Webinar Series dalam Rangka Dies Natalis UPI ke-71
21 Oct 2025 • Humas UPI
Bandung, 21 Oktober 2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan rangkaian Webinar Series Dies Natalis ke-71 sebagai bagian dari perayaan hari lahir kampus yang bertema “Transformasi Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045”.
Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform konferensi digital dan terbuka untuk sivitas akademika, praktisi, serta masyarakat luas. Rangkaian kegiatan ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi lintas bidang dalam mendiskusikan isu-isu strategis pendidikan di Indonesia.
Webinar series ini akan berlangsung sepanjang bulan Oktober hingga November 2025 dan menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka dari dalam dan luar negeri. Setiap sesi mengangkat topik yang relevan dengan tantangan dan peluang pendidikan di era global, mulai dari inovasi teknologi pembelajaran, kepemimpinan pendidikan, hingga penguatan kolaborasi internasional.
Bagi masyarakat yang tertarik mengikuti rangkaian webinar, pendaftaran dapat dilakukan secara daring melalui laman resmi UPI. Beberapa webinar memberikan sertifikat partisipasi kepada peserta yang mengikuti kegiatan. Setiap kegiatan dipimpin oleh penanggung jawab dari masing-masing unit, dan dilaksanakan baik secara daring maupun hybrid.
Rangkaian webinar ini diharapkan menjadi wadah pertukaran pengetahuan, inspirasi, serta penguatan jejaring akademik lintas bidang dan institusi. Koordinator Webinar Series Dies Natalis UPI ke-71, Mahardhika Zifana, menyampaikan bahwa Dies Natalis ke-71 UPI menjadi momentum penting untuk menunjukkan peran universitas dalam pembangunan bangsa melalui tridarma perguruan tinggi.
“Penyelenggaraan Webinar Series di sepanjang bulan Oktober ini menjadi bentuk nyata kontribusi UPI dalam memajukan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Dies Natalis ke-71 bukan hanya momentum perayaan, tetapi juga refleksi kontribusi UPI dalam membangun pendidikan nasional,” ujarnya.
UPI Raih Akreditasi AA dari ANRI, Perkuat Tata Kelola dan Reputasi Universitas
21 Oct 2025 • Humas UPI
Jakarta, 20 Oktober 2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) resmi menerima Sertifikat Akreditasi Lembaga Kearsipan Perguruan Tinggi (LKPT) dengan peringkat AA (Istimewa) dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Penyerahan dilakukan secara langsung oleh Sekretaris Utama ANRI, Rini Agustiani, S.H., M.A.P., kepada Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan UPI, Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si., di Ruang Noerhadi Magetsari, Gedung C Lantai 2, Kantor ANRI, Jakarta Selatan, pada Senin (20/10).
Capaian ini menjadikan UPI sebagai perguruan tinggi ketiga di Indonesia yang meraih peringkat tertinggi dalam akreditasi kearsipan nasional, setelah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Airlangga (UNAIR). Penghargaan tersebut menegaskan posisi UPI sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga dalam tata kelola dan pengelolaan arsip berbasis integritas dan akuntabilitas.
Dalam konteks pengelolaan universitas modern, kearsipan memiliki peran strategis sebagai pilar reputasi institusional. Arsip yang terkelola baik mencerminkan transparansi, akuntabilitas, dan integritas penyelenggaraan pendidikan tinggi. UPI melalui Arsip Universitas, di bawah kepemimpinan Dr. Rasto, M.Pd. (Kepala Arsip UPI) dan Asep Mulyana, S.A.P., M.Pd. (Kepala Seksi Pembinaan dan Pengawasan Kearsipan), menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjaga memori institusional dan mendukung penyediaan informasi yang andal bagi sivitas akademika dan publik.
Akreditasi LKPT ini juga menjadi bagian penting dari implementasi program “UPI Berdampak”, yang mendorong universitas untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui tata kelola universitas yang profesional, transparan, dan berkelanjutan. Arsip yang terakreditasi berperan dalam mendukung proses perencanaan, pelaporan kinerja, serta pengambilan keputusan berbasis data di seluruh unit kerja UPI.
