English
Indonesia

Kampus UPI di Serang Lakukan Hilirisasi Teknologi Monitoring Kualitas Air untuk Petani Pesisir

06 Oct 2025 • Humas UPI

UPI, Serang — Program Studi Sistem Informasi Kelautan, Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Serang, bekerja sama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Serang dan Pemerintah Desa Lontar, melaksanakan kegiatan hilirisasi teknologi monitoring kualitas air bagi masyarakat pesisir di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (05/08).

Kegiatan yang dipimpin oleh Luthfi Anzani, S.Pd., M.Si., bersama tim mahasiswa yaitu Andrian Afriandi, Nelita Maharani, Nabil Abitah Razqa Bukhari, dan Tegar Dzaki Hakim, bertujuan untuk mendistribusikan inovasi teknologi tepat guna yang membantu petani rumput laut, tambak ikan, dan tambak udang dalam memantau kondisi perairan secara efektif.

Teknologi tersebut dirancang untuk mengukur berbagai parameter penting seperti suhu, salinitas, tingkat padatan terlarut (total dissolved solids atau TDS), dan arus air dalam satu perangkat portabel. Dengan alat ini, petani dapat memantau kualitas perairan secara praktis kapan pun dan di mana pun, sehingga pengelolaan budidaya dapat dilakukan dengan lebih efisien dan tepat sasaran.

Selain penyerahan perangkat, kegiatan ini juga diisi dengan sesi praktik langsung dan pendampingan penggunaan alat, yang diikuti dengan antusias oleh para peserta. Masyarakat setempat mendapat kesempatan untuk mencoba teknologi tersebut secara langsung dan memahami manfaatnya dalam menjaga kualitas lingkungan perairan.

“Hilirisasi ini bukan hanya tentang memberikan perangkat, tetapi juga memastikan masyarakat dapat menggunakannya secara optimal untuk meningkatkan keberlanjutan usaha mereka,” ujar Luthfi Anzani, S.Pd., M.Si.

Melalui kegiatan ini, UPI Kampus Daerah Serang menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi inovatif yang mendukung prinsip ekonomi biru (blue economy) serta pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan.

Kontributor: Tegar Dzaki Hakim

Peluncuran Program Green Campus: FIP UPI Lakukan Pengeboran Area Biopori

06 Oct 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI — Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) secara resmi melaksanakan kegiatan peluncuran Green Campus melalui pengeboran area biopori di area FIP, Jumat (3/10). Kegiatan ini menjadi langkah awal FIP dalam mendukung implementasi program Green Campus yang dicanangkan oleh universitas.

Acara tersebut diresmikan oleh Dekan FIP, Dr. Nandang Budiman, M.Si., dan dihadiri oleh para kepala program studi, tenaga kependidikan, serta perwakilan mahasiswa.

Program Green Campus UPI bertujuan mendorong seluruh fakultas dan sivitas akademika untuk menerapkan praktik ramah lingkungan dalam aktivitas kampus. Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap inisiatif ini, FIP melakukan pengeboran biopori yang berfungsi meningkatkan daya serap tanah, mengurangi genangan air, serta membantu pengelolaan limbah organik secara alami.

“Dengan adanya area biopori, kami berharap Fakultas Ilmu Pendidikan dapat menjadi contoh bagi fakultas lain dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mengedukasi masyarakat kampus tentang pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ujar Dr. Nandang Budiman dalam sambutannya.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari kepala program studi dan tenaga kependidikan di lingkungan FIP. Perwakilan mahasiswa juga menunjukkan antusiasme tinggi untuk terlibat dalam menjaga dan mengembangkan area biopori serta kegiatan ramah lingkungan lainnya.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Ilmu Pendidikan UPI berharap dapat menjadi pionir dalam pelaksanaan program Green Campus di lingkungan universitas, sekaligus menginspirasi fakultas lain untuk bersama-sama mewujudkan kampus yang bersih, hijau, dan berkelanjutan. RK (06/10)

