English
Indonesia

SAUNG KASENG & ETNIS TIONGHOA

30 Mar 2026 • Humas UPI

Dinn Wahyudin

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Saung Kaseng adalah simbol ikonik lokal. Ketika perjalanan mudik pulang kampung, kami selalu melewati saung sederhana tersebut.  Di pinggir jalan yang menghubungkan kecamatan Cimalaka ke Tanjungkerta, ada sebuah saung sederhana yang oleh warga sering disebut “Saung Kaseng.” Ia bukan bangunan mewah, melainkan saung bambu beratap seng, walau sekarang sudah direnovasi, berdiri  tegak di tepi jalan berkelok di perbukitan yang menurun tajam.

Konon, saung Kaseng awalnya dibangun atas inisatif seorang Tionghoa Sumedang bernama Ko Kaseng. Pada tahun 1960, Ko Kaseng seorang pengusaha dan pemilik oplet tua”Sukmalaya” berinisiatif untuk membangun saung itu sebagai ”shelter”, saung persinggahan. Ia terketuk hatinya, ketika banyak warga setempat yang pulang berkebun atau calon penumpang oplet, yang menunggu ber jam jam. Mereka sering kepanasan atau kehujanan tanpa perlindungan untuk rehat sejenak, di turunan jalan berkelok perbukitan jalan cimalaka ke Tanjungkerta. Itulah saksi bisu, saung Kaseng. Jejak potret kecil seorang etnis Tionghoa yang memperhatikan warga lokal. Malah bila ditarik ke cakupan yang lebih luas, etnis Tionghoa dengan tradisi dan budayanya senantiasa  berupaya ”menyesuaikan” dan menarik simpati warga lokal.

“Saung Kaseng” dapat dimaknai sebagai representasi kecil dari dinamika perjumpaan antar-etnis di wilayah Sumedang. Khususnya antara komunitas Tionghoa dan masyarakat lokal Sunda. Nama “Kaseng” sendiri—yang dalam pelafalan lokal bisa saja berakar dari istilah atau panggilan khas Tionghoa—mengalami proses lokalisasi dalam lidah Sunda, sehingga terdengar akrab dan tidak berjarak. Saung sebagai bentuk arsitektur tradisional Sunda berpadu dengan kemungkinan kepemilikan, pengelolaan, atau penamaan oleh warga Tionghoa, menciptakan ruang hibrid yang melegenda.  Dalam ruang seperti ini, identitas tidak dipertentangkan, tetapi dinegosiasikan secara cair melalui praktik sehari-hari. Dari bahasa yang digunakan, pola komunikasi antarbudaya, hingga pola interaksi antarwarga.

Lebih jauh, “Saung Kaseng” mencerminkan bagaimana relasi antara etnis Tionghoa dan lokal tidak selalu dibentuk oleh narasi besar sejarah. Dari suatu perjumpaan formal. Relasi erat ini sering lahir dari perjumpaan sederhana yang berulang— berbagi cerita, ngobrol, atau sekadar saling menyapa di pinggir jalan. Atau bisa jadi ketika itu tahun 1960an, obrolan seorang supir sekaligus pemilik oplet (Ko Kaseng) yang berdialog cair dengan calon penumpangnya yang menunggu setia di pinggir jalan. Terlepas dari motif bisnis, ekonomi, sosial, atau bahkan kebutuhan bertahan hidup, proses pembauran ini melahirkan bentuk kebudayaan keseharian yang inklusif dan adaptif. Ia menunjukkan bahwa integrasi tidak selalu hadir dalam kebijakan formal, tetapi tumbuh dari ruang-ruang kecil yang memungkinkan kehadiran bersama tanpa prasangka. Tanpa iri dengki atau kecurigaan.  Dalam konteks ini, “Saung Kaseng” menjadi semacam mikro-kosmos: sebuah titik temu di mana perbedaan etnis melebur menjadi pengalaman kolektif yang sederhana namun bermakna.

Mentor bisnis pengusaha lokal

Awal 1960an di lembur wewengkon Kabupaten Sumedang.  Sarana prasarana jalan sangat terbatas. Jalan jalan masih taringgul berbatu dan tidak beraspal. Sarana mobilitas penduduk umumnya dengan menggunakan sepeda, jalan kaki, atau delman/sado. Sangat jarang ada kendaraan roda empat lewat ke jalan umum kecamatan apalagi ke desa. Sesekali oplet lewat kampung sungguh merupakan pengalaman langka. Anak anak sekampung nonton. Banyak di antara mereka mengejar dari belakang. Hanya sekedar ingin meraba oplet yang lewat. Bagi anak anak di kampung pada waktu itu, kesempatan bisa meraba oplet sungguh suatu kebahagiaan tiada tara. Naik oplet belum pernah. Oleh sebab itu, kesempatan yang mungkin bisa diperoleh adalah mengejar oplet yang lewat di kampung, sampai berhasil meraba ketika oplet terus melaju.