Sejalan dengan visi global universitas, keberhasilan ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui sistem kearsipan yang transparan dan kolaboratif, UPI memperkuat perannya dalam membangun tata kelola lembaga pendidikan yang inklusif dan terpercaya.
Dalam sambutannya, Sekretaris Utama ANRI, Rini Agustiani, menyampaikan apresiasi atas pencapaian UPI.
“Akreditasi ini menunjukkan bahwa UPI tidak hanya unggul di bidang pendidikan, tetapi juga dalam menjaga tata kelola kelembagaan yang profesional dan berorientasi pada pelayanan publik. Kami berharap UPI menjadi model bagi perguruan tinggi lain dalam pengelolaan arsip yang inovatif dan berkelanjutan,” ujarnya.
keberhasilan meraih akreditasi ini mencerminkan dedikasi jajaran pimpinan Universitas, pimpinan Unit Kerja, dan tim kerja Arsip Universitas UPI dalam mengimplementasikan standar kearsipan nasional, baik dalam melaksanakan penyelamatan memori kolektif bangsa maupun budaya tertib arsip, hingga penyediaan layanan informasi yang optimal bagi civitas akademika dan masyarakat luas.
Ke depan, UPI bersama ANRI berkomitmen memperkuat kerja sama dalam inovasi layanan kearsipan digital di lingkungan perguruan tinggi. Kolaborasi ini diharapkan menjadi contoh praktik baik nasional dalam pengelolaan arsip yang modern, efisien, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Penyerahan sertifikat dihadiri oleh jajaran pimpinan ANRI, pimpinan universitas, serta tim Arsip UPI. Acara berlangsung dengan penandatanganan dokumen serah terima, sesi foto bersama, dan diskusi singkat mengenai strategi pengembangan sistem kearsipan digital di masa depan.
Capaian ini menegaskan komitmen UPI sebagai universitas pelopor dalam tata kelola yang unggul dan berintegritas. Melalui penguatan sistem kearsipan dan manajemen informasi, UPI terus berkontribusi dalam membangun pendidikan tinggi Indonesia yang transparan, efisien, dan berdampak bagi kemajuan bangsa. RK (21/10)
Peneliti UPI Dorong Kolaborasi Multipihak dalam Penguatan Program Makan Bergizi Gratis
21 Oct 2025 • Humas UPI
Dari riset ke aksi nyata: Sinergi akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk pendidikan dan gizi berkelanjutan
Bandung, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Program Studi Pendidikan Masyarakat menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan Pendekatan Gender Equity, Disability, and Social Inclusion.” Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (14/9) di Hotel Hemangini Bandung ini menjadi bentuk nyata kontribusi UPI dalam menjembatani hasil riset akademik dengan implementasi kebijakan publik.
Sebagai lembaga pendidikan yang berkomitmen pada keberlanjutan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat, UPI berperan penting dalam memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan. Melalui riset dan diskusi multipihak, UPI mendorong optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis sebagai langkah strategis memperkuat gizi anak sekolah dan membentuk karakter generasi sehat, cerdas, dan inklusif.
Acara ini dihadiri oleh tim peneliti UPI, perwakilan Dinas Pendidikan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, sekolah penerima Program MBG, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kayu Ambon Lembang, serta dua narasumber ahli: Dr. Syifa F. Syihab, S.TP., M.Si. (Ahli Gizi) dan Dr. Riki Satia Muharam, S.IP., M.AP. (Ahli Kebijakan Publik).
Ketua tim peneliti Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si. menyampaikan bahwa, dalam pelaksanaan Program MBG beberapa temuan penelitian menunjukkan kendala dari aspek kurangnya transparansi dan regulasi yang belum komprehensif hingga belum terintegrasi dengan kurikulum pendidikan. “Di sisi lain, pada pelaksanaan Program MBG muncul masalah ketidaksesuaian jumlah dan variasi menu, minimnya sosialisasi nilai gizi di sekolah, lemahnya pengawasan standar kualitas makanan, serta penumpukan sampah makanan yang mencerminkan belum optimalnya manajemen dan kesadaran gizi di lingkungan sekolah.” ujar Prof. Elly.
