yang ditonton tengah malam. “Untung bukan membawa bola ke sawah,” candanya. Sontak warung Pa Lebe pecah oleh tawa.

Pak Guru Cecep yang sejak tadi duduk sambil menikmati kopi hitam ikut menimpali obrolan. “Kalau saya semalam tidak ikut nonton, ah,” katanya sambil tersenyum. “Bukan tidak suka sepak bola, justru saya penggemar berat. Tapi saya khawatir kalau begadang, nanti tugas mengajar di sekolah terganggu. Anak-anak di kelas butuh guru yang segar, bukan guru yang matanya masih berat gara-gara pertandingan bola.” Warga warung pun tertawa mendengar alasannya.

Mang Engkuy langsung menggoda, “Wah, Pak Guru kuat juga menahan godaan. Padahal semalam yang main tim favorit Pak Cecep, Argentina.” Pak Guru Cecep tersenyum sambil mengangguk. “Betul, Argentina memang selalu menarik. Apalagi ada Lionel Messi, sang maestro yang sudah menjadi legenda, dan Emiliano Martínez, penjaga gawang yang sering menjadi penyelamat tim. Rasanya ingin sekali menyaksikan setiap gerakan mereka. Tapi saya pilih mendengar cerita hasil pertandingan pagi harinya, daripada mengorbankan semangat mengajar.”

Pa Lebe mengacungkan jempol sambil berkata, “Itu baru namanya guru profesional. Cinta bola boleh, tapi tanggung jawab tetap nomor satu.” Pak Guru Cecep tertawa kecil. “Sepak bola mengajarkan banyak hal juga, sama seperti sekolah. Ada kerja sama, disiplin, strategi, dan semangat pantang menyerah. Jadi meskipun tidak begadang menonton, semangat Piala Dunia tetap ikut terbawa ke kelas.”

Obrolan di warung pun kembali ramai, antara membahas sepak bola, kenangan masa lalu, dan cerita kehidupan sehari-hari.

Obrolan kemudian beralih pada kenangan masa kecil mereka bermain bola di lembur. “Dulu mah tidak perlu sepatu bola bagus, tidak perlu lapang rumput. Jalan kampung atau tanah kosong sudah jadi stadion,” ujar Ua Agus.  

Celotehannya membuat semua tersenyum cerita tentang bola buatan dari buah jeruk bali. “Kalau buah jeruk bali sudah tua dan jatuh, kita bungkus, kita ikat kuat-kuat, jadilah bola. Memang tidak bulat sempurna, kadang larinya ke kanan, kadang ke kiri, tapi rasanya seperti main di stadion besar,” katanya sambil tertawa.

Pak Lebe tersenyum mendengar cerita itu. “Bola jeruk bali itu mengajarkan kita satu hal. Bahagia tidak selalu datang dari barang mahal. Kadang dari sesuatu yang sederhana, tapi dimainkan bersama teman-teman, kenangannya bisa sampai puluhan tahun.” Mereka terdiam sejenak, mengenang masa ketika sore hari di lembur diisi suara anak-anak berlari mengejar bola, tertawa, dan pulang dengan kaki penuh tanah.

Menjelang magrib, warung Pa Lebe mulai sepi.

Satu per satu warga pamit pulang sambil berjanji akan kembali berkumpul saat pertandingan berikutnya. “Malam ini nonton lagi?” tanya H. Andang. Pa Lebe tertawa, “Nonton boleh, tapi jangan lupa besok kebun dan sawah juga punya jadwal.” Semua mengangguk sambil tersenyum.

Bagi warga dusun Sudimampir, Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi tentang kebersamaan, cerita, dan kenangan yang membuat warung kecil pak Lebe di Dusun Sudimampir selalu terasa hangat.

Malam sudah larut. Warung pak Lebe pun tutup. Dusun Sudimampir kembali hening.