Dr. Dasim Budimansyah

Director of GCC Indonesia

Profesor bidang Citzenship Sociology

Universitas Pendidikan Indonesia

Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan secara jujur dalam dunia pendidikan Indonesia: apakah sekolah kita benar-benar sedang menyiapkan generasi untuk hidup di dunia nyata—atau hanya untuk lulus ujian?

Di tengah dunia yang semakin terhubung, siswa hari ini hidup dalam realitas yang jauh melampaui ruang kelas. Mereka menghadapi banjir informasi, hoaks politik, konflik identitas, kecerdasan buatan, hingga krisis iklim—semua hadir di genggaman tangan mereka. Dunia tidak lagi “di luar sana”. Dunia sudah ada di dalam kehidupan mereka setiap hari. Tetapi ironisnya, pendidikan kita masih berjalan seolah-olah dunia tidak berubah.

Kita masih bangga ketika siswa mampu menjelaskan konsep, menghafal teori, dan menjawab soal dengan benar. Tetapi kita sering lupa bertanya: apakah mereka mampu bersikap ketika berhadapan dengan hoaks? Apakah mereka mampu mengambil keputusan etis di ruang digital? Apakah mereka peduli terhadap ketimpangan sosial dan krisis lingkungan? Dengan kata lain, kita mungkin berhasil mencetak siswa yang tahu, tetapi gagal membentuk warga yang bertanggung jawab.

Inilah kegagalan paling mendasar dari pendidikan kita hari ini: terjebak pada transfer pengetahuan, tetapi kehilangan arah dalam pembentukan karakter dan tindakan. Padahal, tantangan abad ke-21 tidak bisa dihadapi dengan pengetahuan saja. Dunia membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, berempati, dan bertindak—bukan sekadar mengerti.

Konsep Global Citizenship Education (GCED) sebenarnya sudah lama menawarkan jalan keluar. Ia menekankan bahwa pendidikan harus menyentuh tiga dimensi sekaligus: kognitif, sosial-emosional, dan perilaku. Tetapi di lapangan, konsep ini sering berhenti sebagai jargon. Ia terdengar “global”, tetapi tidak membumi. Ia dibicarakan dalam seminar, tetapi tidak hidup di ruang kelas.

Di sinilah letak problem kita: bukan kekurangan konsep, tetapi kekurangan keberanian untuk mengubah cara mengajar.

Pendekatan “Menjadi Warga Dunia Berkarakter Pancawaluya” memberikan tamparan sekaligus harapan. Ia menunjukkan bahwa membangun warga global tidak harus meninggalkan identitas lokal. Justru sebaliknya—ia harus berakar kuat pada nilai-nilai bangsa. Pancasila tidak lagi sekadar simbol, tetapi menjadi kompas moral dalam menghadapi dilema global. Pancawaluya—cageur, bageur, bener, pinter, singer—tidak lagi sekadar slogan budaya, tetapi menjadi karakter hidup yang membimbing tindakan siswa.

Yang lebih penting, pendekatan ini berani menggeser paradigma pembelajaran. Melalui model RADEC, siswa tidak lagi diposisikan sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai pelaku. Mereka membaca, merefleksi, berdiskusi, memahami, dan akhirnya mencipta aksi nyata. Pendidikan tidak berhenti pada “belajar tentang dunia”, tetapi bergerak menuju “bertindak di dunia”.

Ini bukan sekadar inovasi metodologis. Ini adalah perubahan cara pandang tentang apa itu pendidikan.

Jika kita jujur, masalah pendidikan kita bukan karena siswa kurang pintar. Masalahnya adalah kita belum cukup serius membentuk mereka menjadi manusia yang utuh—yang berpikir, merasakan, dan bertindak. Kita terlalu lama nyaman dengan sistem yang mengukur nilai, tetapi lupa membangun nilai-nilai.

Jawa Barat, dengan segala kompleksitasnya, adalah miniatur dari dunia itu sendiri. Di sana ada keberagaman, ketimpangan, peluang, konflik, dan harapan. Jika kita berhasil membangun model pendidikan kewargaan global yang berakar di sana, maka sesungguhnya kita sedang menulis ulang arah pendidikan Indonesia.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: apakah kita butuh perubahan?

Tetapi: apakah kita berani berubah?

Karena jika tidak, kita akan terus melahirkan generasi yang cerdas di atas kertas, tetapi gagap menghadapi dunia nyata. Generasi yang tahu banyak hal, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.

Dan dalam dunia yang bergerak cepat, itu bukan sekadar kelemahan—
itu adalah risiko masa depan bangsa.