Kolaborasi Tiga LPTK Dorong Pendidikan Inklusif dan Kesetaraan Gender

06 Oct 2025 • Humas UPI

Bandung, 3 Oktober 2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menegaskan komitmennya dalam pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan riset. Dalam kegiatan Diseminasi Hasil Riset Kolaborasi LPTK Indonesia (RKLI) 2025, UPI berkolaborasi dengan Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Negeri Medan (UNIMED) menggelar webinar bertajuk “Memberdayakan Perempuan dan Pembelajaran Inklusif dari Cerita Rakyat hingga Ruang Publik.”

Isu pemberdayaan perempuan diangkat karena menjadi tantangan penting dalam dunia pendidikan, budaya, dan masyarakat global. Kegiatan daring ini berlangsung pada Jumat (3/10) pukul 09.00–11.30 WIB dan diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, antara lain mahasiswa S1, S2, dan S3, dosen, peneliti, mitra pendidikan, masyarakat umum, serta perwakilan mahasiswa internasional dari University of Malaya, Malaysia.

Acara dipandu oleh Amirush Shaffa Fauzia, S.Pd., M.Pd., dan dibuka oleh Dr. Suharyadi, S.Pd., M.Pd., Ketua Departemen Sastra Inggris UM, yang menekankan pentingnya kolaborasi riset lintas kampus.

“Kolaborasi ini bukan hanya bermanfaat bagi akademisi, tetapi juga berdampak langsung bagi mahasiswa dan masyarakat luas,” ujarnya.

Webinar menghadirkan tiga narasumber dengan tema berbeda yang saling melengkapi, yaitu:

Dr. Nurenzia Yannuar, Ph.D. (UM) yang membahas representasi gender dalam lanskap linguistik ruang publik di Jakarta dan Malang. Ia menyoroti bagaimana bahasa dalam papan nama, iklan, dan simbol kota mengandung ideologi gender. “Ruang publik seharusnya menjadi ruang inklusif, tempat setiap identitas dan suara berhak ditampilkan,” tegasnya.

Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd. (UPI), Guru Besar Sosiologi Sastra FPBS UPI, menyoroti kekuatan cerita rakyat sebagai media pemberdayaan perempuan. Dengan mencontohkan kisah Keong Mas dan Dayang Senandung, ia menjelaskan bahwa tubuh dan kecantikan perempuan sering menjadi arena simbolik perlawanan terhadap patriarki. “Cerita rakyat mengajarkan perempuan untuk bertahan dan menang dalam pertarungannya,” jelasnya.

Dr. Tengku Ratna Soraya, M.Pd. (UNIMED) tema yang dibahas yaitu, tantangan siswi muslim Indonesia dalam pembelajaran bahasa asing di era digital. Ia memperkenalkan Lingua Safe, aplikasi pembelajaran berbasis konten islami yang ramah gender dan inklusif. “Inovasi ini bukan hanya memudahkan belajar bahasa asing, tetapi juga menciptakan ruang aman bagi siswi untuk percaya diri,” paparnya.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Salah satu topik menarik adalah peran cerita rakyat dalam membentuk persepsi gender, khususnya melalui tokoh Candra Kirana dalam Keong Mas.

Prof. Yulianeta menekankan pentingnya membaca ulang narasi tradisional dengan perspektif kritis agar perempuan dapat menemukan kekuatan dalam kisah budaya. Sementara itu, Dr. Nurenzia menambahkan bahwa bahasa di ruang publik seharusnya mencerminkan inklusivitas, bukan memperkuat dominasi gender.

Pertanyaan peserta menyoroti bagaimana narasi budaya dapat diintegrasikan dalam kurikulum modern serta bagaimana pendidikan inklusif mampu menutup kesenjangan antara masyarakat kota dan desa. Diskusi juga menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar wacana, melainkan isu nyata yang perlu dijawab melalui riset dan kolaborasi lintas kampus.