Pada tahun 1950an, Oplet merupakan salah satu moda transportasi darat yang mulai popular di Sumedang. Pemilik oplet, sebagi kendaraan umum (publik transport), pada awalnya  dimiliki oleh para pengusaha etnis Tionghoa.  Pada periode  tahun 960-an, ada sejumlah oplet dengan rute Sumedang – Tanjungerta yang dimiliki pengusaha etnis Tionghoa. Salah satunya Ko Kaseng sang pemilik Oplet ”Sukmalaya”, yang juga pioner usaha buka Toko Ikan asin di Kota Sumedang. Banyak warga etnis Tionghoa Sumedang yang mulai merintis jasa layanan angkutan oplet ini. Umumnya oplet diberi nama. Misalnya dari etnis Tionghoa yang saya ingat antara lain : Oplet Dodge Sukmalaya, pemiliknya Kaseng, supir legendarisnya Mang Urip. Oplet Chechrolet ”Angkawijaya,” pemiliknya Ko Otjun. Powerwagon Darawati (sejenis truk mini yang dimodifikasi menjadi kendaraan penumpang), pemiliknya Otjun. Mereka pioneer  dalam usaha angkutan oplet.

Dalam perjalanan bisnisnya, pengusaha etnis Tionghoa, secara langsung ataupun tak langsung menjadi Mentor bagi warga lokal untuk mulai merintis dalam berbisnis.   Di kampungku, Kampung Sudimampir Kecamatan Tanjungkerta Sumedang. Oplet mulai dikenal masyarakat pada akhir 1950-an. Ada beberapa oplet yang mengambil rute kota Sumedang ke Cipadung dan  Tanjungkerta. Jumlah oplet yang lewat juga tak banyak. Dalam sehari, bisa dihitung dengan jumlah jari berapa oplet yang lewat. Banyak oplet mencapai masa jayanya karena menjadi kendaraan umum paling populer di kota kota, bahkan menjadi angkutan umum yang menghubungkan kota kabubaten ke kota kecamatan desa. Konon kata oplet berasal dari gabungan Opel Let atau Opel (merk pabrik yang memperoduksi kendaraan) dan Let (kecil). Jadi oplet artinya kendaraan kecil. Sebagai perangkat tertib berlalu lintas belok ke kiri atau ke kanan, oplet dilengkapi dengan lampu sein (sign lamp) yang bergerak ke atas ke bawah. Lampu sein ini yang sangat unik, berada di luar sisi kanan dan kiri. Klakson oplet juga unik karena terdapat di bagian luar. Cara membunyikan klakson,  harus dipencet karena terbuat dari karet.

Di Kota Sumedang, oplet berbagai rute, biasa mangkal di Stanplat Ketib. Oplet tersebut ngetem, sampai beberapa jam, menunggu penumpang penuh. Demikian juga sebaliknya, masyarakat desa yang mau ke kota. Mereka harus menunggu beberapa jam sampai akhirnya ada oplet yang lewat. Jadi kehadiran oplet lewat ke kampung kampung sangat terbatas.Menjelang sore, tak ada lagi oplet lewat. Apalagi pada malam hari. Selain terbatas penumpang yang bepergian, masyarakat dihantui ketakutan apabila malam akan tiba.

Hadirnya jasa layanan oplet pada awal tahun 1960an di kampungku, ternyata melahirkan pebisnis baru. Dari pengusaha lokal di kampung kami antara lain : Oplet Sri Waluya pemilik H Atma. Oplet Karangjaya, pemiliknya Apih H.Dahlan dengan supirnya kang Ayat. Oplet Layeut, pemiliknya Apih H.Parya dengan supirnya kang Uus. Dodge Sodara, pemiliknya H. Darya, dan oplet Sri Waluya, pemiliknya H. Atma. Itulah para Joeragan Oplet pengusaha lokal di kampungku. Mereka berwiraswasta di bidang jasa angkutan darat yang memberi pengaruh juga pada perkembangan perekonomian, sosial, dan perkembangan kehidupan masyarakat pedesaan. Kehadiran etnis Tionghoa dalam berbisnis, sering menjadi ”Mentor” bagi para pengusaha lokal, dan sekaligus juga berdampak pada perkembangan perekonomian lokal.

