
Sumedang, UPI
Pegasus Institute Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengawal penguatan kapasitas pendamping kemiskinan di Kabupaten Sumedang. Langkah ini diwujudkan melalui Workshop Pendampingan Graduasi Kemiskinan di Desa Cibeureum Kulon, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, pada Jumat (2/10/2026).
Kegiatan yang digelar bersama Tim Capstone Kelompok 2 SDG Certified Leadership Program Angkatan VIII ini bertujuan memperkuat kapasitas pendamping sosial melalui pengenalan playbook graduasi kemiskinan dan Buku Monitoring Kesejahteraan Keluarga. Perangkat tersebut dirancang sebagai instrumen kerja untuk menajamkan kunjungan rumah (home visit) serta memantau kemajuan kesejahteraan keluarga penerima manfaat (KPM).
Workshop setengah hari ini merupakan tindak lanjut Capstone Project hasil kolaborasi Pegasus Institute dengan BRAC International, Bapperida Kabupaten Sumedang, Dinas Sosial Kabupaten Sumedang, serta Pemerintah Desa dan Puskesos Cibeureum Kulon. Acara dihadiri unsur Dinas Sosial, Bapperida, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) se-Kecamatan Cimalaka, Puskesos, Pendamping Sosial Masyarakat (PSM) desa, dan tim capstone.
Direktur Pelaksana Pegasus Institute sekaligus Koordinator Tim Capstone Kelompok 2, Dr. Arvian Triantoro, S.Pd., M.Si., menyatakan bahwa pendamping sosial memegang peran krusial dalam keberhasilan graduasi KPM.
“Graduasi bukan sekadar menurunkan angka kemiskinan, melainkan memastikan setiap keluarga memiliki jalur yang jelas, didampingi, dan terukur menuju kemandirian. Pendamping adalah ujung tombaknya, karena itu kapasitas dan alat kerjanya harus kita perkuat,” ujar Arvian.

Materi workshop mengadaptasi pendekatan Ultra-Poor Graduation Initiative (UPGI) dari BRAC International ke dalam konteks lokal Sumedang. Pelatihan mencakup Playbook Coaching Journey 24 bulan serta empat instrumen utama: profiling keluarga, rencana keluarga (family plan), pemindaian graduasi, dan pemanfaatan Buku Monitoring Kesejahteraan Keluarga. Melalui buku monitoring tersebut, pendamping dapat mencatat perkembangan aspek kesehatan, pendidikan, tabungan, usaha, hingga dinamika sosial keluarga secara terstruktur.
Sebagai tindak lanjut, tim melaksanakan pemantauan lapangan bersama Kasi Kesejahteraan dan pendamping desa pada Rabu (7/10/2026). Peninjauan meliputi kegiatan produksi Kelompok Usaha Bersama (KUBE) PKH Gemilang Bidang UMKM, Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) di RW 05, serta home visit KPM sasaran di RW 04.
Berdasarkan temuan awal lapangan, mayoritas KPM usia produktif telah menerapkan pola hidup sehat dan memiliki kemampuan menyisihkan uang untuk menabung. Anak-anak KPM tercatat masih aktif bersekolah, dan beberapa anggota keluarga mulai merintis usaha mandiri. Meski belum mewakili seluruh KPM, data awal ini menunjukkan cara pemetaan indikator graduasi secara langsung di lapangan.
Hasil uji coba (piloting) ini didorong untuk memunculkan kebijakan penanggulangan kemiskinan berbasis bukti di Kabupaten Sumedang. Dalam policy brief bertajuk “Institusionalisasi Model Graduasi Kemiskinan Berbasis Keluarga: Dari Pilot RUMASA ke Sumedang Tuntas”, tim mencatat angka kemiskinan Sumedang berhasil turun menjadi 8,81 persen (105.820 jiwa) pada 2025. Namun, laju penurunannya melambat menjadi sekitar 0,27 poin per tahun, dengan kantong kemiskinan tersisa yang didominasi oleh buruh tani tanpa lahan dan perempuan kepala keluarga.
Melalui simulasi model graduasi dengan target awal pilot 1.000 KK pada 2027, angka kemiskinan Sumedang diproyeksikan dapat ditekan hingga 6,79 persen pada 2030—lebih rendah dari proyeksi tanpa intervensi sebesar 7,56 persen. Hal tersebut berpotensi mengentaskan sekitar 9.280 jiwa dari kemiskinan.
Tim menyarani agar penerapannya dilakukan secara bertahap berbasis bukti, dimulai dari penyusunan data baseline dan standar graduasi, pelaksanaan pilot 24 bulan, penguatan tata kelola dan pembiayaan lintas perangkat daerah, hingga perluasan model secara menyeluruh setelah evaluasi. (DN)