Kegiatan ini menegaskan bahwa isu gender, bahasa, dan pendidikan inklusif merupakan kebutuhan nyata dalam menghadapi tantangan global. Kolaborasi tiga LPTK—UM, UPI, dan UNIMED—menunjukkan bahwa riset bersama dapat melahirkan solusi inovatif berbasis budaya lokal dan teknologi modern yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 5 (Kesetaraan Gender).

Melalui kegiatan RKLI ini, pendidikan tinggi Indonesia memperkuat peran strategisnya sebagai ruang perubahan sosial menuju sistem yang lebih adil, setara, dan inklusif. Rekomendasi dari forum ini antara lain penguatan riset lintas disiplin, pengembangan materi pembelajaran inklusif, serta pemanfaatan teknologi untuk menciptakan pendidikan yang ramah gender dan berkeadilan sosial.

Kontributor: Neta dan Icha

Vina Dwiyanti, Dosen FPTI UPI, Perkuat Kiprah Indonesia di Kancah TVET ASEAN

06 Oct 2025 • Humas UPI

Kuala Lumpur, 24–26 September 2025 — Kiprah dosen Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Vina Dwiyanti, dosen Teknik Logistik sekaligus peneliti di TVET Research Center (TVET RC) UPI, tampil sebagai pembicara utama (key speaker) dan penyaji laporan negara (country report) pada 8th East Asia Summit TVET Network Conference yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.

Mengusung tema “Strengthening Collaboration between TVET Institutions and ASEAN Industry”, konferensi bergengsi ini menjadi forum strategis bagi negara-negara Asia Timur dan ASEAN untuk memperkuat kolaborasi antara lembaga pendidikan vokasi dan dunia industri. Kehadiran Vina mewakili Indonesia sekaligus menegaskan posisi FPTI UPI sebagai salah satu motor penggerak pengembangan Technical and Vocational Education and Training (TVET) di tingkat regional.

Dalam presentasinya yang berjudul “Strengthening Industry-Academia Collaboration for Enhancing Competitiveness in Vocational Education: An Indonesian Perspective”, Vina menekankan pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan vokasi dan industri sebagai kunci peningkatan daya saing lulusan di era global. Ia menguraikan model kolaborasi yang efektif, mulai dari penguatan kurikulum berbasis kebutuhan industri hingga pembelajaran praktik yang relevan.

“Saya merasa bangga, beruntung, dan terhormat dapat membawa perspektif Indonesia di forum internasional ini. Lebih dari itu, saya belajar banyak dari pengalaman negara lain dalam membangun hubungan erat antara pendidikan vokasi dan industri,” ungkap Vina.

Konferensi ini diselenggarakan oleh Korea Research Institute for Vocational Education and Training (KRIVET) dan diikuti oleh akademisi, peneliti, praktisi pendidikan vokasi, pembuat kebijakan, serta perwakilan industri dari seluruh negara anggota ASEAN dan Asia Timur. Forum lintas sektor ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, pemerintah, dan komunitas internasional dalam membangun ekosistem TVET yang berkelanjutan.

Selain mempresentasikan hasil riset, Vina juga berbagi praktik baik dari Indonesia, seperti implementasi program link and match, penguatan kurikulum berbasis industri, serta pengembangan pusat unggulan vokasi di berbagai daerah. Perspektif tersebut menjadi bukti nyata kontribusi FPTI UPI dalam memperkuat ekosistem pendidikan vokasi yang kompetitif di kawasan ASEAN.

“Melihat bagaimana industri di negara lain terlibat langsung dalam perencanaan kurikulum dan proses pembelajaran menjadi pelajaran penting. Indonesia perlu terus memperkuat sinergi serupa agar lulusan vokasi benar-benar siap bersaing di dunia kerja,” tambahnya.