Kasus lokal, dimensi Nasional

Dalam perspektif Sosiologi Ekonomi, peran etnis Tionghoa sebagai “mentor bisnis” dapat dipahami melalui konsep middleman minority (Bonacich, Edna, 1973). Kelompok ini kerap menempati posisi strategis dalam aktivitas perdagangan dan distribusi, bukan semata karena modal ekonomi, tetapi karena jaringan sosial, etos kerja, serta kemampuan membaca peluang pasar. Dalam konteks lokal seperti di Sumedang, kehadiran pengusaha Tionghoa dalam usaha oplet tidak hanya menghadirkan layanan transportasi, tetapi juga memperlihatkan praktik nyata kewirausahaan. Yaitu bagaimana mengelola risiko, menjaga relasi pelanggan, hingga membangun keberlanjutan usaha. Dari interaksi sehari-hari inilah terjadi proses pembelajaran sosial yang bersifat informal. Masyarakat lokal menyerap pengetahuan bisnis melalui observasi, pengalaman langsung, atau interaksi praktis dalam berbisnis.

Dalam kajian Modal Sosial yang dipopulerkan oleh Robert Putnam (2000), keberhasilan etnis Tionghoa dalam berbisnis juga ditopang oleh kekuatan jaringan (network), kepercayaan (trust), dan norma bersama (shared values). Modal sosial ini tidak bersifat eksklusif, melainkan dalam banyak kasus justru menjadi jembatan bagi masyarakat lokal untuk ikut terlibat dalam aktivitas ekonomi. Relasi antara Ko Kaseng (Pengusaha oplet) dan warga kampung etnis lokal, misalnya, dapat dilihat sebagai bentuk bridging social capital, yaitu jembatan antar kelompok berbeda yang membuka akses pengetahuan dan peluang. Dalam situasi ini, mentor tidak selalu hadir dalam bentuk formal, tetapi melalui keteladanan, konsistensi, dan keterbukaan dalam interaksi sosial dan persahabatan.

Dalam kaitan dengan  Difusi Inovasi dari Everett Rogers (2003), praktik usaha oplet oleh pengusaha Tionghoa dapat dipandang sebagai inovasi yang kemudian diadopsi oleh masyarakat lokal. Pada tahap awal, etnis Tionghoa berperan sebagai innovator dan early adopter, yang memperkenalkan model usaha transportasi berbasis kendaraan bermotor di wilayah pedesaan. Selanjutnya, masyarakat lokal menjadi early majority yang mulai meniru dan mengembangkan usaha serupa, seperti terlihat pada munculnya para “juragan oplet” di kampung saya. Proses ini menunjukkan bahwa pembelajaran kewirausahaan tidak selalu berlangsung melalui pendidikan formal, melainkan melalui mekanisme sosial yang alami. Yaitu melalui proses melihat, meniru, memodifikasi (observe, imitate, and adapt) lalu mengembangkan sesuai konteks lokal. Dengan demikian, peran “mentor” etnis Tionghoa bukan hanya pada transfer keterampilan ekonomi, tetapi juga pada transformasi pola pikir masyarakat menuju kemandirian dan keberanian berusaha.

Itulah ”Saung Kaseng”, jejak potret persahabatan lokal antar-etnis yang melegenda!!

SPIRIT BADAR & IDUL FITRI

30 Mar 2026 • Humas UPI

Dinn Wahyudin  

Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Pendidikan Indonesia

Titimangsa 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah atau bertepatan dengan 13 Maret 624 Masehi. Bulan Ramadan pertama telah dipilih oleh Allah SWT dengan terjadinya peristiwa penting. Yaitu terjadi Perang Badar yang sangat heroik. Peperangan antara kaum Muslimin dan kaum jahiliyah terjadi di pertengahan bulan Ramadan tahun 2 H.  Perang ini merupakan pertempuran besar pertama antara kaum Muslim dari Madinah yang dipimpin oleh Kangjeng Rosululloh melawan kaum Quraisy dari Makkah. Perang Badar inilah menjadi penciri bermulanya keruntuhan jahiliah dan tertegaknya syiar Islam melalui kalimah Allah.

