
Di sela riuhnya mahasiswa di kantin-kantin Kampus IKIP Bandung, seorang pemuda dari Bangka berjalan menyusuri lorong dengan membawa tas besar. Bukan berisi buku, melainkan kerupuk Bangka yang siap dijual.
Dari Gang Cempaka—sebuah gang kecil di sudut Geger Kalong—perjalanan panjangnya dimulai. Sebuah perjalanan yang kelak membawanya duduk di kursi Komisioner Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia.
Namanya Syawaludin, ia masuk IKIP Bandung pada tahun 1993, mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Pilihan itu tidak sepenuhnya direncanakan. “Saya waktu itu kurang informasi saat UMPTN, jadi memilih saja,” kenangnya sambil tertawa ringan. Namun justru di jurusan itulah ia belajar tentang makna kesetaraan manusia—nilai yang terus ia pegang dalam perjalanan kariernya.
Hidup sebagai mahasiswa perantau bukan perkara mudah. Ia tinggal di Gang Cempaka, dekat Geger Arum, di sebuah musala kecil yang turut ia rawat dan hidupkan dengan kegiatan pengajian. Tanpa dukungan finansial yang memadai, Syawaludin harus memutar otak.
Ia tidak sekadar kuliah—ia bertahan.
Setiap hari, ia menggoreng kerupuk, lalu berkeliling dari satu kantin ke kantin lain untuk menitipkan dagangannya. “Keseharian saya adalah berjualan kerupuk Bangka. Kamar kos saya itu isinya kerupuk semua,” kenangnya.
Namun ia tidak berhenti di situ. Keterbatasan justru memicu kreativitasnya. Ia membuka jasa terjemahan bahasa Inggris—ironisnya, di saat ia sendiri merasa belum mahir. Alih-alih menyerah, ia membangun jaringan. Ia menggandeng mahasiswa dan dosen dari jurusan Bahasa Inggris, membagi hasil, dan bertindak sebagai penghubung.
“Saya punya sampai 20 orang penerjemah. Saya hanya jadi marketing,” katanya.
Tak cukup dengan itu, ia juga menjual bawang putih dengan memotong rantai distribusi dan menjual langsung ke pedagang bakso. Di ruang sempit Gang Cempaka, ia membangun ekosistem usahanya sendiri. Semua dilakukan dengan satu prinsip sederhana: bertahan hidup tanpa bergantung.
Namun hidup tidak selalu berjalan mulus.
Setelah lulus, realitas kembali menguji. Niatnya menjadi guru harus kandas ketika ia mengetahui gaji yang ditawarkan hanya Rp60.000 per bulan—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan dasar.
Kekecewaan itu nyata. Namun alih-alih berhenti, ia memilih jalur lain.
“Kalau tidak bisa mengajar di kelas, saya mengajar dalam jangkauan yang lebih luas,” ujarnya.
Ia pun beralih menjadi jurnalis. Karier ini dimulai dari keberaniannya mengambil peluang yang nyaris tertutup. Saat seleksi pelatihan jurnalistik PT Timah sudah penuh, ia tetap datang dan meminta kesempatan. Hasilnya, ia diterima sebagai peserta ke-31.
Dari situ, langkahnya semakin mantap.
Ia menjadi wartawan, kemudian naik menjadi pimpinan perusahaan. Pada usia 30 tahun, ia terpilih sebagai Komisioner KPU daerah selama dua periode. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian di Komisi Informasi sebelum akhirnya lolos seleksi nasional dan menjadi Komisioner Komisi Informasi Pusat.
Perjalanan itu bukan sekadar soal jabatan, melainkan tentang konsistensi nilai.
Salah satu prinsip yang paling ia pegang adalah kejujuran. “Kejujuran itu kecerdasan. Orang yang berbohong itu bodoh,” tegasnya.
Sebagai komisioner, ia membawa semangat yang berakar dari masa kuliahnya—memperjuangkan akses informasi, terutama bagi penyandang disabilitas. Ia meyakini bahwa informasi adalah kunci kemandirian. Tanpa itu, banyak potensi yang terabaikan.
Di balik semua pencapaian itu, sisi manusiawinya tetap terasa. Ia masih mengingat bagaimana ia berbagi kerupuk dengan teman-temannya, atau mentraktir ketika memiliki sedikit uang lebih.
Baginya, kecerdasan tidak hanya soal akademik, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Kisahnya menjadi cermin bahwa jalan hidup tidak selalu lurus. Kadang berliku, bahkan tampak tidak saling berkaitan. Namun dari kerupuk, jasa terjemahan, hingga dunia jurnalistik—semuanya menjadi potongan puzzle yang akhirnya membentuk satu gambaran utuh.
Kini, saat ia duduk di kursi Komisioner Komisi Informasi Pusat, jejak langkah itu tidak pernah ia lupakan. Justru dari sanalah ia belajar bahwa keberhasilan bukan tentang dari mana seseorang memulai, melainkan bagaimana ia bertahan, beradaptasi, dan terus melangkah.
“Jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya pelan.
Bagi Syawaludin, UPI adalah tempat ia menemukan segalanya: ilmu, prinsip hidup, hingga jodoh. Ia bahkan mengabadikan kenangan itu dengan memberi nama anaknya “Furqon”, diambil dari Masjid Al-Furqon—tempat ia dahulu sering beribadah dan berdiskusi.
Kini, ia menaruh harapan besar pada almamaternya. Ia bangga melihat UPI berkembang pesat dan menjadi kampus yang sangat diperhitungkan. Pesannya sederhana: jaga kepercayaan publik melalui keterbukaan informasi.
“Keterbukaan adalah pintu masuk kepercayaan,” tegasnya.
Di tengah dunia yang terus berubah, kisah Syawaludin mengingatkan satu hal sederhana: bahwa bahkan dari wajan kecil di sudut kamar kost di gang sempit, mimpi besar dapat mulai digoreng—dan pada waktunya, mengembang jauh melampaui batas yang pernah dibayangkan. (RK)