Partisipasi Vina Dwiyanti di forum internasional ini menjadi simbol komitmen FPTI UPI dalam memimpin inovasi pendidikan vokasi nasional dan regional. Kontribusinya tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan kebijakan TVET ASEAN, tetapi juga membuka peluang kerja sama baru antara lembaga pendidikan vokasi Indonesia dan mitra industri di tingkat global.

Dengan semangat kolaborasi lintas negara, UPI terus menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam pengembangan pendidikan vokasi, menghadirkan dosen dan peneliti berkompeten yang mampu membawa nama Indonesia ke panggung internasional.

Kontributor: Vina Dwiyanti/H.H

FPTI UPI Gelar Workshop Microlearning untuk Guru SMK, Dorong Penguatan Soft Skills Berbasis SDGs

06 Oct 2025 • Humas UPI

Narasumber dan peserta workshop Microlearning. (Dok: FPTI)

Garut, 31 Juli–1 Agustus 2025 — Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Workshop Microlearning Soft Skills bagi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di SMKN 15 Garut. Kegiatan bertema “Dari Sekolah ke Dunia Nyata: Strategi Penguatan Soft Skills dalam Kerangka SDGs” ini diikuti oleh 22 guru produktif dan normatif-adaptif.

Workshop ini menjadi wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, dan didukung pendanaan dari RKAT FPTI UPI. Melalui kegiatan ini, para guru dibekali strategi untuk memperkuat keterampilan nonteknis siswa agar siap menghadapi dunia kerja yang dinamis.

Ketua pelaksana kegiatan, Prof. Dr. Ana, M.Pd., menjelaskan pentingnya penguasaan transferable skills sebagai modal utama lulusan SMK. “Sebagian besar transferable skills adalah soft skills yang sangat dibutuhkan dunia kerja. Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi),” ujarnya.

Ketua Pelaksana, Prof. Dr. Ana menyampaikan sambutan dan urgensi kegiatan. (Dok: FPTI)

Selama dua hari, para peserta mendapatkan materi dari sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si. (Dekan FPTI sekaligus Koordinator UNESCO-UNEVOC Centre Indonesia), Prof. Dr. Ir. Dedi Rohendi, M.T., IPM., dan Dr. Dedy Suryadi, M.Pd.. Mereka membahas arah kebijakan pendidikan vokasi abad ke-21, penguatan future skills bagi generasi Z, serta strategi integrasi soft skills dalam pembelajaran kejuruan.

Narasumber menyampaikan topik Workshop, dari kiri: Dr.Eng Agus Setiawan, Prof. Dr. Ir. Dedi Rohendi, Dr. Dedy Suryadi. (Dok: FPTI)

Selain itu, Dr. Afridha Laily Alindra, S.Pd., M.Si., Fajriani Ulfah Firdaus, M.Pd., dan Vina Dwiyanti, M.Pd. memandu sesi praktik penyusunan modul microlearning berbasis soft skills. Peserta dilatih memetakan kompetensi, menyusun tujuan pembelajaran, serta mendesain evaluasi berbasis rubrik kerja tim, komunikasi, dan tanggung jawab.

Narasumber menyampaikan topik Workshop, dari kiri: Dr. Afridha Laily Alindra, Fajriani Ulfah Firdaus, M.Pd, dan Vina Dwiyanti, M.Pd. (Dok: FPTI)

Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Para guru menyatakan bahwa model microlearning sangat relevan untuk diterapkan di kelas karena singkat, fokus, dan efektif dalam membangun karakter siswa.

Melalui workshop ini, FPTI UPI berharap dapat memperkuat jejaring dengan SMK di berbagai daerah serta mendorong penerapan pembelajaran vokasi yang mengintegrasikan keterampilan teknis dan soft skills guna mencetak lulusan yang adaptif dan berdaya saing global.

Kontributor: M.O.R

Pencarian