Program ini juga merupakan bagian dari program “UPI Berdampak”, yang menegaskan peran universitas dalam memberikan solusi berbasis penelitian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui riset dan kegiatan seperti FGD ini, UPI memperkuat komitmen dalam membangun ekosistem pendidikan yang responsif terhadap isu sosial dan kesehatan publik.
Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). FGD ini menegaskan pentingnya kemitraan lintas sektor dalam membangun sistem pangan sekolah yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.
Dari hasil diskusi, disepakati sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya perlunya regulasi khusus mengenai standar pelaksanaan program MBG, sistem pemantauan dan evaluasi berbasis data, serta penguatan partisipasi masyarakat dalam pengawasan mutu pangan. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, dan komunitas juga dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan dan pemerataan manfaat program.
FGD ini menghasilkan kesimpulan bahwa UPI berkomitmen melanjutkan pendampingan dan penelitian kolaboratif guna memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis berjalan efektif, transparan, dan sesuai kebutuhan lokal. Kegiatan ini sekaligus mempertegas peran UPI sebagai universitas pelopor yang menjembatani riset akademik dengan kebijakan publik demi mewujudkan masyarakat yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global.
Menghadiri Dies Natalis UPI ke-71: Gubernur Dedi Mulyadi Dorong Kampus Jadi Miniatur Bangsa
20 Oct 2025 • Humas UPI
Bandung, 20 Oktober 2025 — Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M., mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk menjadikan kampus sebagai miniatur bangsa yang ideal, tempat ilmu, moral, dan budaya tumbuh seimbang. Pesan tersebut disampaikan dalam orasi kebangsaan pada prosesi Dies Natalis ke-71 UPI yang mengusung tema “Melesat Bersama untuk UPI Gemilang”, di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus Bumi Siliwangi, Bandung, Senin (20/10/2025).
Acara ini dihadiri oleh Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., dosen UPI sekaligus pendakwah nasional, Dr. (H.C.) Adi Hidayat, Lc., M.A., jajaran pimpinan universitas, serta ratusan dosen dan mahasiswa.
Dalam orasinya, Gubernur Dedi Mulyadi menekankan pentingnya pendidikan berbasis nilai dan kebudayaan lokal. Ia menilai, pendidikan Indonesia perlu kembali berakar pada nilai-nilai luhur bangsa, khususnya filosofi Panca Waluya, yaitu cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
“UPI harus menjadi pelopor perubahan — bukan sekadar kampus yang mencetak guru, tetapi kampus yang mendidik pendidik. Karena mendidik guru berarti mendidik masa depan bangsa,” tegasnya.
Menurutnya, nilai-nilai Panca Waluya mencerminkan karakter manusia ideal: sehat jasmani dan rohani (cageur), berakhlak baik (bageur), jujur dan berintegritas (bener), cerdas secara utuh (pinter), serta tanggap dan tekun (singer). “Kalau nilai-nilai ini hidup di kampus, maka UPI akan melahirkan generasi yang kuat akalnya, halus perasaannya, dan luhur budinya,” tambahnya.
Dedi juga mengajak sivitas akademika untuk mereorientasi pendidikan agar tidak berhenti pada tataran teori semata. Menurutnya, pendidikan sejati adalah laboratorium kehidupan yang menumbuhkan empati, karakter, dan kesadaran sosial.
“Kita sering mencetak orang pintar, tapi lupa mencetak orang benar. Pendidikan bukan hanya tentang nilai ujian, tetapi tentang bagaimana manusia bisa hidup dengan hati dan akal yang seimbang,” ujarnya.
Dalam orasi yang sarat refleksi budaya itu, Dedi mengangkat filosofi bambu sebagai simbol pendidikan dan kepemimpinan Sunda. Bambu, menurutnya, melambangkan kekuatan, kelenturan, dan kebersamaan. “Bambu itu tidak pernah tumbuh sendiri, ia selalu hidup berumpun. Begitu pula manusia, harus saling menopang dan meneduhkan,” ungkapnya.