Tampaknya api semangat Badar pada pasca Ramadan ini masih relevan untuk terus dipompakan pada masa kini. Barakan terus semangat Badar.   Bara spirit Badar yang menjadi penciri Idul Fitri pertama lebih dari 14 abad lalu, tampaknya masih relevan untuk terus dipompakan pada masa kini. Paling tidak, ada lima hal penting mengapa semangat Badar masih relevan untuk terus dikembangkan. Nyalakan terus semangat Badar, sampai sekarang dan di masa yang akan datang. 

Pertama, membarakan spirit Badar  pasca Idul Fitri merupakan komitmen diri sebagai hamba Allah untuk terus berupaya kembali ke fitrah.  Kembali ke fitrah adalah konsep yang erat kaitannya dengan Idul Fitri. Setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah di bulan Ramadan, umat Islam diingatkan untuk kembali ke keadaan yang suci, bersih, dan penuh ketakwaan. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga refleksi mendalam untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Berhamba secara sungguh sungguh kepada Sang Kholik guna melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi semua yang dilarangNya.  Kembali ke Fitrah memiliki makna kembali ke kemurnian, kesucian, kembali ke asal, visi misi lahirnya ke dunia, dan tentang bekal apa setelah meninggal dunia.

Kedua, membarakan  spirit Badar memiliki makna untuk terus meningkatkan semangat fiisabilillah (berkhidmat di jalan Allah) dan menguatkan prilaku mujahid (berjuang di jalan Allah). Kepemimpinan Rasulullah SAW dalam perang Badar merupakan kombinasi sempurna antara spiritual tinggi, strategi taktis, dan kemanusiaan. Rosululloh memimpin dengan contoh, musyawarah, dan ketergantungan penuh kepada Allah, mengubah pasukan kecil yang kurang siap menjadi pemenang melawan kafir Quraisy. Dalam konteks saat ini, semangat Badar memiliki untuk siap “berperang” melawan kebodohan dan keterbelakangan. Berprilaku mujahid dengan berupaya keras mempertahankan tauhid, kebenaran dan konsisten melawan kebathilan dan berjuang di jalan Allah.

Ketiga, membarakan spirit Badar  merupakan esensi betapa kolaborasi dan kerjasama harmonis antar masyarakat untuk tetap terpelihara. Spirit Badar telah dicontohkan Rosulullloh kepada para sahabat untuk kompak, tawakal dan tetap tangguh dalam memenangkan suatu pertempuran melawan kebathilan, kekufuran, dan ketidakadilan. Kolaborasi atau ta’awun (saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan). Spirit Badar adalah energi diri yang luar biasa untuk berkomitmen melawan kebathilan. Dalam perspektif global, spirit Idul fitri yang bercirikan peduli terhadap sesama, merupakan fondasi tumbuhnya kewargaan global (global citizenship) yang dilandasi oleh kepedulian sesama, saling hormat menghormati, dalam merawat warga dunia yang damai, sejahtera lahir batin.

Keempat,  membarakan terus spirit Badar diyakini sebagai  refleksi berserah diri kepada Sang Kholik disertai dengan bekerja keras dan belajar keras. Berserah diri (tawakkal) dan belajar keras (berusaha) adalah dua hal yang saling melengkapi, bukan bertentangan. Berserah diri setelah berusaha adalah kunci kesuksesan dan ketenangan hati. Dalam Al Quran Surah At Talaq 3, Allah SWT berfirman, Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.

Kelima, dalam konteks kekinian, menjaga marwah spirit Badar adalah arti lain memelihara komitmen diri untuk terus menguatkan iman, takwa, dan ikhtiar.  Yaitu berupaya menjadi pribadi  yang beriman, bertakwa dan berbudi luhur dengan bercirikan pribadi yang mandiri, kreatif dan bernalar kritis untuk kemaslahatan bangsa. Spirit badar kekinian merupakan komitmen untuk maju bersama dan memberi kemaslahatan bersama. Spirit Badar adalah komitmen diri menjadi pembelajar sejati. A long live learner yang memberi maslahat untuk umat.  Rahmatan lil Alamin. Islam memberi rahmat untuk Alam semesta.

Dalam konteks di atas,  esensi dalam memaknai spirit Badar dalam pesan Idul Fitri, bukan  sebatas pada pengungkapan  rasa gembira karena berkesempatan berkumpul dengan keluarga, dan bisa saling memaafkan dengan handai taulan dan sesama. Spirit badar dan Idul Fitri juga mengekspresikan  apa yang disebut dengan takaaful ijtimaa’i atau ibadah sosial. Yaitu memelihara rasa peduli terhadap nasib orang lain. Makna spirit Badar pasca Idul fitri adalah bagaimana umat Islam, secara individu ataupun kelompok bergotong royong dan sabilulungan untuk terus mengedapankan  kebersamaan atau ta’awun untuk saing membantu dan peduli dengan sesama.

UPI Melesat ke Peringkat 101–150 Dunia Bidang Pendidikan Versi QS WUR 2026

27 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Berdasarkan rilisan terbaru QS World University Rankings (QS WUR) by Subject 2026, UPI berhasil menembus peringkat 101–150 dunia untuk bidang Education and Training.

Capaian ini menandai lonjakan signifikan sekaligus mengukuhkan posisi UPI sebagai perguruan tinggi nomor satu di Indonesia dalam bidang pendidikan. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, UPI masih berada di kelompok Top 300 dunia.

Tidak hanya unggul di dalam negeri, di tingkat regional pun performa UPI sangat kompetitif. Kampus yang berpusat di Bumi Siliwangi ini berhasil menduduki peringkat 31 di Asia.

Direktur Direktorat Penjaminan Mutu dan Pemeringkatan UPI, Prof. Dr. Ratnaningsih Eko Sardjono, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah buah dari konsistensi seluruh sivitas akademika dalam riset dan inovasi.

“Peningkatan ini mencerminkan kiprah UPI dalam pengembangan riset pendidikan yang melahirkan produk inovatif yang diakui secara global,” ujar Ratnaningsih.

Ia menambahkan bahwa penilaian QS WUR didasarkan pada lima indikator utama Academic Reputation (Reputasi Akademik – bobot terbesar), Employer Reputation (Reputasi Lulusan di Dunia Kerja), Citations per Paper (Dampak Riset), H-index (Produktivitas Peneliti) dan International Research Network (Jejaring Riset Internasional)

Selain bidang pendidikan, UPI menunjukkan taringnya pada subjek lain. Bidang English Language and Literature UPI sukses masuk dalam pemeringkatan dunia di posisi 301–350 global, atau peringkat ke-4 di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa UPI terus berkembang menjadi universitas multidisipliner yang kompetitif.

Prestasi tahun 2026 ini dinilai selaras dengan visi strategis UPI (milestone 2026–2030) untuk menjadi universitas rujukan di tingkat Asia.

Ke depan, UPI berkomitmen untuk terus menambah jumlah bidang ilmu yang masuk dalam pemeringkatan dunia. Strategi utamanya meliputi peningkatan kualitas luaran riset, perluasan kolaborasi internasional, serta penguatan reputasi akademik guna mempertahankan posisi puncak di Indonesia. (DN)

Bakti Sosial Ramadhan 2026, UPI Salurkan 2.110 Paket Sembako

16 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung, UPI

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menyelenggarakan kegiatan Bakti Sosial Ramadhan 2026 dengan menyalurkan ribuan paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Pada tahun ini, jumlah paket bantuan yang berhasil dihimpun bahkan melampaui target yang telah ditetapkan yang dilaksanakan di Aula Utama Masjid Al-Furqon UPI Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Senin (16/3/2026)

Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap tahun sebagai bentuk kepedulian sosial sivitas akademika UPI kepada masyarakat sekitar menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Kegiatan ini merupakan agenda rutin. Kita ingin membantu masyarakat karena menjelang Lebaran biasanya kebutuhan rumah tangga meningkat,” ujarnya.

Pada awalnya, panitia menargetkan penyaluran sebanyak 2.026 paket sembako, menyesuaikan dengan tahun kalender kegiatan. Namun berkat dukungan para donatur serta kerja keras panitia, jumlah paket yang berhasil dikumpulkan mencapai 2.110 paket, sehingga melampaui target yang telah direncanakan.

Pada kesempatan yang sama Dekan FPBS Prof. Wawan Gunawan, M.Ed., Ph.D menjelaskan bahwa bantuan sosial tersebut disalurkan dalam bentuk paket bantuan yang telah ditentukan nilai per paketnya. Dengan mekanisme tersebut, para donatur dapat dengan mudah menyalurkan bantuan sesuai kemampuan dengan menghitung jumlah paket yang ingin didonasikan.