Ia menutup orasinya dengan ajakan agar seluruh insan pendidikan menjadikan UPI sebagai pusat kebangkitan moral, intelektual, dan spiritual bangsa.
“Bangsa ini tidak akan besar karena banyaknya gedung dan teknologi, tetapi karena banyaknya manusia yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa luhur. Dari kampus inilah kebangkitan bangsa akan dimulai,” pungkasnya. RK (20/10)
Ustaz Adi Hidayat di Dies Natalis ke-71 UPI: Pendidikan Harus Cerdaskan Akal dan Sucikan Hati
20 Oct 2025 • Humas UPI
Bandung, 20 Oktober 2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar prosesi Dies Natalis ke-71 di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus Bumi Siliwangi, Bandung, Senin (20/10). Acara ini dibuka secara resmi oleh Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., serta dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M., serta Ustaz Dr. (H.C.) Adi Hidayat, Lc., M.A., yang menyampaikan orasi ilmiahnya di hadapan Sivitas akademik UPI.
Dengan mengusung tema “Melesat Bersama untuk UPI Gemilang”, peringatan Dies Natalis ini menjadi momentum refleksi bagi UPI untuk mempertegas peran sebagai universitas pelopor pendidikan yang mencetak insan cerdas, berakhlak, dan berjiwa luhur.
Dalam orasinya, Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga harus membangun moral dan spiritualitas. “Ilmu tanpa akhlak hanyalah bencana yang berwajah kecerdasan. Kampus harus menjadi tempat melahirkan manusia yang bukan hanya pintar, tetapi juga benar,” ujarnya.
Beliau menyoroti bahwa bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas, tetapi kekurangan sosok yang jujur dan berintegritas. “Akal tanpa moral adalah bencana, moral tanpa ilmu adalah kebodohan, dan spiritualitas tanpa keduanya hanyalah emosi tanpa arah,” tegasnya. Menurut Ustaz Adi, keseimbangan antara akal, moral, dan spiritual merupakan fondasi utama untuk membangun peradaban bangsa yang beradab dan bermartabat.
Dalam konteks Dies Natalis ke-71, Ustaz Adi menilai bahwa UPI memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi mercusuar pendidikan dan kemanusiaan bangsa. “UPI harus menjadi kampus yang bukan hanya besar, tetapi juga bermakna; bukan hanya unggul dalam sains, tetapi juga dalam nilai kemanusiaan dan ketuhanan,” katanya. Ia juga mengapresiasi langkah UPI dalam menempatkan keseimbangan antara kecerdasan akademik dan pembentukan karakter moral, yang sejalan dengan visi universitas untuk mencetak pendidik unggul, berilmu, dan berakhlak mulia.
Lebih lanjut, Ustaz Adi menekankan pentingnya menghadirkan nilai ketuhanan dalam sistem pendidikan. Menurutnya, dari takwa lahir karakter, dan dari karakter lahir peradaban. “Kita tidak bisa berharap negara ini bersih kalau takwanya hanya jadi tulisan di dinding. Kita tidak bisa berharap pejabatnya jujur kalau rasa takutnya kepada Tuhan sudah mati,” tuturnya penuh penekanan. Ia mengajak seluruh insan pendidikan, termasuk UPI, untuk menjaga integritas akademik dan menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai ruh dalam setiap proses pembelajaran.
Menutup orasinya, Ustaz Adi Hidayat mengajak seluruh sivitas akademika UPI untuk menjadikan Dies Natalis bukan sekadar perayaan, tetapi momentum kebangkitan nilai moral dan spiritual di dunia pendidikan. “Mari jadikan UPI bukan hanya universitas yang besar, tetapi juga bermakna; bukan hanya dikenal karena akademiknya, tetapi karena akhlaknya,” pesannya.
Dengan semangat “Melesat Bersama untuk UPI Gemilang”, UPI terus meneguhkan diri sebagai universitas pelopor pendidikan nasional yang berkomitmen mencerdaskan akal, menyucikan hati, dan menuntun jiwa — menuju Indonesia yang berkarakter, berdaya saing, dan berperadaban. RK (20/10)