“Bentuknya berupa bakti sosial. Kami sudah menentukan harga setiap paket bantuan, sehingga para donatur tinggal menyesuaikan jumlah donasi yang diberikan untuk mendukung program bantuan sosial ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen UPI dalam mendukung upaya pengentasan kelaparan, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurut Prof. Didi, seluruh bantuan yang berasal dari donasi tersebut telah dikonversi menjadi paket sembako berisi berbagai kebutuhan pokok yang diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan menjelang Lebaran.

Ia juga menjelaskan bahwa meskipun nilai bantuan tetap dipertahankan seperti tahun-tahun sebelumnya, kondisi inflasi membuat isi paket mengalami penyesuaian. Namun demikian, bantuan tersebut diharapkan tetap memberikan manfaat bagi penerimanya.

“Semoga walaupun paketnya tidak terlalu besar, bantuan ini bisa membantu mengurangi beban rumah tangga saudara-saudara kita yang membutuhkan,” katanya.

Lebih lanjut, Prof. Didi menyampaikan harapannya “UPI harus berpartisipasi dalam upaya mengentaskan kelaparan. Ini merupakan bagian dari tanggung jawab lembaga dalam mendukung pencapaian SDGs,” ungkapnya.

Ke depan, UPI diharapkan tidak hanya melakukan kegiatan sosial di wilayah sekitar kampus, tetapi juga dapat berpartisipasi lebih luas dalam membantu masyarakat di berbagai daerah yang membutuhkan.

Melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga dan mitra, kegiatan bakti sosial ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi UPI dalam memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap masyarakat.

Sebagai perguruan tinggi berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), UPI juga terus berupaya memperkuat kemandirian institusi melalui berbagai program dan usaha. Kegiatan berbagi melalui bakti sosial Ramadhan ini diharapkan menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama untuk menumbuhkan semangat kepedulian, solidaritas, serta keberkahan bagi seluruh sivitas akademika dan masyarakat. (Rija/DN/AH/VS)

UPI Tambah Panel Surya dan Siapkan Renovasi Rumah Warga Prasejahtera

16 Mar 2026 • Humas UPI

Bandung Barat, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memperluas jangkauan program “UPI Berdampak LIMAR” (Listrik Mandiri Rakyat) dengan menambah instalasi panel surya bagi warga prasejahtera di Desa Mekarsari, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (14/3/2026).

Langkah ini merupakan bagian dari kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap penggunaan listrik tenaga surya yang telah berjalan selama enam bulan terakhir, sekaligus meresmikan pemasangan dua unit panel surya baru di rumah warga yang sebelumnya belum tersentuh akses listrik.

Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., memimpin langsung peninjauan lapangan tersebut. Dalam kunjungannya, ia berdialog dengan warga untuk memastikan bantuan yang diberikan memberikan dampak nyata.

“Panel surya ini harus dirawat agar awet. Kami berharap dengan adanya penerangan ini, warga bisa beraktivitas pada malam hari sehingga lebih produktif,” ujar Prof. Didi di sela peninjauan.

Dampak positif program ini dirasakan langsung oleh Fatima, salah satu warga penerima manfaat. Ia menceritakan bagaimana keluarganya hidup dalam kegelapan selama 15 tahun terakhir hanya dengan mengandalkan lampu damar atau lilin.

“Alhamdulillah sekarang ada penerangan. Anak-anak kini bisa belajar pada malam hari,” ungkap Fatima dengan penuh syukur.

Selain aspek energi, kunjungan Rektor UPI ini mengungkap realitas kondisi hunian warga yang memprihatinkan. Prof. Didi menilai beberapa rumah penerima bantuan berada dalam kondisi yang tidak layak huni dan membutuhkan penanganan segera.

Merespons temuan tersebut, UPI bergerak cepat melakukan koordinasi lintas sektor. “Kami sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menyiapkan anggaran renovasi. Saat ini sedang dilakukan perekapan kebutuhan untuk memperbaiki rumah yang kondisinya sudah mengkhawatirkan,” tegasnya.

Tidak hanya fokus pada hunian pribadi, UPI juga menunjukkan kepedulian terhadap fasilitas publik. Setelah menerima laporan bahwa suara azan belum terdengar jelas di pemukiman tersebut, Prof. Didi berkomitmen untuk membantu pengadaan perangkat pengeras suara (speaker) untuk masjid setempat.

Melalui program LIMAR, UPI berupaya memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat di daerah terpencil. Kegiatan ini mempertegas peran UPI bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak pembangunan dan kesejahteraan masyarakat melalui pengabdian yang berbasis pada kebutuhan infrastruktur dasar. (RK/Rija)

Pencarian